Try new experience
with our app

INSTALL

Cinta Lelaki Misterius 

Bab 6

6


Cinta lelaki Misterius


Bab 6


"Siapa?" tanya Al.


Andin tak menjawab, dengan cepat ia kemudian memencet tombol hijau, Dan untuk sesaat Al menjadi saksi obrolan Andin dengan seseorang di sebrang telpon.


[ Aku setuju itu, No, mungkin ada baiknya kamu pikirkan kembali tentang hubunganmu dan cewek itu, jangan hanya melihat dari cinta kalian, tapi pertimbangkan juga restu orang tua, buat apa kalian bersama jika tak mendapat restu orang tua? ]

saran Andin yang sebenarnya adalah modusnya agar Nino memutuskan pacarnya.


[ ........... ]


[ Itu karena kamu belum mencobanya aja, No, coba deh kamu buka hati kamu lagi, cobalah untuk sedikit peka dengan melihat ke sekitar kamu, ada nggak orang terdekat kamu yang sekiranya bisa buat kamu nyaman? Nyambung diajak ngobrol, bahkan peduli padamu? Ya ... Mungkin saja orang itu adalah jodohmu. ]

ucap Andin sumringah, sebenarnya ia sedang memberikan kode yang mengarah pada dirinya sendiri.


"Andin ... Andin, sok bilang orang nggak peka padahal kamu sendiri yang nggak peka," gerutu Al pelan tak terdengar.


Tak lama kemudian Andin menutup panggilanya dengan Nino.


"Al, Al! Akhirnya Nino mau mempertimbangkan lagi tentang hubungannya dengan cewek itu," seru Andin bersemangat.


"Dan kamu bahagia andai mereka benaran putus?" tanya Al lagi.


"Iya, dong, itu kan artinya kesempatan aku untuk bisa bersama Nino terbuka dengan lebar," sergah Andin.


"Coba kamu pikirkan, apakah rasa yang kamu punya itu adalah cinta, ataukah hanya sekedar obsesi ingin memiliki," ucap Al seraya beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari tempat makan gudeg Yu Djum.


"Iihhh kok main pergi gitu aja sih, Al?"


"Aku tunggu di depan," jawab Al.


Setelah membayar, Andin segera menyusul Al yang telah menunggunya di depan.


"Kamu kenapa sih nggak nunggu aku dulu, main pergi aja," protes Andin cemberut.


"Tiba-tiba gerah aja di dalam, lagian makannya juga sudah selesai 'kan?" tanya Al datar.


"Iya sih tapi kan ...," ucapan Andin terpotong oleh seseorang yang secara tiba-tiba menyapa Al.


"Pak Al? gimana kabarnya?" seseorang menyapa Al sambil mengulurkan tangannya hendak berjabat.


"Eh Pak James, kabar saya baik, Anda bagaimana kabarnya?" ujar Al, berusaha tenang, membalas uluran tangan James.


"Baik, baik ... saya juga baik, btw sejak kapan Pak Al di Yogya?" tanya Pak james lagi.


"Sudah lumayan lama kok, Pak," jawab Al cepat.


"Saya dengar Pak Rendy baru saja membuka cafe baru di beberapa kota? sepertinya bisnis cafenya sangat cepat berkembang ya? Saya semakin kagum dibuatnya."


"Ya begitulah, Pak, Pak Rendy memang pebisnis yang handal sejak dulu 'kan?" puji Al.


"Ya ... Saya sungguh salut, selamat ya untuk pembukaan cafenya yang baru, kapan-kapan barangkali kita bisa kerjasama lagi," ucap James


"Oh ya tentu saja, Pak," ucap Al mulai tak tenang.


"Ok baik, senang bekerja sama dengan Anda, kalau begitu saya masuk dulu ya, Pak Al," pamit Pak James.


"Ya, oke, silakan," jawab Al salah tingkah.


Ada kelegaan dalam hati Al setelah kepergian James yang menjauh darinya, tentu saja karena ia tak ingin jika semakin lama obrolannya dengan James didengar oleh Andin.


Sedang Andin, seperti orang linglung yang tak sama sekali paham apa yang sedang dibicarakan Al dan seseorang yang baru saja berlalu dari hadapan mereka.


"Btw, ndin, mau jalan atau naik taxi online aja?" tanya Al membuyarkan lamunan Andin.


"Dia siapa?" tanya Andin tegas.


"Teman," ucap Al sekenanya.


"Kamu bohong, aku tanya sekali lagi, dia siapa, Al."


"Iya ... iya, dia rekan bisnis Pak Rendy, dulu saya sering mendampingi Pak Rendy bertemu beliau, makanya beliau jadi kenal dekat dengan saya," jawab Al sekenanya.


"Oh rekan bisnis, Pak Rendy," ucap Andin melemah.


"Iyalah memangnya kamu pikir siapa?" sanggah Al.


"Dia seperti kelihatan banget menghormati kamu, Al," ucap Andin.


"Tapi kenapa beliau ngucapin selamatnya seolah olah ditujukan buat kamu?" lanjut Andin heran.


"Ya karena saya juga bagian dalam timnya Pak Rendy, mungkin saja begitu," jawab Al singkat


"Sudah jangan dipikirkan lagi, kita mau pulang jalan kaki lagi atau naik taxi online Andin?" tanya Al sekali lagi.


"Aneh, sungguh aneh, dari obrolan mereka tadi menimbulkan kesan seolah pak James pak James itu sangat menghormati Al, ya meskipun memang ada nama Rendy di obrolan mereka, sebenarnya siapa sih Rendy ini? Apa hubungannya dengan Al? Nama ini sungguh tak asing, Pak Angga dan Al sering sekali menyebut nama ini, siapa dia sebenarnya?" batin Andin.


"Ndin... hey, kok ngelamun sih?" panggil Al lagi.


"Eh iya, apa?" tanya Andin.


"Kita mau jalan kaki ataukah naik taxi online?"


"Ehm, jalan kaki aja ya, biar lebih ngirit, kan tadi kamu makannya nambah," ucap Andin tersenyum lebar.


"Oh jadi kamu nggak ikhlas nih traktir aku?"


"Bukannya gitu, Al, tapi kan lebih sehat juga kalau kita jalan kaki, ya nggak?"


"Nggak juga," ucap Al seraya mulai melangkah kan kakinya menuju tempat peraduannya.


"Al, menurut kamu sebagai seorang cowok, mungkin nggak sih kalau Nino itu sebenarnya cinta sama aku? Tapi dia nggak mau aja nunjukin perasannya gitu ke aku?" tanya Andin membuat Al bingung.


"Kenapa kamu bisa katakan itu? Atas dasar apa?" tanya Al menghentikan langkah kakinya.


"Nggak tau sih, entahlah, Al, terkadang aku merasa Nino itu seperti menyimpan perasaan cinta terhadap aku, tapi dia sengaja menyembunyikan ini karena mempertahankan hubungan pertemanan kami, dan nggak ingin hubungan kami menjadi renggang jika ada cinta di antara kita. Gimana menurut kamu? secara kamu juga tau banyak dari cerita aku tentang hubunganku dan Nino."


"Kamu mau aku menjawab jujur?" tanya Al.


"Apa?"


"Aku nggak peduli perasaan Nino ke kamu seperti apa, yang aku pedulikan adalah tentang perasaan kamu pada Nino yang sebenarnya.


Seperti saranku tadi, sebaiknya kamu pikirkan lagi perasaan kamu itu, apakah itu memang cinta yang sesungguhnya, ataukah itu hanya sebuah obsesi dari rasa cintamu kepadanya yang telah lalu. Coba itu dulu kamu pikirkan!" tutur Al membuka pikiran Andin.


"Aku yakin itu cinta, Al,"sahut Andin mantap.


"Tapi cinta itu nggak bersifat memaksa, Andin. Cinta itu tidak egois, cinta itu tentang bagaimana cara kamu memperlakukan dia, bukan tentang keinginan dan ambisi kamu untuk memiliki dia," jelas Al.


"Kamu tuh ya, kaya sudah pernah jatuh cinta aja," sindir Andin mulai kesal.


"Tapi setidaknya aku tidak pernah memaksa orang untuk mencintaiku, apalagi memaksanya untuk bersama."


"Aku juga nggak, tapi aku hanya memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membuka hati dan pikiran Nino, apa itu salah? Apakah cinta itu salah?" cerca Andin tak terima.


"Cinta tak pernah salah, Andin, tapi, yang salah adalah ketika kamu salah menilai apa yang sebenarnya kamu rasakan," jelas Al yang terdengar mulai lelah atas perdebatan yang selalu terjadi dengan tema sama.


"Tapi aku yakin dengan perasaanku."


"Kalau begitu nikmati ... nikmati rasa itu sekalipun itu adalah sebuah kesakitan," balas Al terasa menohok hati Andin.


"Kamu kok gitu sih ngomongnya?" ucap Andin yang tak digubris oleh Al. Lelaki tampan itu justru sibuk dengan benda pipih dalam genggamannya.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna putih berhenti di hadapan mereka, "Mas Al?" tanya Driver yang membuat Andin heran.


"Iya, Pak," sahut Al yang membuat Andin semakin tak mengerti.


"Kamu pesen taxi?"


"Iya?"


"Kan kita mau jalan?"


"Aku lagi males jalan."


"Kamu kenapa sih, Al?"


"Yuk, masuk!" ucap Al sembari membukakan pintu untuk Andin tanpa menjawab pertanyaannya.