Try new experience
with our app

INSTALL

Ikatan Cinta - Titip Rindu Di Langit Swiss 

Bab 2

Rosa dan Elsa baru saja sampai di rumah setelah asik berbelanja. Mereka langsung disambut seruan Reyna yang tidak henti-hentinya. 

“Duh, ada apa sih! Reyna, kamu jangan teriak-teriak terus, berisik tahu. Tante pusing,” gerutu Elsa sambil menaruh barang belanja di lantai. Belum semenit ia duduk, Elsa kembali menyahut, “Mirna, Kiki! Bantuin dong.”

Mendengar perintah Elsa yang disertai nada kesal, Mirna dan Kiki pun lari tergopoh-gopoh dari dapur menuju ruang keluarga. “Eh, Nyonya dan Elsa udah pulang. Sini, kami bantu bawa barang ke dalem, ya,” ujar Mirna.

“Ki, sekalian tolong buatin minuman dingin ya,” pesan Rosa sekaligus menghempaskan diri ke atas sofa. Kiki mengangguk dan pamit kembali ke dapur. 

“Reyna dari tadi nyebut negara Swiss terus, memangnya mau liburan ke sana sama siapa?” tanya Rosa yang akhirnya mengalihkan perhatiannya kepada Reyna. Anak itu kini melompat ke atas sofa dan duduk di sampingnya. 

“Bareng mama dan papa. Katanya, minggu depan Reyna bakal diajak terbang ke Swiss!”jawab Reyna polos sambil merentangkan kedua lengannya memperagakan sayap pesawat.

“Hah?” Elsa terkejut mengira awalnya Reyna hanya bercanda. 

“Iya, apa yang dibilang Reyna benar. Minggu depan nanti kita bertiga bakal ke Swiss, aku udah ambil cuti. Tiket bakal segera kami urus hari ini,” sahutan Al dari belakang menjelaskan semuanya. 

“Wah, wah. Mendadak sekali. Kenapa enggak cerita ke mama dulu, Al? Lalu, mama dan Elsa enggak diajak?” Ada nada dingin terselip dari kalimat Rosa. Tatapan tajamnya mengekori langkah Al dan Andin yang turut mengambil duduk di sofa.

“Bukan begitu, Ma. Namanya juga kejutan, kalau dibilang dari awal namanya bukan surprise dong. Lagipula, kita bertiga udah lama enggak punya family time bareng,” ujar Al berusaha menenangkan kesalahpahaman ibunya. Namun, ucapan Al justru menjadi bumerang.

“Jadi, mama bukan bagian dari family kamu, Al?”

Suasana makin keruh ketika Elsa ikut berkomentar. “Andin juga tuh, udah lupa kali kalau punya adik. Nanyain juga enggak.”

Tidak terima dengan tudingan keduanya, Al sudah siap angkat bicara. Namun, Andin dengan cepat menahannya. Ia berbisik pelan pada suaminya agar lebih tenang mengontrol emosi, “Sudah, Mas. Kita ajak mama dan Elsa aja gimana? Kalau dipikir, kita juga udah jarang liburan bareng semuanya.”

“Tapi,” Sebelum Al menyela, Andin dengan cepat menyambung ucapannya. Ia tahu apa yang menjadi kegelisahan di benak suaminya itu. 

“Sesampai di Swiss, kita juga bisa cari waktu untuk jalan bertiga kok, Mas. Kalau mau berduaan juga lebih nyaman karena Reyna ada yang jagain kan?” bujuk Andin lagi. Tampaknya alasan Andin kali ini cukup bisa diterima Al.

“Oke. Minggu depan kita semua jalan-jalan ke Swiss.” 

Mendengar keputusan Al, tergambar raut puas di wajah Rosa. Ia meraih jus jeruk dingin yang disajikan Mirna dan Kiki dengan senyum penuh kemenangan. 

“Kita semua termasuk Kiki enggak, Mas? Hehehe.”

“Waduh, kamu jangan ngarep kayak gitu. Malu tauk!” bisik Mirna.

“Pastinya dong. Kalau enggak ada Mirna dan Kiki nanti sepi,” sahut Andin.

“Hah, yang bener?!” Mirna dan Kiki ternganga kaget, saling lihat dan kompak menyahut. Saat Al mengangguk, keduanya sontak berseru, “Kita ke Swiss!”. Mereka pun saling bergandengan tangan membentuk formasi lingkaran sambil loncat-loncat kecil. Lalu, berandai-andai apa yang akan mereka lakukan jika sudah sampai di Swiss.
Al dan Andin hanya bisa tersenyum melihat Mirna dan Kiki. Sementara Rosa menikmati minumannya, Elsa memilih masuk kamar untuk beristirahat dibanding harus mendengar ocehan duo asisten rumah tangganya. 

***

Sejak rencana bepergian ke Swiss diumumkan, seisi rumah sibuk mengurusi barang-barang yang akan dibawa selama berlibur kurang lebih satu pekan. Masing-masing juga sibuk membuat itinerary sendiri, tapi dalam urusan tempat tinggal mereka sepakat memilih menginap di homestay.

Elsa sempat mengusulkan hotel kapsul tapi langsung ditolak Al. Baginya, konsep hotel kapsul hanya cocok untuk pelancong bukan liburan keluarga seperti ini. Setelah persiapan panjang selama berhari-hari, akhirnya tiba juga waktu ketika semua siap berangkat. 

Keluarga Al dan Andin sengaja mengambil penerbangan sore supaya ketika sampai di Swiss tidak terlalu malam. Rosa dan Elsa duduk tenang di kursi pesawat, sementara Mirna dan Kiki tak henti-hentinya komat-kamit berdoa. 

“Reyna, kalau mual atau enggak enak badan kasih tahu mama, ya. Soalnya perjalanan kita bakal panjang banget. Bisa dua puluh jam lebih, lho!”

Reyna mengangguk tanpa menengok ke arah Andin, justru perhatiannya teralih oleh pemandangan di luar jendela. Sepasang matanya tak lepas dari kerlap-kerlip lampu pesawat yang baru saja mendarat. 

Walaupun Reyna tampak antusias dan baik-baik saja, Andin tetap khawatir. Bagaimana pun, ini penerbangan terjauh yang mengikutkan Reyna. Ia berkali-kali mengecek tas selempang kecilnya untuk memastikan kebutuhan P3K sederhana untuk Reyna sudah dibawa, mulai dari minyak telon, obat antimabuk perjalanan, sampai permen buah-buahan favorit Reyna juga ada di dalamnya.

Melihat Andin gelisah, Al meraih salah satu tangan Andin dan meremasnya lembut. “Santai aja. Lihat Reyna deh, dia seneng banget. Jadi, just enjoy the moment, Ndin.”

“Kamu benar, Mas. Kayaknya aku yang terlalu overthinking.”

Sepuluh menit jelang keberangkatan, seluruh penumpang sudah boarding di pesawat. Satu per satu orang sudah duduk diam dan tak lagi banyak beraktivitas. Semua koper dan barang tersimpan rapi di bagasi. Pramugari mulai mengingatkan para penumpang untuk memakai dan mengencangkan sabuk pengaman.

Ketika lampu kabin sudah dipadamkan dan mereka bersiap take off, Andin memejamkan mata seraya mengencangkan pegangannya pada tangan Reyna. Di antara doa-doa yang mengharapkan perjalanan mereka selamat dan lancar, diam-diam Andin juga berharap liburan spesial kali ini akan jadi momen manis yang akan dikenang Reyna. Momen yang kalau diingat lagi akan menerbitkan senyum di kemudian hari. 

Begitu matanya terbuka, ia melihat Al sedang merobek bungkus kacang polong untuk Reyna yang mulai rewel. Ada sedikit turbulensi, tapi untungnya tidak mengkhawatirkan. Perlahan, kondisi pesawat kembali stabil. Kini mereka sudah berada di udara, melaju cepat menuju langit kota Basel.