Try new experience
with our app

INSTALL

GIVE ME A LOVE SIGN! 

GIVE ME A LOVE SIGN!

Chapter 4

  Aku tenggelam dalam pelukan Aeros. Jujur aku memang setakut itu, aku takut kalau orang jahat itu akan mencelakai Aeros dan aku tidak ingin itu terjadi. Karena aku masih mencintai Aeros, aku tidak ingin dia terluka. Aku butuh dia di sampingku, aku butuh dia untuk kembali memberikan tanda cinta yang dulu pernah Ia berikan kepadaku.

  “Please jangan tinggalin gue.” Ucapku tiba-tiba. Aeros melepas pelukanku perlahan dan mengusap air mata yang terus mengalir di wajahku. Lalu tangan satunya membelai kepalaku dengan lembut.

“seberapa besar rasa kecewa gue ke lo dulu, gue sama sekali gak pernah ninggalin lo, Nin.”

  Tangisku semakin pecah mendengar perkataan Aeros. Namun kemudian. Brak!! Pintu UKS terbuka dengan keras. Disana Rara berdiri menatap kami dengan sangat marah. Rara berlari ke arahku dan menarikku dari Aeros.

“Gue gak akan biarin Nindy kembali sama lo, Ros!” ancaman Rara ini membuatku bingung. 

“Ra, lo kenapa? Kenapa lo semarah ini ke gue dan Aeros?” tanyaku perlahan agar Rara tidak semakin marah.

  “Lo cuma punya gue Nin! Gak ada yang bisa milikin lo selain gue!” sontak perkataan Rara membuatku semakin kaget. Perkataan itu terngiang dipikiranku. Dan ingatanku berputar kembali, beberapa cuplikan ketika aku dan Rara masih kecil. Dimana Rara seringkali menyebut aku adalah miliknya. Dimana Rara selalu tidak senang melihatku dekat dengan teman-temanku yang lain. Dimana Rara sangat membenci Aeros ketika Aeros mengungkapkan perasaannya padaku.

  “Lo cuma milik gue Nin. Dan gue juga cuma milik lo, gak ada yang bisa pisahin kita.” Rara melotot sambil memegang pundakku dengan kedua tangannya yang kemudian ditarik Aeros dengan sekuat tenaga. Aku sangat shock.

  “Berhenti ganggu Nindy dengan segala pemikiran lo itu, Ra! Gue udah tau kelakuan lo selama ini dan gue diem karena gak mau hubungan lo sama Nindy rusak! Tapi bukannya lo berubah, malah lo sendiri yang bikin pertemanan lo sama Nindy hancur!”dengan tegas Aeros menatap Rara namun sama sekali tidak ada ketakutan di mata Rara.

“Gue gak nyangka lo kaya gini Ra. Selama ini lo teror gue padahal lo tau sebegitu takutnya gue.” Aku berlari pergi meninggalkan Rara dan Aeros.

  Seminggu setelah kejadian itu, Rara memutuskan pindah ke luar negeri karena perbuatannya sudah diketahui banyak orang dan tidak jarang banyak orang yang memberi komentar kalau mereka tidak menyangka dengan perbuatan Rara terhadapku. Aku merasa aman saat ini tapi disatu sisi aku juga sedih karena sudah kehilangan sahabat yang sudah menemaniku sejak kecil. Sesekali aku cek sosial media milik Rara, namun tak satupun postingan yang baru ada di sana. Aku dan Rara lost contact, tapi aku berharap Rara baik-baik saja disana.

  Ting..!! ponselku berdering, tanda notifikasi masuk. Sebenarnya, aku masih sedikit trauma dengan bunyi notifikasi di ponselku hanya saja hidup sebagai pemilik akun yang banyak followers harus menerima itu. Jantungku selalu berdegup kencang setiap melihat notifikasi di ponselku, dan kali ini sepertinya jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya.

“Aerosdarren10 likes your photo.”

“Aerosdarren10 comment :      ”

 

***

The End