Try new experience
with our app

INSTALL

Bisik Mendung 

Chapter 1

Suara hujan yang menderas pada pertengahan malam berhasil memecah sunyi. Aku belum terlelap walau jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Alih-alih berusaha tidur, aku memilih untuk menyeduh teh susu hangat di mug putih favoritku, lalu meletakkannya di meja kerja di samping laptopku yang masih menyala.  


Layarnya menampilkan sebuah laman utama blog yang didominasi warna krem dengan teks-teks berwarna gelap. Hanya ada satu entri tak berjudul yang diunggah pekan lalu. Penasaran dengan blog asing tersebut, aku memutuskan mengklik entri tersebut. Dahiku mengernyit.  


Isinya kosong, tapi aku belum menyerah. Kugeser kursor ke bawah hingga berujung pada sejumlah foto-foto mengejutkan. Jantungku berdegup cepat. Keringat dingin mendadak membasuh punggungku.  


Aku mendapati kumpulan foto nisan bertuliskan nama: Aldebaran Alfahri. Tubuhku tiba-tiba gamang sekaligus gemetar. Tidak sengaja aku pun menyenggol cangkir teh hingga jatuh dan hancur berkeping-keping di lantai dingin seperti kondisi benakku saat ini.  


*** 


“Andin! Ayo, bangun!” 


Aku merasa tubuhku diguncang-guncang. Ketika aku mengerjap-ngerjapkan mata perlahan, aku mendapati ibu duduk di tepi kasur tengah berusaha membangunkanku. Melihatku sudah sedikit terjaga, ibu membuka gorden jendela.  


Berkas cahaya matahari langsung masuk dan menyapaku. Walau tidak terlalu terik, mataku masih perlu menyesuaikan dengan sinarnya. Sudah pukul sepuluh pagi rupanya, batinku saat mengecek waktu di layar ponsel.  


“Kamu tidur sambil nangis, bikin Ibu khawatir saja. Sebaiknya cepat bangun, siap-siap dan sarapan,” pinta ibu lumayan tegas. Masih ada nada panik tertinggal di setiap ucapannya. Aku mengangguk kecil, menyentuh pipiku, masih basah. Aku beranjak dan berdiri di depan cermin, kedua pasang mataku, selain sayu, bermata sembab. Bengkak berwarna merah, tepat seperti orang sehabis menangis hebat. 


“Kamu kayaknya lagi mimpi buruk. Sepanjang tidur, kamu juga teriak memanggil nama Al,” ujar ibu lagi sebelum benar-benar lenyap dari ambang pintu. Kalimat ibu seolah menyadarkanku.  
Aku terhenyak sesaat sebelum menyambar ponselku dan mengirim sepotong pesan singkat untuk Al. Pria itu menjawabnya tiga menit kemudian. Jadi semuanya hanya mimpi? Aku tersenyum lega.