Try new experience
with our app

INSTALL

Cinta Lelaki Misterius 

Bab 4

Cinta lelaki Misterius


Bab 4


Malam ini terasa sangat indah, bintang-bintang yang bertaburan di langit, berkerlap-kerlip memancarkan sinarnya, begitupun dengan rembulan yang memancarkan cahaya purnamanya.


Al dan Andin baru saja keluar dari rumah makan gudeg Yu Djum dengan perut yang terisi penuh.


"Alhamdulillah kenyang, Makasih ya dah traktir aku," ucap Andin.


"Sama-sama, tapi besok kalau sudah dapat kerja, gantian traktir aku ya," canda Al.


"Insya Allah, doakan ya supaya aku cepat dapat kerjaan," ucap Andin mengulas senyuman.


Al membalas dengan tersenyum kecil.


"Eits, kamu mau pesen taxi online?" tanya Andin cepat, saat melihat Al mengambil ponsel dari dalam saku celananya,


"Iya, kenapa?" Al balik bertanya.


"Kita jalan aja yuk, nggak jauh juga 'kan? Ya ... sekalian kita ngobrol sembari menikmati indahnya malam ini, gimana? Kamu sanggup nggak jalan?"


"Kalau aku sih jujur mau aja, tapi gimana dengan kamu? memangnya kamu nggak capek kalau harus jalan sampai kostan? Memang nggak jauh sih, tapi paling nggak butuh waktu setengah jam lebih untuk sampai ke kostan. Yakin mau?" tanya Al ragu.


"Yakin dong, jadi gimana? Jalan ya?"


"Siapa takut," jawab Al menyunggingkan senyuman dibibirnya.


Keduanya pun mulai berjalan pelan menyusuri jalan utama yang masih tampak ramai di malam yang semakin larut.


"Btw, tadi telpon marah-marah pasti sama pacar kamu ya?" tebak Al sok tau.


"Pacar? Ehm, bukan pacar sih, tapi mungkin lebih tepatnya calon pacar," ucap Andin tertawa.


"Baru dengar sih ada istilah itu," ucap Al terkekeh.


"Ya, anggap aja aku pencetusnya," sahut Andin mengundang tawa keduanya.


"Berarti ada rencana jadiin pacar nih?" sindir Al.


"Ehm gimana ya, mungkin lebih tepatnya aku sedang memanfaatkan waktu aja sih," ungkap Andin menjelaskan.


"Maksudnya?" tanya Al bingung,


"Nino itu teman masa kecil aku, kami tumbuh bersama, bahkan sampai sekarang pun kami masih bersahabat dengan baik, meskipun jarak kami berjauhan, namun hal itu tak menjadi penghalang bagi kami untuk tetap saling berkomunikasi," jelas Andin sedikit menjabarkan hubungan seperti apa yang terjalin antara ia dan Nino.


"Murni hanya persahabatan?" tanya Al lugas.


"Kok nanyanya gitu?" sahut Andin sedikit heran.


"Seorang laki-laki dan perempuan tak akan pernah bisa hanya menjadi sahabat, minimal ada salah satu atau bahkan dua-duanya yang mempunyai rasa yang lebih," jawab Al menyampaikan pendapat.


"Ya, kamu benar," jawab Andin tersenyum tersipu.


"Jadi, kamu mencintai dia?"


Andin mengangguk, "Tapi sayangnya cintaku tak terbalas, karena dia mencintai wanita yang saat ini menjadi pacarnya," lirih Andin tertunduk, menatap kakinya yang tengah berjalan menyusuri jalanan Yogya.


"Itulah cinta, jika berani mencintai harus siap juga untuk sakit hati," timpal Al.


"Tidak denganku, Al, aku masih akan terus berjuang untuk cintaku. Aku masih yakin bahwa aku dan Nino suatu saat nanti pasti akan bersama," ucap Andin tersenyum penuh keyakinan.


"Seyakin itukah kamu? Jangan bilang kamu ingin merusak hubungan mereka, Andin?" tebak Al lagi.


"Bukan merusak, tapi memang seharusnya hubungan mereka tak pernah terjadi," sahut Andin dengan pandangan menerawang jauh ke depan.


"Kenapa begitu?" tanya Al heran.


"Orang tua Nino tak setuju dengan hubungan mereka, ya salah satu alasannya adalah perbedaan status sosial di antara mereka, dan masih ada lagi segudang alasan lainnya yang aku juga nggak mau tahu. Yang pasti aku hanya mencoba memanfaatkan itu untuk menyadarkan Nino, bahwa hubungan mereka tidak seharusnya terjadi," cerita Andin panjang kali lebar.


Al hanya terdiam, mencoba mencerna cerita Andin.


"Apa alasanmu berjuang merebut hati Nino hanya karena kamu mencintai dia?" tanya Al penuh selidik.


"Ya, karena hanya akulah yang pantas memiliki Nino, akulah yang paling paham dan tau sifat, karakter, bahkan tabiat Nino sejak dulu. Dan yang pasti orang tua Nino sangat menyetujui jika kami bersama," tutur Andin lagi.


"Itu cinta ataukah obsesi?" celetuk Al mengernyitkan alisnya.


"Ini cinta, Al, itu yang aku rasakan sejak dulu," timpal Andin lagi.


"Dari sepenggal cerita yang aku tangkap itu bukanlah cinta, Andin, tapi hanya sebuah obsesi ingin memiliki, sebuah hasrat ingin mempertahankan apa yang sudah lama merasa kau miliki, dan aku yakin suatu saat kamu pasti akan sadar bahwa itu bukanlah cinta," batin Al.


"Ceritakan tentang dirimu, Al, kamu banyak bertanya tentangku, bahkan sedikit banyak mulai tahu tentang urusan percintaanku, yang sejatinya itu adalah hal yang sangat privasi bagi setiap orang," celetuk Andin membuyarkan lamunannya.


"Aku? Tak ada yang special dariku, ndin," ucap Al asal.


"Masa sih?" jawab Andin tak percaya.


"Ya, aku hanyalah aku yang–ya seperti ini hidupnya, tak punya mimpi, tak punya target, bahkan tak punya planing tentang masa depanku, aku jalanin aja semuanya, seperti air mengalir, aku ya aku seperti yang saat ini kamu lihat," sahut Al sekenanya.


"Pacar?" tanya Andin lagi.


"Tak punya," jawab Al singkat.


"Kenapa? Padahal nggak sulit lho buat kamu mencari pacar. Kamu tampan, gagah, baik, ramah, dan ehm, asyik diajak bicara, maybe," puji Andin.


"Mungkin belum menemukan yang pas aja, tapi entahlah aku nggak terlalu mikirin soal ini," jawab Al lagi.


"Orang tua kamu di mana? Di Yogya juga?" tanya Andin yang seketika pertanyaan itu dialihkan oleh Al.


"Gimana Yogya menurut kamu? Kamu suka di sini?" tanya Al tiba-tiba membuat Andin sadar bahwa pertanyaannya cukup sensitif hingga membuat Al tak ingin membahasnya lebih dalam lagi.


"Kenapa Al mengalihkan obrolan kita? Dia seperti tak ingin membahas perihal orang tuanya. Tapi kenapa ya?" batin Andin bertanya.


"Andin?" panggil Al.


"Ehm, Yogya menurut aku, ya? Apa, ya? Ehm ... Aku belum punya penilaian sih tentang Yogya. Kan aku baru sampai di sini, dan belum pernah ke sini sebelumnya, jadi belum tau gimana kehidupan di sini.


Hanya saja yang aku tau Yogya menjadi destinasi tempat wisata selain juga sebagai kota pelajar, artinya di sini kemungkinan ada banyak tempat wisatanya, benar begitu nggak?" tanya Andin.


"Iya begitulah, kapan-kapan aku akan ajak kamu ke beberapa tempat wisata di sini. Ya itupun kalau kamu nggak keberatan sih," ajak Al ragu.


"Boleh asal gratis ya," jawab Andin sembari terkekeh.


"Ini nih, yang repot, ketagihan ditraktir gudeg nih sepetinya sampai minta ditraktir jalan-jalan juga, latah ya?" canda Al juga terkekeh.


Perjalanan masih sangat panjang untuk tiba di tempat mereka, Al dan Andin terus saja mengobrol, sesekali canda dan tawa menghiasi obrolan mereka dan tanpa mereka sadari ini menjadi awal keakraban diantara mereka, menjadi awal pergulatan Al melawan rasa sakit dan traumanya, juga menjadi awal Andin untuk memahami arti cinta yang sesungguhnya.


Waktu menunjukkan pukul 21.05 saat Al dan Andin berada tepat di depan tempat naungan mereka,


"Capek?" tanya Al menoleh ke arah Andin.


"Lumayan juga ternyata," jawab Andin nenatap mata Al.


Deg!


Degupan jantung Al berdetak kencang saat mata Andin menatap matanya, sejenak Al merasakan ketenangan kala menatap wajah manis Andin.


"Mata yang indah dan meneduhkan," batin Al.


"Tapi nggak apa-apalah, anggap aja sedang olah raga, ya nggak?"


"Yang ada lapar lagi, Ndin," canda Al membuat keduanya tertawa bersama.

"Oke, sudah malam, saatnya kita harus beristirahat, sekali lagi makasih ya untuk traktirannya, makasih sudah jadi teman pertama aku di kota ini, dan makasih juga sudah menemani aku malam ini," ucap Andin tulus.


"Banyak banget makasihnya, sama-sama, makasih juga sudah menjadi teman ngobrol yang baik buatku," sahut Al.


"Dan ... Jangan kapok ya dengerin cerita-cerita atau curhatan aku lagi, sepertnya aku akan sering ganggu kamu deh, Al," jawab Andin.


"Siap, Ndin, Insya Allah dengan senang hati akan mendengarkan semua cerita juga curhatan kamu, asal ...," ucap Al memotong ucapannya sehingga membuat Andin penasaran.


"Asal apa?"


"Kamu hati-hati, jangan sampai kamu nantinya terlalu nyaman ketika bersamaku," canda Al membuat Andin tertawa.


"Ya sudah, aku masuk ya, takut keburu digembok pintunya sama Pak Angga" ucap Andin membalikkan badannya seraya melangkahkan kakinya lebar-lebar agar cepat sampai ke kamarnya.


"Andin!" panggil Al membuat Andin membalikkan badannya menghadap ke Al.


"Apa lagi sih, Al?"


"Jangan lupa ya, jangan ikat rambut kamu terus-terusan, kamu terlihat lebih cantik jika rambutmu diurai. Kalau nggak percaya, tanya aja sama cermin, coba deh," saran Al membuat Andin tersenyum tersipu menanggapi ucapannya.