Try new experience
with our app

INSTALL

Kisah Cinta Jimmy & Jenny 

Paman Robert

              Acara pernikahanku berada di sebuah Hotel di Jakarta. Walau orang-orang Jakarta tidak begitu ramah dengan orang seperti kami karena bisa menghabiskan ratusan juta untuk hanya acara pernikahan tetapi tetap saja aku suka venue ini karena akan menjadi saksi pernikahanku dengan Jenny. Suasana venue sudah mulai ramai. Hanya kerabat dekat saja yang datang karena memang Mama ingin pernikahan kami jadi private party. Sebenarnya aku tidak sebegitu mirip dengan kebiasaan keluargaku, mendiang Ayahku adalah seorang pengusaha yang cukup terkenal. Sepeninggal Ayah Mama yang menjadi raja dan sangat beruntung karena dia mewarisi semua bisnis Ayah. Banyak keluarga dan kolega Mama yang bilang kalau Aku sama sekali jauh dan berbeda dari kebiasaan keluarga. Misal hanya aku yang kuliah dibidang non ekonomi, aku juga sangat mencintai sejarah dan sastra, dan yang pasti aku tidak minat di bisnis Ayahku. Bahkan kata teman-teman Ayah aku ini bukanlah anak kandungnya, itulah kelakar mereka jika mengejekku. Hal itu membuatku sedih tapi yang lebih menyedihkan hatiku saat ini bukanlah ucapan para konglomerat itu tetapi sedari tadi Aku belum melihat Jenny, apakah dia grogi atau mungkin dia akan membatalkan pernikahan kami. Ah sudahlah, mungkin Jenny masih mempersiapkan diri di kamarnya. Aku akan menunggunya. Aku akan menjadi seperti Qais yang menunggu Laila menjadi miliknya dalam roman Laila Majnun itu. Buku favoritku dari remaja dan buku itu juga yang menjadi bahan tesisku untuk menyelesaikan program master di bidang humaniora. Aku tunggu kau Jenny Laila, Aku Jimmy“majnun”Wardoyo siap untuk menemanimu di pelaminan. Untuk menguasai pikiranku aku alihkan saja pikiranku dengan melihat para tamu yang sudah datang. Ada beberapa nama yang aku kenal seperti Paman Robert dia adalah pebisnis ulung. Dia punya pulau sendiri dan semua pelayannya perempuan muda kisaran umur dua puluh tiga tahun sampai dua puluh sembilan tahun, konon saat masih miskin dia pernah di campakan seorang wanita maka dari itu dia berusaha keras untuk menjadi kaya. Semua usaha dilakukannya seperti memotong waktu tidur.Paman Robert bahkan memotong jumlah tidurnya menjadi dua jam sehari! Bayangkan siapa yang tidur hanya dua jam sehari! Hanya orang-orang penuh dendam yang bisa tidur seperti itu. Apalagi dendamnya karena perempuan! tenang Jen, aku tidak akan seperti itu. Aku hanya akan mengisi bangunku dengan mencintaimu begitu pula tidurku, percayalah itu.
              “Mas, mas Jimmy gawat mas.” suara Gita mengagetkanku. Dia berlari ke arahku aku mencoba menenangkannya. “Ada apa git coba kau tenang.”Gita mencoba mengatur nafasnya. Setelah sedikit tenang Gita yang memang orangnya suka bicara berlebihan membuat suasana seisi ruangan menjadi gempar. Bukan karena dia selalu melebihkan sesuatu setiap berbicara, tidak! Tapi karena suaranya yang melebihi desibel suara orang normal berbicaralah yang membuat seisi ruangan gempar. Aku akan mengutuk suaranya itu suatu hari nanti.
“Mas,  Jenny kabur...” seisi ruangan tiba-tiba menjadi sunyi semua mata tertuju pada kami. Aku dan Gita. Seketika aku melihat Mama di ujung ruangan yang tadinya bercanda dengan temannya tiba-tiba jatuh pingsang.
               “Dia hanya meninggalkan ini mas,hanya surat ini.”aku termenung menatap surat itu. Sepertinya aku akan menjadi seperti Paman Robert.
Pernikahan adalah sebuah ritual yang sakral, bukan buat pendendam macam paman Robert dan juga bukan untukku. Karena sepertinya mulai saat ini aku menjadi seorang pendendam yang mirip dengan paman Robert. Pernikahanku balik kanan bubar jalan. Malu istilah itu yang tersisa, ini semua karenamu Jen. Iya karenamu! Jenny perempuan yang telah menumbuhkan dendam dihatiku. Kau bukan Laila yang cintanya patut kuperjuangkan, sial. Itu adalah sederet umpatan yang kusiapkan jika aku ketemu dengan Jenny.Namun itu semua sebelum aku tau sebab musababnya kenapa Jenny meninggalkan pernikahan kami dan mencampakkanku seperti ini. Aku akan jelaskan kenapa semua ini bisa terjadi.Aku putuskan membaca surat dari Jenny di belakang hotel. Aku cari tempat terbaik, di samping tumpukan sampah adalah pilihanku.Surat dari Jenny tidak berbungkus hanya lipatan kertas. Tapi jika aku perhatikan surat itu berwarna putih kusam dan sedikit ada lipatan di beberapa bagian sepertinya kertas itu sudah pernah dipakai aku balik surat itu. Ternyata benar, surat Jenny tertulis di balik kertas bekasmenu-menu tamu di hotel. Betapa menyedihkan bahkan untuk memutuskan hubungan denganku Jenny menggunakan kertas bekas. Tapi aku harus kuat seperti Qais yang menunggu cinta Laila aku buka surat Jenny aku baca kata demi kata yang membuatku mendendam.“Maaf Jim, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita, aku masih mencintai Mada.” Sialan rupanya aku, aku yang membuat Jenny pergi akulah yang memberi tahu Mada tentang pernikahanku dengan Jenny. Karena tindakan bodohku yang seolah bisa menjadi hakim untuk membuat kisah Jenny dan Mada berakhir dengan baik-baiklah yang membuatnya pergi. Aku sudah membuatbomerang untuk diriku sendiri. Sia!Jenny memang sebenarnya tidak sepenuhnya mencintaiku. Dia hanya menghormati Orangtuanya yang sudah berjanji dengan Orangtuaku untuk menikahkan kita, dia hanya menganggapku sebagai Kakak yang paling disayanginya. Madalah cinta sejatinya. Jenny hanya menganggapku sebagai seorang kakak, teman curhat, orang yang selalu dicemoohnya dengan senyuman Eintein. Malang sekali nasibku.! Saat aku ingin masuk tiba-tiba ada sosok melihatku dari kejauhan. Aku langsung sadar itu adalah Jenny orang yang menjadi topik hari ini atas batalnya pernikahan kami.