Try new experience
with our app

INSTALL

Serpihan Hati 

Ceraikan Aku, Mas

\tSepulang kerja tanpa berbasa-basi pada Arum, Surya langsung bergegas ke kamar mandi. Memang cuaca sangat menyengat hingga membuat tubuh pria itu menjadi lengket. Kini, perutnya terasa lapar. Dia beranjak ke dapur. Matanya komendelik kesal saat menatap sang istri. Masih sama pikirnya, dengan daster lusuh dan wajah penuh minyak. Kapan wanita itu berubah secantik Renata?

\t“Arum!” teriak Surya saat membuka tudung nasi. Netranya terus menatap kesal pemandangan di bawah tudung nasi. Dia tidak menemukan lauk yang menggugah selera. Hanya sepiring tahu dan tempe tanpa sambal. Emosi kian memuncak pada Arum yang selalu saja membuat kesal.

\t“Iya, Mas. Ada apa?” tanya Arum yang datang tergopoh-gopoh menghampiri suaminya.

\tArum menatap heran Surya. Apa yang salah dari dirinya? Dia menatap daster lusuh yang dikenakan. Kenapa dia begitu bodoh. Kalau tahu Surya akan pulang, harusnya dia cepat berganti baju dan memakai parfum hingga menjadi harum. Setidaknya dia sudah berusaha tampil cantik dan wangi.

\t“Ada apa, kamu bilang? Lihat ini, suami pulang hanya disuguhkan tahu dan tempe! Ke mana uang belanja yang aku kasih sama kamu?” Surya menatap sinis sang istri.

\tArum mengerutkan kening saat Surya berteriak tentang lauk yang disajikannya. Apa yang salah dengan tahu dan tempe itu? Uang belanja yang dia punya hanya cukup untuk membeli lauk sederhana.

\t“Mas, uang belanja yang kamu kasih itu hanya cukup untuk setengah bulan. Itu pun aku menambahkannya dengan tabunganku. Bagaimana aku bisa memasak enak, jika kamu tidak memberikan uang lebih?” Arum membela diri saat Surya terus memojokkannya.

\tSurya berdecak kesal. Saat melihat lauk hanya tahu dan tempe, selera makannya hilang. Kini, hanya luapan emosi yang dia tumpahkan pada Arum. Apalagi melihat tubuh yang kesekian kali hanya berbalut daster lusuh.

\t“Sekarang, kamu pandai menjawab ucapanku, Arum. Durhaka kamu sama suami. Bagaimana aku betah di sini, jika hanya melihat kamu yang lusuh di hadapanku? Bikin tidak selera saja! Sudah tidak berselera makan, tambah parah melihat kamu.” Surya terus menerus mencerca Arum yang tidak berdaya.

\tPria berlesung pipi itu menggebrak meja makan. Dada Arum kian sesak saat mendengar perkataan yang membuatnya kembali merasakan sakit hati. Bukan keinginan dia menjadi seperti ini. Jika ayah dari kedua anaknya selalu memberi uang lebih, mungkin dia bisa membeli alat make up dan baju, bahkan tampil seperti saat masih gadis. Apalah daya, pria itu tak bisa berlaku adil, tapi menuntut lebih.

\t“Mas, sudah cukup kamu menghina aku. Aku selalu diam saat kamu perlakukan semena-mena. Bahkan saat kamu terus membandingkan aku dengan selingkuhanmu!” pekik Arum keras. Napasnya tersengal-sengal saat dia mulai meluapkan semua emosi yang tertahan.

\t“Renata istriku, bukan selingkuhanku. Jangan asal bicara kamu, memang kenyataan,  kok. Renata dan kamu bagaikan langit dan bumi. Dia pintar membuat aku senang, tidak seperti kamu yang bisanya membuat aku marah dan bosan di rumah,” cerca Surya kian menjadi.

\tKeputusan Arum untuk mengurus anak dan suami setelah menikah, ternyata sebuah kesalahan. Suami yang selalu dia banggakan malah menduakan cinta dengan gadis muda berpenampilan cantik.

\tArum pernah bekerja di sebuah perusahaan sebagai seorang auditor. Setelah melahirkan Nanda, dia memutuskan untuk mengurus Nanda dan berhenti bekerja. Padahal dirinya sangatlah cerdas. Atasan di kantor pun menyayangkan keputusan wanita yang sempat menjadi perebutan beberapa pria saat itu. Beberapa staf kantor saat itu masih terus membujuk agar dia mau bekerja lagi. Namun, dia kukuh ingin mengurus rumah saja.

\t“Ya, dia memang bukan selingkuhanmu, tapi sebelum kamu menikah dengan Renata, dia adalah selingkuhanmu. Kamu benar-benar jahat, Mas.” Arum sudah tidak bisa menangis lagi. Begitu berat dia menahan semua amarah yang selama ini dipendam.

\tArum jatuh tersungkur saat tangan kokoh sang suami menampar dan mendorong tubuhnya. Wanita itu meringis kesakitan. Netra nyalang menatap sosok Surya yang sudah tidak mempunyai rasa cinta lagi untuknya. Aliran darah mengalir lebih deras. Tangannya mengepal dan tak henti dia merutuk.

\t“Ceraikan aku, Mas! Ceraikan aku!” teriak Arum dengan melempar tatapan mantap. Kini, kesabaran itu sudah tidak terbendung lagi. Dia meminta Surya menceraikannya saat itu. Sudah cukup penderitaan yang dia terima.

\t“Oh, bagus! Berani kamu membentak aku? Cerai, oke mulai saat ini, kamu aku talak! Silakan kamu keluar dari rumah ini sekarang!” Surya tidak menyangka Arum senekat itu. Ucapan Arum juga menghunjam jantungnya.  Pria itu juga merasakan perih, tapi mencoba tidak memedulikan karena sebuah gengsi.

\t“Oke, Mas. Aku akan pergi sekarang. Aku tunggu surat cerai dari kamu,” ucap Arum.

\tBergegas, ia masuk kamar dan membereskan semua baju. Hanya beberapa baju saja yang dia bawa. Wanita bermata cokelat itu mencoba kuat, tidak ingin terlalu larut dalam permasalahan ini. Setelah itu, dia berjalan melewati Surya. Kini, suaminya tidak lagi seperti dulu. Surya sudah dibutakan oleh kecantikan luar saja. Begitu juga harta yang kini dimiliki. Arum menggendong Kaila—putrinya yang berumur tiga tahun—dan menggandeng Nanda, putra pertamanya yang berusia lima tahun.

\t“Kita mau pergi ke mana, Ma?” tanya Nanda.

\t“Kita mau ke rumah Nenek, Kak.”

\t“Papa nggak ikut, Ma?” tanyanya lagi.

\tArum hanya diam. Dia bingung harus menjelaskan apa pada anak laki-lakinya. Seiring waktu pasti mereka akan mengerti keadaan orang tua mereka. Nanti jika mereka dewasa.

\t“Papa nanti nyusul,” jawab Arum.

\tSurya benar sudah sangat kelewatan terhadapnya. Terlebih dia berani berteriak di depan anak-anak, sampai Kaila yang sudah tertidur terbangun kembali

\t“Kalau mau pergi, pergi saja. Nggak usah banyak drama. Kamu sendiri yang meminta bercerai. Rasakan sendiri, emang kamu pikir jadi janda enak?” Surya bertutur dengan sombong.

\t“Aku lebih baik menjanda, Mas. Daripada harus dipoligami, tapi kamu nggak bisa berlaku adil padaku,” ujar Arum geram.

\t“Bagus kalau gitu. Silakan pergi!”

\tSegera Arum melangkah bersama kedua anaknya. Rumah yang dulu sangat damai, kini menjadi saksi sebuah pertengkaran berujung perpisahan. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu taksi online yang dia pesan. Sungguh Arum muak dengan semua penghinaan Surya. Kini, dia bertekat membesarkan anaknya tanpa uang pria itu.

\t***

\tSementara itu, Surya merasa dirinya sudah benar. Dia berhasil menyingkirkan Arum, istri yang jelek. Senyum tipis menghias bibir. Segera dia mengambil ponsel dan siap ber-video call dengan Renata. Kini, wajah cantik itu menghiasi layar ponsel miliknya.

\t“Lagi apa, Sayang?” tanya Surya pelan.

\t“Lagi kangen nih sama kamu, Mas.”

\tWajah Surya memerah mendengar penuturan Wanita berwajah merona itu. Dia tak sabar ingin memeluk wanita yang menjadi istri keduanya. Senyum Renata sangat menggoda. Belum lagi baju tidur yang dikenakan dan buah dada menggiurkan, membuat dirinya kembali menelan saliva. Bergegas, dia pergi ke sana untuk menuntaskan hasrat.

\tPria itu tidak memedulikan anak dan istri yang diusirnya dari rumah saat tengah malam. Dia hanya memikirkan nafsu semata. Surya tidak berpikir panjang tentang perbuatannya. Yang ada dalam pikiran hanya keindahan semata.

\t***

\tKini, Arum mencoba bangkit dari keterpurukannya selama setengah tahun dipoligami oleh Surya. Dia mencoba melupakan setiap rasa sakit yang diterima. Semua Demi kelangsungan hidup putra-putrinya.

\tArum melangkah ragu saat sampai di depan rumah kedua orang tuanya. Dia tidak ingin mereka cemas dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Namun, dia tidak punya tempat lain untuk berteduh.

\t“Keputusan yang bagus, Nak. Ayah sangat setuju dengan keputusan kamu meminta cerai dari Surya. Pria berengsek seperti dia, tidak pantas kamu pertahankan,” ujar pria itu setelah Arum bercerita tentang rumah tangganya.

\t“Iyah, Yah. Arum sangat butuh dukungan dari Ayah dan Ibu. Doakan Arum lebih kuat, Yah,” tutur Arum.

\tKaila sudah tertidur lelap, sedangkan Nanda masih bermain dengan mainannya. Rumah minimalis dengan cat berwarna cokelat itu, kini terlihat lebih ramai dengan hadirnya kedua anak Arum.

\t“Istirahat, Rum. Kasihan anak-anakmu,” kata ibunya.

\t“Iya, Bu.”

\tArum bersama Nanda dan Kaila menempati kembali kamarnya dulu. Ruangan yang penuh dengan kenangan indah. Kini, dia lega sudah lepas dari Surya. Perlahan dia mengempaskan tubuh di kasur, dan mencoba memejamkan mata. Jiwanya lelah menghadapi hari yang penuh dengan ujian hidup. Dia akan naik level jika mampu menghadapi semua dengan kuat.

\t***

\tSepertiga malam, Arum memanjatkan doa pada Allah. Tidak banyak yang dia minta, hanya berharap bisa mencukupi kehidupan kedua anaknya. Air mata deras mengalir di pipi, harta bisa begitu cepat membutakan sesorang.

\t“Aku tidak meminta dia kembali. Aku hanya meminta rezeki untuk anak-anakku.”

\tDia sadar dirinya jauh dari kata sempurna sebagai seorang istri. Namun, jika Surya memperlakukannya dengan baik, mungkin semua tidak akan terjadi. Suaminya tidak memedulikan tentang hal itu. Bahkan sepertinya, pria itu sudah dibutakan cinta Renata. Berulang kali Surya menghinanya. Sampai dia lupa kalau mereka dulu saling mencinta.

\tSelesai shalat, dia duduk di tepi ranjang, memperhatikan wajah kedua malaikat kecilnya. Tidak banyak yang dia ingin, cukup bersama mereka saja sudah membuat bahagia. Perlahan Arum mulai terlelap. Beban hidup yang selama ini dia tahan, akhirnya bisa dilepaskan.

\tEnam tahun lalu, Surya melamar Arum menjadi pendamping hidup. Parasnya yang cantik, membuat pria itu tergila-gila. Walau sempat tidak disetujui oleh ibu Surya, tetapi akhirnya mereka bisa bersatu.

\tKeharmonisan masih terjaga sampai kelahiran anak kedua. Namun, setelah itu sifat Surya mulai berubah. Arum—istri yang penurut dan sangat menghormati sang suami—hanya bisa pasrah saat dirinya mulai direndahkan. Kata demi kata terlontar sangat menyakitkan untuknya. Lagi, dia hanya diam tak melawan.

\t***

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t

\t