Try new experience
with our app

INSTALL

Serpihan Hati 

Sesal

\tRenata menyongsong Surya saat terdengar deru mobil memasuki halaman. Tak seperti biasa, dia selalu bergairah saat melihat wajah istri mudanya, tetapi kali ini tidak. Bahkan dia tidak menyapa Renata dan langsung bergegas mandi. Di pikiran kini, hanya ada ibu dari kedua buah hati. Sepertinya dia sangat menyesali tindakannya yang tidak berpikir panjang kala itu.

\t Dinginnya malam tidak membuat Renata mengurungkan niat menggunakan baju tidur tipis, yang membuat tubuh putihnya terlihat menggoda. Surya bergeming saat dia mulai bergelayut manja pada dada bidang pria berparas hitam manis itu.

\tSedari tadi Surya bergeming. Pikirannya seperti tidak ada di sana. Berulang kali Renata mencari perhatian. Namun, pria itu hanya terdiam tak merespons apa pun yang dia lakukan.

\t Dikecupnya bibir sang suami, tetapi masih sama. Surya tak membalas pagutan dari Renata. “Aku lelah.”

\tRenata terenyak dengan sikap Surya. Dia mengguncangkan tubuh suaminya. Tidak seperti biasanya, pria itu selalu mendominasi saat mereka bergelut di peraduan.

\t“Mas, aku mau bicara,” ucap Renata.

\t“Ada apa?” tanya Surya membalikkan badan.

\t“Kamu kenapa, sih? Nggak seperti biasanya. Aku tuh kangen, Mas. Seharian kamu kerja, aku bosan.” Kembali Renata memainkan dada bidang Surya.

\tSurya mulai terpancing. Beberapa kali dia mengecup bibir merona Renata. Namun, kembali merasakan hal yang getir. Sejak mendengar Arum kembali bekerja, tidak tahu kenapa hatinya menjadi gelisah. Kegelisahan itu akhirnya membawa pria itu menemui Arum.

\tDia merasa perubahan sangat drastis dari Arum. Wanita gempal yang selalu dia hina tampak berubah. Namun, dia sendiri tidak mengerti di mana letak perubahan itu. Wajah Arum terlihat sangat segar. Lalu, getaran aneh kembali saat dia menatap mata sendu itu.

\t“Mas, kamu sudah mendaftarkan gugatan perceraian kamu?” Pertanyaan Renata membuat Surya menyipitkan mata.

\tBahkan dia lupa jika belum mendaftarkan gugatan perceraian seperti yang Arum minta. Juga janji pada Renata untuk menceraikan istri pertamanya.

\t“Data-datanya belum lengkap, Mas harus melengkapinya dulu,” ujarnya berbohong.

\tUntuk mengalihkan pembicaraan, Surya menyenangkan Renata. Menapaki gundukan putih yang membuat wanita itu kembali bergairah. Dengan begitu, dia akan berhenti bertanya masalah perceraiannya dengan Arum.

\t***

\tSebenarnya Arum merasa masih gelisah dengan ancaman Surya. Pria berkulit hitam manis itu melarangnya bekerja. Sementara itu, dia akan bercerai dengan ayah kedua anaknya. Untuk menghidupi diri sendiri, dia harus bekerja. Masa bodoh dengan ancaman pria yang akan menjadi mantan suaminya.

\tSebagai seorang ibu, Arum juga sangat merindukan kedua buah hatinya. Apalagi sedari dulu, dia yang merawat mereka. Kini, hanya kerinduan yang bisa dia rasakan. Wanita berhijab pink itu kembali fokus pada pekerjaan. Jika dia mempunyai uang, mungkin saja semua akan menjadi mudah.

\tArum memulai pekerjaan pertamanya. Tumpukan berkas membuat dia mengerutkan dahi. Netranya bergantian menatap laptop dan data-data yang harus disesuaikan. Salah satu angka saja, bisa membuat dia frustrasi. Perlahan dia membolak-balikkan data di hadapan, lalu jarinya menari kembali di keyboard laptop.

\t“Argh ... ternyata aku sudah setua ini. Melihat angka saja sudah membuat aku menyerah. Apa karena sudah lama aku tidak menatap layar laptop dan berkas data?”

\tDelia—partner kerja Arum—menatap heran teman satu ruangan. Dia beranjak menghampiri meja Arum. Pekerjaan yang dikerjakan Arum menuai pujian. Dia berdecak kagum padanya.

\t“Kamu hebat, Mbak. Dalam waktu setengah jam sudah menyelesaikan tiga CV sekaligus,” ucap Delia berdecak kagum pada Arum.

\t“Apanya hebat? Kamu nggak lihat kepalaku pusing, mataku pedih,” kata Arum sambil menyunggingkan senyum.

\tDelia hanya tersenyum melihat Arum uring-uringan. Dia bangga dengan wanita yang baru saja menjadi teman kerjanya. Arum wanita hebat yang tidak sombong dan mau membantu dalam pekerjaan serta hal apa pun.

\t“Sudah waktunya pulang. Aku duluan, ya, Mbak Arum,” pamit Delia.

\tSetelah kepergian Delia, Arum kembali mengutak-atik data. Beberapa karyawan sudah pulang, dia menatap jam di tangan. Ternyata waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Dia teringat akan mendatangi kembali kantor Bayu. Langsung saja dia bergegas menuju kantor pengacara itu.

\tDia mempercepat langkahnya agar bisa bertemu dengan Bayu. Dengan harapan pemuda itu bisa memberi bantuan untuk permasalahannya. Arum optimis jika pria itu pasti mau membantunya. Tidak butuh waktu lama, dia sampai di kantor Bayu.

\t“Mba, pesan saya sudah disampaikan ke Pak Bayu?” tanya Arum.

\tWanita di hadapannya menyipitkan mata, sedikit mengingat. “Ouh, sudah.”

\t“Pak Bayu bilang apa? Soalnya dia sama sekali belum menghubungi saya.”

\t“Pak Bayu hanya bilang nanti saya hubungi. Itu, Pak Bayu baru datang,” ujar wanita berpakaian formal itu.

\tArum membalikan badan. Terenyak menatap sosok pria yang dia cari. Wajahnya masih sama, putih, bersih, dan sangat menggoda.

\t“Bayu,” lirihnya pelan.

\tBayu Bagaskara, pengacara muda yang sudah berhasil memenangkan banyak kasus, terbelalak melihat Arum. Wanita yang sudah lama tak ditemuinya, kini berada di hadapan. Napasnya memburu. Susah payah dia menghilangkan rasa itu, tetapi kembali terbuka lagi. Senyum itu, membuat dia tak tahan untuk mengingat begitu dirinya mencintai Arum.

\t“Aku mencarimu. Kamu sudah mendapat pesan dariku, kenapa tidak menghubungiku?”

\t“Kamu pikir pekerjaanku tidak banyak. Untuk apa aku menghubungi kamu?” Ucapan Bayu kini seperti silet tajam yang menusuk ke dalam dada. Sesak, begitu yang dirasakan oleh Arum.

\t“Ikut aku, kita bicara di dalam saja!” titah pria itu.

\tTanpa menjawab, Arum mengikuti Bayu memasuki ruang kerja. Aroma kopi membuatnya teringat jika Bayu adalah penggila minuman itu.

\tBayu mempersilakan Arum duduk. Dia mengempaskan tubuh di kursi. Ada getir halus yang dirasakannya. Rasa itu masih tersimpan rapi di hatinya.

\t“Ada apa?”

\t“Aku butuh bantuanmu. Aku sedang dalam proses perceraian dengan Mas Surya. Dan aku ingin meminta bantuanmu untuk mendapatkan hak asuh anak-anak karena mereka menahan kedua anakku.” Tak banyak berbasa-basi, wanita itu langsung pada pokok permasalahannya. 

\tBayu memijat keningnya yang tidak sakit. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Perceraian? Arum bercerai dengan Surya? Kenapa? Hal itu terus berkecamuk di benaknya.

\t“Kenapa kamu bercerai darinya?” tanya Bayu tanpa menatap ke arah Arum. Dia sengaja membuang wajah dan menatap sekeliling.

\t“Karena dia selingkuh!” Getir bibir wanita itu berucap.

\tDada Bayu panas saat mendengar penuturan wanita itu. Tangan mengepal keras, mengingat begitu berengseknya Surya menyakiti Arum.

\t“Apa yang harus aku lakukan?”

\t“Jadilah pengacaraku. Aku tahu, kamu hebat. Aku mohon,” pinta Arum memelas. 

\t“Apa kamu tahu berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk menyewa jasa pengacara?” Wajah tampan Bayu menatap lekat Arum.

\t“Aku tahu itu sangat mahal.”

\t“Apa kamu mempunyai uang?”

\tArum terdiam. Dia tahu jasa seorang pengacara seperti Bayu pastilah sangat mahal. Namun, dia berusaha untuk mencoba.

\t“Aku tidak punya uang sebanyak itu. Namun, aku bisa mencicilnya dari gaji yang kuterima.” Kembali Arum memelas, berharap Bayu akan membantu dirinya.

\t“Berapa kali kamu bisa mencicilnya? Kamu nggak akan sanggup membayar jasaku,” ucap Bayu meremehkan wanita di hadapannya dengan sangat sengaja.

\tKembali wanita itu terdiam. Begitu juga dengan Bayu. Mereka kembali pada pikiran masing-masing. Sesekali Bayu menatap Arum, tapi kemudian memalingkan wajah. Begitu juga Arum, wanita itu terus berdoa agar pria itu mau membantunya.

\tMereka berdua seperti seorang yang baru saja bertemu. Hening, dan tak ada percakapan di antara mereka. Hanya embusan napas Bayu yang terdengar kasar.

\t“Bagaimana aku harus membayar jasamu? Aku sangat membutuhkannya.” Kembali dia memohon pada Bayu.

\tBayu bangkit dari duduknya. Dia berdiri di samping Arum, kemudian sedikit membungkukkan tubuhnya. “Bayarlah jasaku dengan bersamaku semalam. Dan akan kuhitung impas.”

\tRefleks tangan Arum menampar wajah pria berkulit putih itu, hingga membuat wajahnya memerah. Bayu menyunggingkan senyum sembari memegangi pipi.

\t“Berengsek! Lebih baik aku kehilangan hak asuh kedua anakku, daripada mereka harus mengetahui jika ibunya menjual tubuh demi mendapatkan mereka kembali! Kamu sudah berubah, harta dan kejayaan membuat kamu lupa tentang kebaikan! Aku menyesal.” Bergegas, Arum keluar dari ruangan Bayu.

\tNetranya panas, dada pun kembali sesak. Untuk sekian kalinya, dia mendapatkan penghinaan dari seorang pria. Wanita itu menyeka bulir bening yang tak terbendung. Melangkah gontai dengan kepingan hati yang pupus.

\tSementara itu, Bayu seperti orang frustrasi. Melempar semua barang yang berada di ruang kerjanya. Dia berhasil menjadi pria paling berengsek di hadapan wanita yang sangat dicintainya sampai saat ini. Bibir itu tersungging meratap perih. Ada luka yang telah dia tutup. Namun kini, luka itu kembali terbuka.

\t***

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t 

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t