Try new experience
with our app

INSTALL

"Halo, Cantik!" 

Artikel 4: “Fenomena Hantu Belanda dalam Perhantuan Lokal”

“SAYA akan temui kamu, malam ketujuh, dengan membawa mawar merah.”

Gawat.

Ini gawat!

Sejak keluar dari ruangan Natasha kira-kira lima menit lalu aku masih berdiri mematung di depan pintu lift. Otakku perlu waktu untuk memproses apa yang baru saja terjadi.

“Halo, Cantik....”

Sapaan yang diucapkan dengan suara husky nan kering itu terngiang lagi di telinga. Bulu kudukku kembali meremang. 

Tadi...

Tadi itu apa? APA?

Benarkah itu suara hantu, atau....?

Aku bergidik, tak sanggup menyesaikan kalimatku. Ada semacam ketakutan yang tak kupahami, yang membuat punggungku terasa begitu dingin. Sialnya, kini aku malah teringat lagi akan respon Natasha setelah telepon itu terputus.

“Nada sambung.... Nada sambungnya ada!”

Untuk pertama kalinya setelah kurang lebih enam bulan mengenal Natasha, baru kali ini aku lihat perempuan itu kehilangan ketenangannya. Raut wajahnya begitu pucat dan dia memberikan tatapan horor yang mungkin takkan bisa kulupakan dalam beberapa hari ke depan. “Pieter! Itu Pieter! Mitos itu beneran!”

Kalau boleh jujur, aku pun tak kalah shock. Namun, entah kenapa tadi aku malah bisa bersikap cukup realistis. Sepertinya otakku memiliki kemampuan denial yang cukup tinggi saat tengah stress, entah itu bagus atau tidak.

“Halah, palingan tadi orang iseng aja, Kak,” kataku santai, mencoba untuk terlihat biasa saja. “Siapa tahu nomor tadi sekarang jadi nomor rumah, trus ada yang iseng jawab begitu karena udah terlalu sering dijahili. Kalau nggak percaya, coba aja Kak Nat hubungi nomor itu lagi. Pasti ada yang jawab. Yakin, deh!”

Sepertinya kata-kataku sukses membuat Natasha berpikir. Walau sempat terlihat ragu, perempuan itu lantas meraih ponsel Iphone 11 Pro warna putih miliknya yang tergeletak di meja dan memasukkan angka-angka tadi. Tak lupa dia menghidupkan speaker phone dan memberi kode padaku untuk ikut mendengarkanWajahku langsung pucat saat menyadari kalau...

...kalau tidak ada nada sambung yang terdengar....

Selanjutnya, telepon itu terputus begitu saja dan diakhiri dengan bunyi tut tut yang intens.

TING!

Bunyi pintu lift yang terbuka membuatku tersadar. Saat itu aku baru ngeh kalau sudah melamun cukup lama di depan lift. Malu, aku langsung melangkah maju sambil terus menundukkan kepala. Namun, karena sedang tidak fokus dan terburu-buru, aku menabrak sesuatu yang, sialnya, cukup besar dan kokoh. Tak ayal aku terpental mundur beberapa langkah dan sedikit oleng. Tas punggung dengan kapasitas maksimal yang kubawa akhirnya berperan serta untuk membuktikan kuatnya daya tarik gravitasi padaku, membuatku jatuh terjengkang dengan hebohnya.

BRUK!

“WOY!” semprotku galak. Padahal saat itu aku sedang mati-matian menahan malu karena sudah jatuh seperti ini di tempat umum.“Hati-ha... Haaa, SATYA?”

Aku melongo. Rupanya yang aku tabrak tadi adalah Satya, orang yang secara tidak langsung membuatku dipanggil oleh Natasha hari ini. Yang makin membuatku jengkel, alih-alih menolongku, laki-laki itu malah memberikan tatapan super datar sambil tetap memegang ponsel di tangannya. Khas Satya banget, deh!

“Eh, lo, San,” katanya dengan nada suara sedatar tatapannya. Namun begitu dia menurunkan maskernya, ternyata ada seringai mengejek tersungging di wajahnya. “Kirain tadi gue diseruduk celeng. Eh, ternyata bener.”

Sialan!

Keki, aku melempar tatapan geram sambil berusaha untuk berdiri. Bagaimana pun aku tak sudi melihat dia hanya berdiri diam menjulang, sementara aku terduduk pasrah di lantai. Untung sore ini area depan lift di lantai empat ini tengah sepi sehingga tak ada yang saksi mata melihat insiden barusan. Yah, setidaknya aku jadi tidak malu-malu amat, lah.

“Sani?”

Tunggu. Suara itu....

Dari belakang Satya, menyembul satu sosok yang auranya langsung membuatku menahan napas. Apalagi orang itu lantas menatapku dengan mata bulat lebarnya. Saat dia menurunkan masker dan tersenyum lebar, terlihat deretan gigi putih bersih yang selalu membuatku meleleh. Indeks kebahagiaanku tiba-tiba melonjak hingga 120%.

Candi.

“Kamu kenapa, San?” Berbeda dengan Satya yang masih berdiri kaku seperti arca, Candi dengan sigap menyela maju dan mengulurkan tangan padaku. Adegan ini sedikit banyak mengingatkanku pada momen saat sang prince charming membantu sang heroine untuk berdiri dalam berbagai drama Korea. Tanpa bisa dicegah, pikiran itu membuat wajahku tiba-tiba memanas. Malu-malu, kuulurkan tanganku untuk menyambut tangan Candi. Namun, tepat saat tangan kami nyaris bersentuhan, sesuatu menarik tas punggungku dan otomatis membuatku tertarik ke atas—persis seperti kucing yang dijepit di bagian lehernya.

“HNGGG?”

Oh, sial!

Karena kaget, tanpa sadar aku mengeluarkan suara erangan aneh. Astagaaa! Wajahku kembali memanas. Bukan karena malu-malu seperti sebelumnya, tapi karena malu banget! Apalagi Candi terlihat menahan tawa dan itu membuatku auto melempar tatapan membunuh pada sang pelaku yang tak lain dan tak bukan adalah Satya.

“SAT!”

Sumpah, seandainya tidak ada Candi, mungkin aku sudah memaki Satya habis-habisan. Bahkan kalau perlu aku akan melemparnya dengan sepatu yang baru akan kucuci kalau sudah ada noda yang kelihatan. Biar dia tahu rasa! Namun Satya malah tertawa terbahak-bahak dan itu membuatku makin ingin menyumpahinya.

“Gue kan cuma bantuin lo,” kilahnya tanpa dosa. “Lagian lo tadi jalannya kayak babi hutan. Nunduk dan maju terus. Bukan salah gue kalau akhirnya lo nabrak dan jatuh.”

“Ha-ha-ha...” aku memutar mata dan memberi Satya tawa kaku nan hambar. Toh Candi rupanya sudah menghilang, jadi aku tak perlu jaga image lagi. Walau begitu, ternyata energiku sudah habis dengan segala drama telepon hantu tadi. Alhasil aku memilih mengabaikan Satya dan kembali menekan tombol lift yang pintunya sudah keburu tertutup.

“Woy, lo mau ke mana, San? Artikel lo udah beres?”

Pertanyaan tentang artikel itu makin membuat moodku jatuh bebas. Aku mendengus jengkel dan berniat akan mengabaikan Satya. Namun kemudian sebuah ide terlintas di kepala.

“Sat! Hape! Pinjem!”

“Ha?” Satya ternganga. Sepertinya dia kaget karena pertanyaanku yang tiba-tiba itu. Yang makin membuatku pengin menendang Satya dan menjambak rambut ikal agak gondrongnya adalah karena si brengsek itu langsung menjauhkan ponselnya—seolah-olah aku penjahat yang akan merampok ponsel Samsung-nya itu. “Buat apa?”

“Pinjem!” todongku galak. Tak lupa aku menambahkan sedikit suara menggeram untuk menambah efek seram. “Darurat!”

Untung kali ini Satya mengalah dan menyerahkan ponselnya. Tanpa basa-basi aku merampas ponsel itu, kemudian memasukkan sepuluh digit nomor sialan yang membuatku ketakutan tadi. Nol-dua-dua-tujuh-satu-nol-dan memasukkan empat angka sisanya. Namun saat akan menekan tombol yes, perasaanku kembali ragu. Apa ini langkah yang tepat, atau....

“San? Lo waras?”

Gugup, ponsel itu kuserahkan lagi pada Satya.

“Teleponin nomor itu!” perintahku, masih dengan nada galak dan suara menggeram yang sama.

“Apaan, sih, San? Lo mau nagih utang atau gimana?”

“UDAH! Jangan protes!” Aku mendelik jengkel. “CEPETAN! Jangan lupa di loud speaker!”

Kurasa sebetulnya Satya pengin protes lagi, tapi urung dia lakukan karena aku kembali melempar tatapan membunuh ke arahnya. Sambil berdecak kesal, laki-laki itu akhirnya menekan tombol yes. Persendian lututku mendadak jadi selembek agar-agar saat kusadari kalau lagi-lagi tak ada nada sambung apa pun. Pikiranku kosong.

“San? Woy, San?”

Samar aku bisa mendengar Satya memanggil namaku dengan bingung. Namun aku tak peduli dan langsung ngeloyor masuk ke lift yang sudah terbuka. Saat pintu lift tertutup, saat itulah aku baru benar-benar sadar akan sesuatu.

Jadi....

Aku menelan ludah.

Telepon hantu itu.... nyata? []