Try new experience
with our app

INSTALL

Kekasih Sang Pendosa 

Pertunangan

Pria itu tersenyum, Thalib si lelaki dengan wajah oriental bak aktor drama Korea, tampak sangat bahagia sampai mata sipitnya hanya tinggal segaris. Dia tampak menakjubkan kali ini, begitu pengkuh dan penuh rasa tanggung jawab, bibirnya serupa labirin yang mampu menyesatkan kaum hawwa hanya dengan sekali kerling. Di samping tubuh tinggi berenerginya ada perempuan ayu, anggun bak karakter dongeng kerajaan. 

Akhirnya, mimpi untuk melamar Dewi menjadi kenyataan, perempuan berhijab pemilik hidung bangir dan kulit putih pucat dan selalu menjaga diri dan auratnya. Thalib merasa menjadi lelaki yang paling beruntung di dunia, mendapatkan gadis cantik nan shaleha seperti Dewi.

Suasana lamaran terbilang cukup mewah, diselenggarakan di sebuah hotel bintang lima dengan tamu undangan yang juga merupakan orang-orang terpandang dan ada pula beberapa pemuka agama kenamaan. 

Ayah Thalib ialah seorang pengusaha yang memiliki beberapa cabang franchise restoran halal yang tersebar di beberapa ibu kota Provinsi di Indonesia, beliau juga pemilik sebuah yayasan yang di dalamnya terdapat SMPIT, SMAIT dan Perguruan Tinggi Islam Terpadu di pusat kota. Thalib adalah satu-satunya pewaris dari pengusaha waralaba sukses itu. Namun demikian, kekayaan dan kehormatan yang didapatnya dari semenjak ia lahir tidak membuat Thalib manja apalagi tinggi hati. Berkat didikkan kedisiplinan dan ilmu agama yang didapat dari kedua orang tuanya, Thalib tumbuh menjadi pemuda yang saleh dan penuh tanggung jawab.

“Wah, selamat ya, Thalib! Akhirnya kamu bisa mendapatkan wanita pujaan hatimu. Kamu dan Dewi memang serasi, satunya tampan satunya lagi cantik luar biasa. Aku jadi iri, sekali lagi selamat, ya!” ucap Rizal sambil memeluk kawan sepermainannya saat sekolah dulu.

“Ya, terima kasih! Ini juga berkat do’a dan bantuanmu selama ini,” jawab Thalib dengan binar mata ceria. 

Suasana malam menjadi semakin syahdu. Setelah para tamu pergi, Thalib bergegas menghampiri tunangannya yang menunggu di balkon. Dewi terlihat begitu bersinar dengan balutan kain kebaya putih dengan rok menjuntai menyapu lantai. Seri wajahnya membuat rembulan cemburu karena terkalahkan pesonanya malam itu. Senyum Dewi, aduhai laksana tetesan nira, manis tak terperi.

“Malam ini kamu benar-benar cantik, sungguh!” bisik Thalib di ujung telinga Dewi.

Perempuan ayu itu tertawa renyah, “Oh, jadi malam-malam sebelumnya aku tak cantik, begitu?!”

“Bukan seperti itu, hanya saja malam ini … kamu jauh lebih cantik dari biasanya.”

“Gombal!” seru Dewi kenes, mencubit pinggang calon imamnya. Cubitan Dewi membuat Thalib menggelinjang geli, pemuda itu menatap lekat calon istrinya. Tak ada cacat sama sekali, Dewi sungguh sempurna di mata Thalib. Untuk kesekian kalinya ia berterima kasih kepada Sang Pencipta karena telah memberinya seorang bidadari di sisinya.

Digenggamnya kedua tangan lentik dihadapannya, Thalib tak henti-henti mengulum senyum. Semoga Dewi benar-benar bidadari surgaku, begitu kira-kira kalimat yang terlintas di dalam pikirannya.

Thalib mengecup kening Dewi dengan penuh kasih, dipeluknya wanita itu. Mereka lalu menghabiskan waktu bersama, memandang purnama yang meskipun sinarnya agak sedikit pucat, tapi bagi dua insan yang tengah kasmaran, purnama malam itu ialah purnama terindah dalam hidupnya.

“Tanggal pernikahannya sudah ditetapkan, yaitu tiga bulan dari sekarang. Abi harap kalian sudah mempersiapkan diri lahir dan batin untuk memasuki dunia baru dalam hidup kalian. Kehidupan berumah tangga, bukan hanya sekedar menikah lalu punya anak, tidak melulu seperti itu. Tetapi bagaimana caranya supaya kalian mampu menahan ego, menyatukan hati dan diri dalam setiap perbedaan, apapun itu, saling menjaga perasaan. Dan satu lagi, selalu menjaga dan menutupi aib pasangan,” H. Zakaria bicara panjang lebar saat keluarga Thalib dan Dewi berkumpul bersama sambil menikmati makan malam.

Thalib menganguk-anggukkan kepala, pemuda itu memang selalu antusias jika ayahnya tengah menyampaikan sesuatu, ia selalu yakin bahwa apa yang dikatakan ayahnya adalah hal baik yang sepatutnya ia gugu. H. Zakaria memang terkenal bukan hanya karena beliau adalah pemilik sebuah yayasan pendidikan dan pengusaha waralaba yang sukses, tetapi juga karena beliau adalah sosok manusia bijak yang jadi panutan orang-orang di sekitarnya. Bagi Thalib, ayahnya adalah contoh yang mesti ia tiru. Hal itu sudah terpatri dalam sanubarinya.

Matanya beradu pandang dengan Dewi, gadis pujaan hatinya tersenyum dan menganggukkan kepala seolah mengisyaratkan bahwa dirinya pun akan memegang teguh petuah dari sang calon mertua. Thalib menghela nafas lega.

Setelah berbincang ngalor-ngidul, kedua keluarga kemudian saling berpamitan, malam memang sudah sangat larut dan keesokan paginya mereka harus kembali menjalani aktifitas seperti biasa. Tak elok rasanya jika pertemuan berlanjut terlalu malam, yang terpenting bagi mereka adalah hal yang pokok dari pertemuan itu telah mereka diskusikan dan sepakati bersama.

Setelah mengantar kepergian keluarga Dewi, Thalib bergegas menemui sang ayah yang masih sibuk bercengkrama dengan manager hotel, H. Zakaria memang selalu ramah pada siapa pun, oleh karena itu beliau sangat di hormati baik oleh bawahan dan juga rekan bisnis.

“Mobil sudah siap, Abi! Mari kita pulang, Ummi sudah menunggu di dalam mobil.”

Lelaki bijak itu mengangguk, ia lalu berpamitan pada manager hotel dan menyelipkan sebuah amplop di genggaman sang manager.

“Rezeki dari Allah, saya harap kamu berkenan membaginya dengan karyawan lain.”

Manager hotel tersebut menerimanya dengan mata berkaca-kaca, “Alhamdulillah, terima kasih Pak Haji, semoga kebaikan hati Pak Haji dibalas berkali-kali lipat oleh Allah.”

“Aamiin!” seru H. Zakaria dan Thalib bersamaan.

Kemudian kedua anak beranak itu pergi meninggalkan jejak manis di hati sang manager hotel.

“Sepertinya Dewi memang jodoh yang baik, Nak! Semoga saja kalian benar-benar berjodoh dan semoga Allah senantiasa menjauhkan engkau dari tipu muslihat dunia,” gumam Pak Haji ketika mereka telah berada di dalam mobil. 

Ummi yang mengantuk dan hampir tertidur membuka mata kemudian membenahi letak duduknya, H. Zakaria yang melihat istrinya kaget akan kehadiran ia dan Thalib lalu mengusap-usap pundak sang istri dan memintanya untuk tidur kembali. Hal itu membuat Thalib takjub dan berjanji dalam hati akan berbuat sebaik dan seromantis Abi pada Ummi jika ia telah menikah nanti.

“Iya, Abi! Semoga saja Dewi benar-benar jodoh terbaik yang Allah kirimkan pada saya, jujur saja saya sangat menyintai dan menyayangi Dewi dengan sepenuh hati,” ucap Thalib semringah.

“Jangan terlalu berlebihan menyintai makhluk, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Menyintai dan menyayangi itu memang perlu, tapi sewajarnya. Bisa saja Dewi bukan benar-benar jodohmu. Jika itu terjadi, jika kau terlalu kasih dan sayang pada makhluk ciptaan Allah, niscaya kau hanya akan merasakan kekecewaan yang sangat dalam. Jadi cintailah Dewi karena Allah, karena kesolehaannya dan karena keimanannya bukan karena kecantikannya. Jika begitu, maka keluarga kalian insya’Allah akan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah!”

Pak supir dan Thalib saling melempar senyum, kedua pria itu bangga dan bersyukur karena menjadi bagian dari pasangan suami-istri yang senantiasa rukun meski usia pernikahan mereka sudah menuju senja, namun keharmonisannya tidak pernah menua. 

Itu selalu Thalib syukuri, ia benar-benar beruntung terlahir di dalam keluarga yang dipenuhi cinta dan kasih sayang. Laju mobil pelan tapi pasti menuju arah timur, tempat dimana rumah keluarga Thalib berada.