Try new experience
with our app

INSTALL

Sempurna Harmoni 

KENANGAN MASA MUDA

Semester Dua...

 

TAK terasa, libur semester ganjil telah usai. Di semester dua ini, mereka disambut dengan riuhnya rangkaian acara dies natalis universitas yang ke lima puluh tahun. Ada berbagai macam acara yang digelar dalam rangka memperingati usia emas dari salah satu universitas negeri di kota pelajar di Jawa Timur ini. Salah satunya yaitu jalan sehat yang dilanjutkan dengan senam aerobik dan pemeriksaan kesehatan gratis oleh Fakultas Ilmu Kesehatan, yang dilaksanakan di halaman depan gedung rektorat. 

Rendra yang memutuskan mengikuti ajang pemilihan Duta Universitas, salah satu rangkaian acara dies natalis, kini nampak mempersiapkan penampilannya di acara final yang akan digelar malam ini. Rendra telah meminta izin pada Alya jika hari ini dirinya akan sulit membalas pesan. Alya pun memakluminya, karena dirinya juga berharap Rendra bisa memenangkan kompetisi tersebut. 

Malam harinya, Alya yang duduk di kursi penonton tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya saat melihat Rendra berdiri di atas panggung besar yang ada di depannya. Dia semakin berkharisma saat mengenakan setelan jas dan celana bahan berwarna hitam. Penampilan Rendra sempurna dengan dasi abu-abu yang dibelinya dua hari lalu bersama Alya saat mereka berjalan-jalan di bazar pekan wirausaha mahasiswa. Dia menata rambutnya rapi ke belakang dengan pomade, menampilkan kesan formal dan sangat manly

Pembawa acara memanggil namanya untuk mendapat giliran pertanyaan dari juri.  Rendra yang telah memahami instruksi dari pembawa acara, segera mengambil kertas di depannya yang berisi nama-nama juri. Nantinya nama juri yang diambil olehnya lah yang akan memberinya pertanyaan. Dia mendapat giliran pertanyaan dari juri tamu, yaitu Duta Wisata Kota tempat mereka berkuliah.

“Selamat malam Ren.”

“Selamat malam Kang Andri.”

“Ngomong-ngomong Rendra ini sama banget sama saya waktu menang Kakang Mbakyu dua tahun lalu. Saat itu saya juga masih 18 tahun, sedangkan peserta yang lain rata-rata sudah 20 tahun. Usia bukan penghalang untuk berkarya ya Ren,” ucap Kang Andri yang meski telah setahun tak bertugas, masih sangat bekharisma.

“Iya Kang, semoga saya bisa meneruskan jejak Kang Andri dan bisa pulang sebagai Duta Universitas malam ini.”

 “Aamiin. Oke saya langsung aja kasih pertanyaan ya Ren. Dari CV yang kamu kumpulkan ke panitia, saya lihat ada banyak sekali prestasi dan deretan lomba yang telah kamu menangkan. Saya penasaran dengan arti kemenangan dari kacamata seorang Rendra itu sendiri seperti apa sih?”

“Baik sebelumnya terima kasih atas pertanyaan yang diberikan kepada saya. Bagi saya kemenangan bukanlah sekedar keberhasilan dalam memenangkan suatu kompetisi, atau keberhasilan dalam mencetak suatu prestasi. Tapi kemenangan adalah suatu proses yang sangat panjang, dimana kita dapat mengalahkan diri sendiri dari rasa malas, takut, sedih dan emosi negatif lainnya, ntuk kemudian terus berusaha sampai kemenangan yang sempurna dapat kita genggam dan persembahkan kepada orang-orang tercinta yang selalu ada untuk mendukung kita,” jawab Rendra mantap, dengan intonasi yang pas. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lambat. Jawaban itu kemudian disambut dengan riuh tepuk tangan dari semua penonton. 

Dari tempatnya duduk, Alya dapat melihat mata Rendra berkilat semakin terang, terbias lampu sorot panggung yang ada di depannya. 

Tak terasa, setengah jam telah berlalu. Semua peserta yang masuk ke babak lima besar telah mendapat giliran pertanyaan dari para juri. Saat ini tibalah waktu pengumuman pemenang pemilihan Duta Universitas. Semua pendukung dari peserta yang berhasil masuk lima besar terlihat heboh saat masing-masing nama dan asal fakultas peserta disebutkan.

“Oke, terima kasih untuk suporter yang luar biasa meriah malam ini,” ujar MC lelaki yang juga mengenakan setelan jas bersemangat.

“Benar kak, meriah sekali ya malam ini,” jawab MC perempuan yang mengenakan sepatu berhak setinggi sekitar 10 cm.

“Pada dasarnya semua yang telah masuk final dan lima besar di sini adalah para pemenang. Jadi kalian nggak perlu kecewa ya saat peserta favorit kalian bukan juaranya.”

Setelah berbagai kategori pemenang yang lain telah disebutkan, kedua pembawa acara yang kompak memakai dresscode berwarna cokelat itu, segera menyebutkan peserta yang berhasil menjadi juara ajang pemilihan duta universitas. “Baiklah tanpa perlu berlama-lama lagi, yang membawa pulang thropy Duta Universitas tahun ini adalah Rendra Al Arsy, dari Fakultas Ilmu Kesehatan.”  

 Alya melihat semuanya, Rendra yang menjawab pertanyaan juri dengan lancar, sampai namanya dipanggil oleh pembawa acara sebagai pemenang dan diberikan thropy dan berbagai hadiah langsung oleh Rektor. Hari ini belum genap satu tahun mereka berkuliah, tetapi Rendra telah mendapatkan piala pertamanya dari Universitas ini. Sungguh Rendra benar-benar selalu bersinar di manapun dan kapanpun dia berada.

Saat semua pemenang telah memasuki back stage, Alya mendapat pesan dari Rendra. Dia ingin Alya menunggunya di gedung ini untuk berfoto bersamanya. Lima belas menit kemudian Rendra keluar dengan senyuman yang sangat lebar, yang baru pertama kali dilihat oleh Alya. Dia setengah berlari menemui Alya. Tak sabar membagi kebahagiaannya pada gadis yang sangat dicintainya itu.

“Al, thropy ini buat kamu,” ucap Rendra dengan napas tersengal, bahunya naik turun dan mata coklatnya berbinar dengan sangat indah.

Mata Alya berkaca-kaca. Alya mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya pada kekasihnya yang saat ini membuatnya teramat bangga. “Selamat ya Ren.”

“Ayo kita foto di panggung Al,” ajak Rendra sembari menggandeng tangan Alya.

Sesampainya di panggung, Rendra meminta tolong pada temannya sesama peserta Duta Universitas untuk mengambil fotonya bersama Alya. 

“Gandeng Rendra dong Al, biar nggak lempeng fotonya,” teriak Jasmin dari bawah panggung. Alya malam ini memang menonton final pemilihan Duta ini bersama kedua sahabatnya dan tak ketinggalan juga Dani. 

Setelah mendengar sorakan sahabatnya dari bawah panggung, Alya akhirnya menggandeng lengan Rendra yang berdiri di sampingnya dengan kaku. Di foto itu mereka telihat sangat canggung. Karena ini merupakan foto pertama mereka sebagai pasangan. Namun di masa akan datang, foto ini akan selalu menjadi foto yang spesial dan akan selalu mereka kenang.

***

Semester Tiga...

DI semester berikutnya, Rendra yang masih disibukkan dengan kegiatan sosial sebagai Duta Universitas, lagi-lagi terpilih untuk memimpin organisasi BEM Fakultas. Waktunya bertemu dengan Alya pun menjadi semakin berkurang. Meskipun mereka berada dalam satu kota, tetapi kesibukan yang dimiliki Rendra membuat mereka kesulitan untuk hanya sekadar makan bersama saat selesai kuliah.

Namun Alya sungguh memaklumi semua kondisi Rendra. Dia menerima segala konsekuensi menjalin hubungan dengan Rendra yang super sibuk.  Meski waktu dua puluh empat jam yang dimiliki Rendra seakan kurang untuknya, tetapi Rendra selalu mengusahakan untuk pergi ke tempat kos Alya saat dia selesai menjalani seluruh aktivitasnya. 

Dia membutuhkan Alya untuk me-recharge energinya yang terkuras habis oleh segala aktivitasnya seharian. Setelah menjemput Alya di kosnya, mereka biasanya pergi ke supermarket yang letaknya tak jauh dari sana. Mereka mengobrol sampai tengah malam tentang segala aktivitas masing-masing.

“Aku kangen banget Al,” ucap Rendra pada Alya, persis seperti hari-hari sebelumnya.

“Iya Ren sama, kamu sudah makan belum malam ini?”

Bagaikan memakai template, sapaan mereka setiap bertemu saat akhir hari selalu sama. Mereka lalu tertawa bersama setelah mengucapkan itu. Sungguh sederhana arti bahagia bagi mereka. Meski hanya bisa bertemu di akhir hari yang singkat seperti ini, tetapi mereka tetap bisa mensyukurinya. Setidaknya dalam dua puluh empat jam, mereka punya waktu dua jam untuk saling melepas rindu dan berbincang bersama. 

Rendra membuka kemasan susu kotak rasa cokelat favorit Alya yang baru saja dibelinya. Dia lalu membuka cerita kesehariannya sembari menyerahkan susu cokelat itu pada Alya. “Tadi agenda rapat kita, ngomongin tentang seminar nasional yang mau diadakan di fakultas Al.”

“Oh ya, kapan pelaksanaannya?” tanya Alya sembari meminum susu cokelat.

Kini Rendra membuka kemasan roti isi cokelat favorit mereka berdua. “Kayaknya bulan depan depan Al, dalam rangka ulang tahun Fakultas gitu sih. Nanti kamu ikut daftar kepanitiannya ya Al. Biar aku bisa kerja bareng kamu,” jawabnya sembari menyerahkan roti yang telah terbuka pada Alya.

“Oke deh Ren. Emangnya open recruitment nya kapan?”

“Tanggal berapa ya Al, aku lupa detail tanggalnya sih. Tapi kalau aku nggak salah ingat akhir bulan ini.”

“Siap, akhir bulan ini ya. Semoga tetep kepegang ya tugas-tugas kuliahku,” jawab Alya tak jelas karena sambil mengunyah roti. “Kalau urusan tugas kamu tenang aja Al, kan ada aku.”

Sesaat Alya meminum susu yang dia letakkan di meja. Kemudian dia berseloroh karena  sering lupa jika punya pacar yang sangat bisa diandalkan. Demi mendengar kalimat itu, Rendra tersenyum sangat lebar. Persis seperti senyumnya saat pertama kali menemui Alya dengan membawa piala Duta Universitas ditangannya. Rendra mengelus kepala Alya gemas, samar-samar dia bisa mencium aroma manis vanila dari rambut Alya.

***

Semester Empat...

SAAT ini Alya dan Rendra telah memasuki semester empat. Kesibukan Rendra sebagai Duta Universitas telah berkurang di semester ini, karena masa baktinya selama satu tahun ini telah digantikan oleh Duta Universitas yang baru. Mereka berdua baru saja merayakan anniversary pertama. Demi mengingat momen bersejarah itu, Rendra mengajak Alya melihat matahari terbit di bukit tempatnya menyatakan perasaan satu tahun lalu. 

“Makasih ya Al atas segala yang kamu kasih ke aku selama ini. Aku nggak pernah berhenti bersyukur bisa ketemu dan bisa menjalani hari-hari sama kamu selama satu tahun ini. Semoga seterusnya kita bisa seperti ini sampai kapanpun ya Al,” ucap Rendra dengan latar belakang pemandangan yang tetap sama indahnya dengan momen satu tahun lalu.

Dengan suara yang bergetar Alya pun juga berterima kasih pada Rendra atas semua cinta, kesederhanaan dan pelajaran berharga yang selama ini didapatkan darinya. 

Dia menoleh ke arah lelaki yang semakin hari semakin dia cintai. “Aku belajar banyak setelah melihat semuanya dari dekat Ren. Nggak heran kenapa kamu bisa selalu bersinar seperti itu, di manapun kamu berada. Makasih sudah mencintai aku yang biasa ini dengan cinta yang luar biasa. Semoga seterusnya kita bisa sama-sama sampai kapanpun Ren.” 

Demi mendengar kalimat itu, Rendra langsung  menoleh ke arah gadis yang sangat dicintainya itu. Mata coklatnya yang terbias semburat jingga matahari terbit semakin membius Alya.

Rendra menarik Alya ke dalam pelukannya. “Aku janji Al, aku akan membuat semuanya menjadi nyata. kita akan selalu bersama sampai kapan pun.”

***

Semester Lima...

HARI-HARI perkuliahan yang mereka jalani terasa sangat cepat. Tak terasa mereka telah berada di perantara akhir masa kuliah. Pada Liburan semester lima ini, Alya menjalani praktik kerja lapang di salah satu  perusahaan besar yang memproduksi bubur bayi instan yang bertempat di kota asalnya. Yang membuatnya menjadi spesial adalah Alya menjalaninya bersama dengan Rendra dan ketiga sahabatnya. Selama satu bulan, mereka berlima mempelajari proses produksi bubur bayi instan dari awal sampai proses pengolahan limbahnya.

Banyak sekali ilmu yang mereka dapatkan selama satu bulan menjalani praktik kerja lapang ini. Nantinya saat memasuki semester enam, mereka diharuskan membuat laporan dan  mempresentasikannya di depan dosen pembimbing dan dosen penguji secara perorangan. Sebelum  mereka disibukkan dengan itu semua, sekaligus untuk menghabiskan sisa liburan yang tersisa, mereka merencanakan liburan bersama.

Lily bersorak usai pembimbing lapang mereka pamit meninggalkan mereka di hari terakhir praktik kerja mereka. “Akhirnya selesai juga ya rangkaian PKL ini.” 

“Iya nih, tapi seru banget ya sebulan ini. Kita jadi ada gambaran gimana nanti kita di dunia kerja,” sahut Dani yang selalu nampak antusias selama proses PKL selama satu bulan ini.

“Kebayang nggak sih gimana capeknya orang-orang yang kerja kayak gini. Kita aja yang cuma PKL sebulan rasanya kayak capeeek banget setiap hari,” curhat Jasmin.

“Iya Jasmin, makanya kita harus selalu berterima kasih sama orang tua kita yang sudah banting tulang membiayai kita,” ceramah Alya sembari melingkarkan tangannya ke pundak sahabatnya.

“Iya Alya, siaaaap.” Jawab Jasmin.

“Oh ya gimana kalau sisa liburan satu minggu kedepan kita pakai buat pergi ke pantai,” cetus Dani tiba-tiba.

Lily antusias menyetujui ide Dani. “Wah ide bagus tuh Dan.” 

“Gimana yang lain setuju juga nggak?” tanya Dani pada yang lain.

“Setujuuuuu,” jawab mereka semua kompak.

***

HARI yang mereka tunggu akhirnya tiba. Setelah melewati perjalanan panjang selama sepuluh jam dengan menempuh jalur kereta, beristirahat sejenak di rumah Dani, kemudian dilanjutkan dengan menempuh perjalanan darat yang berliku, mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. 

Alya menurunkan kaca mobil yang ada di sampingnya. Dia memejamkan mata demi menghirup aroma pantai yang menenangkan. Alunan suara deburan ombak pun menggelitik manja di telinganya. Alya membuka matanya lagi, dia menatap langit yang masih terlihat kelabu. Meski tipis, semburat jingganya mulai nampak di antara kelabunya langit. Sungguh momen yang begitu damai.

Sesampainya di parkiran, mereka berlima segera turun dan berlari menuju pantai dengan pasirnya yang putih mempesona. Rendra meletakkan barang bawaan mereka jauh dari tepi pantai agar tak terseret ombak. Dia lalu mengikuti Alya dan lainnya memasuki air laut dan menari senada dengan deburan ombak. Mereka tak peduli dengan suhu airnya yang dingin karena masih pagi. Mereka hanya ingin menikmati setiap momen indah yang akan mereka lewati sepanjang hari ini.  

Lily berteriak sambil menunjuk langit yang jingganya semakin pekat. “Wah liat deh, matahari sudah mulai muncul.” 

“Cantik banget ya Allah,” ujar Alya tak berkedip, matanya berkilauan takjub menatap lukisan nyata dari sang pemilik alam semesta dan seisinya.

Dani segera berlari untuk mengambil kamera yang dia simpan dalam tasnya. Dia bergegas kembali ke tempat teman-temannya, untuk mengambil foto dengan latar belakang langit jingga matahari terbit. Setelah Dani selesai mengatur kameranya, mereka berlima segara mengambil posisi untuk mengabadikan momen sebanyak mungkin. 

Setelah puas berfoto, mereka duduk berdampingan dengan khidmat sambil menikmati udara pantai di pagi hari, yang bercampur dengan aroma khas dari segelas mie yang mereka seduh. Di depan mereka terhampar langit dengan semburat jingga yang semakin lama semakin pekat, untuk kemudian warna kelabunya perlahan-lahan digantikan oleh langit terang. Nantinya, momen seperti ini akan menjadi kenangan masa muda yang  indah dan tentunyaakan sulit untuk mereka lupakan.