Try new experience
with our app

INSTALL

Aldebaran, My Love - The Sequel 

Chapter 5

"We never sleep together, Lisa," geram Aldebaran, dia maju selangkah ke arah Lisa dan Andin bisa melihat bagaimana Al berusaha keras untuk mengekang amarahnya. "Kita memang minum-minum malam itu di bar hotel bersama teman-teman yang lain, tapi setelah itu gue langsung pulang."

"Tapi sebelum pulang, lo nemenin gue ke kamar hotel, Al," kata Lisa pelan, menangkupkan tangannya di atas perutnya di tempat janinnya berada. Ekspresi terluka di wajah Lisa dan keputusasaan dalam suaranya terlihat begitu nyata sehingga mustahil rasanya kalau Lisa berbohong.

Ya Allah. Ya Allah.Ya Allah.

Tubuh Andin gemetar hebat dan dia mengucapkan nama Tuhan berulang-ulang, berdoa sepenuh hati semoga Tuhan menyadarkannya dari mimpi buruk yang seakan tak berujung. Andin berusaha keras melawan rasa sakit di dadanya ketika kepercayaannya mulai goyah. Andin harus memaksa dirinya untuk bernapas. Tapi sulit untuk melakukannya saat Andin melihat ekspresi ketakutan melintas di wajah suaminya.

Lisa mengusap air matanya sebelum kembali berbicara, "Waktu itu kita sama-sama mabuk dan lo nawarin buat anterin gue ke kamar hotel tempat gue menginap malam itu. Di kamar, lo tiba-tiba cium gue lalu kita berhubungan sebelum lo pergi."

Aldebaran berdiri mematung tak bergerak diantara Andin dan Lisa, berusaha sekuat tenaga menggali jauh ke dalam ingatannya yang terdalam untuk menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

"Tapi gue ga ingat pernah anterin lo ke kamar." Al menggelengkan kepalanya berulang-ulang. "Lo pasti salah orang. Mungkin itu Dennis atau Gio," kata Al, merujuk pada kedua temannya yang ada di bar bersama mereka malam itu.

"Bukan mereka," kata Lisa. "Gue yakin itu lo."

"Lisa ..." Al menggertakkan giginya. "Waktu itu lo mabuk, jadi lo ga bisa yakin seratus persen itu gue. Lagipula bisa jadi ini akal-akalan lo untuk balas dendam sama Andin karena Vino. Waktu itu lo sengaja ngajak gue ketemuan di bar setelah dengar gue berantem sama Vino."

Malam itu, setelah pertengkarannya dengan Andin, Aldebaran merasa sangat marah dan bermaksud menyetir tanpa arah untuk menenangkan diri. Secara kebetulan, dia mendapat pesan dari Lisa yang mengajaknya bergabung dengan teman-teman sekolahnya dulu yang sedang nongkrong di bar salah satu hotel di Jakarta Selatan. Lisa juga menyinggung bahwa dia baru saja mendengar kabar tentang perkelahian Al dengan Vino—mantan pacar Lisa—dan mengatakan dia bisa jadi pendengar yang baik kalau Al membutuhkan teman untuk bercerita.

"Ini ga ada hubungannya sama Vino!" balas Lisa marah. "Kita berdua memang melakukan hal yang ga seharusnya malam itu karena mabuk. Tapi sekarang kita harus siap menanggung resikonya." Lisa mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan Al.

"No!" kata Al keras kepala, menghindar dari sentuhan Lisa. "I don't believe you!"

Tapi Aldebaran tidak bisa menyembunyikan kepanikan yang dirasakannya dan hal itu membuat Andin hancur, membuatnya berpikir bahwa Al mungkin saja tidur dengan Lisa malam itu disaat pikirannya sedang kalut dan kacau setelah bertengkar dengan Andin.

Andin merosot ke dinding di belakangnya, dan mulai merasakan serangan panik—napasnya tersengal-sengal, jantungnya berdebar kencang, dan pandangan matanya tidak fokus—sementara dia bertanya-tanya bagaimana dia sanggup menghadapi ini semua.

"KELUAR!" Aldebaran tiba-tiba berteriak begitu keras, membuat tubuh Andin tersentak. Dan untuk sesaat, Andin mengira kalau ucapan Al tertuju padanya.

"KELUAR, LISA! KELUAR SEKARANG JUGA!"

"Al ..."

"CUKUP!" teriak Al frustasi. "Sekali lagi gue bilang gue ga percaya sama lo! Lo pikir gue bodoh? Kalau lo hamil, bisa jadi itu anaknya Dennis atau Gio atau salah satu laki-laki yang ada di bar malam itu," kata Al dengan nada menghina.

Lisa terengah-engah, tangannya bertumpu protektif di atas perutnya. "Gue ga pernah tidur dengan siapapun setelah putus dari Vino enam bulan lalu. Ini anak lo, Al!"

Rahang Al mengeras. "I want a paternity test."

"What for? You don't believe me?" pekik Lisa dan mulai menangis tersedu-sedu, tetapi Al tampaknya tak terpengaruh oleh air matanya.

"You're absolutely right I don't believe you," kata Al kasar. "Sekarang gue mau lo pergi. Untuk selanjutnya pengacara gue yang akan hubungin lo. Jangan berani-berani temui gue lagi."

Lisa menegang dan ekspresinya berubah seketika menjadi penuh dendam. "Oh, gue udah liat video viral kalian kemarin. Mau gue bicara sama wartawan biar kalian tambah viral lagi? Bayangkan gimana hebohnya ketika publik tau kalau ternyata Aldebaran Alfahri, pengusaha terpandang dan suami idaman para wanita, is nothing but a cheating a-hole! Bayangkan skandal yang akan terjadi," kata Lisa mengancam, ekspresi mengejek terlihat jelas di wajahnya.

"Lo yakin mau berhadapan sama gue?" kata Al pelan, nada suaranya dingin dan menakutkan. "Sekarang juga gue bisa bikin lo hancur."

Wajah Lisa memucat tapi dia mengangkat dagunya dengan angkuh. "Gue ga takut sama lo," katanya sebelum keluar dan membanting pintu dengan keras.

Keheningan mencekam terjadi setelahnya sebelum Aldebaran tiba-tiba menggebrak meja dengan begitu keras sampai vas bunga yang ada di atas meja terlempar jatuh ke lantai. Suara pecahan kaca yang nyaring menggema di sekeliling ruangan.

Al memusatkan perhatiannya pada Dayana dan menatapnya dengan penuh kebencian dan amarah yang membekukan tulang. “Puas kamu sekarang?” ujar Al dengan nada suara yang begitu dingin. “Saya benar-benar menyesal pernah berhubungan sama kamu. Kamu adalah orang paling jahat dan licik yang pernah saya kenal. Kalau saya menemukan bukti kamu yang hasut Lisa untuk melakukan semua ini, akan saya hancurkan kamu sehancur-hancurnya.”

Andin sekilas melihat kilatan aneh di mata Dayana sebelum dia menutupinya dengan tawa keras yang terdengar histeris. Dayana tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.

“Mau hancurin apa lagi?” tanyanya sambil menyeka air matanya. “KAMU GA LIAT AKU UDAH HANCUR SEKARANG, HAH?” 

Tiba-tiba Dayana melompat ke arah Al dan dengan membabi buta berusaha mencakar wajah Al. Secara reflek Al menghindar dan Dayana yang kehilangan keseimbangan, tersungkur dan jatuh ke lantai dari atas kursi rodanya.

Merasa muak dengan segala drama yang sudah dihadapinya hari ini, Aldebaran bergegas keluar, tidak sabar ingin melepaskan diri dari kegilaan yang menyelimuti rumah itu.

“Ayo pulang. Saya sudah selesai disini,” perintah Al tegas pada Andin.

Aldebaran keluar dari rumah itu tanpa menunggu respon dari Andin. Dia tidak tahan berada di sana lebih lama lagi. Amarahnya semakin memuncak. Jika dia melihat wajah Dayana sekali lagi, dia takut tidak akan bisa mengendalikan amarahnya dan akan melakukan sesuatu yang nanti akan dia sesali.

Aldebaran masuk ke dalam mobil dan begitu Andin naik ke kursi penumpang, dia segera tancap gas dan berlalu dari sana. Mereka melewati perjalanan ke rumah tanpa saling bicara. Ketika sampai, Aldebaran menghentikan mobilnya di depan rumah tapi mereka tidak langsung turun.

"Mas Al ..." bisik Andin lirih, berbicara untuk pertama kalinya semenjak mendengar pengakuan Lisa. "Aku mau kamu jujur, apa kamu pernah tidur sama Lisa?" Suaranya bergetar menahan tangis.

"Cukup Andin!" bentak Al. "Sekarang kamu tiba-tiba percaya sama Lisa? Orang yang sudah fitnah dan bully kamu waktu kuliah di London?’

Andin menatap Al dengan tatapan terluka. “Kamu tau kalau Lisa pernah jahat sama aku tapi kamu tetap pergi ketemuan sama dia dan ga pulang ke rumah. Kamu pergi dengan alasan menenangkan diri tapi malah sengaja ketemuan sama Lisa yang jelas-jelas benci sama aku!”

Aldebaran menghembuskan napas letih dan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil. “Kamu masuk dulu, nanti kita bicara. Saya mau pergi sebentar,” kata Al kaku, dia merasa sangat lelah bertengkar dan satu-satunya hal yang diinginkannya sekarang adalah menyetir sejauh mungkin untuk menenangkan diri dan meredakan kemarahannya. 

Aldebaran sangat membutuhkannya. Dia merasakan dahinya mulai berdenyut dan ingin segera pergi dari sana.

Sakit hati dengan sikap suaminya yang selalu menghindar dari pertengkaran, Andin merasakan kendali dirinya mulai runtuh.

"Oh, bagus! Mau menenangkan diri dan ketemu Lisa lagi? Silahkan! Lisa sama calon bayinya udah ga sabar nunggu kamu!” teriak Andin histeris, kegilaan menyelimutinya dan dia tidak tahu bagaimana menghentikannya. Dia ingin sekali percaya kepada suaminya tapi kenyataan bahwa Al memang pergi menemui Lisa malam itu membuat hatinya sangat sakit. 

Dengan terhuyung-huyung Andin keluar dari mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Di tempat tidur, Andin tidak bisa berhenti menangis, berusaha sekuat tenaga menutup matanya dan melarikan diri dari kenyataan yang pahit dan menyakitkan.

 

To be continued …

Saturday, January 28, 2023