Try new experience
with our app

INSTALL

Wanita Berhati Emas 

Pandang Aku, Mas

Selamat membaca. Jangan lupa tekan tombol subs, rate bintang lima, love dan komen di setiap babnya ya Kak. makasi udah mampir. Semoga suka. 

*



"Masak yang enak, ya. Sebentar lagi, Sera, calon mantu saya yang cantik, mau datang. Ia mau ikut makan siang di sini bersama Kahfi dan Alena."


"Mantu ibu itu cuma Ibu Runa, Bu," gumam Bik Sumi yang segera menutup mulutnya dengan tangan sebelum Mama Amanda menyadari perkataannya. 


Sedangkan aku, hawa di sekitarku mendadak panas dan degup jantungku bertabuh kencang mendengar kalimat Mama barusan. Sera, wanita cantik itu, mau makan siang di sini? Walaupun selama ini aku selalu bersikap santai, tapi tak kupungkiri kehadiran Sera di rumah ini selalu mampu membuatku merasa ingin menghilang saja. Pesonanya selalu saja membuat pandangan Mas Kahfi tak dapat beralih. Bahkan ia juga sudah mampu mengambil hati Alena, anakku. Inilah yang paling membuat hatiku sakit. 


Mama Amanda yang paham betul bagaimana sikap Mas Kahfi dan Alena, semakin gigih saja memperjuangkan agar Mas Kahfi bisa segera memperistri Sera, terlebih sepeninggal Papa Asmoro. Sera yang dulu tidak pernah berani datang ke rumah ini, kini bisa dengan leluasa datang ke sini, sesuka hati. Tidak dipedulikannya status Mas Kahfi yang masih beristri. Wanita itu juga tidak menganggapku sama sekali. Ia merasa mendapatkan dukungan penuh dari Mama Amanda. 


"Iya, Bu," jawab Bik Sumi seraya memperhatikan raut wajahku yang mulai berubah. 


"Dan kamu Runa, jangan lupa juga masak sup ikan gurame favorit Sera. Kata dia, hari ini dia lagi mau makan sup buatan kamu. Saya mau dia merasa diterima dengan baik di rumah ini. Awas kamu, ya, kalau sampai berbuat macam-macam yang bisa membuat Sera tidak senang."


Perintah Mama Amanda hanya kutanggapi dengan anggukan pelan. Tanpa bisa kucegah, mataku yang sejak tadi sudah memanas akhirnya melelehkan cairan yang mengalir di kedua pipi. Lekas kuseka dengan tangan sebelum ada yang melihat. 


Setelah selesai bicara, Mama Amanda lalu meninggalkan dapur, kembali menuju kamarnya. 


"Yang sabar ya, Bu." Bik Sumi mengusap pelan punggungku. Air mataku turun semakin deras. "Ibu nggak pa-pa? Atau biar saya saja yang menyelesaikan masaknya, ya. Ibu istirahat saja di kamar."


Aku menggeleng pelan. "Nggak apa, Bik. Mata saya cuma pedih terkena bawang, kok. Nih, lihat, hidung saya juga ikutan berair," jawabku sambil mencoba tersenyum lalu menyambungnya dengan tawa hambar. 


"Oh iya, Bik. Ikan guramenya udah disisikkan? Tinggal dipotong aja, kan? Bibik tolong bantu masakkan ikannya, ya. Saya mau masak ayam goreng kesukaan Alena dulu." 


Bik Sumi mematuhi perintahku. Dengan cekatan, ia langsung mengambil ikan gurame dari dalam kulkas, lalu memotongnya menjadi empat bagian. Setelah dicuci bersih, lalu ditaburinya dengan perasan air jeruk nipis dan sedikit garam. Kemudian ia diamkan beberapa saat agar bumbunya meresap. 


"Non Sera itu sebenarnya cantik, tapi sayang, nggak ada laki-laki yang tertarik padanya." Bik Sumi memulai pembicaraan lagi sambil meneruskan aktivitas memasaknya. 


"Hush, Bik. Nggakal boleh bicara begitu. Lagi pula dari mana Bibik tahu kalau nggak ada yang mau sama Sera?"


"Eh, Bu, memang kenyatannya begitu, kok. Kalau ada laki-laki yang mau, mana mungkin sampai sekarang dia belum nikah? Sampai rela nunggu tujuh tahun hanya demi Pak Kahfi jadi duda."


Aku hanya tersenyum mendengar celotehan dari Bik Sumi yang sedikitnya mampu membuatku terhibur. "Yah, mungkin jodohnya belum ketemu, Bik. Jodoh itu, kan, sudah diatur."


"Bener, si, Bu. Tapi gimana mau cepet ketemu jodohnya, wong, tiap hari dia nempelin Pak Kahfi mulu."



***


Jarum jam sudah terlihat segaris. Setelah menyelesaikan aktivitas di dapur, aku segera membersihkan diri. Agar saat Alena pulang nanti, ia tidak risih saat berdekatan denganku. 


Beberapa menit kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi. "Sudah Bik, biar saya saja yang buka," ucapku memotong langkah Bik Sumi yang sedang menuju ke pintu. "Bibik tolong siapkan meja makan saja, ya."


Setelah handle pintu terbuka, nampak Alena sudah berdiri di depan sambil merengut. "Lama banget, si, buka pintunya!" 


"Eh, anak ibu sudah pulang. Capek, ya, Nak?"


"Udah tahu, ngapain masih nanya!" jawab Alena dengan ketus. 


Pandangan mataku kemudian beralih kepada dua sosok manusia yang berdiri di belakang Alena. Mas Kahfi dan Sera. 

Wangi parfum khas feminin yang berbau vanila, bercampur dengan aroma floral seketika terhidu olehku. Penampilannya kali ini juga lagi-lagi mampu membuatku langsung terhujam ke bumi. Kulit seputih pualam yang khas seperti dewi kayangan dan hidung bangir, terpahat begitu cantik di wajahnya. 


"Tante Sera, yuk, masuk!" Alena lalu menggandeng tangan Sera lalu mengajaknya ke dalam rumah. Ia melewatiku begitu saja.


"Eh, cucu nenek sudah pulang. Pasti capek, ya, habis pulang sekolah?" Mama Amanda ikut bergabung bersama kami. 


"Iya, Nek. Alena capek banget," jawab Alena manja. Ah, kenapa ia tidak bisa juga bermanja seperti itu padaku?


"Tapi tadi Alena senang, Nek. Tante Sera ikutan jemput, terus ngasih Alena boneka. Baguuus banget."


"Oh, ya? Mana coba nenek lihat."

Gadis kecil itu lalu mengeluarkan sebuah boneka barbie berbaju princess berwarna pink dari dalam tasnya. 


"Wah, bagus banget. Jadi ngerepotin kamu, ni, Sera, pake ngasih Alena hadiah segala."


"Nggak repot, kok, Bu. Saya senang bisa ngasih hadiah ke Alena. Runa, kamu bantu Alena jaga boneka itu, ya. Jangan sampai hilang!" Wanita itu berkata lalu tersenyum. Lubang kecil di salah satu sudut pipi semakin menambah pesona di wajahnya. Ia benar-benar merasa seperti nyonya rumah di sini. Menyebalkan! 


"Sini, Mas, tasnya biar Runa bantu letakkan di kamar," tukasku sambil mencoba untuk segera beranjak dari suasana yang sudah mampu membuat dadaku sesak itu.

Sialnya, karena terburu-buru dan kepalaku terus menunduk, kakiku terpeleset. 




Bersambung.