Try new experience
with our app

INSTALL

Perempuan Yang Hatinya Terluka 

Mimpi Buruk Yang Terus Menerus Datang

Blupp!!! Bluppp!! Bluuppp!!

“Argghhtt..”

  Separuh wajah Jeje yang tampak ada memar-memar tampak tenggelam didalam bak mandi full air. Jeje 7 tahun menggeliat berusaha bernafas, air terus menggelembung tanda Jeje yang terus berusaha bernafas. Ada tangan Reza, ayah Jeje yang terus menahan kepala Jeje agar tetap didalam air meskipun Jeje berontak begitu kuat, kakinya bahkan ditendang kasar oleh Reza karena terus menggeliat! Bagian betis jeje juga terdapat memar ungu kebiruan, menandakan bekas pukulan baru dan yang sudah cukup lama.

  Suara tangis Mora, ibunda Jeje terus saja terdengar, awalnya agak jauh lalu kemudian mulai jelas seolah menandakan ia mendekat ke arah pintu kamar mandi. Mora datang membawa beberapa berkas-berkas sertifikat rumah yang di inginkan Reza.

“Ini, semua yang kamu mau. Ambil! Bawa!! Jangan pernah ganggu saya dan Jessica.”

Mora melemparkan berkas-berkas itu dilantai. 

“Jangan pikir setelah ini kamu bisa lepas dari saya!”. 

Jeje akhirnya dilepaskan, nafasnya sesak. Mora menghambur! Menangis memeluk Jeje yang masih berusaha mengatur nafasnya. 

“Jessica. Anak mama. Maafkan mama! Mama akan selalu lindungi kamu nak. Kita akan segera pergi, kita harus pergi sekarang!”. Mora berbisik seraya memeluk erat anaknya. 

Sorot mata Jeje, anak perempuan berusia 7 tahun itu tampak marah, meradang menatap Reza yang tengah mengemasi surat-surat yang dilempar Mora sebelumnya. 

Mora terus memeluk Jeje, tapi pandangan Jeje tertuju pada sebuah pisau dapur tergeletak dilantai tak jauh dari kaki Reza. 

  Jeje menatap nanar pada Reza. Jeje tak tahan mendengar tangis Mora, namun Reza hanya tertawa mengumpulkan segala berkas dan hendak pergi. Dengan cepat Jeje melepaskan diri dari Mora. Jje berlari kearah samping kaki Reza. Set! Tangannya mungilnya meraih pisau itu. 

Srashhhh!!! Sraashhh!! 

Jeje ayunkan pisau itu ke perut Reza beberapa kali. 

“Arggghhhhttt!!!!”. Reza menjerit keskitan.

Harapan Jeje membuat Reza roboh tak terwujud, Reza sempat menghindar sehingga luka yang ia dapat hanya goresan, malah Plaaakk!! Reza menampar Jeje. 

Bukkk!!! Jeje terpental jauh menghantam rak piring. 

Praaang!!! Beberapa gelas dan piring berjatuhan, pecah! 

“Jessica!!!”. Mora histeris menghampiri Jeje yang kini kepalanya berlumur darah. Anehnya, Jeje sama sekali tak menangis, ia menahan rasa sakitnya dan berusaha bangkit tapi tangis Mora terus terngiang dikepalanya. 

“Kurang ajar!!!”. Reza kesal dan ia mengambil pisau dapur sebelumnya, tapi Mora lebih dulu menghambur kearah Reza sehingga zzttt!! Pisau menembus perutnya! 

“Mamaaaaaa!!!!”

Jeje histeris memanggil Mora yang perlahan terkulai berlumur darah. Mora dengan air  mata yang terus deras mengalir menatapi Jeje.

Jeje hendak menghambur ke Mora tapi sratt! Reza meraih bagian belakang baju Jeje dan menyeret Jeje yang terus menangis histeris memanggil-manggil Mora. 

*** 

“Mamaaaaa!!! Mamaaaa!!!”

  Jeje berusia 27 tahun terbangun dari tidurnya disebuah ruangan bernuansa putih tanpa banyak furniture didalamnya. Sebuah kamar rawat rumah sakit jiwa! Nafas Jeje tersengal-sengal karena mimpi buruk yang terus menghantui sepanjang hidupnya. 

“Arggghtt!!!”

Jeje langsung histeris, mengamuk dan membuang bantalnya, mengacak-acak tempat tidurnya. 

*** 

  Jeje sudah duduk bersama Dr. Riana Thasya. Dokter specialist kejiwaan yang menangani Jeje sejak usianya 7 tahun. Setelah peristiwa traumatis itu, Jeje dimasukkan Reza ke rumah sakit jiwa dengan segala tuduhan pembunuhan terhadap Mora dialihkan pada Jeje. Licik memang, tapi beruntung juga Reza tak membawa serta Jeje pergi bersamanya, entah akan jadi apa Jeje kelak jika Reza terus ada dalam hidup Jeje. 

  Jeje tumbuh besar dalam asuhan Riana yang menganggap Jeje seperti anaknya, namun sayangnya Jeje tak bisa membuka hatinya bagi siapapun untuk mendekat, termasuk Riana yang telah 20 tahun mengangkatnya menjadi anak. Jeje tak ingin hidupnya bergantung pada orang lain. Puluhan tahun ia bangun dinding besar dan tinggi dihatinya, tanpa ia sadari kalau kasih sayang dari Riana sebenarnya sudah menyentuh hatinya. 

  Jeje bertahun-tahun hidup dalam penyesalan karena tindakan nekad yang ia ambil, Mora harus kehilangan nyawa. Jeje pun harus hidup berdampingan dengan penyakit mentalnya, Skizofrenia dan stress pascatrauma.  Jeje juga hidup dengan mimpi buruk yang terus menerus datang, seolah mengulang kejadian kematian ibunya setiap hari. 

***

Riana menatap Jeje yang duduk dengan pandangan kosong diruangan Riana. Riana seorang Direktur rumah sakit jiwa swasta di Jakarta. Sejak usia Jeje belasan, Riana membangun rumah sakit ini demi Jeje. 

  Jeje tak mau  tinggal dirumah yang ia bangunkan khusus untuk Jeje. Riana akhirnya menjual rumah itu demi  membangun rumah sakitnya sendiri dan tak jauh dari sana ia pun memberi rumah mungil untuknya mengawasi dan mendampingi Jeje. 

Riana sangat memahami bahwa mungkin, rumah adalah tempat traumatis bagi Jeje, sehingga kamar rawat rumah sakit adalah tempat teraman bagi Jeje.

“Kaset rusak yang dibiarkan 20 tahun lamanya, apa akan terus seperti ini?” . Begitu kira-kira istilah Riana untuk Jeje. Ya, memang memori kehidupan Jeje seperti kaset rusak, yang hanya selalu mengulang bagian paling menyakitkan. 

  “Aku nggak peduli rusak seumur hidup! Jangan berlagak jadi ibu hanya kaarena surat diatas kertas menyatakan kalau dokter adalah ibu angkatku. Tetap jadi dokter saja lah, gunakan saya untuk study kasus!”. Tanpa menatap Riana, Jeje membalas ketus.

Riana tersenyum, dan dengan tenang bicara lagi menatap Jeje yang menghindari berpandangan mata dengannya saat bicara. Jeje begitu, ia cenderung tak menatap mata Riana jika ia mengatakan sesuatu yang menyakitkan. 

  “Saya senang setidaknya kamu bicara pada saya, semakin kuat kamu ingin melukai saya setiap harinya selama 20 tahun ini. Saya yakin itu karena kamu tak ingin orang lain terluka karena mencoba mendekat dan memahami luka kamu. Saran saya sebagai dokter yang telah lama melakukan study kasus dengan kamu, ayo kita coba lebih menyentuh dunia luar ya. Mungkin, sudah saatnya kamu belajar jatuh cinta? Mengenal cinta dari lawan jenis kamu mungkin bisa membawa perubahan signifikan untuk kesehatan?” 

Jeje mendegus, ia berdiri. 

“Cinta? Saya nggak butuh dan nggak akan pernah ingin bekenalan dengan hal itu!”. Jeje dengan ketus lalu pergi. 

Riana memandangi kepergian Jeje sambil tersenyum. 

“Bukan tak ingin, kamu hanya ketakutan nak. Kamu takut cinta melembutkan hatimu lalu pergi meninggalkanmu dan kamu makin dalam hanyut dalam lara.” 

***