Try new experience
with our app

INSTALL

Serpihan Hati 

Dipisahkan

\tSekilas Arum hanya menatap ponsel yang sedari tadi bergetar. Tampak nama ibu mertua terpajang di layar. Dia tidak ingin menjawabnya. Pastilah dia akan menanyakan di mana mereka sekarang. Benar saja tidak lama sebuah pesan masuk dari Naina, ibu mertuanya.

\t

\tIbu :

\tKe mana kamu, Rum?

\t 

\tDia kembali melempar ponsel. Habis sudah kesabaran menghadapi Surya. Dia enggan berbicara dan mungkin ingin menangkan diri. Namun, mertuanya pasti tidak tinggal diam dan akan mencarinya.

\t“Ma, mainan Kakak ketinggalan di rumah. Telepon Papa minta anterin dong, Ma,” pinta Nanda pada mamanya.

\t“Iya, Sayang. Nanti malam telepon Papa, ya.” Arum menghela napas. Dia tidak tahu bagaimana nanti menjelaskan tentang perpisahan mereka.

\tNanda kembali bermain bersama Kaila. Benar saja tidak lama, ibu mertuanya sudah berada di ambang pintu.

\t“Nenek!” teriak Nanda sambil berhambur ke pelukan sang nenek—ibu dari Surya.

\tNaina—mertua Arum—langsung menggendong Nanda dan beberapa kali menciumi cucu laki-lakinya. Janda kaya itu langsung menatap sinis Arum. Dia meletakkan tas mahalnya di meja, lalu menurunkan Nanda dari gendongan.

\tWanita tua itu melipat kedua tangan di dada. Sambil mendelik kesal, dia mulai menggerutu dengan kondisi rumah besannya. Namun, saat dia datang, kedua orang tua Arum sedang tidak ada. Mereka sedang berjualan sayur di pasar. Perasaan tidak nyaman menyergapnya dan ingin cepat-cepat keluar dari ruang itu.

\t“Pantas saja, Ibu ke rumah tidak ada yang membukakan pintu. Sejak kapan kamu di sini? Kamu tahu, kan, Ibu tidak suka cucu-cucu Ibu menginap di sini. Rumah kumuh seperti ini akan membuat mereka sakit. Kamu ngerti, kan, lembap?” Seperti biasa janda kaya itu selalu mencerca keluarga Arum.

\tArum menggigit bibir bawah. Tangannya mengepal kencang. Entah harus bagaimana menghadapi lidah sang mertua. Wanita tua itu sangat pintar berbicara. Apalagi masalah kebersihan dan kesehatan. Saat masih bersama Surya, dia paling sering datang membawakan buah-buahan dan makanan sehat untuk Nanda dan Kaila. Dengan alasan tidak ingin sang cucu kekurangan gizi.

\t“Arum! Kamu nggak denger Ibu bertanya?” Kembali mertuanya mengulang pertanyaan. “Sejak kapan kamu di sini?”

\t“Sejak semalam Mas Surya mengusirku, Bu,” jawab Arum membuat mata sang mertua menyipit.

\t“Dia mengusirmu? Buat ulah apa kamu sampai dia mengusirmu?” tanya Naina heran.

\t“Aku meminta cerai darinya.”

\tBola mata wanita tua itu hampir saja keluar mendengar penuturan menantunya. Dia menarik napas panjang. Naina kembali meradang mendengar penuturan tegas dan keberanian  Arum meminta cerai pada Surya, anaknya.

\t“Dasar wanita nggak tahu diuntung. Masih syukur anak saya mau menikah dengan gadis miskin macam kamu. Di mana pikiranmu, sampai kamu meminta cerai dari Surya?” umpat Naina.

\tBegitu pedih hati Arum mendengar setiap perkataan sang mertua. Lidah mertuanya itu sedari dulu memang sangat tajam.

\t“Mas Surya menikah lagi, Bu. Dengan sengaja dia membawa wanita itu ke rumah. Hati wanita mana yang tidak sakit,” ucap Arum sambil terisak.

\t“Menikah lagi?” tanya mertuanya tak percaya. Dia menatap penuh tanda tanya.

\tArum terduduk lesu, tangannya mencengkeram ujung kursi. Air mata kembali menetes mengingat penghinaan dari Surya. Rasa getir menyelimuti hati wanita yang kini mencoba kuat. Akan tetapi, tetap saja jika mengingat akan terasa sakit lagi.

\t“Mas Surya bilang dia sudah mati rasa padaku. Dia selalu marah dan memaki aku lalu membandingkan dengan selingkuhannya, Bu,” tutur Arum dengan isak tangis.

\t“Daster lusuh dan muka penuh minyak yang jadi permasalahan kalian?” Tebakan ibu mertua Arum sangat tepat.

\tBeberapa waktu lalu memang Surya mengeluhkan penampilan Arum pada wanita tua itu. Dia merasa tidak bergairah saat berdekatan dengan Arum. Istrinya tidak pernah bersolek saat dia pulang ke rumah. Naina menggeleng, tahu permasalahan yang sedang dihadapi mereka.

\tNamun, dia juga tak bisa berbuat apa-apa. Sudah menjadi keputusan Surya. Akan tetapi, sang putra pasti mengambil keputusan terburu-buru saat itu.

\t“Kamu itu ngeyel. Sudah Ibu bilang berdandan di rumah. Jangan menggunakan daster lusuh. Nggak denger nasihat orang tua, sih. Sudah begini, suami yang disalahkan!” Bukannya memberi solusi, wanita tua itu malah menyalahkan menantunya.

\t“Tapi, Bu. Mas Surya hanya memberikan uang belanja setengah dari biasanya. Tidak cukup untuk membeli macam-macam. Di rumah juga aku sibuk mengurus anak dan memasak.” Arum mencoba membela diri.

\t“Alah, alasan! Ibu tidak mau tahu, anak-anak Ibu bawa. Terserah kalian mau cerai atau tidak. Yang penting Nanda dan Kaila, Ibu bawa!” Nyaring suaranya hingga membuat Arum terenyak.

\tTanpa menunggu persetujuan Arum, wanita tua itu langsung mengambil Kaila yang sedang tertidur pulas dalam gendongan, lalu menggandeng Nanda. Arum berusaha menarik kedua anaknya, terjadilah tarik menarik. Kaila menangis histeris saat terbangun. Sopir wanita tua itu mencegah dan mendorong Arum. Kemudian, sang mertua kembali mengambil Kaila, menaiki dan menutup pintu mobil. Nanda pun terlihat ingin menangis saat dibawa masuk mobil.

\t“Buka, Bu! Jangan bawa anak-anak saya. Bu, buka!” teriak Arum sambil menggedor kaca mobil mewah itu.

\tArum terus berteriak sambil menggedor pintu mobil. Namun, kendaraan itu sudah melaju kencang. Dia histeris, seketika berlari mengejar mobil itu tanpa memedulikan kakinya yang tak beralaskan sendal.

\t“Nanda! Kaila! Bu, jangan bawa anak saya!” Tubuhnya terjatuh di aspal, luka di lutut dan cairan merah mengalir.

\tDia tertunduk lesu di jalan yang masih penuh kendaraan berlalu-lalang. Beberapa orang mulai memperhatikan Arum. Dia menjerit histeris, tidak memedulikan jika dirinya menjadi tontonan warga.

\t“Nak, bangun,” ucap seorang ibu berbaju merah yang datang membantunya.

\tTangisnya semakin kencang saat teringat akan susah bertemu dengan kedua buah hati. Ibu itu membantu Arum bangkit, dan mencoba membuatnya tenang. Saat melintas, Bu Basuki—tetangganya—turut mengantar pulang ke rumah.

\tSesampai di rumah, Bu Basuki mengambilkan air untuk Arum. Dia sedih melihat kondisi tetangganya itu. Wanita paruh baya itu menyodorkan gelas berisi air putih untuk diminum agar Arum bisa tenang.

\t“Minum dulu, Rum, biar kamu tenang.”

\tArum meminum air pemberian Bu Basuki. Dia masih menangis tergugu, mengingat kedua anaknya. Luka di lutut pun tak dirasakan wanita lemah itu. Gamis yang digunakan sedikit bolong akibat terjatuh. Arum hancur, harapan bersama anak-anaknya telah kandas. Andai bisa menghentikan laju mobil, pasti dia tidak nelangsa seperti ini.

\t***

\tWiryo—ayah Arum—sudah mendengar cerita dari tetangga mereka tentang mertua anaknya yang datang dan mengambil kedua cucunya. Pria tua itu cemas hingga memilih menutup dagangan di pasar, lalu bergegas pulang ke rumah.

\tIstri Wiryo juga ikut cemas dengan kabar yang baru saja didengar. Di tempat terpisah, wanita tua itu juga menutup dagangan.

\t“Ayo, Bu,” ucap Wiryo saat bertemu dengan istrinya di parkiran.

\t“Iya, Yah. Ibu cemas dengan Arum.” 

\tLalu, Wiryo melajukan mobil pick up dengan kecepatan tinggi. Mobil yang sehari-hari mereka pergunakan untuk pergi berjualan sayur di pasar. Sesampainya di rumah, Arum menghambur ke pelukan sang ibu. Tangis pilu wanita itu sangat menyayat hati. Bagaimana dia diperlakukan tidak adil oleh keluarga Surya.

\t“Kamu sudah obati luka kamu, Nak?” tanya Wiryo cemas.

\tArum menggeleng. Dia sudah tidak memedulikan luka di tubuhnya, karena luka di hati sudah sangat dalam. Sang ibu beranjak ke dapur dan mengambil kotak P3K. Sebelum itu, wanita paruh baya itu membersihkan luka Arum dengan alkohol.

\tRasa sakit itu tidak dia rasakan. Di benak Arum, hanyalah memikirkan kedua buah hatinya. Netra kosong. Dia seperti depresi menghadapi masalah yang bertubi-tubi .

\t“Nak, kamu harus kuat. Anak Ayah dari dulu selalu kuat. Ayo, Nak, Ayah antar kamu ke rumah mertuamu,” ujar Wiryo.

\tArum menggelengkan kepala. Dia belum bisa berpikir karena percuma saja ke sana kalau suasana masih seperti ini. Dia masih mengumpulkan kekuatan, untuk melawan ibu mertua dan Surya. Dia berpikir dan terus beristigfar menenangkan hati. Suasana rumah menjadi sangat sunyi, saat Nanda dan Kaila tidak ada. Dia sangat merindukan mereka.

\t“Biarkan Arum ke rumah Ibu sendiri, Ayah istirahat saja di rumah. Arum tidak ingin Ayah dihina mereka juga,” ucap Arum.

\t“Kamu yakin?” tanya ibunya.

\t“Yakin, Bu. Arum kuat menghadapi mereka. Doakan saja aku selalu sehat dan kuat untuk menjalani takdir Allah.”

\tArum terpaksa terlihat kuat di hadapan kedua orang tuanya. Dia tidak ingin melihat mereka bersedih. Cukup hari ini saja mereka menutup cepat warung di pasar, untuk pulang melihat keadaannya.

\t“Doa Ayah dan Ibu selalu ada untuk kamu, Rum.”

\tSetelah Shalat Dzuhur, Arum bersiap untuk menemui kedua buah hatinya di rumah nenek mereka. Perasaannya sedang tidak keruan. Rasa pedih, sesak, semua bercampur aduk. Kehilangan buah hati adalah hal terpuruk yang dia rasakan.  Tidak bisa dia bayangkan hidup tanpa mereka.

\tSemesta seperti mempermainkan hidupnya. Kini, dia harus dipisahkan dari kedua anak yang sangat dicintainya. Gemuruh di dada membuat dia tidak sabar untuk membawa mereka kembali ke dalam pelukan. Perempuan jahat itu boleh mengambil suaminya, tetapi tidak dengan kedua buah hatinya

\t***

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t

\t

\t

\t

\t