Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

6. Kebaikan & Ketulusan

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya hasil medical chek up Dini pun keluar. Berdasarkan hasil itu Dini dinyatakan sehat. Hasil pemerikasaan organ reproduksi juga dinyatakan normal. Itu artinya Dini bisa menjalakan prosedur surrogacy. Dini bersyukur dan senang dengan hasil itu.

"Mungkin sekitar 8-10 hari kedepan, kami akan mengabari anda lagi." Kata Andrew.

"Baik dok, terima kasih." Jawab Dini.

Setelah konsultasi selesai, Dini dan Betari langsung keluar dari ruangan Andrew.

Dini langsung memeluk Betari, "Mbak.... Aku seneng banget...." Kata Dini.

"Hehehe, iya Din. Gue juga ikut seneng kok." Sahut Betari, "Semoga apa yang lu lakuin ini nggak sia-sia ya... Pasti suatu saat pengorbanan lu buat keluarga akan diberikan balasan yang lebih baik lagi dari Tuhan." Lanjut Betari.

"Amiin... " Jawab Dini.

Karena sudah larut malam, Dini dan Betari pun langsung memutuskan untuk pulang ke apartemen.

 

---

 

Sesampainya di apartemen, Dini segera masuk kedalam kamar. Lalu Dini meletakkan tasnya dan membaringakan dirinya diatas ranjang.

"Hufft.... " Dini menghela nafas panjang. Dia memikirkan tentang proses surrogacy yang akan dijalaninya. Jujur dia sedikit merasa gugup dan cemas dengan hal itu. Namun dia harus mencoba untuk tetap tenang, karena dokter Andrew bilang dia tidak boleh stress.

Dini meraba bagian perutnya, dia mengusap-usap perutnya itu, "Beneran nih gue bakalan hamil dalam waktu dekat?" Gumamnya dalam hati. Lagi-lagi Dini mengehela nafas panjang.

Lalu Dini teringat dengan ponsel yang diberikan oleh dokter Andrew kepadanya. Dokter Andrew bilang kalau Dini perlu log in terlebih dahulu ke ponsel itu.

Kemudian Dini pun bangun dari tidurnya. Dia berdiri dari tempat tidur dan mengambil ponsel itu dari dalam tasnya. Dinyalakannya ponsel itu, terlihat dilayar ponsel muncul sebuah tulisan 'welcome' setelah itu muncul tombol next. Lalu Dini menekan tombol itu, setelah menekannya muncul sebuah kotak bertuliskan 'Enter your initials'. Dini harus memasukkan inisial namanya, "Ini kan rahasia-rahasia an ya maennya." Kata Dini, dia pun berfikir sejenak, "Hmm.... Pakek inisial nama apa ya??" Lanjutnya sambil mengetuk-ngetukkan jarinya didagu.

Sebuah ide muncul dari kepala Dini, "Aha! Gue tau harus pakek nama apa." lalu Dini pun mulai mengetik inisal nama yang akan digunakannya, "Miss. D" Katanya sambil tersenyum, "Hehehe, berasa agen rahasia inimah pakek nama samaran segala." Lanjutnya sambil terkekeh.

"Next" Lanjutnya sambil menekan next.

Setelah Dini menekan 'next' muncul sebuah tulisan, 'Your registration is successful'. Proses registrasi sudah dilakukan dan ponsel tersebut kini sudah bisa digunakan.

"Registrasi sudah selesai, sekarang gue mandi dulu ah... " Kata Dini. Lalu Dini pun bergegas mengambil handuk dan baju gantinya, setelah itu dia pergi ke kamar mandi.

 

---

 

Sementara itu di tempat lain, Bara dan Rania sudah bersiap untuk tidur. Mereka sudah berbaring ditempat tidur, sesaat kemudian sebuah notifikasi masuk ke ponsel khusus mereka. Ponsel yang sama, yang terhubung dengan ponsel Dini.

'Ting!'

Bara dan Rania yang sedang berpelukan ditempat tidur pun langsung bangun. Nada notifikasi yang sengaja mereka buat berbeda dengan ponsel pribadi, membuat mereka sudah hafal diluar kepala bahwa itu adalah notifikasi yang berasal dari ponsel khusus.

Masing-masing dari mereka langsung mengambil ponsel itu. Mereka langsung menyalakan ponsel itu.

"Mas, dia udah registrasi mas." Kata Rania.

"Oh iya, dia udah registrasi." Sahut Bara.

"Miss. D, dia pakek inisial Miss. D mas." Kata Rania.

"Siapapun kamu Miss. D, aku dan istriku sangat berterima kasih." Gumam Bara dalam hati.

"Aku boleh nyapa dia nggak mas?" Tanya Rania.

"Tentu boleh dong sayang." Jawab Bara sambil mengusap-usap puncak kepala Rania.

Kemudian Rania mulai mengetikkan sebuah pesan pada Dini. Setelah selesai mengetik, pesan tersebut langsung dikirimkan Rania pada Dini.

"Hah... Selesai... " Kata Rania dengan bahagia. Lalu Dia menoleh pada Bara. Terlihat disana Bara yang sibuk dengan ponselnya.

'Cup'

Dalam sekejap kecupan lembut dari Rania mendarat di pipi Bara. Bara pun langsung menoleh pada Rania dan tersenyum, "Aku seneng ngelihat kamu bahagia seperti ini. Selalu seperti ini ya, selalu tersenyum... " Kata Bara dengan low tone nya sambil mengelus-elus pipi Rania.

"Selalu, aku akan selalu bahagia. Apalagi setelah ini kebahagiaanku akan lengkap, ada suamiku dan selanjutnya akan ada anak kita." Sahut Rania.

Bara sangat bahagia melihat Rania yang tersenyum seperti ini. Sudah lama dia tidak melihat Rania bisa tersenyum selepas ini.

 

---

 

Setelah selesai mandi, Dini kembali masuk ke dalam kamarnya. Sebelum membaringkan tubuhnya di tempat tidur, Dini mengecek ponsel khusus itu, sepertinya ada sebuah notifikasi yang masuk. Setelah ponsel itu dinyalakan, ternyata benar ada sebuah notifikasi yang masuk ke ponsel itu. Notifikasi itu berasal dari pesan yang dikirim oleh 'Mrs. B', lalu Dini membuka pesan itu.

"Hello miss. D, nice to meet you. First, I would like to thank you very much for being willing to assist me in this surrogacy. I hope this surrogacy will be successful. Don't hesitate to ask us for help if you have a trouble."

"Can you speak Indonesian? If you can speak Indonesian, please reply to this message in Indonesian only. Once again, thank you so much. With love : Mrs. B."

"Oh, ini dari orang tua yang mau sewa rahim. Dia bisa tau loh kalo gue baru aja selesai registrasi di ponsel ini. Kayaknya mereka bukan orang sembarangan deh, bahkan identitas aja sampai mereka rahasiakan." Gumamnya dalam hati.

"Eits! Dini, Andini Ayudia Anjani lu harusnya ngaca juga dong. Bahkan lu yang bukan siapa-siapa aja ngerahasiain identitas lu. Apalagi mereka yang orang penting." Lanjut Dini sambil menertawakan dirinya sendiri.

Lalu Dini mulai menuliskan pesan balasan untuk Rania. Setelah selesai mengetik, Dini pun langsung mengirimkan pesan itu.

 

---

 

'Ting!'

Sebuah notifikasi masuk ke ponsel khusus Rania. Cepat-cepat Rania mengambil ponsel itu, lalu membukanya.

"Halo mbak. B. Salam kenal, saya panggilnya mbak aja ya biar lebih akrab. Saya sangat senang bisa membantu mbak. B. Saya juga berharap proses surrogacy ini dapat berjalan lancar dan berhasil. Senang bisa berkenalan dengan anda."

Rania tersenyum, "Sepertinya dia orang yang ramah." Gumamnya dalam hati.

Lalu Rania membalas pesan itu.

 

---

 

'Ting!'

Notifikasi masuk lagi ke ponsel khusus Dini, dia pun langsung mengambil ponsel itu dan kemudian membuka pesannya.

"Kamu sangat muda sekali, umur kamu baru 20 tahun. Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan kamu? Ini adalah hal yang berat karena nantinya kamu akan hamil dan tentunya akan mempengaruhi kamu dimasa depan. Mumpung masih banyak waktu, saya tidak ingin kamu menyesal nantinya. Karena kalau kamu menyesal, secara tidak langsung saya juga akan merasa bersalah sama kamu."

Dini tersenyum setelah membaca balasan pesan itu.

"Nih orang kayaknya beneran orang baik deh, bahkan dia masih sempet mikirin perasaan gue loh. Padahal dia juga punya kepentingan disini, kelihatan banget kalo orangnya bukan tipe yang egois." Kata Dini.

Setelah itu Dini pun mengetikkan pesan balasan untuk Rania.

 

---

 

'Ting!'

Sebuah notifikasi masuk lagi ke ponsel khusus milik Rania. Kemudian Rania pun membuka pesan itu.

"Saya sangat yakin dengan keputusan saya mbak. Saya juga sudah paham dengan konsekuensinya. Mbak menyewa rahim saya dengan tujuan ingin memilki keturunan dan saya bersedia menyewakan rahim saya juga karena ada tujuannya. Saya sedang membutuhkan sejumlah dana dengan cepat dan saya kira inilah jalan dari Tuhan untuk saya."

Membaca itu Rania tersenyum, "Walaupun tujuannya adalah untuk mendapatkan uang. Tapi entah kenapa aku nggak merasa khawatir ya, justru setelah dia jujur tentang tujuannya sepeti ini... Aku jadi tambah yakin kalau dia ini emang orang baik-baik." Gumam Rania dalam hati. Kemudian Rania lanjut membalas pesan itu.

 

---

 

'Ting!'

Balasan pesan masuk ke ponsel Dini.

"Terima kasih karena sudah bersedia jujur tentang tujuan kamu. Saya tidak ada masalah jika memang tujuan utama kamu adalah untuk mendapatkan uang dari saya yang terpenting kamu tetap bisa memegang komitmen perjanjian ini hingga akhir. Saya berharap proses surrogacy ini dapat bejalan lancar, kehamilan kamu sehat dan anak kami dapat lahir kedunia dengan selamat. Setelah itu kamu juga akan mendapatkan hak kamu dari kami."

"Ini sudah larut malam, kitalanjut perbincangan ini di lain waktu yaa... Selamat malam Miss. D."

"Gila! Nih orang baik banget ya, bisa sepercaya ini sama orang lain." Kata Dini tidak percaya. Karena menurut Dini orang baik yang sejauh ini dia temui adalah Betari dan mbak-mbak yang memberinya sandwich kemarin.

Kemudian Dini pun membalas pesan itu. Dia mengetikkan sebuah pesan.

"Iya mbak B, selamat malam juga. Have a nice dream :)"

Setelah mengetik balasan itu, Dini pun langsung mengirimkan pesan itu pada Rania.

 

---

 

-8 Hari kemudian-

Selama 8 hari ini, Rania telah melewati tahap stimulasi ovarium. Selama 8 hari juga dia sudah rutin menyuntikkan obat stimulus itu. Dokter juga rutin memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel milik Rania.

Ini adalah hari terakhir pemantauan pertumbuhan dan perkembangan folikel ( kantung cairan yang berisi oosit matang untuk membentuk sebuah sel telur ). Dokter Andrew akan melakukan melakukan tes darah dan USG, selain itu dokter Andrew juga akan melihat kadar estrogen Rania, terutama E2 atau estradiolnya.

"Folikel anda telah berukuran sekitar 20 mm dan kadar estradiol Anda juga sudah lebih dari 2000 pg/ ml. Itu artinya saya akan memberikan suntikan human chorionic gonadotropin (hCG) untuk memicu pematangan oosit anda." Kata Andrew pada Rania.

Rania tersenyum bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh dokter Andrew. Dia bersyukur kondisinya sejauh ini baik-baik saja.

Setelah itu dokter Andrew pun memberikan suntikan hCG pada Rania.

"Nanti sekitar 36 jam setelah Anda menerima suntikan hCG ini, barulah kami akan mengambil sel telur anda." Lanjut Andrew menjelaskan.

"Baik dok, terima kasih." Ucap Rania.

 

---

 

36 jam telah berlalu, sekarang waktunya bagi tim dokter untuk mengambil folikel yang berisi oosit yang telah matang dari ovarium Rania.

Sesaat sebelum dibawa ke ruang tindakan, Rania terlihat cukup tegang. Bara yang melihat itu mencoba untuk menenangkan istrinya itu, digenggamnya tangan istrinya itu dengan erat, "Sayang... kamu harus rileks yaa... percayakan semuanya pada tim dokter."

"Iya, terima kasih ya... karena kamu sudah selalu nemenin aku, bahkan ditiik terendahku kamu masih tetap setia disampingku." Kata Rania.

'Cup' sebuah kecupan hangat dari Bara mendarat di kening Rania, "Aku akan selalu ada disamping kamu, apapun yang terjadi aku akan tetap disimu." Ucap Bara sambil mengusap-usap lembut kepala Rania.

Tindakan pengambilan folikel akan dilakukan. Perawat membawa Rania masuk kedalam ruang tindakan.

Sebelum tindakan itu dilakukan, Rania akan dianestesi terlebih dahulu agar tidak merasakan sakit.

Bara yang sedang menunggu diluar ruangan juga tidak kalah tegangnya. Tapi beruntungnya ada Rayhan yang bisa membuatnya sedikit tenang.

Beberapa saat kemudian, dokter Andrew keluar dari ruangan. Diikuti oleh perawat yang sedang mendorong ranjang Rania. Rania tersenyum pada Bara dan Bara juga melemparkan senyuman pada Rania.

"Proses pengambilan telurnya sudah selesai. Tahap selanjutnya adalah proses pengambilan sperma dari pak Bara." Kata Andrew.

Lalu dokter Andrew memberikan tabung sampel pada Bara, "Saya rasa saya tidak perlu menjelaskan caranya pada anda." Kata Andrew sambil tersenyum.

Bara tersenyum, wajahnya tersipu malu. Kemudian dia mengambil tabung sampel itu dari dokter Andrew, "Yah.. Anda tidak perlu menjelaskannya pada saya dok." Sahut Bara.

 

---

 

Sesampainya di kamar rawat inap Rania, Bara langsung masuk kedalam kamar mandi. Sesuai dengan perintah dokter Andrew, Bara harus menyerahkan sampel sperma atau air maninya.

"Gimana mas... Kamu bisa kan??" Teriak Rania dari luar.

Namun tidak ada jawaban Bara dari dalam kamar mandi.

"Mas...Gimana? Apa mau aku bantuin?" Tanya Rania.

"Nggak usah aneh-aneh ya Rania, ini di rumah sakit. Saya, bisa sendiri kok. " Teriak Bara dari dalam toilet.

Rania hanya tersenyum-senyum mendengar jawaban dari suaminya itu, "Emang kenapa sih,kan udah suami istri juga. " Gumam Rania dalam hati.

Suara  flush toilet pun terdengar, itu artinya Bara telah menyelesaikan tugasnya. Tidak lama kemudian Bara keluar dari kamar mandi. Bara membawa tabung sampel itu dengan bangganya, "Ada Bara junior nih disini... " Katanya sambil tersenyum-senyum dan memperlihatkan tabung sampel yang dibawanya.

Rania hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelauan suaminya yang seperti itu.

 

----> Bersambung.....