Try new experience
with our app

INSTALL

Serpihan Hati 

Harapan

\tKembali Arum terduduk lemas, harapan bisa mendapatkan hak asuh kedua anaknya pupus sudah. Dia tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Apalagi kekuatan ibu mertunya sangat kuat. Bisa saja wanita tua itu memenangkan persidangan.

\tYa Allah, aku harus bagaimana? Harapanku hanya pada Bayu, semoga aku bisa bertemu dengannya.

\t“Bagaimana, Rum? Apa Surya sudah menggugat cerai kamu?” tanya ibunya saat pulang dari pasar.

\t“Arum nggak tahu. Arum nggak peduli. Yang Arum pikirkan, bagaimana mengambil hak asuh anak-anak, Bu,” ucap Arum lirih.

\t“Tapi, apa kamu punya uang untuk membayar pengacara?” Kini, gantian bapaknya yang bertanya.

\t“Itu yang sedang Arum pikirkan, Pak. Mulai besok Arum akan mencari pekerjaan. Doakan Arum, ya,” ucapnya sembari menampakkan mata yang berkaca-kaca.

\t“Kami akan selalu mendoakan kamu, Nak.”

\tArum kembali membuka laptop. Jarinya masih lincah menari di benda hitam itu. Dia mulai menulis CV[1] untuk melamar pekerjaan. Namun, sebelum itu, dia menelepon mantan atasannya di kantor lama.

\t Sebuah kebetulan yang sangat baik. Arum bersyukur karena Dani masih menggunakan nomor ponsel lama hingga bisa dihubungi. Setidaknya dia tidak bersusah payah mencari nomor ponsel mantan bosnya itu.

\t“Pagi, Pak,” ucap Arum memulai percakapan.

\t“Ini Arum?” tanya Dani dari seberang telepon.

\t“Iya, Pak, saya Arum.”

\t“Ada apa, Rum?”

\t“Apa masih ada lowongan pekerjaan di kantor Bapak?” 

\t“Besok langsung datang saja, bawa berkas lamaran kamu yang lengkap. Saya menunggu kamu jam delapan pagi,” ucap pria itu dari seberang telepon.

\t“Yang bener, Pak? tanya Arum memastikan.

\t“Kapan saya pernah berbohong?”

\t“Baik, Pak. Besok saya akan datang.

\tSetelah itu Arum menutup sambungan telepon. Dia mengucap syukur bisa kembali bekerja. Bukan suatu kebetulan karena dua minggu yang lalu, pria itu menelepon dan meminta dirinya kembali bekerja. Namun, saat itu dia menolak karena masih sibuk dengan kedua anaknya.

\t***

\tArum tersenyum tipis menatap gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Dulu, dirinya sering berlalu-lalang di tempat ini, hingga akhirnya bertemu dengan Surya. Dia melangkah pasti. Kali ini, dia tidak menggunakan daster lusuh yang sering dikeluhkan suaminya.

\tWanita itu tampak lebih segar menggunakan blus berwarna marun dan hijab senada. Kini, penampilan Arum sangat modis walau tubuhnya masih terlihat gemuk.  Lalu, dia melangkah masuk gedung yang akan menjadi tempat bekerjanya lagi.

\tNetranya menatap tajam wanita yang baru saja keluar dari lift. Dia Renata, pelakor tidak tahu diri yang merebut suaminya. Arum mencoba tenang saat mereka berpapasan. Ada rasa getir di dada saat mengingat begitu jahat wanita itu.

\tSeulas senyum mengejek terlihat dari bibir Renata. Dia seperti tidak pernah puas dengan apa yang sudah direbutnya dari Arum.

\t“Waw, ada calon janda, ups,” ucap Renata sengaja.

\tArum menggigit bibir bawah dan mencoba tenang. Menghadapi wanita ular itu harus pelan-pelan. Tidak bisa menggunakan emosi. Adanya dia yang akan terbawa kemarahan.

\t“Semoga Allah membalas semua kejahatan kamu.” Pelan, tapi sangat menusuk.

\t“Kesian hidupnya, calon janda, kehilangan anak pula. Makanya jadi perempuan jangan bodoh, dandan aja nggak pernah, gimana suami mau betah? Hmm ... kasihan kamu, Rum. Aku aja baru ngajuin surat pengunduran diri. Eh, kamu mau kerja. Aku cukup menikmati uang dari Mas Surya,” ucap Renata mengejek.

\tArum terus beristigfar dalam hati. Semoga saja dosa-dosa Renata dihapuskan sebelum dia meninggal atau sebelum mendapatkan azab. Kembali dia mengelus dada agar menahan emosi yang kian memuncak.

\t“Kamu boleh mentertawakan aku, tapi ingat kesuksesan Mas Surya itu adalah doaku sebagai istrinya dulu. Sekarang, aku tidak akan pernah mendoakannya. Penghasilan Mas Surya kini tergantung kamu. Semoga kalian mendapat balasan secepatnya.”

\tTidak banyak bicara, Arum bergegas meninggalkan Renata yang kini merasa kesal akibat ucapan Arum. Padahal dia duluan yang memulai mengejek. Dia mengentakkan kaki dan berjalan keluar dari gedung dengan umpatan kasar untuk Arum.

\t“Dia pikir, dia wanita suci? Seenaknya menyumpahi aku dan Mas Surya. Tidak mungkinlah, Mas Surya bangkrut.” Setelah itu, Renata menaiki taksi online yang sudah dipesannya tadi.

\tDi dalam taksi, Renata masih saja mengingat ucapan Arum. Dia mencoba menghilangkan bayangan kakak madunya itu. Namun, ucapan itu semakin tengiang.

\tKalau benar Mas Surya bangkrut nanti, aku nggak usah repot. Langsung tinggalin aja dan cari pria yang lebih kaya. Gampang, bukan?

\t***

\tArum masih merasa geram setelah tidak sengaja bertemu Renata. Wanita perebut suami orang tidak layak bahagia di atas penderitaan orang lain. Terlebih menikmati harta yang bukan haknya. Dia begitu percaya diri berbicara akan menikmati harta Surya.

\tSehebat apa pun seorang laki-laki, jika dia belum berkeluarga, pasti ada wanita hebat di belakangnya, yaitu seorang ibu. Jika sudah berkeluarga, pastilah akan ada doa istri yang menyertai ke mana pun dia berada. Rezeki suami adalah rezeki istri. Lewat doa-doa istrilah yang mendatangkan rezeki untuk sang suami.

\tSurya seakan-akan lupa. Karena doa seorang istri, rezekinya kini berlimpah. Sebelumnya, dia hanya karyawan biasa yang memegang jabatan staf akunting. Sementara itu, setelah dua tahun menikah, dia baru diangkat menjadi manajer keuangan. Arum menghela napas panjang, kembali bergegas memasuki kantor Dani.

\t“Permisi, bisa saya bertemu dengan Pak Dani?” tanya Arum pada resepsionis.

\t“Sudah buat janji?” tanya wanita yang berada di belakang meja.

\t“Sudah, saya Arum.” 

\tTidak lama resepsionis menelepon seseorang. Setelah itu, dia meminta Arum masuk ruangan Dani.

\tSuasana ruangan masih sama seperti dulu. Dani sangat menyukai warna cokelat, juga bunga mawar yang selalu ada di meja kerjanya. Namun sekarang, ada yang berbeda, yaitu foto sang istri yang terpajang di dinding menambah sempurna tempat itu.

\t“Pagi, Pak,” sapa Arum.

\tDani—pria keturunan Cina itu—memandang tidak percaya. Arum mantan karyawan yang sangat dia percayai, kini berada di hadapannya. Beberapa tahun kemarin, bahkan belum lama juga dia terus membujuk Arum agar kembali bekerja. Namun, Arum selalu menolak setiap tawaran meski dengan gaji sangat tinggi.

\t“Pagi, sudah lama kita tidak berjumpa. Kenapa kamu lebih berisi?” tanyanya dengan nada mengejek.

\t“Bilang saja saya gemuk, Pak,” ucap Arum sedikit kesal dengan ejekan Dani.

\t“Bukan saya yang bilang, loh.” Pria berkulit putih dengan kerutan di wajah, tertawa tanpa suara. Dia masih sama, suka meledek.

\t“Sama saja, menjurus, Pak.” Wajahnya masam saat Dani bercanda garing.

\tSuasana sedikit mencair tatkala Dani masih seperti dulu. Humoris, baik, dan perhitungan. Arum paling tidak suka dengan sifat bos yang satu itu. Dani pelit soal keuangan. Jadi, saat pria tua itu menawarkan gaji lebih besar, dia sangat sangsi. Mengingat begitu perhitungannya sang bos.

\t Dani memulai membahas pekerjaan. Tidak semudah yang Arum pikirkan ketika akan bergabung kembali di dalam kantor akuntan publik milik Dani. Arum harus kembali mengerjakan tes untuk meyakinkan pria itu jika dirinya masih layak untuk bergabung dengan mereka.

\tArum mengikuti tes. Dia ditugaskan mengoreksi satu data keuangan milik perusahaan kecil. Banyak hal yang wanita itu lupa. Namun, dia berusaha mengingat kembali. Perlahan pikirannya terbuka.

\t“Saya diterima kembali, Pak?” Arum bertanya dengan nada tidak percaya, sembari mendekap berkas lamarannya.

\t“Iya, kamu masih sangat berkualitas. Selamat bergabung. Mulai besok kamu kembali menjadi bagian dari kantor ini. Selamat bergabung kembali,” kata pria yang sudah resmi menjadi bosnya kini.

\t“Iya, Pak, terima kasih. Sebelumnya saya mau bertanya, apa Pak Dani tahu kantor Pak Bayu?” Malu dengan pertanyaannya, Arum berpura-pura menunduk.

\t“Bayu pengacara itu?”

\t“Iya.”

\t***

\tSetelah Dani memberikan alamat kantor Bayu, Arum tidak menyia-nyiakan waktu. Dia berharap bisa bertemu dan membicarakan masalah perceraiannya dan hak asuh anak. Senyum semringah terhias di bibir, saat dia menginjakkan kaki di kantor advokat itu. Tertulis jelas nama kantor itu, Kantor Advokat Bayu Bagaskara & Partners.

\tLangkahnya terhenti saat dia mulai ragu karena pernah ada sesuatu yang tertunda. Takut jika pria itu tidak mau membantunya. Dia terdiam memikirkan berapa bayaran yang akan diminta nanti. Kembali Arum melangkah masuk dengan niat yang insyallah akan membuahkan hasil.

\t“Bisa saya bertemu dengan Pak Bayu?” 

\t“Sudah ada janji?”

\t“Belum, Mba.”

\t“Maaf, Mba. Jika ingin bertemu dengan Pak Bayu, harus buat janji terlebih dahulu. Pak Bayu sekarang ini sedang sibuk dengan banyak kasus,” ujar resepsionis itu menjelaskan

\t“Oh, begitu. Ya begini saja, Mba. Sampaikan, saya Arum teman lamanya mencari dia. Ini saya tinggalkan nomer ponsel saya,” ujar Arum sembari menuliskan nomor ponsel di sebuah kertas.

\tWanita itu hanya mengangguk menerima secarik kertas yang diberikan Arum. Langkahnya terasa berat saat meninggalkan kantor itu. Rasanya dia ingin menunggu Bayu. Namun, dia mengurungkan niat dan memilih kembali pulang, karena besok adalah hari pertamanya mulai kembali bekerja. Dia juga tidak ingin mengecewakan Dani yang sudah menerimanya kembali.

\t***

\tLangkahnya terhenti saat melihat mobil Surya bertengger di halaman rumah kecilnya. Honda Jazz yang dua bulan lalu dibeli untuk keluarga kecil mereka berliburan, kini sudah mempunyai majikan baru. Bukan Arum yang menikmati, tapi wanita licik itu, Renata.

\t“Wow, sudah merasa jadi janda kamu? Pulang semalam ini?” tanya Surya, mimik wajahnya menghina.

\t“Ini baru jam delapan malam. Lagi pula, apa urusan kamu datang ke rumahku dan mengatur hidupku lagi?” tanya Arum sembari melempar tatapan tajam.

\tSurya bergeming, apa yang diucapkan istrinya benar. Untuk apa masih mengurusi urusan Arum, sedangkan dia sudah menyetujui dan menalak wanita itu? Dia mengingat ucapan Renata tadi saat ditelepon.

\t“Dia sepertinya bekerja di gedung itu, Mas. Mungkin dia ingin melamar sebagai office girl.”

\tSurya tidak menanggapi perkataan Renata. Dia tahu jika Arum akan kembali bekerja di posisi dulu. Dia juga yakin jika wanita yang akan menjadi mantan istrinya akan dengan mudah kembali bekerja di tempat itu.

\t“Jangan mentang-mentang kamu kembali bekerja dengan Dani, kamu bisa sombong. Jangan-jangan benar, kamu dan dia ada hubungan spesial hingga dia terus menghubungi kamu. Jawab Arum?!” teriak Surya.

\t“Aku sudah jelaskan dari dulu, aku dan Pak Dani rekan kerja. Dia bos aku, dan aku karyawannya. Hanya itu, tidak ada hal lain yang lebih dari itu. Harusnya kamu berkaca, pantas nggak kamu menuduh aku seperti itu? Sedangkan yang berselingkuh adalah kamu!” 

\tDia lelah dengan tudingan yang selalu Surya lemparkan padanya. Sedari dulu, Surya selalu cemburu dengan Dani. Arum membuang muka saat netra mereka saling bertemu. Dia tidak menampik masih ada cinta untuknya. Namun, wanita itu berusaha untuk melupakan dan membuang jauh semuanya. Belajar mencintainya, tetapi malah dia yang terabaikan.

\t“Halah, jangan membela diri. Aku tidak suka kamu bekerja di sana. Kalau kamu masih tetap bekerja di sana, jangan harap kamu bisa bertemu lagi dengan Nanda dan Kaila. Mengerti!” teriaknya kembali dengan ancaman yang membuat Arum mengelus dada.

\tSurya melangkah masuk mobil. Tanpa pamit, pria itu sudah melajukan kendaraan dengan kencang. Ingin sekali Arum menangis. Namun, dia bertekad harus kuat menghadapi semua cobaan. Dengan menangis tidak akan membuat semua masalah selesai. Dia bertekad akan merebut kembali kedua anaknya dengan cara apa pun. Arum tersenyum saat sang ayah berdiri di daun pintu menunggunya masuk.

\t***

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t

\t