Try new experience
with our app

INSTALL

Menyusul Subang Larang 

Menyusul Subang Larang 7. Saingan

Menyusul Subang Larang 7. Saingan 


Seketika melihat perempuan bercadar itu Siliwangi dan anak-anaknya yakin seratus persen jika perempuan bercadar itu adalah Subang Larang. Pawakan dan area mata begitu mereka kenali. Mereka pun berbinar-binar saat melihatnya. Siliwangi tersenyum begitu lebar dan menatap penuh cinta.


Harja memperhatikan senyuman dan tatapan Rabu kepada Rara. Ia bisa menduga Rabu tertarik dengan Rara. Lalu ia merasa hal itu adalah kesempatannya. Kesempatan untuk mengalahkan tetangganya. Ia akan memanfaatkan Rabu untuk mendekati Rara. Lalu ia akan meminta Rabu meminta Rara memberikan informasi apa pun mengenai Tisna.


“Ada apa, Kang?” Kusumaningrum ke luar dari dalam rumah membuyarkan Siliwangi dan anak-anaknya menatap Subang Larang.


“Ini kenalkan, Ini Rabu dan tiga anaknya. Tatang, Elang, dan Sasa Mereka akan bekerja di sini.”


“Alhamdulillah, akhirnya aku dapat pembantu tidak kalah sama si Esih!” ujar Kusumaningrum berbinar-binar. Dalam hal apa pun Kusumaningrum dan Harja tidak mau kalah dari Esih dan Tisna. Begitu pula sebaliknya, Esih dan Tisna tidak mau kalah dalam hal apa pun dari Kusumaningrum dan Harja. Soal enak-enakan makanan. Soal bagus-bagusan baju. Soal banyaknya harta. Soal kesuksesan anak. Banyak hal, apa pun menjadikan mereka bersaing.


“Sasa kamu ikut sama Kusumaningrum istriku. Rabu, Elang dan Tatang kalian ikut aku berdagang. Sebelumnya aku dibantu putra semata wayang kami dan temannya. Namun, keduanya memilih menjadi prajurit di Istana Pajajaran. Orang tua mana yang tidak bangga dengan pilihan putranya menjadi prajurit? Maka kami izinkan, tapi kami jadi tidak punya siapa pun untuk membantuku berdagang. Dagangan juga sepi. Anak kami dan temannya cukup pandai berdagang lebih dari aku. Selain itu, istriku baru saja ditinggalkan pembantunya karena sedang hamil besar.”


“Kenalkan, saya Kusumaningrum. Sasa bisa masak, Nak?” Rara nyengir karena tidak begitu bisa memasak. Kemudian, ia mengangguk saja demi bisa diterima bekerja dan berdekatan dengan Subang Larang.


“Geulis pisan cocok kalau sama putra kita ya kan, Kang? Cocoknya teh kamu jadi mantu bukan pembantu. Kamu jangan khawatir, Neng Geulis, gaji di sini besar, beda dengan di rumah sebelah. Untung kamu di sini. Tuh yang bercadar itu pembantu baru di sebelah, baru kemarin malam. Malang sekali nasibnya dapat kerjaannya di sebelah. Di sebelah orangnya pelit. Ayo, masuk! Aku belum belanja. Kamu tolong ke pasar. Nanti bisa bareng sama Kang Harja yang mau dagang baju di pasar. Kamu ikut aku ambil dulu tas belanja sama uang.” Kusumaningrum membawa Rara Santang masuk ke dalam rumahnya. Berbeda dari Siliwangi dan dua saudaranya yang mengenakan tambahan bulu-bulu di wajah, Rara Santang menggunakan makeup yang ia buat menjadi mengubah bentuk wajahnya. Sehingga ia tetap cantik, tetapi dalam wujud yang berbeda.


“Ini ada baju-baju dan kain-kain. Nanti bantu aku jualan ini. Kalau kalian bisa menjualkan banyak akan ada bonus,” terang Harja menunjukkan buntalan-buntalan yang ditaruhnya di atas kereta tanpa kuda. Kereta itu kecil dan terbuat dari kayu. Cukup ditarik dengan tenaga manusia.


✨✨✨✨❤️✨✨✨✨


“Kamu silakan belanja apa saja. Pokoknya kamu harus masak yang lebih enak dari sebelah. Masakannya kalau bisa yang nyeleneh yang belum pernah dimakan sebelah. Masak yang banyak juga. Soalnya aku mau pamer ke sebelah dan aku bagikan ke tetangga-tetanggaku yang kismin. Biar semua tahu aku lebih dermawan dari juragan sebelah.”


Rara Santang membatin mengeluh, “Waduh.” Bingunglah ia mau masak apa. Kalau hanya memanggang ala orang yang tinggal di hutan gampang. Menu sederhana okelah. Kalau yang nyeleneh?


Kemudian, Rara Santang terbesit ide di benaknya lalu berkata, “Saya mengerti ramuan. Bagaimana kalau masakan pada umumnya terus saya campuri sesuatu yang menyehatkan badan?”


“Wah, boleh-boleh, tapi selain itu alangkah baiknya kalau masakannya lain daripada yang lain. Pokoknya tidak boleh kalah dari masakan tetangga sebelah! Masakan kamu tidak boleh kalah enak dari masalah perempuan bercadar di sebelah. Kalau pembantu sebelah yang satunya sudah tua. Masakannya tidak seberapa enak. Kamu tidak perlu khawatir kalah darinya. Sudah pasti masakan kamu lebih enak dari pembantu yang sudah nenek itu.”


Rara Santang nyengir sembari membatin, “Aku jagonya ramuan, kalau memasak Ibunda. Bahkan kemungkinan besar masakanku lebih parah dari nenek yang diceritakan.”


“Iya, baiklah.” Rara Santang menyanggupinya meskipun tidak sanggup karena sepertinya tetap harus membuat masakan yang spesial nan istimewa. Jika tidak, bisa-bisa baru kerja sudah dikeluarkan.


✨✨✨✨❤️✨✨✨✨


Tidak lama Sasa telah ke luar sembari membawa keranjang belanja dan sekantong uang yang diletakkan di dalam keranjang itu.


“Elang kamu yang tarik keretanya! Rabu, Tatang, kalian bantu dorong! Ayo, kita ke pasar!” titah Harja. Walang Sungsang segera mengalungkan tali di depan gagang gerobak ke lehernya dan kedua tangannya memegang dengan memeluk kedua gagang gerobak. Siliwangi dan Kian Santang membantunya dengan mendorong bagian belakang gerobak. Harja berjalan di samping gerobak. Rara Santang jalan paling belakang sembari bingung memikirkan mau masak apa mau belanja apa.


Saat itu, Subang Larang melihat mereka. Subang Larang tidak mengenali mereka. Namun, melihat wajah Rabu membuat Subang Larang tersenyum.


“Ganteng dan gagah pria yang mendorong kereta itu padahal tampak sudah umur. Astagfirullah, apa yang aku ucapkan barusan? Jangan sampai aku jadi gila gara-gara suami pujaanku tidak sungguh-sungguh mencintaiku.”


Kemudian, ia mengerti sesuatu. “Oh, juragan sebelah sudah dapat pembantu baru. Syukurlah kalau begitu. Em ... ada yang perempuannya juga. Aku bisa berkenalan dan berteman dengannya nanti.” Subang Larang tersenyum menatap gadis yang membawa keranjang belanja.


“Pria yang besar mendorong gerobak itu kemungkinan Ayah gadis itu. Ayahnya ganteng, pantas saja putrinya begitu cantik. Udah cantik makeupnya tebal sekali. Pasti akan bikin banyak pemuda naksir gadis itu,” batinnya kemudian sembari tersenyum.


✨✨✨✨❤️✨✨✨✨


Gubrakkk!


Gara-gara jalan sembari berpikir Rara Santang tidak melihat depannya. Ia menjadi tidak memperkirakan kecepatan langkahnya. Ia menjadi menabrak Siliwangi yang ada di depannya. Badan Siliwangi pun menjadi terantuk gerobak dan menimbulkan suara.


“Maaf ... maaf,” ucap Rara Santang. Harja hanya menoleh tidak mempermasalahkan. Gerobak tetap jalan.


Siliwangi menjadi berbisik ke Rara Santang. “Apa yang membebani pikiran Ananda, membuat Ananda sampai tidak awas?”


“Disuruh belanja terserah pokoknya masakannya harus spesial, tidak boleh kalah dari masakan tetangga sebelah. Bagaimana ini, Ayahanda Prabu? Masak apa?”


“Begini saja, kamu belanja saja apa saja yang mau kamu beli. Saat sampai rumah juragan, kamu tanya saja sama Ibunda kamu,” saran Siliwangi.


“Apa Ibunda tidak akan mengenali Rara, Ayahanda Prabu?”


“Sepertinya tidak. Makeup tebal dan membentuk wajahmu sangat berbeda.”


“Baiklah, Ayahanda Prabu.”


✨✨✨✨❤️✨✨✨✨


Di pasar, Siliwangi dan kedua putranya menggelar dagangan Harja. Sementara itu, Rara Santang pergi jalan-jalan mencari bahan-bahan yang akan ia masak. Ia masih melihat-lihat tidak kunjung beli-beli karena bingung.


“Beli apa, Neng Geulis? Dari tadi keliling terus tidak ada yang dibeli.”


“Hehe ... bingung. Menurut Kisanak enaknya beli apa ya buat membuat makanan yang spesial, yang istimewa?”


“Bagaimana kalau kepala kambing saja? Saya jualnya daging kambing. Kalau mau yang spesial pilih yang kepala kambing.”


Rara Santang melihat kepala kambing. Ia nyengir lucu-lucu ngeri melihatnya. Namun, ia berpikir ada benarnya memilih bahan itu. Memilih bahan masakan yang nyeleneh yang tidak biasa dimakan demi masakan anti mainstream.


“Kalau beli dua apa masakannya akan menjadi banyak?”


“Bisa, cukup.”


“Ya udah, saya beli dua kepala kambingnya.”


Setelah mendapatkan bahan yang dibutuhkan, Rara Santang menghampiri lapak Harja untuk berpamitan kembali ke rumah Harja. “Juragan, saya sudah dapat bahannya. Saya pamit mau kembali ke rumah juragan.


“Bakal masak apa?” tanya Harja sembari melihat ke keranjang yang dibawa Rara Santang. “Wah, kepala kambing! Kamu pasti pandai memasak! Pasti enak! Tidak salah aku punya pembantu kamu! Pembantu sebelah pasti kalah masakannya sama kamu!” puji heboh begitu bangga Harja memiliki pembantu Rara Santang. Siliwangi, Kian Santang, dan Walang Sungsang saling pandang karena bagaimana Rara Santang akan bisa memasak itu. Ketiganya kemudian menatap ke Rara Santang dengan tatapan kok bisa-bisanya pilih bahan itu. Bahan yang akan membuat Rara Santang semakin kesulitan memasak. Rara Santang mengerti sedang ditatap dan bisa menduga alasannya karena kepala kambing.


“Ya sudah, segera pulang dan masak yang enak kepala kambingnya! Hati-hati di jalan. Hafal jalannya kan?”


“Insya Allah, hafal.” Rara Santang mencium tangan Siliwangi dan Rakanya. Kian Santang mencium tangan Rara Santang. Setelah itu, Rara Santang pergi.


“Assalammualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Senangnya punya putri jago memasak. Pasti sering dimasaknya menu-menu lezat. Siliwangi hanya menanggapi dengan tersenyum. Kemudian, Siliwangi menjadi teringat saat pagi-pagi buta berduaan dengan Subang Larang di dapur, memasak bersama. Namun, setelah itu, seketika ia hancurkan dengan mempercayai surat antah berantah yang tidak jelas asal-usulnya dan kebenaran isinya.


✨✨✨✨❤️✨✨✨✨


Di jalan, Rara Santang pun bingung. “Aduh bagaimana memasaknya? Bahannya sih sudah aneh, tapi bagaimana mengolahnya? Mau dibuat apa?”


"Ibunda," ingatnya kemudian.


Bersambung

Terima kasih

✨❤️❤️❤️✨


DelBlushOn Del BlushOn Del Blush On delblushon #delblushon :)