Try new experience
with our app

INSTALL

Sunshine ( Pesona Mantan ) 

Undangan

Weekend jadi hari yang sangat membosankan bagiku, tidak ada kegiatan. Seringkali sabtu minggu ku habiskan dengan hanya rebahan. Tak seperti saat aku masih bersamanya, sabtu minggu adalah hari yang ku tunggu tunggu, betapa tidak karena hanya pada hari itu aku bisa menghabiskan waktu bersamanya.


Tok tok tok !!!


Pintu kamarku diketuk..

Terdengar suara bibi memanggil diluar.


"Iya bi, masuk aja ga di kunci ko."


Pintu kamarku terbuka.


"Ada telf di bawah non, katanya hp non bella ga aktif makanya telf ke rumah."


"Siapa bi?"


"Ndak tau non, beliau tidak memperkenalkan diri."


"Perempuan atau laki-laki bi?"


"Laki non. Suaranya cuakeeppp tenan. Pacar non Bella maybe."


"Haha bibi bisa aja,, Tolong sambungin ke telf kamarku ya bi." Aku tersenyum tipis.


"Baik non." Bi inah pun pergi meninggalkan kamarku.


Beberapa menit kemudian terdengar suara yang tak asing lagi ditelingaku.


"Hallo.." ucapnya.


"Iya, ada apa?" Sudah kuduga, hanya dia laki-laki yang tau no telf rumahku.


"A ingin ketemu, ada yang ingin a jelasin ke kamu de."


Aku menghela nafas panjang. "Gini ya a, yang pertama aku ga mau bikin masalah sama tunangan kamu yang kedua aku ga butuh lagi penjelasan dan yang terakhir aku ga mau lagi ketemu kamu."


"Please de, setelah kamu denger penjelasan a, itu terserah kamu mau percaya atau tidak, mau ketemu a lagi atau tidak. Yang penting a udah jujur sama kamu."


"Jelasin di telf aja."


"A mau ketemu kamu, a akan tunggu nanti sore jam 4 di dago caffe."


"Aku ga akan datang."


"Terserah, pokonya a akan tunggu kamu sampai kapanpun"


Dia menutup telfnya, aku semakin aneh.


Perasaan bimbang berkecambuk didada, 'haruskah aku menemuinya?' atau 'kubiarkan saja dia dengan alasan yang mungkin sulit untuk kuterima'.


Aaarrrghh otakku semakin sulit mencerna, pikiranku kacau dan hati yang tadinya membenci menjadi gelisah.


Waktu terus berputar dan aku masih tetap dengan kebingunganku, aku takut bila akhirnya aku kembali luluh jika bertemu dengannya. Matanya yang begitu tenang menyejukan membuat kemarahan mereda, senyum indahnya yang seolah mengalihkan kebencian menjadi cinta, pesona itu yang terus membuatku tak bisa melupakanya.


Kulihat jam, ternyata sudah hampir jam 5 sore. Ternyata rasa penasaran ini mengalahkan semuanya, akhirnya kupustuskan untuk menemuinya. Ku raih tas kecil berisikan kunci dan surat-surat mobil, ku ambil hp dan dengan cepat ku berjalan ke luar kamar, aku berlari melewati anak tangga menuju lantai bawah, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara yang berasal dari belakang ..


"Mau kemana Bell?"


Aku pun menoleh ..


"Eh papah, itu pah aku mau ada kerkom."


"Jam segini?" Papah menunjukan jam tangan nya seolah memperjelas kalau ini sudah terlalu sore untuk kerkom di weekend.


"Emang kenapa gitu pah?" Aku pura-pura tidak mengerti kode yang papah maksud.


"Kerkom di weekend jam 5 sore? Kalo weekday sih fine yaa, tapi weekend? Kan gak sekolah bella sayang."


"Comeon papsss,, kita ini anak muda, siang-siang pada males keluar rumah apalagi kemarau gini, panass pah.. lagian ini kan malem minggu. Makin sore makin rame." Aku memeluk papah yang sedari tadi cemberut, entah karena tau kalo aku bohong atau karena mamah yang ada acara bareng temen arisannya.


"Kamu ini pinterrr banget ngeles nya.." papah mencubit hidungku hingga merah.


"Awww,, sakit tau,," giliran aku yang cemberut.


"Ya udah jangan pulang malem-malem ya. Take care di jalannya and I trust you."


Aku tersenyum tipis karena yakin kalau papah tau aku berbohong.


***


Setengah jam mobilku sudah melaju di tengah keramaian kota bandung hingga akhirnya adzan maghrib berkumandang. Aku menepikan mobilku mencari masjid terdekat, karena tidak kunjung ditemukan, akhirnya aku memutuskan untuk sholat di mushola yang ada di pom bensin.


Setelah selesai, aku melanjutkan perjalananku. Sebenarnya kalau siang hari perjalanan ke dago cafe hanya memerlukan waktu setengah jam, tapi karena ini sore, sudah pasti beberapa ruas jalan akan macet dan akan lebih dari satu jam perjalanan.


'akhirnya sampai juga' aku memarkirkan mobilku dan bergegas masuk ke dalam. Ku cari-cari dia namun tak bisa ku temukan. Semua kursi sudah hampir penuh, mungkin karena ini malem minggu kali jadi banyak yang pacaran disini.


'Bodoh, ga mungkin juga dia mau nunggu gue.' aku membalikan tubuhku hendak keluar tapi suaranya menghentikanku.


"De,"


Aku mematung, hatiku berguncang hebat. Mataku berkaca-kaca. Sebulan yang lalu kami putus, dan kami terakhir ketemu saat malam tahun baru. Sanggupkah aku melihat wajahnya? Ingin rasanya aku berlari keluar meninggalkannya.

'come on Bell, jangan keliatan lemah didepannya. You're strange Bell.' Aku menguatkan diri sendiri. Perlahan aku membalikan badan, ku lihat dia berdiri tersenyum ke arahku dan disampingnya berdiri seorang perempuan yang kelihatan lebih tua dariku, mereka bergandengan tangan. 'apa apa an ini,, bodohhhh.. kenapa gue kesini. G****k.' aku mengepalkan tangan menahan marah, ku coba menarik nafas dan membuangnya perlahan untuk meredakan amarah yang memuncak. 'oke oke, calm. I'm fine.'


Aku tersenyum sinis ke arah mereka.


"Ayo mas kita duduk lagi." Perempuan itu menarik tangan Adit menuju meja yang ternyata sudah penuh makanan sisa.


'Mas, dia memanggil aditya Mas.'


"Ayo de sini." Adit melambaikan tangannya padaku.


Akupun duduk dengan mereka berdua.


"Bella, namaku Bella." Aku mempertegas jika aku tidak mau lagi di panggil 'de'.


Memang usia kami terpaut 7 tahun jadi tidak ada salahnya dia memanggilku begitu namun karena panggilan itu awalnya panggilan sayang kami, aku jadi merasa risih karena kenyataannya kami sudah putus.


"Gpp koq, bukannya kamu masih kelas 2 SMA. Pantes lah dipanggil ade sama orang yang lebih tua darimu." Perempuan itu menatapku tajam. "Oh iya, just info, aku juga seumuran kamu. Dan mas adit juga manggil aku de."


Aku menatap Adit sinis.


"Oke, aku tidak bisa lama-lama disini. Besok aku sekolah. Penjelasan apa yang ingin kamu sampaikan. Tolong sampaikan sekarang."


"Penjelasan apa mas? Bukan nya kamu ngajak dia ketemuan untuk ngasiin undangan kita ya?" Perempuan itu memegang tangan Adit.


"Whatt ???!!!" Aku terhentak kaget. "Sorry sorry lelucon apa ini ? aku ga ngerti."


"Iya mas Adit ngajakin kamu ketemu hanya untuk ngasiin ini koq." Perempuan itu menyodorkan undangan berbentuk buku tipis warna pink sementara Adit duduk terdiam dengan kepala tertunduk.


Aku melihat cover foto prewed mereka dan tulisan Sinta amanda & Aditya permana akan menikah pada tanggal 12 Mei.


"Dateng ya." Tambahnya.


Aku melihat Adit tersenyum lalu memejamkan matanya, kulihat matanya berkaca-kaca. Pertanda bahagia kah karena telah berhasil mengelabuiku atau memang ada hal yang diluar ekspektasinya.


"Terimakasih undangan nya and surprise nya." Aku berdiri dan pergi meninggalkan mereka.


Terlihat dari sudut mataku, Adit berdiri dan meneriakan sesuatu namun otakku terlalu penuh hingga tidak mendengar sama sekali apa yang dia ucapkan.


Aku masuk kedalam mobilku, ingin rasanya aku berteriak sekeras mungkin. Ingin rasanya aku menangis sekuat tenaga. Namun rasanya percuma saja, apa yang terjadi tidak akan bisa terulang kembali.


Aku pulang kerumah dengan perasaan campur aduk. Sesak rasanya dada ini, dia membohongiku. Penjelasan apa yang ingin dia utarakan. Kenapa dia membohongiku?


***


Ke esokan harinya, aku bangun tidur namun kepalaku terasa sangat berat. Untuk sekedar duduk saja rasanya tidak bisa, aku mengambil hp, kulihat jam 05:00. Aku memaksakan diri ke kamar mandi namun rasa nya mustahil, tubuhku hampir sulit digerakan. Aku berteriak memanggil mamah namun suaraku sulit keluar. 'Aku kenapa? Perasaan semalam baik-baik aja koq.' Aku mencoba menghubungi mamah tapi sebelum mamah mengangkat telf ku, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.


"Bell, sayang." Suara mamah membangunkanku.


Dengan berat aku membuka mataku perlahan. Ku lihat dua orang berbaju putih berdiri disamping ku. Mataku semakin terbuka dan ada orangtuaku sedang menangis.


"Mah." Aku berusaha duduk namun kepalaku terasa sangat sakit.


Mamah bergegas menghampiriku dan memegang tanganku erat.


"Jangan bangun dulu sayang, kamu masih sakit."


"Aku kenapa?" Aku menoleh ke arah dua orang berbaju putih yang ternyata adalah seorang dokter dan suster.


"Kamu hanya telat makan dan anemia juga." Dokter itu tersenyum kemudian membalikan badan dan berjalan menghampiri papah.


"Ini pa, resepnya, jangan lupa minum obatnya setelah makan ya."


"Iya dok terimakasih." Papah mengambil resep yang diberikan dokter itu.


"Iya pa sama-sama, perhatikan makannya ya pa. Jangan sampai anak bapa terlalu cape." Dokter itu tersenyum ke arahku. "Ya sudah pa, kami pamit dulu ya."


"Iya dok, sekali lagi terimakasih ya. Saya antar keluar ya."


Papah pergi mengantarkan dokter dan suster itu keluar rumah, sementara mamah tak berhenti menangis.


"Mah, I'm oke." Aku memeluk mamah.


"Mamah salah, harusnya mamah tidak terlalu sibuk. Mamah harusnya mikirin kesehatan kamu. Kamu anak satu-satunya mamah. Mamah ga mau kehilangan kamu." Tangis mamah semakin menjadi-jadi.


'Mamah begitu mengkhawatirkanku. Dan aku selalu saja mengkhawatirkannya. Bukan mamah yang sibuk tapi aku. Aku terlalu sibuk memikirkan pria brengsek yang sama sekali tidak memperdulikanku. Maafin aku mah, aku janji akan perlahan melupakannya dan kembali menjadi aku yang dulu.' Aku tersenyum dan semakin memeluk mamah dengan erat.


"Mamah ga salah, aku yang tidak memperhatikan pola makanku. Semalem aja aku lupa makan."


Mamah melepaskan pelukanku. "Loh, bukannya papah bilang semalem kamu kerkom di cafe. Masa ga makan."


"Emmm iya mah, sebenarnya kita ga jadi kerkom. Aku langsung pulang dan tidur."


Mamah menatapku aneh.


"Mamah dapat laporan dari bi inah kalau kamu sebulan belakangan sering ngelamun dan berbeda dari kamu biasanya. Ada problem sama teman-teman kamu?"


"Udah mah suruh bella makan, terus makan obat biar cepet sembuh." Belum sempat aku menjawab pertanyaan mamah, tiba - tiba papah datang mengagetkan kami.


"Ya sudah, penjelasannya pas kamu udah sembuh. Sekarang mamah suapin kamu makan ya."


Aku pun tersenyum pertanda mengiyakan. 'Sudah lama mamah tidak menyuapiku makan, kali ini aku harus bersyukur karena aku sakit.' Mamah mulai menyuapiku dengan penuh cinta. Setelah selesai makan, aku minum obat dan tidur.


***