Try new experience
with our app

INSTALL

Trah 

Trah 6. Dejavu dan Mimpi

Trah 6. Dejavu dan Mimpi


Setttt!


Ia merasakan seperti ada yang melintas di belakangnya. Ia lekas berbalik badan menghadap ke dalam kamar lagi. Di saat itu, bayangan kegiatan hari-hari di zaman kuno di kamar itu muncul lebih banyak.


“Apa yang nampak barusan? Apa aku sedang berfantasi?” Lily bermonolog lirih.


Lily segera fokus pada apa yang harus ia kerjakan. Ia harus membersihkan ruangan itu. Ia meletakkan tasnya di lantai di dekat tempat tidur. Ia berkeliling di dalam kamar itu mencari yang ia perlukan. Ia melihat kamar itu tidak memiliki kamar mandi. Setelah mencari-cari, ia tidak menemukan alat-alat yang diperlukan.


“Aku harus meminjam.” Lily ke luar dari kamar itu. Tidak lupa ia menguncinya.


***


“Permisi!” sapa Lily saat menemukan perempuan yang nampak lebih berumur darinya, berkostum formal.


“Siapakah Anda, Nona?”


“Saya Lily. Pangeran yang membawa saya ke sini. Saya ditugaskan membersihkan ruangan. Saya butuh alat-alat kebersihan. Sapu, lap, dan untuk mengepel.”


“Ambilah saja satu paket. Satu troli alat kebersihan. Di sini sudah dibuat seperti itu. Sudah sama sabun-sabunnya.”


“Di mana saya bisa mengambilnya?”


“Mari, ikutilah saya!”


“Anda orang asing dari manakah?”


“Dari Bebanda.”


Sampailah mereka di gudang cukup besar tempat alat-alat kebersihan. Nampak di dalamnya ada troli-troli penuh rak dan kantong. Setiap troli isinya beraneka alat kebersihan dan sabun-sabun.


“Kalau butuh alat kebersihan tinggal datang ke gudang ini. Anda bisa lihat sendiri tertata seperti itu. Nanti kembalikanlah lagi seperti itu juga.”


“Berarti, saya ambil satu troli begitu?”


“Iya, benar sekali. Silakan Ambilah! Saya tinggalkan Anda karena tugas saya sedang menanti.”


“Iya, terima kasih.”


Setelah perempuan itu pergi, Lily masuk mengambil salah satu troli alat kebersihan. Kemudian, ia melangkah kembali ke kamar yang sangat tua itu. Ia sedikit lupa arahnya. Ia mengingat-ingat jalannya. Di saat mengingat, yang muncul dejavu. Mondar-mandir orang di sekitarnya meskipun tampak, seakan tidak tampak. Benaknya tersita dejavu yang dialaminya. Orang-orang yang melihatnya tidak memusingkan keberadaannya karena menganggap mungkin pegawai baru atau orang yang sedang memiliki kepentingan dengan keluarga istana. Ia merasa pernah menyusuri jalan itu. Membuatnya hafal dan sampailah di depan kamarnya. 


“Kenapa aku ini?” Sejenak ia terdiam heran karena begitu saja hafal tempat itu. Ia lekas masuk dan kembali mengunci.


Lily memulai dengan mengebas dan mengelap debu-debu. Langit-langit, jendela, dan barang-barang sebisa mungkin benar-benar bersih. Lagi, ia mengalami dejavu. Ia merasa mengenal setiap detail tempat itu. Ia merasa mengenal semua barang itu.


“Familiar,” lirihnya merasa aneh.


Ia lanjut dengan menyapu. Ia masih merasakan familiar. Kemudian, ia kembali melihat bayangan kegiatan hari-hari di dalam kamar itu. Kemudian, dejavu dan bayangan silih berganti menemaninya membersihkan kamar itu.


“Apa sih?” Ia menjadi bingung karena ia merasa tidak sedang berfantasi.


Ia hendak lanjut mengepel. Untuk itu, ia memerlukan air. Ia mengambil kaleng yang tersedia di troli. Ia ke luar dan mengunci kamar. Dejavunya menuntunnya melangkah ke tempat di mana ia bisa mendapatkan air. Selalu di mana-mana di tempat itu terasa familiar. Namun, terasa sudah berbeda dari sebelumnya. Ia lekas kembali ke kamarnya.


Kini ia sedang mengepel. Bersamaan itu, ia terus memikirkan hal aneh yang dialaminya itu. Pikirannya lalu menangkap jawaban.


“Kamar kuno ....”


Deg, deg, deg.


“Berhantu?”


Ia menjadi merinding. Ia menelan ludahnya. Ia melirikkan netranya ke sekitar jangkauan pandangannya. Semakin merinding hingga membuat napasnya sedikit tersengal-sengal. Ia percepat mengepel lantai.


Di saat terburu-buru itu, ia menjadi menabrak guci. Ia lekas menangkapnya dan membenarkannya. Ia cukup jantungan karena hampir saja memecahkan guci itu. Di saat itu, ia melihat sebuah benda yang lain. Tangannya terulur tertarik mengambilnya.


“Sepasang terompah.”


Ia merasa mengenal terompah itu. Ia lantas mengenakannya. Kebesaran di kakinya. Ia rasanya pernah memakai terompah itu.


Allahuakbar Allahuakbar!


“Magrib. Ada Allah. Aku tidak boleh takut. Dengan salat dan mengaji di tempat ini akan membuat tempat ini nyaman. Insya Allah.” Ia tersenyum yakin, menepis rasa takutnya.


“Em ... mungkin tidak masalah alat bersih-bersihnya di sini dulu. Ada sangat banyak di gudang. Akan aku kembalikan saat nanti aku pulang,” pikirnya sembari merapikan alat-alat kebersihan itu.


Lily yang hendak ke kamar mandi teringat terompah yang kebesaran di kakinya. Ia tersenyum melihat sepasang kakinya yang sedang mengenakan alas kaki itu. Kemudian, seperti ada rasa rindu dengan alas kaki itu. Rindu sudah lama tidak memakainya dan sekarang kembali memakainya.


“Rasa yang aneh.” Lily menghempaskan napasnya lalu lekas pergi dari kamar itu.


Lily menyusuri lagi jalan menuju ke kamar mandi. Ia tetap merasa familiar. Rasa itu membuat pikirannya menangkap hal aneh yang lainnya.


Sembari melangkah, dalam hati ia pun bertanya, “Kenapa setiap tempat terasa familiar ‘kan yang berhantu kamar tua itu? Apa semua tempat di sini berhantu? Bisa jadi sih.” Kemudian bayangan kegiatan hari-hari di masa kuno di area yang ia lewati muncul sekilas. Ia menghempaskan napas dan tak acuh terhadap apa yang dialaminya.


***


Lily sudah kembali ke kamarnya. Ia mengelar alat salatnya. Ia bingung di mana kiblatnya. Kemudian, dejavu membuatnya tahu. Selesailah Lily menjalankan salat magrib.


“Aku tidak membawa Alquran.” Seketika itu dejavu muncul lagi. Ia merasa ingat di mana ia menyimpan kita suci di kamar itu. Ia lekas menuju ke sebuah peti. Peti itu terkunci. Ia tahu di mana kuncinya. Ia ingat menyembunyikan kuncinya. Ia lekas ke guci yang tadi ditabraknya. Ia tuang guci itu. Kunci itu jatuh ke lantai.


“Bagaimana aku bisa tahu?”


Ia lekas membuka peti kayu berukuran besar itu. Ia menemukan Alquran ada di paling atas tumpukan buku dan barang-barang. Semua di dalamnya terasa familiar baginya. Ia tersenyum melihat Alquran. Ia mengambilnya. Ia lekas kembali duduk di sajadahnya. Ia membuka kitab suci itu. Ia teringat sampai mana ia membaca. Ia membuka sesuai ingatannya.


“Loh, aku di rumah baca sudah beberapa surah setelah surah ini, kok bisa-bisanya aku ingatnya sampai surah ini?” Ia mau membaca halaman sesuai di Bebanda. Saat ia alihkan, tanpa sengaja lembaran berbalik lagi ke halaman itu. Akhirnya, ia membaca halaman sesuai dejavunya.


***


Di masjid, Syekh Mursal bertemu Raja Alberga Albifardzan. Syekh Mursal menceritakan kepada Alberga mengenai keisengan Barata kepada Lily. Raja Alberga menahan emosi demi salatnya. Setelah itu, ia mengajak Barata empat mata di luar masjid, di halaman yang sepi.


“Keterlaluan, Pangeran! Anak orang kau buat susah! Bebanda ke Duhinbaia itu jauh! Perlu biaya banyak! Untuk orang biasa itu tidak murah!” bentak Raja Alberga sekeras-kerasnya.


Hal itu membuat Barata membatin, “Sial, baru kali ini ayahanda membentakku. Sekeras itu lagi.”


“Ayahanda, tapi dia senang bisa mendapatkan undangan yang tidak akan pernah mungkin ia dapatkan kalau bukan karena keisenganku sekaligus kederwananku yang begitu baiknya mau mengundang dia yang bukan apa-apa! Soal biaya, tenang, bisa diganti dua kali lipat atau kalau perlu berlipat-lipat! Untungkan dia, Ayahanda?”


“Urus dia dengan baik! Jangan sampai dia pulang dengan cerita buruk!”


“Ayahanda tenang saja!” Barata menunduk sejenak untuk menghormat lalu pergi.


Sembari melangkah pergi ia menggeretakkan giginya. “Lily Adly, awas kamu!”


***


Tok tok!


Barata mengetuk pintu kamar Lily Adly. Lily Adly yang masih mengenakan mukena lekas membuka kunci dan membuka pintu. Barata terdiam terpesona sekilas.


“Nih, makanan untuk kamu!” Barata menyodorkan troli makanan.


“Terima kasih, Pangeran.”


“Aku tidak bisa mengajakmu makan malam bersama di perjamuan karena kamu tidak pantas. Kamu tidak berkelas. Kamu juga bukan tipeku.”


“Semoga Pangeran mendapatkan wanita sesuai tipe Pangeran yang dicintai Pangeran dan mencintai Pangeran.” Meskipun terluka, Lily sadar diri memang apalah dirinya.


“Tidak perlu didoakan, aku sudah dapat! Apa kamu pikir aku tidak laku? Banyak yang antre.”


“Syukurlah kalau Pangeran sudah memiliki calon.” Lily merasa patah saat mendengar Barata sudah memiliki kekasih. Akan tetapi, ia sadar sudah pasti Barata memiliki kekasih.


“Aku akan menunjukkan kekasihku ke publik di acara internasional!” ujar Barata. Lily tersenyum tulus sembari menahan pedih di hati.


“Satu lagi, perlu kamu ketahui, kamar ini berhantu.” Barata memberitahukan dengan suara berbisik.


Lily menghela napas dan tersenyum lalu berkata, “Saya tidak takut, ada Allah SWT, Pangeran.” Lalu Lily berbisik, “Bukan hanya kamar ini, saya juga melihat di setiap tempat di istana ini.”


“Jangan bohong kamu! Kamu mau menyebarkan ke masyarakat, mau mencitrakan istana ini horor begitu?”


“Saya tidak bohong dan tidak ada maksud menyebarkan desas-desus kalau istana ini horor. Saya hanya mau memberitahukan kepada Pangeran kalau saya sejak tadi mengalami kejadian-kejadian aneh di sini. Di kamar ini iya. Di setiap tempat yang saya lewati juga iya.”


“Ck! Sudah makan sana!” Barata pergi.


“Cara bicara Pangeran Barata tidak seperti warga Duhinbaia,” batin Lily lalu lekas membawa masuk troli dan kembali mengunci pintu kamarnya.


***


“Apa dia serius mengalami kejadian-kejadian aneh?” Sembari jalan Barata memikirkan hal itu. “Apa gara-gara kamar itu dibuka?” Ia menjadi mencoba merasa-rasakan sekitarnya. “Aku tidak merasakan atau melihat yang aneh. “Ah, tidak ada! Pasti dia hanya mencoba menakutiku untuk membalasku karena aku menakutinya.”


Kemudian, ia teringat kata-katanya sendiri. “Aku tadi bilang sudah punya kekasih dan akan memperkenalkan kepada publik di acara internasional, padahal aku tidak punya. Bagaimana ini? Gifari!” Ia lekas mengeluarkan ponsel pintarnya dan menghubungi sahabatnya.


***


Selesai makan dan salat isya, Lily ingin lekas istirahat. Ia mengebas tempat tidur. Setelah itu, ia duduk di tepi tempat tidur. Seketika itu, kembali muncul dejavu. Merasa telah lama meninggalkan tempat tidur itu. Ia lekas tak acuh dengan dejavu itu. Dalam hati, ia berdoa sebelum tidur. Baru setelah itu, ia berbaring dan tidur.


Ia melihat seorang pria tidak dikenalnya, tetapi terasa familiar. Kemudian berubah terasa jika pria itu adalah dirinya. Ia melihat rupanya pria itu pewaris takhta. Ia melihat keluarga besar dari pria itu. Ia kemudian melihat pria itu banyak disakiti keluarganya dengan licik. Lily menjadi khawatir. Ia ingin menghampiri dan memberitahukan pria itu. Akan tetapi, saat ia melangkah matanya terbuka.


“Mimpi.”


Lily mengulang berdoa sebelum tidur. Setelah itu, ia melanjutkan tidurnya kembali.


Mimpinya berlanjut. Ia melihat pria itu kini hendak di bunuh salah satu keluarga pria itu. Lily khawatir dan mendekati. Belum sempat mendekati, ternyata pria itu telah selamat. Kemudian, ia melihat keluarga pria itu yang lain lagi juga diam-diam berusaha membunuh pria itu. Lily lekas mendekat dan ia terbangun.


“Mimpi lagi. Mimpinya lanjutan mimpi sebelumnya.”


Lily kembali berdoa dan tidur.


Pria itu tampak menutupi kesalahan saudara-saudaranya yang hendak membunuhnya. Kemudian, ia melihat pria itu berkemas dan meninggalkan istana. Seseorang berpakaian ulama melihat pria itu dan menghadang pria itu.


“Hendak kemanakah larut malam begini, bahkan ini hampir tengah malam, Ananda Pangeran Aakaanksha Albifardzan?”


“Ananda tidaklah akan pernah kembali lagi ke negeri ini, Syekh Azmi. Ananda memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja yang telah dan akan Ananda lakukan kepada Syekh Azmi, keluarga, pejabat, abdi, rakyat, dan semuanya.” Aakaanksha mengeluarkan kunci kamarnya dan menunjukkan kepada Syekh Azmi. Syekh Azmi terdiam masih mencerna apa yang diungkapkan Aakaanksha.


“Kunci kamar.” Aakaanksha meraih tangan kanan Syekh Azmi. Mencium punggung tangan syekh. Setelah itu, meletakkan kunci kamarnya itu ke dalam genggaman tangan kanan Syekh Azmi.


“Assalammualaikum.”


“Kenapa, Ananda Pangeran Aakaanksha?” Aakaanksha hanya berbalik badan dan menunjukkan senyuman. Kemudian, ia kembali melanjutkan perjalanan.


“Waalaikumsalam.” Syekh Azmi mengangkat menengadah kedua tangannya. “Ya Allah lindungilah Ananda Pangeran Aakaanksha Albifardzan. Dia orang baik. Sangat baik malah. Meskipun dia tidak ingin kembali, kembalikanlah dia ke negeri ini.”


Saat pria itu melangkah pergi, Lily terbangun. Lily terdiam mencerna rangkaian mimpi. Tidak terasa air matanya jatuh.


“Pangeran Aakaanksha Albifardzan. Syekh Azmi. Apakah salah satu raja dan syekh di negeri ini? Di masa kapan?”


Bersambung

Terima kasih

:) :) :)


DelBlushOn Del BlushOn Del Blush On delblushon #delblushon :)