Try new experience
with our app

INSTALL

Hujan di Belanga (TAMAT) 

4. Surat

Jettro memarkir Starlet merah tahun 92-nya itu di lahan yang sempit. Jett heran, semakin hari, semakin banyak siswa yang membawa mobil dan motor sendiri. Ia tidak habis pikir, untuk apa mereka bawa kendaraan ke sekolah? Padahal Jett yakin rumah mereka dekat dan pasti terjangkau jika mereka naik kendaraan umum. Jettro bisa dibilang pengecualian. Rumahnya sangat jauh, berjarak sekitar 18 km dari sekolah. Lebih tepatnya, Jett tinggal di Kompleks Perumahan Trinity, Cihideung, wilayah yang hampir dekat dengan Lembang. Dan, di perumahan tempatnya tinggal, tidak ada angkutan umum sama sekali. Lagipula, mereka masih punya orangtua yang bisa mengantar mereka ke sini, tanpa harus membawa mobil sendiri, kan?

Tapi ya, buat apa mengomel? Jett menarik rem tangan dan siap keluar mobil. Bel sudah berbunyi dan pasti kelas sudah dimulai.

Dari arah belakang, terdengar suara klakson menyalak-nyalak. Jett menoleh. Klakson itu berasal dari Honda Jazz hitam milik cewek blasteran yang nama lengkapnya Alvira Shandy Vessel alias Vira. Jett tidak peduli. Mungkin klakson itu bukan untuknya. Diapun melanjutkan langkah menuju gerbang samping. Suara klakson itu menyalak-nyalak lagi. Dia menoleh lagi dan melihat si penumpang menyalakan lampu jauhnya berkali-kali, mengisyaratkan sesuatu. Akhirnya, Jett menghampiri mobil itu dan pemiliknya membuka kaca. 

“Heh, kamu yang kemarin nabrak aku di kantin itu, kan? Kenapa sih kamu selalu nyari trouble? Sekarang, kamu nempatin tempat parkir aku!” kata Vira, tanpa basa basi.

Jett nolah noleh, lalu menunjuk dadanya sendiri.

            “Iya! Kamu! Siapa lagi!! Emang ada orang lain di sini!??” sentak Vira keras.

Jettro tentu saja kaget. Dia belum pernah dibentak oleh siapapun apalagi sama cewek.

            “Tempat parkir kamu?” Jettro mengerenyit.

“Iyaaa!! Haduuuh! Masa kamu gak tau, sih?? Semua orang tahu, yang kamu tempatin itu, tempat parkir aku!! Aku harap, kamu cepetan pindahin mobil atau aku panggilin satpam!”

Jettro melengos. Dia merasa tidak perlu berdebat. Segera ia langkahkan kaki meninggalkan Vira menuju gerbang sekolah. Vira jengkel dan keluar dari mobilnya.

“Heh! Kamu bisa sopan gak sih?? Aku ini cewek dan kamu cowok. Tolong hormati aku! Aku lagi ngomong sama kamu tahu gak?? Enak aja main ngeloyor”

Jettro menghentikan langkah dan menoleh.

“Aku bisa sopan sama orang yang juga sopan sama aku” tukas Jett. Matanya menatap Vira tajam. Vira tiba-tiba gentar ditatap olehnya dan dia jadi salah tingkah. Dia menatap mata Jett dalam diam. Baru kali ini, dia merasa tidak mampu melawan seorang pria. Sedetik, dua detik dan ekspresi wajahnya berubah seketika.

Please, pindahin mobil kamu sekarang. Cepat. Aku udah terlambat, nih..” pintanya, memelas.

“Aku juga udah terlambat” Jettro membuang muka. Cewek ini benar-benar tidak tahu tata krama. Kenalan dulu, kek atau ada kata-kata minta tolong kek atau apa. Tanpa banyak kata, Jett melangkah lagi.

“Baik, baik. Oke, maafin aku. Hmm.. Kenalan dulu, aku Vira” Vira mencegat langkah Jett, lalu mengulurkan tangan.

Jettro memilih tidak menyambut uluran tangan Vira tapi hatinya sedikit melunak karena barusan Jett mendengar Vira meminta maaf. 

Vira melirik bagde nama yang terpasang di dada sebelah kanan baju seragam Jett.

“Panggilan kamu Jettro? Atau Hendra? Oke, siapapun. Aku minta tolong sama kamu ya, untuk pindahin mobil kamu ke sebelah sana. Aku gak terlalu bisa parkir apalagi di tempat yang sempit. Kamu mau, ya, tolongin aku? Pleassseee...”

Dengan mendongkol, Jett akhirnya mengalah. Setidaknya, dia agak respek sedikit karena Vira meminta tolong padanya, bukan menyuruh. Coba daritadi dia bilang kalau dia tidak bisa parkir di tempat yang sempit di ujung sana, Jettro pasti bersedia memindahkan mobilnya. Tidak perlu membentak-bentak seperti itu. 

Dia kembali ke mobil dan memindahkannya ke tempat lain. Baginya, tidak ada gunanya ngelawan cewek, apalagi ceweknya kayak gitu. Jettro menyayangkan sikap Vira yang cantik-cantik tapi kelakuannya minus. Penilaiannya dari delapan merosot drastis menjadi enam untuk Vira.

Setelah parkir, segera Jett melesat menuju kelasnya. Dia menyusuri koridor yang sudah mulai sepi. Hatinya masih diliputi rasa kesal dengan peristiwa tadi. Jettro mempercepat langkah dan berdoa semoga jam pertama belum dimulai.

“Jettro! Euuh Hendra!! Tunggu!!”

Jett menoleh dan melihat Vira mengejarnya. Aduh, mau apa lagi sih dia??

“Hey, hey, tunggu!! Kalau boleh tahu, kamu itu murid baru ya di Persada? Persada II juga, kan? Soalnya aku gak pernah lihat kamu sebelum accident di depan pintu kantin. Emangnya kamu ada di kelas mana? I’m sorry, I don’t know you, really!” kata Vira bertubi-tubi.

“Sorry, aku buru-buru. Udah telat” jawab Jettro datar saja “Dan panggilanku Jettro, bukan Hendra,” lanjutnya seraya berlari meninggalkan Vira.

*

Tiba-tiba saja, sekujur badan Liz gemetar. Sepucuk surat dari Christian untuk seseorang yang sejak setahun lalu jadi penghuni hatinya bergerak-gerak sendiri ditangan Liz tanpa diminta. Liz tercekat melihat ruangan kelas dihadapannya ini penuh siswa kelas dua IPS-1. Tatapannya tertuju pada seorang cewek yang namanya tertera di sampul pink surat itu. Vira.

“Vira, aku ada perlu...” panggil Liz ketika sudah di dekat cewek blasteran Belanda Jawa yang jadi idola seantero Persada. Wajahnya cantik. Bahkan cantik sekali. Rambutnya berwarna coklat asli bukan hasil dari pewarna rambut. Kulitnya putih cenderung merah dan hidungnya sangat mancung. Tak heran kalau seluruh siswa laki-laki di sekolah ini naksir padanya dan ingin jadi pacarnya, termasuk pengirim surat ini; Christian. 

Sahabatnya itu sudah lama suka pada Vira, sejak melihatnya pertama kali di hari pertama masuk SMA Persada II. Bila membandingkan diri dengan cewek itu, Lizkia merasa jadi seperti anak kampung. Rambut Liz hitam dan lurus saja, tidak ada gelombang-gelombangnya seperti rambut Vira. Kulit Liz juga putih saja, tidak kemerah-merahan seperti kulit Vira dan yang pasti hidung Liz, tidak semancung hidung milik gadis itu. Kini, mata Vira yang berwarna kecoklatan itu menatap tajam Lizkia dengan tatapan laksana ribuan jarum yang menusuk retina mata. Liz jadi salah tingkah.

“Kamu lagi!! Pasti mau ngasih surat dari...siapa..., yang pincang itu??” tanyanya ketus. Deg! Jantung Liz mendadak seperti berhenti.

“Si pincang itu punya nama, Vir. Kalau gak salah, namanya Christian Ankara. Ya kan, Liz..? Tanya nih sama sobatnya...” kata Tessa dengan suara digenit-genitkan. Lizkia mual mendengarnya. Dia ingin marah, tapi ditahan. Tenang, Lizkia, katanya dalam hati. 

Bagaimanapun dia tidak boleh marah,  tidak boleh emosi. Sebab jika emosi, tujuannya untuk mengantar surat sahabatnya ini akan gagal. Surat itu (entah sudah surat yang keberapa kali) harus sampai ke tangan Vira.

“Iya, aku lupa namanya, makanya nanya!” seru Vira, suaranya menggelegar.

Lalu, dengan gaya angkuh, dia menerima surat itu, disaksikan semua anggota genknya. Liz menarik napas lega.

Thaaaannnkkk youuuu..” sambil berkata begitu, Vira merobek-robek surat bersampul pink itu tepat di depan Liz. Liz melotot. Hasil usaha Chris berjam-jam menulis surat itu sia-sia dengan hanya satu sobekan. Sementara itu Vira dan teman-temannya tertawa-tawa bahagia seolah mengejek kekalahan Liz.

“Sorry ya Lizkia. Aku udah tahu isinya. Cuma puisi-puisi gombal yang kampungan! Eh, sampaikan sama si pincang, kalo mau ngerayu yang agak modern dikit dong. Emang sekarang enggak ada WhatsApp? DM IG? Halllooo...” ujar Vira sambil melirik teman-temannya. 

“Kenapa dia masih pakai surat-surat kayak gitu? Itu mah jamannya nyokap ama bokap aku pacaran kaleeee...hahaha!! Ohya, bilang sama si pincang juga, aku udah nolak dia jaaauuuuh sebelum dia nyatain suka sama aku. Kamu ngerti kan Liz apa yang aku omongin??”

Tawa teman-teman makin berderai-derai. Lizkia makin geram.

“Namanya Christian Vir, bukan si pincang” kata Widya disela tawanya.

“Masa bodo! Aku gak akan pernah mengingat namanya!!”

Wajah Liz memerah karena marah. Sial benar si Vira ini. Tidak tahukah dia jika Christian itu sangat berarti baginya? Kali ini, Lizkia tidak bisa tahan. Hatinya sakit sekali.

“Dasar sombong!!” desisnya.  Lizkia segera meninggalkan kelas IPS dengan derai tawa Vira dan teman-temannya.

“Vir, setidaknya kamu baca dulu surat dari Christian itu” kata Widya disela tertawa teman-temannya. Vira meleletkan lidahnya. Dari dulu, Widya selalu membela Christian, cowok yang menarik perhatiannya sejak lama.

Widya sudah tahu Chris sejak awal masuk, karena mereka berbarengan ketika mendaftar ke sekolah ini. Widya juga tahu Lizkia. Mereka bertiga sempat saling bertegur sapa, sebelum dia masuk jadi anggota genk Vira yang sangat membenci Christian dan Lizkia.

“Kenapa, Wid? Kamu suka sama si Pincang? Ambil sanaaaa!” teriak Vira sambil kembali ke tempat duduknya.

Lizkia menuju taman kecil di belakang perpustakaan, dimana Christian sudah menunggunya di sana. Dia berhenti sejenak sebelum Christian melihat ke arahnya. Dia harus berkata apa? Kalau mengatakan hal sebenarnya apa yang terjadi tadi, pasti akan menyakiti hatinya. Gimana, ya? Liz melangkah lagi, mendekati Christian. Mendengar ada langkah mendekat, Christian menoleh dan menyambut Liz dengan senyum lebar.

“Gimana, Liz, udah disampein?”

Tatapan penuh tanya itu berharap Lizkia menjawab; Ya, Chris surat itu sudah dibaca Vira dan dia sangat senang dengan puisimu.

Namun, kenyataannya kan beda. Lizkia mau bilang jujur tapi begitu menatap Chris, Duh mata itu, gimana Liz tega?

“Tenang” jawab Liz sambil duduk di sebelah Christian “Dia udah nerima surat itu kok”

“Terus dibaca?”

Lizkia diam karena ragu,

“Gak tahu. Kan abis ngasih, gue langsung pergi”

“Harusnya lo tunggu, sampai dia buka dan baca surat itu. Gue pengen tahu gimana reaksinya” kata Christian. Lizkia menunduk. Andai lo tahu, Chris..

Christian menarik napas dan membenahi letak sepatu besi yang selama 6 tahun setia menempel di kakinya.

“Maaf, Liz. Gak seharusnya gue suruh-suruh lo kayak gini”

“Gak apa-apa, Chris. Gue yakin kok dia tahu isi hati lo”

“Ah, syukur deh...”

Liz mendengar nada suara Chris sangat gembira. Sejak kecelakaan itu, Christian yang dulu sangat cheerful, berubah  jadi anak yang pesimis. Jadi, Liz agak lega jika nada bicara Chris tadi terdengar sangat optimis. 

Tapi, jika ingat kejadian tadi hati Liz kembali tidak nyaman.

“Chris, kenapa sih lo gak SMS aja si Vira, atau pake WA, IG gitu? Kenapa harus pakai surat?” tanya Liz.

“Sebenarnya itu bukan surat cinta gitu, tapi lebih ke prosa puisi tentang perasaan gue ke dia. Kenapa gue gak pakai WA atau IG, karena gue pikir, dengan usaha ngarang puisi dan menuliskannya dengan tangan gue sendiri, dia akan lebih tersentuh. Lagipula, IG gue belum diapprove sama dia sampai sekarang...” kata Chris, lirih “Ya, moga aja dia objektif dan gak lihat gue sebagai orang yang cacat ya, Liz...”

Lizkia mengangguk-angguk pelan. Hatinya bergetar menahan perasaan yang campur aduk. Seandainya Chris tahu kejadian tadi..

Chris menyenggol lengan Liz yang lagi setengah melamun, lalu menyodorkan sobatnya itu roti bakar yang dibekali ibunya sebelum berangkat sekolah. Liz memakan roti itu pelan-pelan, hatinya perih tersayat-sayat.