Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

5. Lembar Baru Kehidupan

Bara merangkul dan mengusap-usap bahu Rania. Mereka merasa bahagia, setidaknya ada secercah harapan bagi mereka untuk memiliki anak, dan sebentar lagi itu akan terwujud.

"Okeh kalau begitu sekalian saja saya akan menjelaskan prosedurnya. Penjelasan ini terutama ditujukan untuk bu Rania." Kata Andrew.

"Boleh dok, silahkan." Jawab Rania.

Andrew mengangguk adan mulai menjelaskan prosedurnya.

"Setelah ini kami akan langsung memeriksa kondisi bu Rania terlebih dahulu. Kita akan melihat siklus masa subur anda."

"Setelah itu anda akan kami berikan obat untuk stimulasi ovarium. Stimulasi ovarium dalam program IVF (In Vitro Fertilization) biasanya akan dilakukan dengan obat suntik. Nantinya, Anda juga akan diajarkan bagaimana cara menyuntikkan obat tersebut sendiri di rumah."

"Biasanya Anda akan diminta untuk menyuntikkan 1-4 obat setiap hari selama 7-10 hari."

"Tujuan dari stimulasi ini adalah untuk meningkatkan jumlah telur yang akan diproduksi oleh ovarium. Semakin banyak telur yang bisa diambil dan dibuahi, maka semakin besar pula kesempatan keberhasilan kehamilan."

"Selama stimulasi ovarium ini, saya akan memantau pertumbuhan dan perkembangan folikel ( kantung cairan yang berisi oosit matang untuk membentuk sebuah sel telur ).dengan cara melakukan tes darah dan USG setiap beberapa hari. Saya akan melihat kadar estrogen Anda, terutama E2 atau estradiol. Jika folikel Anda sudah memiliki ukuran yang besar, kira-kira berukuran 16-18 mm, pemantauan akan dilakukan setiap hari."

"Sebelum diambil, telur dalam ovarium (oosit) harus berkembang dan tumbuh dengan sesuai. Untuk memicu pematangan oosit, diperlukan suntikan human chorionic gonadotropin (hCG). Biasanya, suntikan hCG diberikan ketika empat atau lebih folikel telah berukuran sekitar 18-20 mm dan kadar estradiol Anda sudah lebih dari 2000 pg/ ml."

"Setelah sesuai, maka telur dalam ovarium anda akan diambil. Pengambilan telur ini akan dilakukan sekitar 34-36 jam setelah Anda menerima suntikan hCG. Terdapat satu oosit (telur) tiap satu folikel yang akan diambil dari ovarium. Jumlah folikel yang diambil bisa berbeda-beda antar individu. Oosit ini kemudian akan dibawa ke laboratorium embriologi untuk dilakukan pembuahan."

"Sampai disini apakah anda paham bu Rania?" Tanya Andrew.

Rania mengangguk, "Paham dokter."

Prosesnya memang cukup panjang, tapi Rania berusaha untuk tetap yakin bahwa usaha tidak akan menghianati hasil.

Ketika dirasa Bara dan Rania sudah cukup memahami itu, Andrew melanjutkan penjelasannya lagi.

"Setelah proses tadi selesai, maka akan diambil juga sperma dari pak Bara. Sperma itu nantinya juga akan dibawa ke laboratorium embriologi."

"Tahap selanjutnya adalah proses pembuahan. Folikel dan sperma akan dipilih yang paling baik. Setelah itu akan dilakukan pembuahan di laboratorium, proses pembuahan ini akan berlangsung sekitar 12-24 jam."

"Setelah telur berhasil dibuahi (embrio), maka telur itu akan disimpan terlebih dahulu selama 3-5 hari di tempat khusus sebelum dipindahkan ke rahim ibu pengganti. Pemindahan telur yang sudah dibuahi (embrio) biasanya dilakukan ketika embrio sudah berada pada fase blastosit atau terbentuknya rongga kecil. Pada fase ini embrio sudah mampu menempel dengan baik pada rahim."

"Terakhir, kita harus menunggu selama dua minggu untuk mengetahui apakah terjadi kehamilan atau tidak."

Andrew selesai dengan penjelasannya.

"Kurang lebih seperti itulah prosesnya, memang cukup panjang. Tapi itu dilakukan agar mendapatkan hasil yang terbaik nantinya." Kata Andrew, "Apa ada yang ingin kalian tanyakan lagi? Mungkin ada yang kurang jelas?" Tanya Andrew.

"Penjelasannya sudah cukup jelas dok. Kami sudah cukup mengerti." Jawab Bara.

"Bagus kalau begitu." Sahut Andrew sambil mengangguk.

"Oh iya, sekalipun identitas kalian akan dirahasiakan disini,. kalian harus tetap memiliki kontak dan berhubungan langsung dengan ibu pengganti. Bagaimanapun kalian adalah calon orang tua dari bayi yang dikandungnya. Jangan biarkan dia melewati kehamilannya selama 9 bulan itu sendirian. Karena itu bukan sesuatu yang mudah."

"Setidaknya berkirim pesan atau berkomunikasi secara langsung lewat nomor khusus itu akan sangat membantu. Saya rasa cara itu tetap bisa dilakukan dengan rahasia." Lanjut Andrew.

Bara dan Rania berfikir kalau apa yang dikatakan oleh Andrew itu ada benarnya juga. Bagaimanapun anak yang akan dikandung oleh ibu penggati itu adalah anaknya, jadi mereka harus ikut menjaganya.

"Oh iya satu lagi, calon ibu pengganti ini juga meminta saya untuk merahasiakan identitasnya. Tapi dia tetap membuka peluang pada kalian untuk berkomunikasi secara langsung dengan dia. Tentunya dengan identitas yang dirahasiakan." Sahut Andrew.

"Oh... Begitu ya dok. Kalau begitu nanti saya akan berikan nomor khusus untuk dia, selain itu saya dan istri saya juga akan memggunakan nomor khusus. Kami bertiga akan berkomunikasi lewat nomor khusus itu. Agar kerahasiaan identitas antara kami dan dia bisa tetap terjaga." Kata Bara.

Pikir Bara dengan melakukan ini maka dia dan Rania akan tetap bisa mengontrol keadaan calon anaknya nantinya. Selain itu mereka juga bisa memberikan rasa nyaman bagi sang ibu pengganti tersebut, yang mana sang ibu pengganti itu tidak mau diketahui identitasnya.

Andrew mengangguk, "Wah, itu saran yang bagus. Semoga proses ini bisa berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil yang diinginkan." Kata Andrew.

 

---

 

-Malam harinya-

Setelah pulang dari rumah sakit, seharian penuh Dini hanya menghabiskan waktunya di apartemen. Sepanjang waktu dia hanya berdo'a dan berharap semoga pasien dokter Andrew setuju dengan sarannya.

Sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Dini. Cepat-cepat dia mengambil ponselnya, lalu dia melihat layar ponsel itu, terlihat disana tertulis nama 'ibu'. Ya, itu adalah panggilan dari ibunya.

Dini : Assalamualaikum bu.

Ibu : wa'alaikumsalam Din.

Dini : Gimana bu kondisi bapak?

Ibu : Bapakmu masih di ruang rawat inap Din. Keadaannya sudah lebih baik daripada kemarin.

Dini : Alhamdulillah kalau begitu bu.

Dini merasa lega karena kondisi bapaknya sudah lebih baik.

Dini : Kabar ibu gimana?

Ibu : Alhamdulillah ibu baik-baik saja.

Dini : Ibu jangan lupa jaga kesehatan. Jangan lupa makan, jangan lupa istirahat juga.

Ibu : Iya Din, ibu akan selalu jaga kesehatan. Ibu harus sehat, supaya bisa jagain bapak kamu.

Dini : hmm... Untuk tindakan pemasangan ring jantung bapak gimana bu?

Ibu : Oh iya, untuk tindakan itu kata dokter harus tetap dilakukan secepatnya Din. Setidaknya dalam waktu 1-2 bulan ini tindakan itu harus dilakukan.

Dini : Iya, bu. Ibu tenang aja. Insyaallah Dini akan dapatkan uang itu dalam waktu dekat, supaya tindakan pemasangan ring jantung bapak bisa segera dilakukan. Ibu do'a in Dini ya...

Ibu : Iya Din itu pasti, ibu akan selalu mendo'akan kamu.

Dini : Makasih ya bu...

Ibu : Oh iya Din, sebenarnya ibu itu nggak mau membebani kamu. Jadi ibu berencana mau menggadaikan rumah. Kamu juga kan masih baru kerja disana, ibu tau pasti uang kamu belum sebanyak itu. Kamu pasti sekarang lagi kerepotan dan kebingungan kan? Jadi ibu pikir lebih baik kita menggadaikan rumah kita aja. Bagaimana menurut kamu Din?

Mendengar itu sesak langsung memenuhi dada Dini. Bagaimana tidak, rumah itu adalah satu-satunya harta yang dimiliki oleh keluarganya. Ya memang tidak besar, tapi disana banyak sekali menyimpan kenangan.

Dini : Ibu nggak perlu melakukan itu, Dini janji dalam waktu 1-2 bulan kedepan Dini bisa dapetin uang itu. Jadi ibu nggak perlu sampai harus menjual atau menggadaikan rumah.

Ibu : Ibu nggak mau kamu susah nak, kebutuhan hidup disana kan juga tinggi.

Dini : Dini kan selalu bilang sama ibu, Dini nggak pernah merasa terbebani sama sekali. Ibu dan bapak adalah tanggung jawab Dini. Jadi ibu jangan memikirkan yang lain, ibu fokus saja merawat bapak.

Ibu : Makasih ya nak... (Dengan suara terisak)

Dini : Iya bu sama-sama.

Ibu : Kalau begitu sudah dulu ya, kamu jaga kesehatan disana.

Dini : Iya bu, ibu juga jaga kesehatan ya. Assalamu'alaikum.

Ibu : Wa'alakumsalam.

Dini menghela nafas panjang. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa. Dia mencoba menenangkan hatinya.

Selang beberapa saat, pintu apartemen terbuka. Betari yang baru saja pulang langsung berlali menghampirinya. Bahkan Betari masuk tanpa mengucapkan salam. Sekarang dia justru berdiri dihadapan Dini sambil memasang senyum lebar.

"Ih, masuk rumah nggak pakek salam, ati-ati setannya ngikut masuk kedalem rumah loh." Sahut Dini.

Betari tidak bergeming dari depan Dini, dia masih memasang ekspresi wajah yang sama.

Dini yang melihat itu mengernyitkan dahinya, "Terus ngapain sekarang senyum-senyum kayak gitu?" Tanya Dini penasaran.

Sedetik kemudian....

'Hap!'

Betari langsung memeluk erat Dini. Dia memeluk Dini sambil tertawa bahagia.

Dini memberontak, "Mbak Tari kenapa sih? Ih... Aneh deh nih orang. Ketempalan apa kamu mbak sampek kayak gini? Lepasin nggak mbak!"

Betari melepaskan pelukannya. Lau dia metapa Dini sambil tersenyum lebar, "Din... Ada kabar gembira buat lu." Katanya.

"Kabar gembira apa?" Tanya Dini kebingungan.

"Dokter Andrew bilang pasiennya mau mencoba. Mereka bersedia mencoba melakukan proses surrogacy itu sama lu." Jawab Betari.

Seketika mata Dini pun berbinar. Dia sangat bahagia mendengar itu, "Serius mbak?" Tanya Dini tidak percaya.

"Iya serius." Jawab Betari.

"Dan mereka juga setuju dengan syarat-syarat yang lu berikan, tentang merahasiakan identitas dll itu. Mereka setuju, dan mereka mau mencoba." Lanjut Betari.

Dini pun langsung memeluk Betari, mereka berdua locat-locat kegirangan.

"Alhamdulillah ya Allah.... " Kata Dini senang, "Aku seneng banget... " lanjut Dini.

"Sekarang kita langsung berangkat ke rumah sakit nih?" Tanya Dini dengan bersemangat.

"Ya nggak sekarang juga kali, ini udah malem. Besok pagi dokter Andrew nyuruh kamu kesana. Ada medical check up yang harus kamu lakukan." Jawab Betari.

"Hehehe, okeh kalo gitu sekarang aku harus tidur, biar besok nggak kesiangan." Sahut Dini.

"Bye mbak Tari." Lanjut Dini sambil beranjak pergi dan masuk kedalam kamar.

Dini terlihat bahagia sekarang, Betari juga bahagia melihat itu. Betari kagum dengan pengorbanan yang sudah dilakukan Dini untuk kedua orang tuannya. Itu juga yang membuat Betari semakin termotivasi untuk membahagiankan kedua orang tuanya juga.

 

---

 

-Keesokan Harinya-

Dini sudah sampai didepan rumah sakit. Dia berjalan terburu-buru. Karena Betari semalam tiba-tiba mendapatkan panggilan gawat darurat, maka dari itu mereka janjian untuk bertemu di rumah sakit. Karena hal itu juga akhirnya Dini bangun agak telat, entah kenapa dia tidak mendengar bunyi alarm dari ponselnya.

Dini sedikit mempercepat langkahnya, sambil mengecek ponselnya dan memastikan keberadaan Betari. Karena terlalu fokus dengan ponselnya....

'Bruk!"

Dini menabrak seseorang, dan ternyata orang yang ditabrak Dini adalah Bara. Kopi yang dibawa Bara pun tumpah. Dini melihat itu, kemeja Bara kini dipenuhi oleh tumpahan kopi.

"I'm sorry...." Kata Dini sambil mencoba membersihan tumpahan kopi dari kemeja Bara. Tapi belum sempat membersihkannya, tangan Dini dihentikan oleh Bara. Pria itu memegang tangan Dini, "Jangan, anda tidak perlu melakukannya." Sahut Bara dingin.

Lalu Bara mengibas-ngibaskan kopi dari kemejanya.

"Saya akan mengganti kopi tuan." Kata Dini dengan rasa bersalah.

"Tidak perlu." Jawab Bara singkat. Setelah itu Bara pun langsung pergi dari tempat itu.

"Astaga... Songong banget sih jadi orang. Mukanya ngeselin. Orang gue tulus minta maaf malah nggak direspon. Diganti kopinya juga nggak mau. Nyebelin banget sumpah!" Kata Andin mengata-ngatai Bara.

Bara samar-samar mendengar itu. Dia membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Dini. 

Sontak Dini pun terkejut dan langsung berlari meninggalkan tempat itu.

"Mampus lu Din! jangan-jangan tuh orang tau bahasa Indonesia lagi? Atau bisa jadi__dia orang Indonesia?" Kata Dini sambil menepuk-nepuk jidatnya, "Halah, bodoh amat! gue juga nggak bakalan ketemu lagi kok sama dia." Gumam Andin sambil berjalan menuju ke ruangan Andrew. 

Saat berjalan menuju ke ruangan dokter Andrew, Dini tidak sengaja berpapasan dengan Rania.

"Hai mbak, mbak yang kemarin di kedai kan?" Sapa Dini.

Rania melihat Dini dan mencoba mengingat-ingatnya, "Oh iya, Hai... Kita ketemu lagi loh." Sahut Rania.

"Kamu mau ngapain disini? Lagi sakit? Atau mau jenguk seseorang?" Tanya Rania.

"Oh, hmm... Ada sedikit urusan disini." Jawab Dini. Dini ingat kalau dokter Andrew pernah bilang dia harus merahasiakan ini.

"Oh gitu... " Kata Rania sambil mengangguk, "Oh iya, kita kan belum ke__" Sahut Rania menggantung. Karena sebelum Rania melanjutkan pertanyaannya Betari memanggil Dini.

"Heh Din, ayok buruan." Panggil Betari.

Dini menoleh pada Betari, "Hmm... Mbak aku pergi dulu yaa, semoga lain waktu kita bisa ketemu lagi. Dah... " Kata Dini. Setelah itu Dini pun langsung pergi meninggalkan Rania.

"Wajahnya keliatan bahagia banget, nggak seperti pas waktu kemarin ketemu sama aku. Jadi seneng lihatnya, ternyata nggak cuma aku aja yang bahagia hari ini." Gumam Rania dalam hati. Rania memang sedang bahagia sekarang, apalagi setelah mengetahui pemeriksaannya menunjukkan hasil yang bagus.

 

---

 

Dini dan Betari sudah sampai di ruangan Andrew. Andrew menjelaskan prosedur yang akan dilakukan pada Dini.

"Setelah medical check up dilakukan dan hasilnya baik, maka anda harus menunggu selama kurang lebih 2 minggu, sampai proses pembuahan secara in vitro berhasil dilakukan. Karena itu yang nantinya akan ditanam didalam rahim anda."

"Pemindahan telur yang sudah dibuahi atau embrio biasanya dilakukan pada hari kelima setelah pembuahan. Nantinya, beberapa hari sebelum pemindahan embrio, Anda akan diberikan obat hormon progesteron untuk membantu mempersiapkan dinding rahim anda." Jelas Andrew.

Dini mengangguk. Dia sudah paham dengan penjelasan dari dokter Andrew.

"Mulai sekarang gue harus makan makanan yang bergizi, No junk food, No soda dan No mie instan." Gumam Dini dalam hati.

Andrew menyodorkan sebuah ponsel ke hadapan Dini. Dini memperhatikan itu dan bingung dengan maksud Andrew.

"Di ponsel itu ada kontak orang tua penyewa rahim. Anda bisa menghubungi mereka jika perlu. Oh iya, anda tenang saja identitas anda akan dirahasiakan. Karena mereka juga merahasiakan identitas mereka. Jadi nantinya diponsel itu kalian bertiga akan memakai nama samaran."

"Kalian bertiga juga hanya bisa menggunakannya untuk berkirim pesan dan menelepon. Tidak bisa untuk video call dll. Saya juga sudah menyampaikan pada mereka kalau anda juga ingin merahasiakan identitas anda dan ternyata mereka bisa menerima itu. Maka dari itu mereka memberikan ponsel ini." Jelas Andrew.

Dini merasa beruntung dan lega, karena orang tua penyewa rahim itu mempunyai visi yang sama dengan dirinya, yaitu sama-sama ingin merahasiakan identitas. Meskipun begitu Dini akan tetap bertekad untuk melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

"Baik dok, saya paham." Jawab Dini sambil mengangguk.

"Okey, kalau begitu kita mulai pemeriksaannya." Sahut Andrew.

Setelah konsultasi dan penjelasan sudah diberikan pada Dini, Andrew kemudian melanjutkan melakukan Medical check up pada Dini.

 

----> Bersambung.....