Try new experience
with our app

INSTALL

Rasa Ini Masih Sama 

BAB 2

Sinar matahari pagi merangsak masuk melalui celah-celah kaca di kamar milik Aldebaran dan Andin. Sinar itu mengenai Andin, dia menggeliat disana, dipelukan Aldebaran. Perlahan Andin mulai membuka matanya. 

"Selamat pagi suamiku.... " Katanya sambil mengecupi bibir Aldebaran. 

Tidak ada yang berubah sama sekali. Setelah lebih dari 18 tahun mereka mengarungi kehidupan pernikahan. Rasa cinta dan kasih sayang diantara keduanya tidak berkurang sedikitpun. Bahkan mereka semakin terlihat mesra, tidak kalah dengan pasangan-pasangan abg jaman sekarang. 

"Andin.... Jangan mancing-mancing yaa." Sahut Aldebaran yang dengan mata yang masih terpejam. 

Aldebaran membuka matanya perlahan. Sambil menguap karena masih mengantuk, dia mengecup kening Andin, "Selamat pagi sayang, happy 18 tahun 2 bulan anniversary ya." Katanya sambil tersenyum. 

Ya, hal yang tidak pernah berubah salah satunya adalah ini. Aldebaran dan Andin akan selalu merayakan anniversary pernikahan mereka setiap bulan. Terdengar agak berlebihan memang, tapi ya...begitulah Aldebaran dan Andin. Bahkan anak-anak mereka pun tidak habis pikir dengan kelakuan orang tuanya itu, orang tuanya agak 'lebay' memang.

"Mas kamu buruan mandi gih, aku mau bangunin anak-anak dulu. Terutama si Alden tuh, pasti dia masih molor jam segini." Kata Ansin sambil bergegas bangun dari tempat tidur. 

Aldebaran masih ogah-ogahan untuk bangun, dia malah menggeliat di atas kasurnya.

"Hoam...." Dia menguap, "Nggak mau mandi in suaminya nih?" Kata Aldebaran manja.

"Nggak usah aneh-aneh ya mas. Buruan bangun, nanti kita telat loh." Kata Andin sambil mengambilkan kemeja dan jas untuk Aldebaran dari dalam lemari. 

"Aku mandi di kamar mandi tamu ya, kamu buruan mandi. Nanti kalo telat kamu malu-malu in mas, masa yang punya hajat telat."

"Ngapain mandi di kamar mandi tamu sih? kenapa nggak mandi bareng aja? Kamu ini ribet banget jadi orang." Jawab Aldebaran sambil berdiri dari tempat tidurnya. 

Andin menghampiri suaminya itu, "Udah tua yaa, inget umur. Jangan mesum." Kata Andin sambil mengacak-acak rambut suaminya itu, "Udah ah, buruan mandi deh mas!" Lanjutnya sambil menarik tangan suaminya itu. 

"Kiss dulu lah." Kata Aldebaran sambil menyodorkan pipinya. 

'Cup'

Andin mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipi Aldebaran. 

Aldebaran pun langsung tersenyum lebar. 

Begitulah Aldebaran, saat hanya berdua dengan Andin, dia akan terlihat seperti bocah yang ingin dimanja setiap saat. Tapi kalau sudah diluar, tidak perlu ditanya lagi, sifat kaku nya akan langsung muncul. 

---

Setelah membangunkan 'bayi gede' nya. Andin langsung menuju ke kamar anak-anaknya untuk membangunkan mereka. Effort lebih memang selalu Andin keluarkan setiap pagi, apalagi kalau harus membangunkan ketiga jagoannya. 

Langkahnya terhenti saat baru memasuki lorong yang menuju kamar anak-anaknya, dia agak terkejut saat melihat kedua jagoan kembarnya sudah rapi dengan setelan tuxedo nya. 

"Waw, tumben banget ini dua cogan mama udah bangun. Mana udah rapi banget lagi." Kata Andin terkejut. Bagaimana tidak, biasanya Andin selalu naik darah kalau harus membangunkan mereka. Apalagi membangunkan seorang Alden. 

"Loh mama kok belum siap-siap, katanya berangkat pagi." Sahut Alex. 

"Ya pagi sih, tapi nggak sepagi ini juga. Hehehe, mama kemarin bilang gitu supaya kalian nggak males-malesan bangun." 

"Yaelah ma.... Ini aku udah rapi padahal, ketampananku keburu luntur nanti kalo nggak berangkat sekarang." Sahut Alden agak kesal. Alden sudah rela bangun pagi-pagi untuk bersiap-siap agar dia terlihat keren seperti ini. 

"Aduhduh... Anak mama, mau kelihatan cakep didepan siapa sih??" Kata Andin sambil mencubit pipi Alden. 

"Pakek ditanya, nggak perlu ditanya pun mama udah tau lah jawabannya." Jawab Alden sambil tersipu malu. 

"Hmm...Kia kemarin bilang ke mama kalo dia bakalan dateng sama temen cowoknya." Kata Andin menjahili anak-anaknya. 

Andin tahu kalau dua jagoannya ini tergila-gila pada Azkia, anak perempuan Aditya dan Jihan. 

"Bohong banget!" Sahut Alden dan Alexis bersamaan. Seketika wajah keduanya terlihat sedikit panik. 

"Mama jangan becanda ya!" Lanjut Alexis. 

"Hahaha, lucu banget mukanya." Andin tertawa terbahak bahak melihat ekspresi dari kedua anaknya itu.

"Mama nggak bohong tau, emang Kia nanti dateng sama cowok." Sahut Anes yang tiba-tiba muncul dari belakang. 

"Nggak usah ikut-ikutan ya dek." Sahut Alden. 

"Emang iya, sama Tristan." Jelas Anes. 

Mamanya bisa saja bohong, tapi Kalau Anes yang sudah berbicara seperti itu, sepertinya memang benar. Anes sahabat Kia, pastinya Anes tau tengang Kia lebih dari mamanya. 

Mendengar itu seketika wajah Alden dan Alexis menjadi sedikit kesal. 

"Yaudah biarin aja, mau dia dateng sama Tristan ya itu terserah dia sih. Orang gue juga dateng karena papa, bukan karena Kia." Kata Aleden. 

"Hahaha.... Bo'ong banget, kemarin baru dari tukang cukur, terus sepagi ini udah siap. Alah pasti karena Kia itu."

"Tapi sayang Kianya dateng sama cowok lain, kasian deh lu. Week..." Ledek Anes yang kemudian langsung berlari meninggalkan kakak-kakanya itu, sebelum dia digetok. 

"Dasar adek durhaka, nggak pernah dukung kakaknya. Awas aja ya!" Teriak Alden. 

Andin hanya tersenyum senyum melihat kelakuan anak-anaknya ini. Meskipun terkadang keributan-keributan diantara mereka membuat kepalanya pecah, tapi Andin bahagia dengan itu. 

"Udah ah, mama mau bangunin Athala dulu." Kata Andin sambil berlalu meninggalkan kedua jagoan kembarnya itu. 

"Haissh! Mama aja belum dandan, lu sih sok ide! Pakek nyuruh-nyuruh siap-siap pagi lagi, kan mubazir ini. Tau gitu gue masih bobo." Kata Alden kesal. 

"Idih, dibangunin malah nggak bersyukur." Sahut Alexis sambil berlalu meinggalkan Alden. Alexis paling menghindari keributan dengan Alden, karena kalau diladeni pasti akan panjang. 

---

"Udah siap kan semuanya.... " Kata Andin. 

"Udah dong ma." Jawab Anes. 

"Suami aku udah ganteng..." Kata Andin sambil mengusap lembut pipi Aldebaran. 

Melihat itu anak-anaknya pun langsung kompak memutar bola mata. 

"Jagoan-jagoan aku juga udah ganteng."

"Putriku juga udah cantik."

"Berarti kita udah siap berangkat!" Kata Andin dengan bahagia. 

"Oma juga udah cantik." Sahut Rosalina, mama Aldebaran yang tiba-tiba datang dari belakang. Rosalina seperti menolak tua. Diusianya yang hampir menginjak 65 tahun ini, dia masih terlihat awet muda. 

"Eh Mama... " Sapa Andin sambil tersenyum, "Selamat pagi ma."

"Selamat pagi...." Jawab Rosalina sambil tersenyum. 

"Aduh... Cucu-cucu oma ini ganteng dan cantik-cantik deh." Kata Rosalina. 

"Hehehe, emang dari dulu kan oma." Jawab Alden dengan percaya diri. 

"Ayo berangkat, mobilnya diluar udah siap." Kata Aldebaran. 

Lalu semuanya pun keluarga dari rumah menuju ke mobil. Mereka semua akan berangkat ke acara launching proyek terbaru dari kolaborasi Aldebaran dan Aditya. Proyek Nusa City.

---

Sementara itu Aditya dan Jihan sudah berangkat terlebih dahulu menuju ke tempat acara. Acara ini diselenggaran di ballroom hotel Rolay Palace. 

'Cekrek, cekrek, cekrek'

Kilatan-kilatan cahaya kamera wartawan langsung bersambutan ketika Aditya beserta keluarganya baru saja turun dari mobilnya. Sebuah red carpet sudah menyambut mereka, deretan wartawan-wartawan yang haus akan berita juga sudah menyambut kedatangan mereka. Wartawan-wartawan itu sudah standby di sepanjang tepian red carpet

"Pak Adit, sini dong pak... sini... " Teriak beberapa wartawan meminta Aditya untuk melihat ke arah kamera mereka. 

Aditya dan keluarganya menyapa wartawan dengan ramah. 

Setelah menyapa wartawan, mereka semua masuk ke tempat acara. Sebuah panggung megah terpampang nyata tepat sesaat setelah mereka melewati dua pintu besar di gedung itu. 

Panggung megah bertuliskan 'Nusa City'. Proyek impian Aldebaran dan Aditya. Kebahagiaan terlihat jelas di mata Aditya sekarang. Pembuktiannya pada Damas dan pada dunia tentang dirinya yang bisa berdiri sendiri tanpa sokongan Nirubi telah berhasil dia jawab hari ini. 

"Ini mimpi kamu bukan. Selamat mas." Ucap Jihan disampingnya yang dari tadi menggenggam erat tangannya. 

"Ini semua untuk kamu sayang." Kata Aditya sambil memberi kecupan di pipi istrinya itu.

Melihat itu anak-anaknya hanya bisa memutar bola mata dan memalingkan pandangannya, mereka pura-pura tidak melihat itu. 

"Ehem. Please... Mom, Dad.  This is a public place." Kata Kavindra.

"Nggak papa dong, kan Mami itu istri Daddy." Sahut Aditya. 

Kavindra mendengus kesal mendengar jawaban itu. 

Anak bontotnya itu memang selalu menganggap apa yang mereka lakukan itu terlalu 'lebay'. Tapi namanya juga Aditya dan Jihan, mereka akan bodoh amat. Selama apa yang mereka lakukan tidak merugikan orang lain, mereka akan tetap melanjutkan hal itu.

---

Tidak lama kemudian, Aldebaran beserta keluarganya sampai di tempat acara. 

"Hai brow!! Hahaha." Sapa Aldebaran sambil berpelukan dengan Aditya. 

"It's show time! Wuhuiii!" Kata Aditya bahagia. 

Gurat kebahagiaan tidak bisa disembunyikan dari keduanya. Proyek impian keduanya hari ini akan diluncurkan. 

Alden dan Alexis menatap tajam pada Aneska setelah melihat Kia yang ternyata tidak datang dengan pria manapun. Terlihat Aneska menahan tawa melihat ekspresi dari kedua kakanya itu. 

Tapi sayang sekali, kebahagian mereka kurang lengkap. Karena Reyna dan Saif belum bisa kembali ke Indonesia. Reyna masih di Amerika, sedangkan Saif masih di Inggris, keduanya belum bisa datang karena harus mengikuti ujian akhir semester. 

Tidak lama kemudian, acara pun dimulai. Aldebaran dan Aditya dipersilahkan untuk naik ke atas panggung dan meresmikan proyek kolaborasinya. Keduanya pun berjalan beriingan naik ketas panggung. Sorot lampu mengarah pada keduanya. Para wartawan juga sudah standby dengan kameranya. Semua mata tertuju pada mereka berdua. Keduanya berdiri dengan gagahnya diatas panggung. 

"Welcome to the new world." Buka Aldebaran. 

"A world that will give you an extraordinary experience." Lanjut Aditya. 

"The first international standard integrated area in Indonesia." Lanjut Aldebaran. 

"Kami persembahkan, 'Nusa City' dunia tanpa batas." Sambung keduanya. Seketika layar pun langsung menampilkan lanskap proyek 'Nusa City'. 

Gemuruh tepuk tangan pun langsung memenuhi seluruh ruangan. Seketika kilatan-kilatan lampu dari kamera wartawan pun langsung menyerbu Aldebaran dan Aditya yang saat ini sedang berdiri diatas panggung. Sorot bahagia tergambar jelas dimata keduanya. 

Raut bangga juga terlihat jelas dimata Andin dan Jihan. Bagaimana tidak, suami keduanya sangat terlihat mempesona diatas sana. 

"Mass... Saranghaeyo..." Pekik Jihan. 

"Mami please... " Sahut Kavin. 

Jihan menutup mulutnya, "Hehehe, sorry, mami kelepasan." kata Jihan.

Berita ini pun langsung menyebar cepat ke seluruh penjuru kota. Eits! bukan hanya kota, tapi seluruh penjuru negeri. Foto-foto dari kedua keluarga ini pun langsung terpampang nyata di setiap halaman utama surat kabar dan laman berita online. Kedua keluarga ini langsung menjadi perbincangan banyak orang. 

---

"Ngirim ucapan juga ternyata dia." Kata Aldebaran saat melihat sebuah papan ucapan selamat atas nama 'Dendratara Group' terpampang nyata di luar gedung tempat acara. 

"Hehehe, gitu-gitu Damas kan abang gue Al." Sahut Aditya. 

"Palingan juga si Rhea yang ngirim." Lanjut Aditya. 

"Udahlah... Nggak usah dipermasalahin lagi deh mas. Mereka ngirim ini juga niatnya baik kok." Kata Andin sambil mengusap-usap bahu suaminya. 

"Ya, aku masih agak kesel aja sama si Damas." Jawab Aldebaran kesal. 

"Sama sih, gue juga masih kesel." Sahut Aditya. Jihan juga menenangkan suaminya.

Masih teringat dengan jelas dikepala mereka tentang apa yang dilakukan Damas beberapa bulan lalu. 

---

Flash Back On

"Dendratara memutuskan untuk mengundurkan diri dari proyek ini." Kata Damas dengan yakin. 

Sontak itu membuat Aldebaran dan Aditya teekejut, mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Damas. 

"Lu gila ya bang!" Kata Aditya sambil menggebrak meja. 

"Kenapa lu nggak obrolin ini dulu sama gue!" Lanjut Aditya dengan marah. 

"Dari awal gue udah bilang, kalo proyek ini punya resiko yang sangat besar. Dari awal juga gue nggak setuju! Tapi lu yang maksa!" Bentak Damas.

"Gue juga berhak atas Dendratara, jangan mentang-mentang lu ketua komisaris. Lu bisa seenak jidat mutusin kayak gitu, lu lupa? Dewan direksi udah setuju dengan keputusan ini!" Kata Aditya. 

"Justru karena gue ketua komisaris. Gue punya hak buat putusin semuanya." Kata Damas dengan tatapan tajam, "Lu boleh lanjutin proyek ini, tapi jangan pernah sangkut pautkan dengan Dendratara. Lakukan atas nama pribadi." Lanjut Damas. 

"Bener-bener pengecut ya anda, saudara Damas!" Kata Aldebaran sambil tersenyum menyeringai. 

"Oke, tidak masalah kalau Dendratara mengundurkan diri dari proyek ini."

"Kita lihat saja nanti, saya akan pastikan anda menyesal telah memutuskan hubungan kontrak dengan kami." Lanjut Aldebaran dengan tatapan intimidasi. 

"Dit, gue nggak akan maksa lu untuk tetap lanjutin proyek bareng gue atau enggak. Keputusannya ada di tangan lu sendiri." Kata Aldebaran pada Aditya. 

"Gue akan tetep lanjutin proyek ini atas nama pribadi." Jawab Aditya dengan sorot tajam pada kedua mata Damas, "Gue nggak selemah yang lu pikirin." Lanjut Aditya dengan yakin.

Sorot mata Aditya penuh dengan keyakinan. Kalau sudah begini Damas tidak akan bisa berbuat banyak. 

"Oke, baiklah kalau begitu. Semoga kalian berhasil." Pamit Damas. 

Flash Back Off

-6 Bulan Kemudian-

 

Bersambung.......