Try new experience
with our app

INSTALL

Beri Sedikit Cinta untukku Ibu 

Chapter 3

Tak terasa air mata yang dari tadi mengintip di kelopak mata tiba- tiba menampakkan diri, menetes membasahi pipi. Hanya sebuah apel saja harus menunggu sisa ayah tiriku.

Hari mulai gelap, burung- burung kembali ke sangkarnya, orang- orang juga menuju peraduan masing- masing. Perutku makin keroncongan, tapi Ayah belum juga pulang.

“Nira ... sini, cepetan. Jangan malas-malasan di kamar,” teriak ibu.

“Iya Bu, ada apa? Semua sudah beres, aku lagi belajar,” jawabku di depan ibu.

“Katanya mau makan? Sudah makan dulu sana.”

“Bukankah Ayah belum pulang, Bu?”

“Sudah nggak papa duluan, Ayah pulang tengah malam. Tadi baru saja telepon.”

Syukurlah akhirnya bisa makan, segera aku menuju dapur mengambil sepiring nasi beserta lauk pauk. Makan dengan lahap.

“Jangan banyak-banyak makannya! Ayah belum makan,” ucap ibu.

“Iya.”

  Malam semakin larut, ayah yang di nanti juga tidak kunjung pulang. Seperti biasa, aku selalu mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat dan pulang sekolah. Lagi-lagi peraturan masih sama, menunggu ayah pulang atau makan duluan. Barulah aku boleh makan. Beruntung teman-teman sekolah banyak yang baik. Sering traktir makan soto. Sebagai imbalan mengerjakan tugas dan PR mereka. Setidaknya bisa sebagai pengganjal perut.

????

Lima hari kemudian ....

  Saat membuka kulkas, terlihat buah apel mulai mengerut. Andai kemarin boleh aku makan, ah sudahlah. Biarkan buah itu terbuang daripada dimakan anak kandung sendiri.

  Sekarang, aku sudah tidak memikirkan soal makan sisa ayah ataupun yang lain. Hanya fokus buat sekolah, agar segera lulus dan bekerja. Kebiasaan itu membuatku bisa menahan lapar. Sekalian buat berpuasa. Rasa iri dan merasa tersisihkan sudah melekat. Sakit hati sudah tergores. Namun, aku tetap bertahan menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Akan aku buktikan kelak bahwa lelaki yang dia puja akan membuat tetesan air mata. Suatu saat nanti semua akan terbalik.

******

Tiga tahun kemudian ....