Try new experience
with our app

INSTALL

Misi Menikahi Suami 

02. Jadi, Andin Itu Istri Siapa?

Aldebaran tidak pernah mencintai dirinya?

Sungguh?

Andin kembali menyeka permukaan potret pernikahannya dengan Aldebaran. Kini, ia menyadari alasan tidak adanya senyum dalam wajah suaminya di setiap lembar potret pernikahan mereka. Namun, bukan berarti Andin mau menerima dengan ikhlas semua kenyataan ini. Tidak bisa, Mengapa harus seperti ini?

Suara deru mobil membuat punggung Andin menegak. Ia meletakkan bingkai itu di meja lantas bergerak ke arah jendela. Tampak mobil Aldebaran keluar dari pekarangan rumah ketika Andin menyingkap sedikit gorden jendela.

Dalam benaknya Andin bertanya, bagaimana mungkin Aldebaran bisa melanjutkan kegiatannya seperti biasa? Mengapa Aldebaran bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Semalaman Andin coba sekuat tenaga untuk terjaga karena ia tidak ingin malam berlalu dan kenyataan menampardirinya dengan kejam. Meski pada Andin akhirnya terlelap karena lelah menangis.

Andin beringsut duduk diam di ujung ranjang, tangannya sudah memegang ponsel. Menimbang apa ia harus menghubungi Wina? Haruskah ia ikut menyusahkan sahabatnya lagi? Apakah ia harus menghubungi ibu sambungnya di panti? Apa yang harus Andin lakukan? 

Andin tersentak mendengar nada stabil panjang dari ponsel. Terkejut karena tanpa sadar ia telah menghubungi Wina.

“Halo? Andin?” Bibir Andin gemetar, tidak ada kata yang mampu ia ucapkan. Bagaimana ini? “Ndin? Kamu enggak kenapa-kenapa? Ada apa? Tumben kamu telpon aku pagi-pagi.”

“Win.”

Hening sejenak, di ujung sambungan, Wina berhenti memoles pipinya dengan bedak. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. “Kamu kenapa?” tanya Wina.

“Wina.”

“Ndin? Kamu kenapa?” tanyanya lagi dengan suara lebih tinggi karena mendengar tangis Andin.

“Mas Al, Win.”

“Al? Dia kenapa?”

“Dia, dia,”

“Kamu jangan nangis dulu. Ada apa?” Andin tidak lagi berbicara, hanya isak tangis yang didengar Wina. “Tunggu di situ, aku ke sana sekarang!”

***

Wina tidak pernah mengingkari janjinya. Tak lama berselang, ia sungguh tiba di kediaman Alfahri. Berkali ia menarik embuskan napas, tetapi semakin sering ia melakukan itu, ia malah semakin tidak mengerti akan keputusan aneh Aldebaran.

“Jadi, dia bilang begitu? Aku enggak habis pikir, dia gila!”

“Seenggaknya Mas Al bisa jelaskan sama aku, salahnya aku di mana.”

“Ini bukan masalah salah kamu di mana. Ini lebih dari itu. Kamu yakin Al enggak bilang apa-apa lagi? Yakin?”

Andin menyeka air matanya. “Iya, Mas Al enggak bilang apa-apa lagi sama aku.”

“Sebenarnya aku memang sudah lama curiga sama dia yang selalu dingin sama kamu, tapi aku enggak pernah menyangka alasannya begitu. Aku pikir Al lelaki yang memang enggak romantis. Kita berdua itu tahu dari SMA kalau Aldebaran memang lelaki yang enggak banyak bicara. Kita harus tenang, biasanya pasangan yang bercerai itu pasti menumpuk masalah sebelum akhirnya meledak kaya begini.”

“Enggak ada apa-apa Wina.”

“Nah, enggak ada apa-apa, tapi minta cerai itu berarti ada apa-apa Andin. Al aneh, kita harus selidiki ini. Dia pasti menyimpan sesuatu. Al dingin sama kamu bukan karena dia suami yang enggak romantis. Pasti ada alasan lain!”

Andin diam. Ia pun setuju dengan pemikiran Wina. Andin mengira kalau sifat Aldebaran memang begitu adanya. Andin tidak pernah banyak protes.

“Dari awal, aku memang merasa aneh, tapi aku tahu kalau jodoh itu rahasia Tuhan. Dari kamu yang tiba-tiba akan menikah dengan seorang Aldebaran Alfahri. Aku merasa aneh, tapi siapa yang tahu kalau ternyata suami kamu adalah teman SMA yang bahkan sebelumnya enggak pernah bicara sama kita.”

Andin kembali menyeka air matanya. Memang, ia dan Aldebaran adalah teman satu sekolah menengah atas. Teman? Mungkin tepatnya Andin mengenal Aldebaran, lelaki yang tidak pernah bertegur sapa dengannya.

“Aku harus bagaimana, Win?”

Wina menggaruk belakang lehernya. “Kita harus bicara sama Al.”

“Nanti sepulang Mas Al bekerja, aku akan bicara lagi sama dia.”

“Kelamaan! Ayo!”

Setengah hati Andin tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan Wina, tetapi setengahnya lagi merasakan hal yang serupa. 

Keduanya saling tatap ketika sudah berada di lobi Alfahri. Kebingungan setelah resepsionis di sana tidak mengenali Andin sebagai nyonya dari pemilik perusahaan tersebut. Mereka malah menuduh Andin dan Wina mencari orang yang salah.

“Kalian keterlaluan! Masa enggak tahu kalau wanita yang berdiri di samping saya ini istri dari pemilik perusahaan ini?” tanya Wina bernada tinggi.

“Mbak, maaf, bisa pelankan suaranya? Kalau Mbak masih ribut begini, saya enggak ada pilihan selain usir kalian secara paksa!” balasnya tidak mau kalah.

“Sudah Win, sudah, aku mohon, aku enggak mau buat malu Mas Al. Aku akan selesaikan masalah ini di rumah sama Mas Al,” bujuk Andin berharap Wina mau berhenti.

“Ndin! Masalah ini harus selesai di depan aku! Aku tuh tahu kamu kaya gimana! Kamu pasti diam saja, terima saja kalau Al enggak adil!”

“Wina.”

“Ini adalah hal yang enggak bisa kamu selesaikan sendirian Andin!” Wina kembali menatap resepsionis berwajah oriental itu. “Mbak, coba panggil dahulu Pak Al, kalau memang saya salah, saya siap kalian usir atau bahkan kalau kalian panggil polisi pun, saya enggak masalah.”

Wanita itu tampak masih ragu, tetapi pada akhirnya ia meraih gagang telepon, tampak menghubungi seseorang.

“Pak Aldebaran ada tamu? Hah? Seriusan? Ya sudah. Makasih. Maaf ya, saya ganggu. Mbak, Mbak jangan mengaku-ngaku, ya! Sudah habis kesabaran saya! Saya akan panggil pihak keamanan!”

“Tunggu, Al ada di dalam, kan? Kamu harusnya kasih Andin kesempatan untuk bicara dengan suaminya!”

“Mbak, cukup. Bapak Aldebaran Alfahri memang ada di atas, dia sedang bersama dengan istrinya di atas!”

Andin yang sedari tadi diam, tanpa sadar mendesak Wina untuk bergeser lantas bertanya, “Istrinya?”

Wanita itu melepaskan kacamatanya. “Mbak, lebih baik Mbak keluar sekarang, saya enggak mau sampai benar-benar panggil pihak keamanan.”

“Mbak enggak jawab pertanyaan saya. Maksudnya apa? Istrinya?”

“Iya, Mbak! Pak Aldebaran sedang bersama istrinya di atas!”

Sontak Andin menoleh, menatap ke arah tangga. Tidak menunggu lagi, Andin berlari menuju tangga, ia tidak lagi mau mendengar seruan Wina atau siapa pun itu. Yang ada di kepala Andin hanya satu, memastikan kalau wanita yang mengatakan Aldebaran bersama istrinya adalah salah.

Tiba di lantai dua, Andin mengedarkan pandangannya ke kubikel-kubikel dan orang-orang yang berlalu lalang, sibuk akan kegiatan mereka masing-masing. Pandangan Andin terkunci pada satu ruangan tertutup yang dindingnya terbuat dari kaca. Dari sana ia melihat Aldebaran tampak tertawa dengan seorang wanita yang duduk membelakangi Aldebaran.

“Istrinya?” cicit Andin.

Tangan Wina yang berniat menarik Andin kalah cepat dari gerakan Andin yang mendorong pintu ruang kerja Aldebaran.

Aldebaran sontak bangkit dengan pupil mata melebar. “An-Andin?”