Try new experience
with our app

INSTALL

Meniti Sehelai Jembatan Surga  

MSJS 6

MSJS 6. Gemetaran Dag Dig Dug Deg Deg Deg ....


Di pagi hari sekali, Ragil Dahdy Baasimbahran hendak pergi ke luar kota untuk acara pengajian. Di saat yang sama, Ceisyacalestia Maryam dan Haffaz Hafid hendak pergi ke sekolah. Aizacelestia Daneenchayra menjadi turut sibuk di pagi itu karena harus mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk suami dan kedua anaknya.


“Maaf ya, Bunda. Sering kali pagi-pagi harus begitu meribetkan Bunda,” kata Ragil yang memahami kesibukan di pagi hari itu. Tia hanya tersenyum tulus menanggapinya tanda bukan masalah walaupun harus keteteran. Ragil memberikan sebuah kecupan di kening dan kedua pipi Tia.


“Ayah akan antarkan kalian dulu,” ujar Ragil kepada Isya dan Afa.


“Kami masih terlalu pagi. Ayah berangkat saja. Nanti Ayah bisa terlambat loh. Apalagi acaranya di luar kota. Jaaaaauh sekali!” kata Afa.


“Iya, Ayah, kami tidak apa-apa kok berangkat sendiri,” ujar Isya.


“Ayah sungguh khawatir melepas kalian berangkat sendiri.”


“Tenang saja, Ayah! Memangnya apa yang perlu dikhawatirkan?” Afa mengucapkan dengan diiringi gerakan kedua tangannya dan ekspresi wajahnya yang menggemaskan. Ragil menjadi mencubit gemas dengan lembut pipi putranya itu.


“Insya Allah ada Allah yang akan selalu melindungi kami, Ayah,” imbuh Isya.


“Kalau begitu, kalian sebut Allah di setiap hela napas kalian. Jangan berhenti berdzikir di dalam hati kalian!”


“Oke, Ayah!” Isya dan Afa kompak


“Em ... meskipun begitu, biarkan sekarang Ayah antarkan kalian dulu!”


“Hm ... Ayah!” celetuk Afa karena sesungguhnya ia senang berangkat sendiri serasa bebas dan sudah dewasa.


Adi Luhung tengah berada di depan halaman mereka ketika perdebatan ringan ayah dan anak itu terjadi. “Assalammualaikum!” Salam Adi membuat keempat orang di rumah itu mengalihkan perhatian ke Adi.


“Waalaikumsalam!” seru keempat orang kompak.


“Eh, Adi, mau ke mana pagi-pagi begini?” tanya Ragil.


“Mau ke rumah Ustaz Ragil.”


“Aku ada urusan ke luar kota dan akan berangkat sekarang ini. Sebelumnya aku mau mengantarkan Ceisya dan Afa ke sekolah. Maaf, kalau kamu ada perlu denganku lain waktu saja. Mungkin nanti malam atau besok aku ada waktu, tapi tidak janji karena sering kali jadwal tidak menentu. Bisa urusan mengaji, bisa urusan bisnis.”


Adi lalu berkata, “Saya cuma mau bilang, kalau tawaran Pak Ustaz kemarin masih berlaku, saya bersedia.”


“Kamu mau kerja sama aku?”


“Iya, saya mau kerja sama Pak Ustaz.”


“Alhamdulillah!” Ragil sangat lega dan senang mendengarnya. Ia bisa membantu Adi mendapatkan pekerjaan halal, anak-anaknya bisa ada yang mengantar tanpa ia cemas, dan pekerjaan rumah istrinya terbantu.


“Kalau begitu, sekarang saja, kamu antarkan Isya dan Afa ke sekolah! Bisa kan?” girang Tia karena akhirnya memiliki pembantu.


“Bisa, Bu Ustazah.”


“Alhamdulillah. Adi, ini kunci motornya, ini motornya!” Ragil menyerahkan kunci motor yang akan dinaiki Ragil ke Adi. Adi masuk ke halaman rumah Ragil dan menerima kuncinya.


“Ya udah, Isya, Afa, kalian berangkat sekarang saja, tidak apa-apa kepagian!” titah Ragil kemudian. Isya dan Afa menurut. Keduanya lekas mencium punggung tangan Ragil dan Tia.


“Ceisya berangkat, Ayah, Bunda, Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Jawab Ragil dan Tia hampir bersamaan.


“Afa berangkat, Ayah, Bunda. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Kali ini Ragil dan Tia cukup kompak menjawab.


Adi Luhung mengambil motor Ragi dan menaikinya. Ada dibantu Ragil naik ke motor. Kemudian, baru Isya Ragil bantu duduk di belakang Afa. Kepada kedua anaknya, Ragil memberikan usapan sejenak dipuncak kepala hingga helain rambut dan kemudian memberikan beberapa kecupan di wajah dan puncak kepala. Tia juga melakukan hal sama dengan Ragil.


“Hati-hati, jangan ngebut, Adi!” titah Ragil.


“Baik, Pak Ustaz. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Ragil. Tia ikut menjawab, tetapi hanya dengan suai bibir. Adi Luhung berangkat dengan memacu sangat pelan. Kemudian, setelah ke luar dari halaman rumah Ragil, ia menambahkan kecepatan sedikit saja.


“Bunda Sayang, Ayah berangkat dulu.” Ragil mengulang mengecupi Tia. Kemudian, Tia meraih punggung tangan Ragil dan menciumnya.


“Hati-hati, Ayah. Kirim pesan kalau Ayah sudah sampai lokasi biar Tia tenang. Perjalanan Ayah jauh.”


“Iya, Sayang, Insya Allah.” Ragil sejenak kembali memberikan kecupan. Kemudian, ia tambah dengan pelukan. Setelah itu, ia mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya. Lantas ia naik ke mobil dan menyalakan mesinnya.


“Assalammualaikum, Bunda.” Ragil mengucapkan dengan halus nan mesra.


“Waalaikumsalam, Ayah,” balas Tia dengan nada sama. Mobil berjalan pelan meninggalkan halaman. Senyuman Ragil mengembang sampai mobil tidak terjangkau oleh netra Tia.


✨❤️✨


Di depan SD, Ceisyacalestia Maryam dan Haffaz Hafid turun dari motor. Keduanya menghormati Adi meskipun tahu Adi mantan narapidana kasus perampokan. Keduanya mencium tangan Adi. Adi cukup terkejut tidak menyangka masih ada yang bersikap baik kepadanya. Meskipun itu adalah dua anak kecil hal itu begitu berarti baginya yang hina dina. Ia terenyuh terharu sampai terpaku. Tangannya yang disalim kedua anak Ragil menjadi gemetaran.


“Assalamualaikum!” seru Ceisya dan Afa hampir kompak.


“Waalaikumsalam,” ucap Adi dengan intonasi lambat dan volume kecil karena ia masih terpaku. Kemudian, rasa terenyuhnya membuat matanya berkaca-kaca. Saat kedua anak itu telah masuk ke halaman SD, setetes demi setetes ia menitihkan air mata.


“Masih ada. Masih ada yang baik sama aku,” lirihnya sembari menghapus air matanya. Kemudian, senyuman tipis tersungging di bibirnya. Kemudian, refleks ia dengan lirih berkata, “Alhamdulillah.” Ia menghempaskan napas lega sekaligus menghembuskan rasa tidak nyaman di hati sebagai seseorang yang hina nan begitu sampah bagi masyarakat. Rasa berharga meskipun sedikit merasuk di hatinya. Meskipun sedikit rasa yang positif yang baru muncul itu, kini tengah berada di depan membelakangi rasa hina dina yang selama ini meliputi dirinya. Ia lekas ingat ia sedang bekerja kepada Ustaz Ragil. Selain mengantar jemput, ia ingat kalau Ragil menugaskan untuk menjadi pembantu. Ia lekas menyalakan mesin motor lalu melaju kembali ke rumah Ragil.


✨❤️✨


Aizacelestia Daneenchayra sedang membenahi taman. Saat itu, Adi telah kembali. Tia menoleh sejenak ke Adi yang datang. Lantas ia melanjutkan kembali pekerjaannya. Adi mematikan mesin motor lalu menghampiri Tia sembari membawa kunci motor.


“Assalammualaikum, Bu Ustazah.”


“Waalaikumsalam.”


“Bu Ustazah, ini kunci motornya. Em ... kata Pak Ustaz, selain mengantar jemput Ceisya dan Afa, saya ditugaskan untuk membantu pekerjaan Bu Ustazah. Apa yang bisa saya kerjakan, Bu?”


“Kunci motor kamu bawa saja. Em ... kamu tolong lanjutkan menata taman, mengurus semua halaman dari depan, samping kanan kiri, hingga belakang, dan binatang. Aku akan masak dan mengurus rumah bagian dalam.”


“Baik, Bu Ustazah.” Tia pergi ke dalam rumah. Adi dengan semangat mengerjakan tugasnya.


Belum lama Adi mengerjakan halaman depan, Nyneve Amayakamaria Lilith datang. Deru mobilnya terdengar oleh Adi membuat Adi menoleh ke arah suara. Mobil macho itu parkir di luar halaman, di depan rumah Ragil. Adi seperti mengenali mobil itu, seperti pernah melihat, tapi kapan, di mana, dan siapa pemiliknya, ia lupa. Kemudian, saat sang pemilik turun dari mobil, mata Adi terbelalak membola dan berlanjut berbinar-binar. Senyumannya pun sangat lebar mengikuti rasa bahagianya. Namun, bersamaan itu hadir rasa dag, dig, dug, deg, deg, deg, deg deg deg deg deg deg deg. Dag dig dug deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg .... Rasa yang semakin membuncah tanpa jedah seiring Nyneve mendekat ke rumah Ragil dan semakin menjadi-jadi saat telah memasuki halaman rumah. Ia sampai menelan ludahnya. Badannya seperti orang meriang atau buyutan. Sungguh ia tidak bisa menguasai rasa itu.


“Assalammualaikum!” seru Nyneve dengan sangat semangat.


Adi dengan segera menghempaskan napas kasar besar-besar untuk menghapuskan rasa itu baru ia berkata, “Waalaikumsalam!” Namun, dengan segera rasa itu tidak bisa ia kendalikan lagi. “Aaaadadadada ppperlu apa? Memengaji ya?” duga Adi mengingat semalam.


“Sakit, Bang?”


“Tttitidak. Ssasasaya tidak ssakit.”


Nyneve membatin, “Kasihan masih muda sudah buyutan. Kok bisa ya? Apa karena jaman sekarang makanannya instan dan dia makan instan terus? Atau apa mungkin karena banyak pikiran? Kasihan sekali punya beban hidup berat. Kok aku familiar ya? Kayak pernah melihat orang ini, tapi di mana?”


“Aaada peperlu aapa?” ulang Adi.


“Saya mau bertemu Pak Ustaz Ragil. Pak Ustaz Ragilnya ada?”


“Bbbebeliau sssedang pergi.”


“Kalau Bu Ustazah Tia, ada?”


“Ada ... aaada.” Adi menjawab dengan diiringi beberapa anggukan meyakinkan.


“Boleh saya bertemu Bu Ustazah Tia?”


“Bbboleh. Mmari sisilakan masuk ddahulu!” Nyneve menerima tawaran Adi untuk masuk ke dalam rumah Ragil. Adi diam terpanah sesaat. Kemudian, Adi ikut masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak ditutup sejak kepergian Isya, Afa, dan Ragil.


Bersambung

Terima kasih

✨❤️❤️❤️✨


DelBlushOn Del BlushOn Del Blush On delblushon #delblushon :)