Try new experience
with our app

INSTALL

Ikatan Cinta FF 

IC FF 6. Human Trafficking

IC FF 6. Human Trafficking


Andin terhempas hingga terjerembap. Andin segera bangkit. Ia mengalungkan tasnya serong menyamping. Ia melepaskan kedua alas kakinya. Kemudian, ia menghadapi penjahat itu dengan bela diri. Penjahat kewalahan melawan Andin. 


Bukk bukk bukk!


Wukk wukk!


Wusshh wusshh!


Sementara itu, rekan penjahat yang menjadi sopir khawatir kepergok warga. Ia melihat kawannya kewalahan menghadapi seorang wanita. Ia segera turun dari mobil.


“Buruan, keburu ada warga!” tegas rekannya itu sembari ikut melawan Andin. Penjahat itu langsung memukul Andin sampai pingsan.


Saat itu, Miranti memanfaatkannya untuk turun dari mobil dan lari. Kedua penjahat terkejut hasil buruan mereka kabur.


“Sial!” geram yang menculik Miranti.


“Kita masukkan wanita ini dulu ke mobil! Setelah itu, kamu kejar anak itu!” perintah penjahat yang menyetir mobil.


Penjahat yang bagian menculik bekerja sama dengan yang menyetir mobil lekas memasukkan Andin begitu saja ke dalam mobil. Tubuh Andin menjadi berada di lantai mobil dalam posisi setengah tengkurap. Penjahat yang menculik menutup pintu mobil dengan kencang. Setelah itu, penjahat itu lari mengejar Miranti. Penjahat yang menjadi sopir masuk ke dalam mobil. Sopir itu menekan tombol, mengunci rapat pintu-pintu mobil di bagian belakang tempat Andin berada. Setelah itu, ia melajukan mobilnya pelan menyusul rekannya yang sedang berlari memburu seorang gadis kecil.


~~~

 

Reyna masih berteriak meminta tolong. Akan tetapi, tidak kunjung ada orang melintas dan mendengar teriakkannya. Pos itu memang terletak di sudut sepi. Di mana orang atau kendaraan jarang melintasi pos itu. Ia lelah berteriak. Ia menarik-narik gagang pintu meskipun tahu pintunya tidak akan terbuka. Akan tetapi, tiba-tiba pintu itu terbuka.


“Terbuka? Hah, terbuka!” Reyna lekas membereskan tasnya memanggulnya lagi di punggungnya. Kemudian, ia lekas ke luar dari dalam pos itu.


“Alhamdulillah,” ucap Reyna lirih sembari melangkah ke arah di mana ia datang tadi.


Kemudian, ia teringat Miranti. “Loh, Miranti! Miranti sembunyi di mana ya? Aku kan sedang main bersama Miranti.”


Tak berselang, ia melihat dari kejauhan seorang anak perempuan seusia dirinya digendong paksa dan dibekap mulutnya oleh seorang pria dewasa. “Iiiitu ... sepertinya Miranti. Iya, itu Miranti. Miranti diculik.” Reyna ternganga. Ia hendak berlari menghampiri, tetapi ia menahan diri. “Aku harus menggunakan akal untuk menyelamatkan Miranti. Jika tidak, aku akan tertangkap bersama Miranti. Apa yang bisa aku lakukan?”


Reyna melihat di depan rumah orang ada bebatuan berwarna putih menghiasi tanah taman luar rumah itu. Ia mengambil sebanyak mungkin dengan segera. Ia masukkan ke dalam tasnya. Barulah kemudian, ia berlari dan dengan sembunyi-sembunyi mendekati penjahat yang sedang menggendong paksa Miranti. Ia bersembunyi di rimbunan tanaman daun. Kemudian, ia melempari pria itu dengan batu yang dibawanya dengan berhati-hati agar jangan sampai Miranti yang terkena batunya.


“Aduh! Siapa yang melempar?” Pria itu menjadi berhenti melangkah dan mencari-cari yang melemparinya. Miranti yang terus berontak menjadi bisa lepas dari cengkeraman pria itu. Miranti lekas lari kabur.


Reyna semakin menghujani pria itu dengan batu agar tidak bisa mengejar Miranti. Penjahat itu menjadi tahu siapa yang melempari dirinya. Di saat yang sama, batu yang dibawa Reyna juga sudah habis. Penjahat dengan segera meraih Reyna yang bersembunyi.


“Tolong!” Penjahat segera membekap Reyna sebelum Reyna berteriak lagi.


Mobil rekan penjahat telah menghampiri. “Yang tadi lepas, tapi dapat yang lebih bagus!”


“Ya sudah, tidak apa-apa!”


Reyna segera dimasukkan ke dalam mobil. Ia dimasukkan di mana Andin berada. Penjahat yang menculik juga masuk ke bagian belakang mobil untuk menjaga dua tawanan. Reyna berhenti berontak ketika netranya melihat ke bawah, di mana seorang wanita terperosok ke bawah mobil dalam keadaan pingsan. Ia seperti mengenali wanita itu yang wajahnya tertutup karena posisi wanita itu setengah tengkurap.


“Lumayan, cari yang kecil dapat juga yang besar. Bisa dijual ke tempat prostitusi wanita ini. Hahahaha!” celetuk sopir.


~~~


Dari kejauhan, Miranti melihat Reyna lah yang telah menolongnya. Akibatnya, Reyna menjadi yang diculik. Ia merasakan kebaikan Reyna dan Andin. Ia tidak tega melihat Reyna dan ibunya diculik.


“Aku harus segera mencari om Aldebaran!” Miranti bergegas berlari ke arah di mana Aldebaran tadi berpencar untuk mencari Reyna.


~~~


Aldebarab sedang mencari-cari. Firasatnya mengatakan Reyna tidak ada di tempat ia mencari. Firasatnya kemudian mengatakan bahkan Reyna sudah tidak di seputaran wilayah itu lagi. Firasatnya lalu berganti perasaan tidak enak.


“Kok perasaanku tidak enak begini? Apa terjadi sesuatu yang buruk sama Reyna? Ya Allah, lindungilah Reyna.”


“Sebaiknya aku kembali bersama Andin.” Ia lekas mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi Andin. Akan tetapi, tidak diangkat-angkat.


~~~


Kedua penjahat terkejut dan ketar-ketir mendengar suara ponsel tawanan. “Cepat buang ke luar ponselnya agar kita tidak bisa dilacak keberadaannya dari ponsel itu!” perintah yang menyetir mobil. Sembari tangan kanan tetap membekap mulut Reyna, tangan kiri penjahat meraih tas Andin. Ia merogoh tas itu mencari-cari ponsel. Saat ia menemukan, ia lekas membuang ke luar jendela ponsel itu.


~~~


“Kok tidak diangkat-angkat ya?” heran Aldebaran. Ia mencoba menghubungi Andin terus, tetapi nihil tidak juga ada jawaban. Dengan cemas lebih-lebih dari sebelumnya, ia melangkah kembali ke arah ia memarkir mobil.


Di perjalanan ke mobilnya, ia melihat seorang ibu tua renta yang tampak lusuh. Aldebaran mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan hampir semua uangnya. Ia sisakan hanya untuk bensin. Ia berikan uang itu ke genggaman ibu itu tanpa kata. Ia pun berlalu begitu saja dengan segera. Ibu itu menatap kepergiannya dan uang yang ada di genggamannya bergantian berulang kali dengan heran.


“Semoga Allah SWT selalu membersamai dirimu,” lirih ibu tua itu.


Miranti melihat Aldebaran sudah kembali dari arahnya pergi. Aldebaran tampak ke arah jalan raya.


“Om!” seru Miranti. Akan tetapi, benak Aldebaran yang penuh dengan kekhawatiran akan keluarganya membuatnya tidak mendengar seruan Miranti. Miranti lekas berlari menghampiri.


Aldebaran hendak menghampiri mobilnya. Saat itu, Nino datang menghampirinya.


“Reyna? Bagaimana Reyna?”


“Belum ketemu. Ini Andin diteleponin juga tidak diangkat-angkat. Terus malah, sepertinya mati ponselnya.”


“Mungkin baterainya,” duga Nino.


“Om!” seru Miranti.


“Ada apa? Apa kamu melihat Reyna?” tanya Aldebaran.


“Tante Andin sama Reyna diculik dibawa pergi sama mobil hitam sama dua orang pria!” terang Miranti dengan intonasi bicara heboh dan mata terbelalak karena khawatir. Napasnya pun terengah-engah.


“Apa? Di mana?” tanya Aldebaran panik.


“Di sana, Om!”


“Ayo, tunjukkan!” Aldebaran menggendong Miranti. Miranti menunjukkan dengan telunjuknya. Aldebaran bergegas mengikuti petunjuk Miranti. Nino juga ikut bergegas.


Setelah sampai lokasi kejadian, tentu saja mereka sudah tidak menemukan keberadaan mereka.


“Ya Allah lindungilah Andin dan Reyna,” lirih Aldebaran sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Mobilnya warna hitam pergi ke sana,” terang Miranti.


“Ini ... ini di sini rumah-rumahnya cukup besar. Mungkin saja ada rumah yang memiliki CCTV atau kampung ini dipasangi CCTV,” kata Nino lalu mengedarkan pandangannya mencari-cari CCTV. “Itu!” tunjuk Nino saat menemukan CCTV.


“Miranti, terima kasih. Kamu bisa pulang sendiri kan? Aku soalnya harus segera mencari Andin dan Reyna.”


“Iya.” Miranti mengangguk.


Aldebaran dan Nino lekas mencari tahu kejadian melalui CCTV itu dengan menemui yang berwenang di wilayah itu. Setelah itu, Nino dan Aldebaran berpencar menyusuri jalan yang kira-kira dilalui mobil yang membawa Andin dan Reyna. Akan tetapi, akhirnya, mereka memutuskan melapor ke kantor polisi.


Aldebaran menghubungi Nino. “Aku belok ke kantor polisi.”


“Itu yang terbaik,” kata Nino.


~~~


Gerakan penjahat yang merogoh tas Andin membuat posisi rambut Andin sedikit bergeser. Hal itu membuat telinga Andin terlihat. Anting Andin juga terlihat. Reyna melihat anting itu.


“Anting yang sama yang ditemukan Miranti. Anting yang ditemukan Miranti ada di dalam tasku. Aku seperti pernah melihat anting itu belum lama sebelum Miranti menemukan anting seperti itu,” batin Reyna mencoba mengingat-ingat di mana ia melihat anting seperti itu sebelum anting yang ditemukan Miranti.


Reyna juga melihat tas yang dikenakan Andin. “Tasnya mirip tas punya ....”


Kemudian, Reyna memperhatikan postur tubuh tawanan wanita dewasa itu. Seketika, ia menebak itu siapa. Ia khawatir tebakannya benar. Ia khawatir jika itu adalah Andin.


“Semoga bukan,” harapnya dalam hati.


Bersambung

Terima kasih

DelBlushOn * Del BlushOn * Del Blush On * delblushon * #delblushon :)