Try new experience
with our app

INSTALL

Serpihan Hati 

Rindu

\tSemilir angin berembus sangat kencang, langit pun mendung. Dingin menusuk kulit. Arum duduk di taman kota dengan satu tangan memegangi dada. Sebuah penghinaan kembali terjadi pada dirinya. Netra cokelat itu menatap nanar, bulir bening yang sedari tadi ditahan, kini tumpah mengalir deras di pipi.

\tSakit, perih, entah apalagi yang dia rasakan. Begitu getir hidup yang dia jalani. Sebuah harapan yang nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan. Hidup bahagia itu memang milik mereka yang mempunyai banyak uang. Beberapa kali dia menyeka air mata, lalu bangkit dengan sisa-sisa kekuatan.

\tKenapa sangat sakit? Aku sudah terbiasa dengan penghinaan Mas Surya. Namun, kenapa lebih menyakitkan saat Bayu menghinaku?

\tDirinya kembali merasakan sesak di dada. Sekarang, dia teringat kedua anaknya. Rindu itu sudah sangat membuncah mengingat begitu bahagianya saat mereka bersama. Peluk dan cium mereka yang selalu dirindukannya.

\tArum mengambil ponsel yang sedari tadi terus bergetar. Matanya terbelalak melihat nama ibu mertua tertera di layar ponsel. Langsung saja dia menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan dengan hati tidak keruan.

\t“Asalamu’alaikum, Bu. Ada apa?” tanya Arum.

\t“Wa’alaikumsalam, sekarang kamu ke rumah Ibu. Anakmu Kaila panas tinggi.” Suara khas ibu mertuanya terdengar dari seberang ponsel.

\t“Astaghfirullah, iya, Bu. Arum segera ke sana.”

\tGegas, dia memesan ojek online, berharap bisa lebih cepat sampai ke rumah mertuanya. Dalam perjalanan, hatinya merasa sangat gelisah. Perasaan seorang ibu tidak akan salah, ada yang tidak beres. Kaila panas. Arum kembali merasakan nyeri yang sangat kuat saat mengingat putrinya yang berumur tiga tahun itu akan lebih manja saat sakit.

\tTerus berdoa. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk putri kecilnya. Berharap tak terjadi sesuatu yang fatal. Mungkin dia juga rindu dengannya. hingga sakit.

\t***

\tNaina menggendong Kaila yang sedari tadi tak berhenti menangis. Baru saja dokter datang memeriksa, tapi Kaila belum juga berhenti menangis. Dokter Laili menuturkan, mungkin Kaila ingin bertemu dengan ibunya.

\t“Mama ... Mama.” Kaila terus saja mengigau menyebut mamanya.

\tNanda terus saja mengikuti sang nenek. Anak laki-laki itu terus saja berbicara, hingga membuat Naina pusing. Nanda terus meminta agar neneknya menelepon mama mereka agar Kaila berhenti menangis.

\t“Nek, telepon Mama. Kaila pasti kangen sama Mama, sama seperti aku.” Ucapan anak sekecil Nanda sudah membuat kepala neneknya kembali pening. Keputusan membawa mereka hanya membuat hari-harinya bertambah pusing.

\tBelum lagi Kaila menangis dan ocehan Nanda yang seakan-akan menyudutkan dirinya. Akhirnya, wanita tua itu kesal dan menelepon Arum, juga meminta ayah mereka datang. Tangis Kaila semakin kencang, Naina mulai panik. Beberapa pembantu rumah tanggannya pun tidak ada yang bisa membuat Kaila berhenti menangis.

\t“Aduh, Gusti! Gimana ini? Kepalaku pening. Bisa-bisa darah tinggiku kumat ini,” keluhnya sambil memegangi kepala. Menunggu Arum yang tak kunjung datang, kembali membuatnya pening.

\t“Sudah ditelepon belum, Nyonya, Ibu Arumnya?” tanya Mbok Dirjah memastikan.

\t“Sudah! Mungkin di jalan. Haduh, kaya keong, lelet si Arum itu.” Kembali dia mengeluh dengan kesal. Tangannya memegang pelipis yang pusing.

\t“Nek, itu Mama!” Nanda yang sudah melihat Arum langsung berlari menghampirinya.

\tTangis Arum pecah. Dia menciumi pipi Nanda berulang kali, lalu cepat menghampiri dan menggendong Kaila. Kaila berhenti menangis saat Arum mencium dan menenangkannya.

\tNaina terduduk lemas di kursi. Dia menyandarkan tubuhnya yang hampir saja rapuh. Pinggang tuanya itu terasa sangat nyeri. Bagaimana tidak? Sedari tadi, dia menggendong Kaila karena anak itu tidak mau digendong orang lain.

\tRindu menbuncah juga dirasakan anak laki-laki Arum. Dia terus berada di samping mamanya. Tangan lembut sang ibu mengelus pucuk rambut putra kesayangan. Nanda mendongak menatap wajah mamanya yang sekarang penuh dengan air mata.

\t“Kakak kangen, Ma,” ucap anak itu sembari memeluk pinggang Arum.

\tBergetar hati Arum mendengar penuturan Nanda. Kembali dia mengelus pucuk rambut Nanda. Sementara itu, Kaila sudah tertidur saat dia menggendongnya. Hatinya meringis perih saat merindukan kedua buah hati. Mereka merindukannya.

\tDari sudut ruangan, nenek mereka menatap penuh haru. Namun, dia juga tidak ingin berpisah dengan kedua anak Surya. Wanita tua itu tidak ingin melihat kedua cucu kesayangannya hidup menderita tinggal bersama Arum. Mungkin dia akan menjadi tega dengan keadaan, agar kedua cucunya bisa mendapatkan kecukupan materi.

\t“Mama nginep di sini, ‘kan? Atau mau ajak aku dan Adek tidur di rumah Kakek?” Nanda menengadahkan wajah pada mamanya.

\tArum memandang Naina. Seolah-olah tahu apa yang ada di benak ibu mertuanya. Dia langsung mengerti dari sorot mata wanita tua itu.

\t“Kamu tidur di sini saja sementara. Saya nggak mau kamu bawa mereka. Bisa kamu pergunakan kamar anak-anak,” ujar Naina ketus.

\tArum bisa apa, jika ibu mertua sudah berbicara. Tidak akan ada yang bisa membantah, sekalipun Surya putranya. Ibu dua anak itu hanya bisa mengangguk pasrah menerima semua aturan Naina.

\tSejak Arum menikah dengan Surya, Naina selalu bersikap tegas jika dirinya melakukan kesalahan. Namun, mereka berdua tidak pernah bertengkar. Walaupun awal pernikahan, Naina sangat tidak setuju dengannya.

\tDerap langkah terdengar memasuki ruang tengah rumah megah itu. Sepasang mata membulat sempurna saat melihat sosok Arum berada di samping Nanda. Terlebih Renata datang bersama Surya.

\t“Sedang apa kamu di sini?” Renata melontarkan pertanyaan ketus pada Arum. Dia sangat tidak suka melihat calon mantan istri Surya itu.

\t“Heh! Kamu nggak lihat, dia sedang menenangkan anaknya? Harusnya saya yang tanya, buat apa kamu ke sini?” Bibir Renata mengatup mendengar cibiran dari Naina.

\tDia sengaja menunjukkan wajah masam pada Surya. Berharap pria itu bisa membelanya di hadapan ibu mertua. Sejenak Surya menatap Arum, desir halus itu kembali menyapa.

\t“Jangan ketus dong, Bu, sama Renata,” ujar Surya membela istri keduanya.

\t“Halah! Kamu, Nang, buat apa sih membela dia? Ke mana aja kamu, sih? Sudah tahu anakmu sakit. Gimana, sih? Siapa lagi yang bisa menenangkan anakmu selain ibunya? Moso si Cungkring itu!” Ibu Surya menunjuk Renata dengan dagunya.

\tMerasa diejek, Renata kembali merengutkan wajah. Pria itu mulai gelisah dengan keadaan yang membuatnya serba salah. Antara ibunya dan Renata.

\t Tak menyangka kedua mata itu saling bertemu. Mata yang sudah sangat lama tidak pernah saling memandang. Arum kembali menunduk saat tersadar Surya terus menatapnya.

\tAda desiran halus yang tiba-tiba menyapa sekujur tubuh Surya. Entah mengapa, kini tatapannya kembali mengarah pada wanita yang sudah memberikannya dua orang anak itu. Ingin sekali dia merengkuh tubuh itu, tubuh yang sudah lama tak tersentuh.

\t“Mas.” Rengek Renata.

\t“Eh … i-iya, kenapa?” jawab Surya sambil tergagap.

\t“Sudah, Ibu mau istirahat. Seharian gendong anakmu. Bisa-bisa encok Ibu kambuh,” ucap wanita tua itu.  Sebelum masuk ke kamar, tubuh rentan itu berbalik kembali. “Arum, bawa anak-anak tidur. Sudah malam.”

\tPerintah dari ibu mertuanya langsung dia laksanakan. Arum menggendong Kaila, lalu membawa kedua anaknya sampai tak sadar ketika Surya sudah berada di sampingnya.

\t“Biar aku yang gendong,” ucap Surya langsung mengambil alih.

\t“Mas,” tolak Arum.

\tTak memedulikan penolakan Arum, dia langsung membawa Kaila ke kamar. Renata gusar dan mengikuti mereka sampai kamar.

\t“Mas, ayo, jangan lama-lama di sini. Aku mau bobok.”

\tLangsung Renata menggandeng lengan Surya menjauh dari kamar Arum dan anak-anaknya.

\t***

\tArum menaruh ponsel di nakas, setelah menghubungi kedua orang tuanya. Takut mereka mencemaskan dirinya karena tidak pulang malam ini. Dia bangkit setelah memastikan Nanda tertidur. Sementara itu, Kaila sudah terlelap sejak dia menggendongnya. Panas di tubuh gadis kecil itu pun sudah turun. Memang benar anak itu rindu padanya.

\tSaat membuka lemari baju, dia menatap nanar baju tidur berbahan sutra hadiah pernikahannya dari Surya. Dia tersenyum getir saat mengingat kembali bayangan tentang kebahagiaannya empat tahun silam. Saat tubuh dan wajahnya masih dipuja oleh sang suami.

\t“Apa ini, Mas?” tanya Arum saat Surya memberikan hadiah.

\t“Buka saja, setelah itu bisa kamu memakainya.” Senyum mengembang pria itu membuat jantung Arum berdetak lebih kencang.

\tPerlaham Arum membukanya. Dia mengulum senyum mendapati baju tidur yang begitu cantik. Bahan sutra membuat baju itu terlihat mewah.

\tSurya berdecak kagum melihat tubuh Arum berbalut baju pemberiannya. Seksi, kalimat itu yang pertama kali keluar dari bibirnya. Tak sabar, dia langsung mendekap tubuh sang istri dan membawanya ke peraduan cinta.

\t“Mama ... Ma ….” Arum terkesiap mendengar Kaila mengigau. Sesaat dia mengelus dada. Kenapa bisa melamunkan masa lalu?

\tUntung Kaila sudah tertidur lagi. Dengan cepat, dia berganti pakaian dan bersiap tidur. Tak menyangka berat badannya menurun. Mungkin efek banyak pikiran, baju itu masih bisa terpakai. Tenggorokan terasa kering, dia beranjak ke dapur mengambil segelas air.

\t Langkah Arum terhenti saat tangan besar melingkar di tubuhnya. Dia terbelalak melihat sosok Surya, kini sudah membekap mulut dan mengunci paksa tubuhnya hingga tersudut di pojokan. Dia memekik. Namun, pria bertubuh bidang itu seperti kehilangan akal saat menciumi leher jenjangnya. Sementara itu, dia kian gencar menggeliat dan mencoba lepas dari dekapan pria itu.

\tArum terus memberontak tanpa bersuara, karena mulutnya dibekap Surya. Lagi, pria itu berhasil membuka satu kancing bajunya dan ....

\t“Argh ...!” Surya mengaduh saat Arum berhasil menendang keperjakaannya.

\t“Berengsek kamu, Mas! Jijik aku kamu sentuh! Di mana otak kamu? Sudah jelas kamu menalak aku!” teriak Arum, napasnya naik turun.

\tTubuhnya menjauh dari Surya. Dia bersiap berteriak jika Surya kembali mencoba menyentuhnya. Atau pisau yang sudah ada di tangan, akan dia pergunakan untuk mengancam pria itu.

\t“Sialan kamu, Rum. Kamu yang minta bercerai padaku. Sebelum masa ‘iddah kamu, jika aku ingin rujuk itu sah saja dan kamu tidak bisa menolak, karena itu belum lewat masa ‘iddah kamu,” ujar Surya  sambil melempar seringai jahat.

\t“Nggak sudi aku, Mas!”

\tArum berlari cepat masuk kamar, mengunci pintu agar Surya tidak bisa masuk. Tubuhnya tersandar di daun pintu. Kini, dia luruh ke lantai, menangis kesal dan mengusap leher yang tadi diciumi Surya. Dia membenarkan perkataan Surya. Pria itu sah saja mengajukan rujuk sebelum masa iddah berakhir. Jika pihak wanita menolak, maka tetap saja pihak suami lebih berhak. Namun, ketika selesai masa iddah dan tidak ada kata rujuk, maka perempuan berhak memilih pria lain.

\t“Mau kamu apa, Mas?”

\tArum merasa dadanya sesak. Ibu kedua anak itu merasa dipermainkan. Seenaknya Surya ingin rujuk, setelah perlakuan dia selama ini. Arum merasa jijik mengingat Surya mencoba menyentuh dirinya tadi.

\tSementara itu, Surya dengan kasar memukul tembok dapur. Dia merasa kesal dengan penolakan Arum. Entah bagaimana, pria itu seperti kehilangan akal saat melihat Arum menggunakan baju tidur pemberiannya dahulu. Naluri lelaki dan gejolak hasrat membuat dia nekat mendekap ibu dari kedua anaknya.

\tDengan hasrat yang tanggung, Surya masuk kamar dan melampiaskan pada Renata. Dia membangunkan istri keduanya untuk melayani hasrat tertunda yang sangat bergejolak pada Arum.

\t“Mas.” Renata mendesah saat Surya menyentuh dan membawanya ke surga dunia.

\t***

\tSetelah Shalat Subuh Arum memeriksa kembali tubuh Kaila. Panas Kaila sudah turun. Namun, bagaimana menjelaskan pada Kaila kalau dia akan ditinggal lagi?

\tNanda mengulat, lalu terbangun menatap sang mama. Ada segurat rasa takut yang terpancar dari wajah anak laki-laki Arum.

\t“Jangan tinggalkan aku dan Kaila di rumah Nenek Naina,” pinta Nanda penuh harap. Anak itu langsung mendekap tubuh mamanya sangat erat. Dia tahu jika sang mama akan pergi tanpa mengajak mereka.

\t“Nanda, Mama nggak akan pernah ninggalin kalian. Karena kalian adalah belahan jiwa Mama. Untuk saat ini, Mama kembali bekerja. Jadi, saat Mama bekerja, Nanda jaga Ade. Nenek baik, kan, sama Kakak dan Adek?” Tangan lembut Arum mengelus punggung anak itu.

\tAnak laki-laki itu mengangguk, tapi terlihat jelas sorot matanya tidak rela ditinggal lagi oleh sang mama, walau hanya sebentar. Arum paham bagaimana perasaan mereka. Perlahan, dia menjelaskan suatu saat akan ada waktunya bisa bersama lagi. Dia akan memperjuangkan mereka.

\t“Bu, disuruh sarapan,” ujar Laras, pengasuh anak-anak.

\tArum membukakan pintu untuk pengasuh sang buah hati. Gadis berusia muda itu baru saja didatangkan dari yayasan. Dia memang ditugaskan untuk mengurus Kaila dan Nanda. Laras membujuk Kaila agar mau digendongnya.

\t“Mba, aku minta nomer ponsel. Aku nanti menanyakan mereka melalui kamu, boleh?” Perlahan Arum berbicara agar gadis itu mau bekerja sama untuk memantau kedua anaknya.

\t“Boleh, Bu.” Mereka langsung bertukar nomor. Setelah itu, Arum berjanji tidak akan membuat pengasuh itu repot. Hanya saja dia meminta kabar tentang anak-anaknya.

\tLaras mengangguk tanda setuju. Dia juga merasa kasihan pada Kaila yang sedari kemarin kangen pada mamanya.

\tArum sudah rapi untuk kembali bekerja. Lagi, dia memakai baju yang ada di lemari itu. Untung saja masih bisa dipergunakan. Baju long dress berwarna hitam berpadu dengan outer berwarna pink, membuat dia terlihat cantik. Tidak ketinggalan bros kecil yang dia sematkan di hijabnya. Walau tubuhnya masih sedikit berisi, tapi Arum tidak kalah cantik dari Renata. Hal itu yang membuat desiran aneh pada diri Surya.

\tSetelah itu, Arum beranjak pamit pada Naina yang sedang menunggu mereka di ruang makan. Nanda masih saja memegangi lengan Arum.

\t“Maaf, Bu. Saya tidak sarapan di rumah. Karena jarak dari kantor jauh.” Arum melangkah mendekat dan mencium punggung tangan ibu mertuanya. Sekilas dia memperhatikan sekeliling. Rasa muak saat dia melihat wajah Surya. Teringat kejadian semalam yang membuatnya ingin mandi berulang kali. Untung saja dia berhasil meloloskan diri, kalau tidak entah apa yang akan terjadi.

\tSurya seakan-akan terhipnotis dengan pemandangan di hadapannya. Aroma parfum menyeruak isi ruangan. Wajah Arum kian segar dan cantik. Bahkan pesona wanita itu mengingatkannya pada saat pertama kali mereka bertemu. Namun sayang, punggung Arum sudah mengecil dengan semakin jauh dirinya melangkah.

\tSial! Kenapa dia bisa terlihat cantik setelah aku membuangnya?

\t***

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t