Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

7. Kabar Baik

Rania hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya yang seperti itu.

Setelah mendapatkan sampel spremanya, Bara pun langsung membawa sampel itu pada dokter Andrew. Sperma tersebut juga akan dibawa ke laboratorium embriologi.

Telur dan sperma akan dipilih yang terbaik, kemudian sekitar 10.000 sperma akan ditempatkan dengan telur pada wadah khusus. Lalu wadah ini akan diinkubasi di laboratorium dan dalam waktu sekitar 12-24 jam akan terjadi pembuahan antara sperma dengan telur. Namun pada pria yang mempunyai kualitas sperma rendah, sperma mungkin perlu disuntikkan langsung ke telur yang matang. Ini disebut dengan intra-cytoplasmic sperm injection (ICSI).

 

---

 

-Lima Hari kemudian-

Pembuahan yang dilakukan di laboratorium telah berhasil, telur tersebut telah dibuahi oleh sprema atau disebut dengan embrio dan embrio tersebut telah berada pada fase blastosit. Sehingga embrio tersebut sudah bisa dipindahkan ke rahim ibu pengganti.

Maka dari itu, hari ini Dini akan mendapatkan obat hormon progesteron untuk membantu mempersiapkan dinding rahimnya.

Dini sudah bersiap-siap untuk berangkat. Setelah mengunci pintu apartemen dia beranjak pergi keluar apartemen. Baru berjalan beberapa langkah dari depan apartemen.....

'Ting!'

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel khususnya. Dini menyalakan ponsel itu, terlihat disana ada notifikasi dari 'Mrs. B'.

"Halo Miss. D, saya dengar hari ini kamu akan mendapatkan suntikan hormon progesteron ya? Semoga prosesnya lancar. Kami disini selalu mendo'akan mu."

Sebuah senyuman terlukis dibibir Dini. Semenjak pertama kali dihubungi Mrs. B sekitar dua minggu yang lalu hingga sekarang, dia dan Mrs. B banyak sekali mengobrol lewat pesan singkat. Dini merasa seperti memiliki teman baru.

 

---

 

Sesampainya di rumah sakit, dokter Andrew segera memberikan obat hormon progesteron untuk Dini.

"Setelah proses ini, dua hari kemudian embrio itu akan ditanam di rahim anda. Jadi saya harap anda mempersiapkan diri anda nona." Kata Andrew.

"Baik dok saya akan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin." Ucap Dini.

Setelah proses pemberian obat hormon progesteron selesai dilakukan, Dini pun segera kembali ke apartemen.

 

---

 

Dini sudah sampai di apartemen, dia sedang bersantai sambil menonton TV dan menikmati makan malamnya.

'Ting!'

Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel khususnya.

"Halo Miss. D. Saya Mr. B, mungkin dari kemarin anda sudah banyak mengobrol dengan istri saya. Mohon maaf saya baru bisa menyapa anda hari ini. Dua hari lagi proses penanaman embrio di rahim anda akan dilakukan. Saya berharap anda sudah menyiapkan diri anda sebaik mungkin, semoga anda senantiasa selalu diberikan kesehatan. Jika anda membutuhkan apapun jangan sungkan untuk menghubungi saya atau istri saya. Terima kasih, selamat malam."

Senyum tipis terlukis dibibir Dini, dua pasangan ini sepertinya memang orang baik. Bahkan dari kemarin tidak terhitung sudah berapa kali Dini ditanyai tentang kesiapan dan kondisi kesehatannya.

"Hehehe, ya jelas mereka selalu nanya-nanya lah. Orang biaya yang mereka keluarin untuk ini juga nggak main-main." Sahut Dini sambil terkekeh.

Tapi disamping itu semua, setidaknya Dini bersyukur karena dua atau tiga minggu kedepan uang untuk biaya pemasangan ring jantung bapaknya bisa dia dapatkan.

'Ceklek!'

Pintu apartemen terbuka, Betari muncul dari balik pintu itu.

"Assalamu'alaikum..... " Kata Betari memberikan salam.

"Wa'alaikumsalam." Jawab Dini.

"Eh Din gimana? tadi lancar kan prosesnya?" Tanya Betari.

"Lancar." Jawab Dini.

"Terus proses penanaman embrio nya kapan?" Tanya Betari lagi.

"Hmm... Kata dokter Andrew sih dua hari lagi." Jawab Dini.

Betari berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, "Berarti dalam waktu dekat lu bakalan hamil dong?" Kata Betari sambil menyipitkan matanya.

"Y...Yaa memang itu kan yang diharapkan." Sahut Dini.

"Lu kan nggak ada suami nih. Ini entar yang repot gue dong?" Ucap Betari.

"Hmm... Emang mbak Tari nggak mau ngurusin aku? Mbak Tari nggak kasian sama aku? Setega itu mbak Tari sama aku?" Tanya Dini dengan wajah cemberutnya.

"Ya mau sih, tapi komisinya 30% ya..." Kata Betari bercanda.

Sontak Dini pun langsung menatap tajam Betari, "Setega itu kamu mbak sama aku??" Sahutnya dengan kesal.

Melihat ekspresi Dini yang seperti itu, Betari pun langsung tertawa, "Hahahaa, bisa-bisanya nih anak nelen bulet-bulet omongan gue."

Lalu Betari langsung mengahampiri Dini dan merangkulnya, "Nggak mungkin lah gue setega itu. Hehehe."

"Jadi omongan yang tadi nggak serius tuh?" Tanya Dini.

"Ya enggak lah." Jawab Betari.

"Yaah... Sayang banget, padahal rencananya aku mau tambahin jadi 40%." Kata Dini dnegan wajah menyebalkan.

"Idih, bo'ong banget. Nggak mungkin." Sahut Betari.

Mereka berdua pun tertawa bersama. Dua sahabat yang sedang mengadu nasib di negeri orang, yang dipertemukan dengan cara yang tidak terduga. Mereka berdua bahagia karena bisa saling memberikan support untuk satu sama lain.

 

---

 

-Dua Hari Kemudian-

Hari ini adalah hari dimana akan dilakukan tindakan transfer embrio (penanaman embrio). Dini sudah menyiapkan mentalnya, semalaman dia berdo'a agar prosesnya lancar. Tapi bagaimanapun itu, dia masih merasa tegang.

"Gue harus inget kata-kata mbak. B. Gue harus rileks, lu harus rileks Din." Katanya sambil mengatur nafas.

Sudah dari kemarin Dini dikamar rawat inap ini. Bara dan Rania memang sudah menyiapkan itu, agar pemantauan oleh dokter bisa lebih mudah.

Betari dan beberapa rekan sesama perawatnya masuk kedalam ruangan Dini.

"Selamat pagi.... Udah siap kan??" Tanya Betari.

Dini tersenyum dan mengangguk, "Udah." Jawabnya.

"Oke, kita langsung ke ruang tindakan ya... " Sahut Betari.

Dini mengangguk.

Kemudian beberapa perawat yang datang bersama Betari membawa Dini.

"Hey Din, muka lu kok tenang banget sih Din. Lu nggak takut?" Tanya Betari kehetanan.

"Menurut mbak Tari gimana?" Sahut Dini.

"Ya harusnya sih kalo orang normal takut ya, tapi lu kan orangnya unik." Kata Betari.

Dini mendengus kesal, "Dasar!"

Betari dan Dini pun tersenyum lebar. Dini paham pasti sekarang Betari sedang berusaha membuatnya untuk tenang. Betari memang paling tahu dirinya. Meskipun Dini tidak berkata apapun, pasti Betari bisa tahu isi hati Dini.

 

---

 

Betari hanya mengantarkan Dini ke ruang tindakan, karena memang Betari bukan tim yang bertugas untuk ini.

"Lu nggak boleh tegang ya, lu harus rileks. Everything's gonna be okay." Kata Betari menyemangati Dini, "Kalo gitu gue balik kerja dulu yaa.... Ntar gue samperin lu lagi. Bye... " Lanjut Betari.

Dini pun mengangguk sambil tersenyum, "Thank's ya mbak." Kata Dini.

Lalu Betari pun langsung keluar dari ruangan itu dan kembali lagi mengurus pekerjaannya.

Tidak lama kemudian dokter Andrew pun masuk ke dalam ruangan.

"Okey kita mulai ya... " Kata Andrew, "Apa anda sudah siap?" Lanjut Andrew bertanya pada Dini.

"Siap dok." Jawab Dini dengan yakin.

 

---

 

Sementara itu Bara ternyata sudah menunggu didepan ruang tindakan. Sebenaranya Bara dan Rania sudah merencanakan akan datang saat proses tranfer embrio ini. Mereka memang sudah berencana untuk menunggu didepan ruang tindakan hingga proses selesai. Namun pagi tadi tiba-tiba Rania tidak enak badan, jadi sekarang hanya Bara yang sedang menunggu didepan ruang tindakan.

Sambil menunggu proses transfer embrio, Bara sudah harap-harap cemas. Jujur ada sedikit rasa takut didalam dirinya, dia takut kalau usahanya dan Rania kali ini juga akan gagal.

Sambil terus berdo'a Bara berdiri didepan pintu ruang tindakan.

"Siapapun anda Miss. D. Aku ingin berterima kasih padamu. Kamu sangat berbaik hati sekali ke padaku dan istriku, harapan itu kini sudah didepan mata. Aku berharap dirimu selalu diberikan kesehatan hingga proses ini selesai." Ucap Bara dalam hati.

Tidak lama kemudian....

'Ceklek!'

Suara pintu ruangan terbuka, terlihat dokter Andrew yang sudah keluar dari sana.

"Selamat pak Bara, proses nya sudah selesai dengan lancar." Ucap Andrew.

Bara lega dan bersyukur atas hal itu, "Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu." Katanya dalam hati.

"Setelah ini tindakan apa lagi yang akan dilakukan dok?" Tanya Bara.

"Ini adalah tindakan yang terakhir, setelah ini hanya akan dilakukan pemantauan saja."

"Kita akan menunggu sekitar kurang lebih dua minggu ke depan. Setelah itu akan terlihat, apakah proses ini berhasil atau tidak. Apakah terjadi kehamilan atau tidak." Jelas dokter Andrew.

"Oh, begitu ya dok." Sahut Bara sambil mengangguk, "Kalau begitu saya pergi terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu yang dibutuhkan ibu sambungnya langsung kabari saya saja." Lanjut Bara.

"Oh iya baik pak." Ucap Andrew.

Lalu Bara pun pergi dari tempat itu.

 

---

 

Dini yang sudah selesai menjalani proses transfer embrio masih belum bisa kemana-mana, karena dia diharuskan untuk berbaring selama beberapa jam terlebih dahulu.

Tapi dari tadi pandangannya tertuju pada kaca di pintu ruangan. Saat proses transfer embrio berlangsung terlihat seorang pria yang sedang berdiri didepan sana. Dini tidak tahu pria itu siapa karena Dini tidak bisa melihat wajahnya. Hanya bagian punggung dari pria itu saja yang nampak.

Saat ini pria itu juga sedang berbincang dengan dokter Andrew. Dini berfikir apakah itu Mr. B? Dini berusaha dengan keras untuk melihat, berharap dia bisa melihat sedikit bentukan wajah dari si penyewa rahimnya. Tapi sial! Bahkan sampai perbincangan dengan dokter Andrew selesai, tidak sedikitpun Dini berhasil melihat wajah orang itu. Sampai akhirnya orang itu pun pergi dari sana.

Tidak lama kemudian beberapa perawat membawa Dini keluar dari ruangan.

"Yah... Kenapa nggak dari tadi sih keluarnya." Gumamnya kesal, "Coba dari tadi, pasti gue udah papasan tuh sama orangnya." Lanjutnya.

Sedetik kemudian Dini tersadar, "Dodol banget sih lu Din, kalo gitu nggak jadi rahasia lagi dong. Identitas lu juga bakalan kebongkar." Gumamnya.

 

---

 

Sesampainya di ruang rawat inap, Dini masih belum diperbolehkan untuk bangun dari tempat tidurnya. Dini melihat ke sekelilingnya. Setidaknya dia beruntung bisa merasakan kamar rawat inap dengan kelas SVVIP. Kamar rawat inap dengan kelas SVVIP ini dari semalam sudah membuat Dini berdecak kagum, bukan hanya karena interiornya tapi juga karena pelayanannya yang bak hotel bintang lima.

"Ini kalo orang sakit terus dirawat di kamar yang kayak begini mah auto langsung sembuh." Katanya sambil menggelengkan kepalanya.

'Ting!'

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel khususnya.

"Hai Miss. D. Bagaiman proses transfer embrionya? Suamiku bilang, prosesnya lancar. Saya sangat senang mendengar itu. Sekarang kita hanya berdo'a semoga proses itu berhasil dan kamu bisa hamil."

Dini tersenyum, lalu Dini mengelus-elus perutnya, "Hey, embrio, tumbuh yang baik ya disana.... Mama sama Papamu sangat mengharapkan kamu, jangan kecewakan mereka yaa.... Aku janji akan jagain kamu sampai kamu lahir ke dunia."

 

---

 

-Dua Minggu Kemudian-

Dini mulai cemas karena dia sudah menunggu beberapa hari ini dan dia tidak menemukan tanda-tanda kehamilan pada dirinya.

"Mbak kok gue nggak mual-mual ya kayak orang hamil di drama-drama? Eits, tapi emang orang hamil itu selalu harus ada tanda-tanda mual ya mbak?" Tanya Dini pada Betari dengan sedikit cemas.

"Ya mana gue tau Din, gue kan belum pernah hamil." Jawab Betari.

"Eh iya juga sih ya." Sahut Dini.

"Tapi sih menurut sepengetahuan gue respon ibu saat hamil itu beda-beda loh, ada yang pakek mual-mual. Ada juga yang biasa-biasa aja." Kata Betari.

'Ting!'

Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Betari. Betari menyalakan ponselnya. Terlihat disana ada dokter Andrew yang mengirimi pesan. Lalu Betari pun membuka pesan itu.

"Eh Din, dokter Andrew bilang setelah ini ada orang yang bakalan ngirim alat tes kehamilan. Lu disuruh periksa dulu pakai itu. Kalo memang nggak menujukkan hasil, besok lu disuruh ke rumah sakit." Kata Betari.

Benar saja tidak lama kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen Betari. Lalu Betari pun bergegas membukakan pintu. Ternyata orang itu adalah orang yang disuruh dokter Andrew untuk mengirimkan alat uji kehamilan.

Setelah mengambil alat itu, Betari bergegas memberikannya pada Dini, "Nih, buruan gih lu tes." Kata Betari.

Lalu Dini mengambil alat itu dan segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk melakukan tes.

Betari juga harap-harap cemas dengan hasilnya, dia mondar-mandir didepan pintu kamar mandi.

Beberapa saat kemudian Dini pun keluar dari kamar mandi itu.

Betari langsung mengahmpirinya, "Gimana Din hasilnya?" Tanya Betari.

Dini memperlihatkan alat itu pada Betari, terlihat dua buah garis ada disana. Melihat itu Betari langsung  berteriak kegirangan.

"Berhasil Din, lu hamil! Oh my god!" Katanya senang.

Dini pun langsung memeluk Betari. Karena saking senangnya, Dini hampir saja lupa kalau dia sedang mengadung sekarang, beruntung dia tidak lompat-lompat karena saking senangnya.

Kemudian Dini teringat sesuatu, cepat-cepat dia mengambil ponsel khusus miliknya. Dini harus mengabarkan ini pada Mr. dan Mrs. B.

'Cekrek!'

Dini memfotokan alat tes kehamilannya. Kemudian dia mengirimkan foto itu pada Mr. dan Mrs. B.

Dini berfikir pasti Mr. dan Mrs. B sangat bahagia mengetahui kabar ini. Dini tidak menyangka kenapa perasaannya bisa sesenang ini sekarang.

 

---

 

'Ting!'

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Rania. Lalu dia pun langsung membuka pesan itu.

Senyumnya seketika langsung mengembang dan air matanya tidak bisa terbendung lagi, "Mas..." Panggil Rania.

Bara yang sedang ada didalam kamar mandi pun langsung keluar, "Ada apa?" Tanyanya pada Rania. Bara melihat istrinya itu seperti sedang menangis.

"Mas... Miss. D hamil mas. Tansfernya berhasil!" Kata dengan terharu sambil menangis bahagia. 

Seketika mata Bara pun berbinar-binar mendengar kabar itu, rasa bahagia seperti memenuhi dadanya sekarang.

"Alhamdulillah... " Kata Bara sambil langsung memeluk Rania.

Keduanya sangat bahagia mendengar kabar itu. Ini adalah kabar terbahagia dan terindah selama hidup mereka.

 

----> Bersambung......