Try new experience
with our app

INSTALL

Gerbang Trinil 

Bab 4 - Nenek Maheswari

Areta merajuk beberapa hari. Bahkan sampai UTS tiba. Selepas UTS, akan ada libur tiga hari. Harapan besar Areta, dia pergi ke Trinil selama tiga hari itu. Tapi, sungguh mustahil ayah akan mengabulkannya. Ibarat punguk merindukan bulan. Tapi, bukankah monyet bisa sampai ke bulan dengan pesawat ulang alik ? Tinggal bagaimana caranya kan ? Tapi, tetap tergantung pada orang lain. Maka Areta menyusun rencana. Dia yakin, dia bisa berangkat ke Trinil, tanpa harus membohongi ayah dan ibunya.

Ayah mengerutkan kening membaca surat pemberitahuan dari sekolah. Bahwa Areta mendapat tugas membuat makalah tentang sejarah Museum Trinil.

“Dari siapa tugas ini ?” tanya ayah Areta penuh selidik. Dia curiga, karena surat itu keluar tepat saat pertengkarannya dengan Areta tentang Trinil belum mendingin.

“Dari Pak Satria, guru sejarah.”

“Kenapa ?”

Areta pura-pura jual mahal. Sambil menopangkan kakinya dan membuka lebar-lebar buku di pangkuannya.

“Reta selalu dapat sempurna di nilai sejarah, Ayah. Semoga ayah mengetahui tentang hal ini. Dan, sebagai hadiah, Pak Satria memberi kesempatan untuk pergi ke Museum Trinil. Banyak anak berebut kesempatan ini, tapi yah … apa boleh buat, Reta yang dapat kesempatan.”

Ayah menelisik muka Areta, berharap menemukan kebohongan di kedua mata bulatnya. Tapi Areta tampak asyik dengan buku tebalnya. Tak peduli dengan kecemasan yang mulai melanda ayahnya.

“Tanpa pendamping ?”

“Areta bilang, di sana ada nenek Areta. Jadi sekalian berlibur ke sana. Tugas ini nanti akan dibuat karya tulis ilmiah, Pak. “

Ayah Areta menghela nafas panjang. Pertanda dia dalam konflik yang belum mencapai anti klimaks. Tidak tahu harus berbuat apa. Menelpon sekolah menanyakan kebenarannya, hanya akan membuat Areta tersinggung. Selama ini, ayah Areta tak terlalu peduli dengan sekolah Areta. Hanya uang yang membereskan semuanya. Dan Pak Dhiro yang menjadi wali murid bayangan Areta. Pak Dhiro lebih sering membubuhkan tanda tangan di kertas-kertas hasil ujian Areta. Karena memang, hanya dia yang selalu berada di dekat Areta. Mengawalnya pergi kemana-mana. Jadi, sebenarnya klop. Wali murid Areta adalah Pak Dhiro. Kadang bila memikirkannya, Areta meringis perih. Anak orang kaya seperti dia, harus punya perwalian tidak sah seperti ini.

“Jadi, kamu akan ke Trinil ?”

Ibu Areta tiba-tiba hadir di ruang tengah, memecah kebisuan antara ayah dan anak itu. Di kaki kanannya, Mimi berputar-putar, dan mengelus-eluskan muka dan punggungnya. Berharap mendapat kasih sayang. Ibu Areta segera merengkuh kucing itu dalam pelukannya. Membelainya dengan mesra bahkan menciuminya. Areta membuang muka. Alangkah inginnya dia bermanja-manja dengan ibunya, seperti kucing itu. Tapi, bila hal itu dipaksakannya, ibunya selalu menolak. Capek, katanya. Dan kucing Angora itu pun merebahkan dirinya di dada ibunya, saat ibunya melemparkan tubuh suburnya di sofa. Bergelung dan siap mendengkur dalam kehangatan. Areta bertekad menendang kucing lagi, besok bila ibu sudah ke kantor.

“Iya, setelah UTS, “ sahut Areta pendek.

Ayah akhirnya berucap, setelah agak lama tercipta suasana hening dan tidak nyaman, “Dhiro akan mengantarmu. Pergi dan pulang.”

“Ayah, waktunya tiga hari !” seru Areta, “aku tidak mungkin melakukannya dalam sehari !”

“Iya. Tiga hari. Dhiro akan menemanimu ke mana pun kamu pergi. Dan ayah akan selalu menelpon dia, memastikan dia benar-benar menjagamu. Kau akan menginap di Hotel Ngawi.”

“Kenapa ayah lebih percaya pada sopir ? Ayah tidak pernah menelpon aku ! Bahkan ke luar negeri pun, ayah hanya menelpon pembantu !”

Areta bangkit dari sofa dan menuju kamarnya. Membanting pintu hingga debamnya menggetarkan jendela kaca dan lampu kristal di ruang keluarga. Suami istri itu pun hanya berdiam, seraya serempak memandang pintu kamar Areta, lalu saling berpandangan. Tak ada keinginan untuk menghampiri Areta dan menyelesaikan masalah kecil ini dengan segera. Selalu membiarkannya berlalu dan bertumpuk semakin dalam.

“Ajak dia bicara baik-baik,” perintah ayah Areta pada istrinya.

“Dia bermasalah dengan Mas, Mas yang harus mengajaknya bicara. Kalau tidak, dia akan selalu seperti itu bila marah.”

“Hhh… “

Areta menenggelamkan dirinya di depan komputer. Matanya memerah, menahan marah dan air mata. Dia heran, kenapa ayah dan ibunya kini tidak seperti dulu lagi. Bila dia merajuk, tak lama, ibunya akan segera masuk ke kamarnya dan mengelus rambutnya. Lalu menuruti segala keinginannya. Areta menatap pintu kamarnya. Menanti diketuk atau dibuka perlahan. Tapi, hingga setengah jam berlalu, pintu itu tidak bergeming. Mata Areta kian memanas. Tapi, setidaknya dia bisa mengobatinya dengan pergi ke Trinil. Sungguh dia berterima kasih pada Pak Satria atas surat pemberitahuan itu. Hadiah ke Trinil itu adalah permintaannya sendiri, bukan permintaan Pak Satria. Soal karya tulis itu, bahkan Areta punya banyak sekali file tentang Phitecantropus. Tinggal di susun, dan semuanya beres. Yang penting adalah pergi ke Trinil.

OoO

Marie Eugène François Thomas Dubois  adalah ahli anatomi berkebangsaanBelanda. Semula dia hanya seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit milik Belanda, bukan seorang Paleontropolog. Areta beranggapan, Eugene Dubois seperti halnya dirinya. Mempelajari Paleontropologi sebagai hobi, karena tertarik dengan asal usul dan perkembangan manusia. Dan bukti alam yang tersedia adalah fosil manusia purba. Mempelajari masa lampau adalah sebuah petualangan yang mendebarkan. Menemukan satu demi satu rahasia terkuak, sungguh memacu adrenalin untuk selalu meneliti dan meneliti.

Ada banyak tempat wisata di Ngawi. Air Terjun Srambang dan Kebun Teh Jamus, Waduk Pondok, Pemandian Tawun dan masih banyak lagi. Tapi hanya Museum Trinil yang menarik bagi Areta. Surga arkeologi ada di sana. Sepertinya, hanya Trinil yang membuat Ngawi terkenal di planet ini. Semua karena Phitecantropusnya. Sekumpulan tulang belulang yang tak berharga di hadapan ayah dan ibunya.

“Kita ke rumah nenek dulu atau ke museum, Non ?” tanya Pak Dhiro.

Mereka sudah berada di Ngawi. Trinil, tinggal 13 kilometer lagi. Areta sudah merasa lelah, jadi tidak mungkin kalau ke museum dulu. 

“Ke rumah nenek dulu. Nanti oleh-olehnya keburu basi. Besok kita baru ke museum.”

Dhiro melihat anak majikannya dari spion tengah. Dilihatnya anak itu sibuk dengan laptopnya. Entah apa yang dilakukannya. Jujur saja, Dhiro lebih senang bila Areta menurut seperti itu. Tidak bertingkah dan seenaknya. Pekerjaannya akan lebih mudah dan lancer. Laporan ke majikan besarnya pun tak perlu dibumbui kalimat yang akan menimbulkan persepsi berbeda, walau sebenarnya  berniat menutupi kesalahan.

“Non, nanti kalau mau kemana-mana, jangan sungkan untuk membangunkan saya, walau saya tidur.”

Areta mendongak. Kenapa pula harus sungkan, kau kan sopirku ? batin Areta. Tapi kemudian senyum mengembang di wajahnya. Dia tahu, Pak Dhiro was-was dirinya akan lepas dari pandangan matanya. 

“Makanya, jangan tidur. “

Pak Dhiro tersenyum kecut.

Mobil mereka memasuki jalan tanah. Walau kunjungannya ke rumah nenek bisa dihitung dengan sebelah jari tangan, tapi Areta masih hafal bahwa saat memasuki jalan tanah, rumah neneknya sudah dekat. Bila Areta sudah marah, karena keinginannya tidak dituruti, akhirnya ayah dan ibunya pun akan mengirim Areta ke Trinil, dalam pengawalan Pak Dhiro. Tanpa menginap, cukup pergi dan pulang, dan hanya satu jam saja di rumah nenek. Tapi itu ketika Areta masih duduk di bangku SD. Sekarang, dengan keinginan yang menggebu tentang Trinil, mana mungkin Areta mau 1 jam saja berada di Trinil.

Dan sejurus kemudian, rumah kuno dengan bangunan ala Belanda pun tampak jelas di balik rerimbunan pohon. Mobil pun masuk ke halaman yang luas, setelah sebelumnya memasuki gerbang mirip gapura. Kakek Raharjo dulu seorang camat, maka tak heran dia lumayan terpandang di daerah ini. Rumahnya adalah bangunan terbesar di kawasan ini, dan bentuk rumah kunonya yang tak pernah berubah dari bentuk aslinya.

Keluar dari mobil, Areta masih menyempatkan diri berdiri berlama-lama, mengamati rumah neneknya. Sepintas mirip Gedung Putih, sebuah gedung yang Areta pernah bermimpi untuk menginjakkan kakinya di sana. Tapi rumah Nenek Maheswari, hanya memiliki empat pilar sebesar pelukan tangan orang dewasa. Warna catnya juga kusam. Mungkin warna aslinya putih, atau krem. Beberapa bagian tembok, terutama di sudut, sudah lepas lapisan semennya, hingga nampak batu batanya. Beberapa bagian tembok berhias lumut kering, bahkan ada bagian yang ditumbuhi pakis liar. Di anak tangga menuju teras, bahkan ada bunga-bunga liar yang melambai-lambai tertiup angin. Pohon-pohon besar tinggi menjulang di kiri kanannya, dan beberapa pohon di belakang rumah, tampak dari halaman depan. 

Rumah itu sama sekali tidak terawat. Halaman luas itu pun banyak ditumbuhi rumput liar, hampir mencapai lutut. Hanya jalan berbatu yang menuju tepat ke teras depan yang ditumbuhi rumput setinggi mata kaki.

Seorang wanita sebaya ibunya, datang tergopoh-gopoh seraya mengangkat kain panjangnya. Kartini, batin Areta. Areta selalu menjuluki wanita yang berpakaian kebaya, kain panjang dan berkonde sebagai Kartini. 

“Non Reta …” ucapnya dengan nafas terengah, saat sudah berdiri di hadapan Areta. Dia membungkukkan badan, memberi hormat. Ternyata, pakaiannya tidak seanggun Kartini. Sanggulnya adalah rambutnya yang dibelit-belit dengan kain berwarna hitam kusam dan digelung seadanya. Kebayanya, copot satu kancingnya. Dan kain panjang yang dikenakannya, lebih mirip lap daripada baju.  

“Eee… siapa ya ?” tanya Areta, merutuk dirinya sendiri karena tidak mengenali wanita yang menyapanya. Dia yakin, nenek tidak punya anak lagi selain ayahnya. Lalu siapa dia ?

“Saya Tini.”

Lah, benar Kartini, kan ? Wanita bernama Tini itu lalu membantu Dhiro menurunkan tas dari bagasi. Sangat cekatan. Areta teringat ibunya, yang tak pernah cekatan mengerjakan apapun. Semua selalu didelegasikan ke para pembantu dengan perintah.

“Saya pembantu nenek Maheswari, Non, “ ucapnya kemudian, karena Areta masih saja memandanginya, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Ooo …”

Berarti dia pembantu yang malas. Karena rumah nenek kelihatan begitu kotor dan tidak terawat. Bahkan terkesan angker. Pantas saja, ibu menjuluki nenek Maheswari dengan sebutan nenek sihir. Tapi, kata para pembantu di rumah yang sudah lama bekerja pada ibunya sejak Areta masih bayi, nenek Maheswari memang nenek sihir. Menyeramkan. Makanya ibu tak pernah mau bertemu dengannya. Tapi Areta tetap beranggapan, itu hanya cara ibunya untuk menjauhkannya dari nenek. Dia bukan lagi anak kecil, yang bisa ditakut-takuti dengan kata nenek sihir. Yang akan menangkapnya dan merebusnya di sebuah kuali raksasa. Seperti Hanzel dan Gretel saja. Lagipula, rumah kuno ini tak mungkin terbuat dari kue. Pembantu nenek terlalu malas untuk membersihkannya, apalagi membuat kue.

Seseorang berdiri di teras rumah kuno, menatap Areta tajam. Rambutnya putih, memanjang sampai ke kedua lengannya. Dia tampak agak bungkuk, dan menggunakan tongkat untuk menopangnya berdiri. Mengenakan kain panjang dan kebaya berwarna gelap. Areta sempat terkesiap melihat sosok itu. Itu pasti nenek Maheswari. Dari penampilannya, dia memang seperti nenek sihir di cerita-cerita yang pernah dibacanya di masa kecil. Semoga saja, tongkat dalam genggaman neneknya, tidak menyulapnya menjadi kodok. 

Areta menaiki tangga, hanya tujuh tangga. Mendekati nenek Maheswari yang berdiri di pilar tengah. Entah kenapa, dia agak gemetar. Tapi, segera ditampiknya jauh-jauh pikiran konyolnya. Tidak ada yang perlu ditakutkan dari nenek Maheswari. Darah wanita tua itu juga mengalir di tubuhnya. Darah ningrat, kata ayah. Nenek Maheswari masih keturunan ningrat, tapi ayah Areta tak pernah mau memberitahunya tentang silsilah keluarga mereka. Tidak penting, kata beliau.

“Areta Prameswari. Cucuku.” 

Ucapan Nenek Maheswari terdengar gemetar. Tapi ada nada bahagia di sana. Juga kerinduan.

Areta mengulurkan tangannya, berusaha menjangkau tangan keriput nenek. Tapi nenek Maheswari malah merengkuhnya dalam pelukannya. Erat dan kuat. Ada isak tangis tertahan. Dan bau … tanah basah. Ya, tanah yang baru tersiram hujan setelah kemarau panjang. Areta menyukai bau itu bila musim hujan tiba. Dan, tak disangkanya, bau itu begitu tajam menyeruak dari tubuh neneknya.

“Nenek …”

“Cucuku.”

Sebenarnya, Areta sudah merancang tingkah lebay bila bertemu neneknya. Berlari dari kejauhan seraya membentangkan tangan, seperti anak hilang baru bertemu neneknya. Tapi, entah kenapa, kondisi di sini membuat rencananya buyar. Setting tempat yang tidak terawat dan penampilan neneknya sama sekali jauh dari perkiraannya, walau kesan ‘nenek sihir’ sudah disampaikan para pembantu di rumahnya. 

“Kau sudah besar. Cantik.”

Areta tersipu. Pujian pertama nenek. Dia tahu cara memikat hati cucunya. Cucu yang terakhir dilihatnya saat duduk di kelas 4 SD. Ah, kadang Areta merasa begitu berdosa pada ibu dari ayahnya ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Ayahnya sendiri yang mencegah dia bertemu dengan neneknya. Tanpa alasan. Dan wanita tua itu pun hampir saja terlupakan.

OoO

Pak Dhiro dan Areta tertegun melihat meja bundar di hadapan mereka penuh dengan makanan. Ayam panggang utuh, yang dibelah dan dibentangkan di sebuah piring lebar. Aneka sayur tumisan. Buah-buahan. Tempe goreng berbumbu merah. Ada sate juga. 

Areta menelan ludah. Dia memang lapar. Tapi, sama sekali tidak disangkanya, nenek Maheswari menyambutnya semewah ini.

“Yu Tini yang masak semua ini, nek ?”

Areta melirik Yu Tini, pembantu nenek yang masih saja hilir mudik dari dapur ke ruang makan, membawa hidangan-hidangan lain.

“Tentu saja tidak. Dia pemalas. Ini dari catering.”

Jawaban Nenek Maheswari, membuat Areta manggut-manggut. Dan tanpa malu-malu dan tidak enak hati, dia pun segera menyantap hidangan itu. Pak Dhiro pun tak mau ketinggalan. Di sini, dia dianggap setara dengan Areta, anak majikannya. Makan bersama di meja makan, dengan hidangan yang sama. Walau di rumah Areta dia juga selalu menikmati makanan yang sama, walau tak pernah duduk semeja dengan majikannya. Selalu makan setelah majikannya selesai makan. 

“Dhiro, kamu makan yang banyak.”

Pak Dhiro hanya mengangguk mendengar perintah nenek Maheswari. Mulutnya penuh makanan. Dan dia sepertinya akan melahap semua hidangan. Areta tersenyum melihatnya. Dia yakin, sebentar lagi lelaki itu akan terpulas karena kekenyangan. Dan setelah itu, Areta bebas ke mana saja tanpa pengawasan.

“Kamarmu ada di depan. Dhiro di belakang. ”

Areta dan Dhiro mengangguk. Setelah selesai makan, Areta mengikuti langkah neneknya menuju kamar depan. Bagian luar rumah nenek Maheswari jauh berbeda dengan bagian dalam . Rumah ini sudah direnovasi di bagaian dalam. Lantainya dari keramik, dan beberapa pintu sudah diganti dengan pintu model sekarang. Dari kayu jati berukiran bunga. Tapi semuanya belum dipelitur. Atau memang sengaja dibuat seperti itu, Areta tidak hendak menggubris. Yang hendak dipedulikannya saat ini adalah kamar yang akan ditempatinya.

“Ini kamarku, Nek ?”

“Iya.”

Areta tertegun. Ini seperti kamar pengantin. Ranjang kuno terbuat dari kayu, dengan penutup kain putih tipis. Setahunya, kain itu untuk melindungi dari nyamuk. Tapi kalau berhiasakan asesoris mawar merah yang semarak, pasti berbeda tujuannya. Belum lagi sprei putih dengan seikat mawar merah di tengah-tengah. Beberapa bagian dinding juga dihias dengan mawar merah segar, yang dijalin dengan beberapa tankai daun. Sebuah meja kecil di samping ranjang, sekali lagi dengan satu buket mawar merah.

“Tidak salah, Nek ?”

“Tidak. Semua ini yang menghias Yu Tini.”

Yu Tini ternyata tidak semalas penampakannya, setidaknya untuk pekerjaan menghias. Mungkin sebenarnya dia tidak berminat menjadi pembantu. Tapi menghias kamar seperti ini, sebenarnya tidak memerlukan tenaga ekstra. 

Areta geleng-geleng kepala. Dia akan merasa sangat tidak nyaman tidur dengan suasana kamar berbau bunga seperti ini. Ada apa gerangan ? Memang benar, ayah mengirim kabar kalau Areta akan berkunjung. Tapi sambutan seperti ini terasa begitu berlebihan.

“Nek … memangnya ada apa sih ?”

Nenek Maheswari tersenyum.

“Kalau mawarnya kurang, masih ada di halaman belakang. Kamu bilang sama Yu Tini. Dia akan memetikkan berapa pun yang kau mau.”

Nenek Mahweswari berlalu, dengan tertatih. Suara tongkatnya yang menyentuh lantai, menjadi irama baru yang harus diakrabi telinga Areta. Bunyinya menggema ke seluruh penjuru rumah. 

Sepeninggal neneknya, Areta hendak mencoba ranjangnya. Menyibak kain putih dan mengelus sepreinya. Gila ! Seprei ini dari sutra. Ini sambutan yang tidak biasa. Dan malah sangat aneh.

Aroma misterius nenek Maheswari semakin menguat. Areta tidak tahu kenapa, dia merasa Neneknya penuh misteri. Dan hal itulah yang mungkin menyebabkan penolakan ayah selama ini, tanpa alasan. Ayahnya menyembunyikan sesuatu, seperti halnya nenek. Areta bertekad mencari tahu.

OoO