Try new experience
with our app

INSTALL

My Possessive Cassanova 

Bagian 3

Kita nggak perlu jadian untuk saling mengikat, cukup saling sayang. - Malkin

Bel pertanda istirahat baru saja berbunyi beberapa detikyang lalu, namun kantin sudah dipadati murid Cahaya Pelita yang berniat mengisi perutnya, termasuk empat

gadis yang sudah duduk di kantin sejak sepuluh menit yang lalu karena guru pengajar mereka yang tidak masuk.

"Heran gue, anak-anak udah kaya nggak makan sebulan aja."Chaca menunjuk kerumunan murid yang antre, mulai dari membeli nasi goreng, bakso, siomay, serta makanan lainnya yang dapat mengenyangkan.

Mirater kekeh pelan,"Kayak lo nggak aja biasanya."

"Eh by the way, gue denger-denger katanya bakalan ada acarabaksos."Ghea memulai membahas kabar burung yang ia dengar.

"Baksos?" Mira membeo."Bakti sosial, ogeb!"

"Gue tau, bego!"Mira menjeda ucapannya,"Maksud gue, baksos gimana? Kapan? Dimana?"

"Tanya aja sama Pak Botak kesayangan lo itu," ucap Ghea yang dihadiahi Mira dengan lemparan kacang yang di makannya.

Chaca menatap lurus ke arah pintu masuk kantin, mata belonya membesar, "Itu Malven!" pekiknya dengan amat sangat tidak santai, jari telunjuknya terarah pada Malven berserta dua temannya yang memasuki kantin.

Sekarang, empat gadis itu menatap lekat ke arah Malven dan teman-temannya yang duduk berjarak dua meja dari mereka.

"Eh itu Malven sama—" Chaca mencoba mengingat nama gadis yang duduk disamping Malven, "Anita bukan sih?"

Anita Alnaka, gadis berkulit kecokelatan yang akif dalam organisasi OSIS itu merangkul mesra lengan kokoh Malven. Mendongakkan dagunya jumawa karena sedang duduk tepat disamping sang Pangeran Cahaya Pelita yang begitu didambakan para gadis.

Ah, Malven memang bukan sosok yang dapat ditolak dengan mudah pesonanya, siapapun mengakui hal itu.Tapi, Kinar ingat sikap buruk cowok itu yang begitu kontras dengan tampangnya.

"Yang bendahara umum OSIS, bukan?" tanya Mira yang di angguki Chaca.

"Kemarin sama bendahara umum MPK, sekarang OSIS... daebak emang si Malven."

"Pantes aja OSIS sama MPK nggak pernah damai, ternyata salah satu pemicunya adalah sodara Malven." 

"Bahasa lo Cha, udah kayak calon anggota DPR aja." 

Tanpa diperintahkan, Kinar yang sendari tadi membisu, menatap hoodie milik Malven yang ada diatas meja. Ia sengaja membawanya tadi karena berniat mengembalikannya pada si empunya. 

"Perasaan ceweknya Malven nggak abis-abis deh,ready stock cuy!" kelakar Ghea yang disambut tawa renyah Chaca dan Mira.

Ingat dengan title Malven sang Cassanova, bukan hal luar biasajika cowok itu gonta-ganti pacar seperti mengganti celana dalam.Kinar berani bertaruh kalau nanti, bukan Anita lagi yang duduk disamping Malven.

Tanpa gadis berbibir mungil itu sadari, semesta mengamininya dan takdir mewujudkannya, akan ada gadis lain yang nantinya duduk disamping sang tuan sempurna itu, yang mampu mengimbangi Malven bahkan mampu membuat sosok gagah itu bertekuk lutut.

Sosok itu adalah waktu, di mana nantinya Malven terperangkapdi dalamnya, terus melangkah maju meski kadang takdir dan nasib tak sejalan.

"Kayak nggak tau Malven aja. Ceweknya kan emang banyak,"ucap Kinar lalu melanjutkan makannya lagi sedangkan ketiga temannya masih betah melihat kemesraan Malven dan Anita.

"Salah satunya, lo ya, Kin?" celetuk Ghea tiba-tiba membuat Kinar yang sedang mengunyah pentolnya tersedak.

Kok nusuk ya kata-katanya?

"Cewek lo natap ke sini tuh, Bro!" goda Daniel pada MalvenyangdisambuttawajenakaLion.BagiDanieldanLion,Kinarituluar biasa karena selama ini Malven tidak pernah mengakui hubungannya dengan pacar-pacarnya sebelumnya, namun Kinar di tembaknya di depan umum. Well, meskipun apa yang dilakukan Malven tidak terdengar seperti menyatakan perasaan, namun memaksa.

"Cemburu tuh, Mal." Lion menyeruput sodanya, "Lama-lama tambah cantik tuh cewek kalo dilihatin."

Malven yang awalnya fokus pada handphone, mendongak danmenatap Lion dengan sorot nyentuh dia, abis lo sama gue. Namun,Lion tidak sekadar bergurau, Kinar memang terlihat cantik dan tipe wajahnya bukan tipe cantik yang membosankan bila dipandang terus.

"Wesss, santai dude, tipe gue mah yang hot kayak..." Lionmemajukan tubuhnya, menyentuh dagu Anita yang langsung ditepis oleh gadis berambut hitam legam itu.

Lion mengecup ujung tangannya yang tadi menyentuh dagu Anita, mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda gadis yang terang-terangan mengejar sahabatnya itu, "Kayak Anita."

"Najis!"Anita memutar matanya malas, mengundang tawa Daniel yangdaritadi tidak fokus memakan pie susu kesukaannya.

"Anita aja kagak mau sama lo, apalagi Kinar... katanya sih tuh cewek nggak pernah pacaran." Daniel mengunyah pie susu hasil jarahannya dari adik kelas yang tadi menempati meja mereka,mengatakan info yang diketahuinya.

"Tau banget lo kayaknya, Niel..." Lion mengalihkan pandangannya pada Malven," Ati-ati bos, lo ditikung."

Pernyataan Lion tersebut berujung jitakan dari Daniel,"Tapi yang kaku-kaku gitu biasanya belom jebol, nggak kayak lo kan, Ta?" "Sialan!" rutuk Anita, benar kata gadis-gadis yang sebelumnya menjadi kekasih Malven, duduk di antara tiga cowok itu artinya siap dibully oleh Daniel dan Lion dan jangan berharap Malven akan mau repot-repot membela mereka.

Malven, Daniel, dan Lion itu sepaket. Mereka satu kelas dansatu ekskul basket. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda, meski begitu ketiganya sama-sama suka membuat onar yang membuat murid lainnya segan atau mungkin takut memiliki urusan dengan tiga sekawan itu.

Hanya yang tidak punya malu dan memiliki mental baja yang bisa duduk disamping tiga sekawan itu, seperti Anita.Meski dipermalukan oleh jokes Daniel dan Lion atau dicuekin oleh Malven, asalkan dapat mengangkat dagunya jumawa dihadapan murid lainnya, Anita tidak masalah.

"Tuh tuh tuh." Daniel belagak manis, mengadu pada Malven,"Cewek lo ngomong kasar tuh,Bro."

"Bacot ya lo, Niel.Belum pernah dicium kudanil kali ya—"Bukannya gentar, Daniel justru memajukan wajahnya, "Nih cium-cium."

Anitamendorongcowokitukasar,"Apaansih!"

Perdebatan keduanya terhenti saat seseorang tiba-tiba saja meletakkan hoodie di atas meja. Mereka secara serempak menatap pada sosok yang melatakan hoodie itu. Tentunya dengan pandangan yang berbeda-beda.

"Makasih hoodienya, udah gue cuci by the way." Gadis dengan surai tergerai itu menatap lurus pada Malven, seakan disana tidak

ada Daniel, Lion, dan Anita. Lalu pergi setelah menyelesaikan ucapannya, diikuti ketiga sahabat gadis itu yang tersenyum penuh arti.

"Gak sopan," celetuk Anita sinis.

"Kayak lo punya sopan santun ae," ucap Lion pada Anita yang membuat wajah gadis itu memerah—emosinya akan segera meledak karena Danieldan Lion yang terus memancingnya.

"Babeee," rengeknya pada Malven yang langsung direspons Daniel dan Lion dengan ekspresi menahan muntah.

"Babeee," rengek Lion mempraktekan yang dilakukan Anita, menggoyang-goyangka nlengan kokoh Daniel.

Daniel yang menjadi objek gay Lion bedecih," Jijayyy,njir!"

Bulu kuduk Daniel rasanya naik semua, tentu tidak akan menolak jika yang melakukan itu adalah seorang gadis, nah ini Lion, mereka sama-sama berpisang.

Sedangkan Malven hanya diam dengan pandangan yang terkunci pada punggung Kinar, hingga gadis itu menghilang di balik persimpangan koridor. Kemudian, pandangan itu tertuju pada hoodie miliknya yang kemarin ia pinjamkan pada Kinar.

Tersenyum kecil, Malven meraih hoodie itu, bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kelas tanpa menghiraukan panggilan teman-temannya.