Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

4. Sebuah Harapan

Betari masih tertegun disana. Dia masih tidak percaya kalau Dini mengatakan bersedia menerima tawaran itu. Padahal kemarin Dini jelas-jelas menolak tawaran itu, bahkan Dini sendiri yang menyebut itu adalah sebuah tawaran yang gila.

"Gue nggak salah denger kan Din?" Tanya Betari tidak percaya.

"Enggak mbak. Mbak Tari nggak salah denger, aku bersedia jadi ibu pengganti." Ucap Dini dengan yakin.

Betari masih tidak percaya, "Lu yakin Din? Nggak lagi ngigo kan lu sekarang. Cuci muka dulu gih sana."

"Aku yakin mbak, aku bener-bener yakin. Bahkan aku nggak pernah seyakin ini sebelumnya." Jawab Dini.

"Okeh, gue mau pasti in sekali lagi. Andini Ayudia Anjani, alias Dini... Apa bener kamu bersedia untuk menjadi seorang surrogate mother? Dan keputusan ini diambil secara pribadi tanpa ada paksaan dari pihak manapun?" Tanya Betari untuk memastikan lagi.

Dini mengangguk, "Iya, saya Andini Ayudia Anjani, bersedia untuk menjadi surrogate mother. Saya juga bersedia menerima segala konsekuensi dari keputusan yang sudah saya buat ini." Jelas Dini.

Mata Betari membulat sempurna, "Beneran berarti?" Betari masih saja bertanya-tanya lagi.

Dini mengangguk dengan yakin.

"O...okey, besok gue ajak lu ketemuan sama dokter Andrew kalo gitu." Kata Betari sambil tersenyum tidak percaya.

 

---

 

-Keesokan Harinya-

Khusus untuk hari ini Dini sudah meminta izin untuk tidak masuk kerja di tempat laundry. Beruntung pemilik laundry bersedia memberikan libur satu hari untuknya. Hari ini Dini akan menemui dokter Andrew bersama dengan Betari untuk membicarakan tentang proses surrogacy itu.

Betari mengunci pintu apartemnnya, lalu dia membalikkan badannya dan menoleh pada Dini. Betari menatap dalam mata Dini, "Lu beneran yakin Din?"

Dini memutar bola matanya, sudah ratusan kalian Betari menanyakan hal itu padanya. Sampai-sampai dia sendiri sudah bosan. Tapi bagaimanapun itu, Dini paham kalau Betari menanyakan itu terus-terusan karena Betari sedang mengkhawatirkannya.

"Beneran mbak Tari, Betari Aulia... Kalo mbak nanya lagi, aku kasih piring cantik loh ya." Sahut Dini.

Betari menghela nafas, "huh... Okey, kalo begitu kita berangkat."

Mereka berdua pun akhirnya berangkat menuju ke rumah sakit.

 

---

 

Setelah kurang lebih 10 menit perjalanan, akhirnya mereka berdua pun sampai di rumah sakit.

Keduanya segera bergegas menuju ke ruangan dokter Andrew. Betari sebelumnya juga sudah membuat janji dengan dokter Andrew.

Sesampainya didepan ruangan dokter Andrew, mereka berdua pun langsung masuk keruangan itu.

"Selamat pagi dok." Sapa Betari sambil membuka pintu ruangan dokter Andrew.

"Selamat pagi Tari. Silahkan masuk." Jawab Andrew.

Setelah dipersilahkan masuk, Tari dan Dini pun langsung duduk di kursi yang berada didepan meja Andrew.

"Apa dia ini orangnya?" Tanya Andrew.

Betari menoleh pada Dini, "Iya dok, dia orangnya."

"Namanya Dini. Sorang muslim dan keturunan Indonesia." Lanjut Betari.

"Selamat pagi Dini, apa Betari sudah menjelaskan tentang ini pada anda?" Tanya Andrew.

"Sudah dok, Betari sudah menjelaskan sebagian ke saya." Jawab Dini.

"Okey, saya akan menjelaskan lagi sebentar. Jadi prosedur surrogate yang akan dilakukan kali ini adalah gestational surrogacy, artinya hanya rahim kamu saja yang akan disewa. Sel telur tetap berasal dari pihak penyewa."

"Sebelum melakukan proses ini, anda nantinya akan dilakukan pemeriksaan menyeluruh terlebih dahulu. Kita harus memastikan bahwa kondisi anda sehat."

Andrew menjelaskan beberapa hal pada Dini.

"Oh iya satu lagi. Apa anda sudah pernah hamil sebelumnya?" Tanya Andrew.

"Belum dok." Jawab Dini.

Andrew melirik Betari sambil tersenyum. Betari memasang senyuman lebar, dia lupa mengatakan salah satu syarat wajib itu pada Dini. Kandidat surrogate mother harus minimal pernah satu kali hamil dan sudah melahirkan seorang anak.

"Sayangnya itu adalah salah satu syarat wajibnya." Sahut Andrew.

Dini menoleh dan menatap tajam Betari.

"Sorry, gue lupa." Kata Betari berbisik.

"Oh, begitu ya. Memangnya kenapa harus seperti itu dok? Apa memiliki organ reproduksi yang sehat saja tidak cukup?" Tanya Dini.

"Tentunya tidak cukup. Dikarenakan anda perlu memahami sepenuhnya semua tantangan fisik dan emosional dari kehamilan dan persalinan, sebelum anda mengandung bayi untuk orang lain. Itu semua adalah sesuatu yang tidak dapat anda pahami tanpa melalui pengalaman kehamilan sebelumnya." Jawab Andrew.

Lalu Andrew mencoba menjelaskan lebih jauh lagi pada Dini.

"Ada juga alasan-alasan lain seperti: Pertama, kemungkinan secara fisik hal tersebut akan membahayakan bagi sang ibu pengganti. Jika Anda menjadi ibu pengganti tanpa kehamilan sebelumnya, Anda tidak tahu bagaimana tubuh Anda akan bereaksi terhadap efek dari transfer embrio dan proses kehamilan. Bahkan jika tes kesuburan Anda tampak normal, ada banyak faktor kompleks lain yang mempengaruhi kemampuan seorang wanita untuk hamil dengan aman. Anda tidak memiliki pengalaman dalam hal ini, yang akan membuat kehamilan pengganti Anda jauh lebih berisiko. Ada juga kemungkinan langka kehilangan organ reproduksi, yang berarti menjadi ibu pengganti tanpa kehamilan sebelumnya akan menempatkan Anda pada risiko tidak pernah memiliki anak kandung sendiri."

"Kedua, Potensi komplikasi emosional yang dapat terjadi pada ibu pengganti. Ibu pengganti yang belum pernah hamil atau belum pernah membesarkan anak mereka sendiri, mungkin tidak akan siap untuk aspek emosional kehamilan. Meski secara genetik anak tidak berasal dari anda, tapi anda akan tetap merasakan dan mengatasi kesulitan emosional akibat hormon kehamilan dan stress prosesnya."

"Ketiga, risiko yang tidak perlu bagi orang tua yang menyewa rahim. Pengalaman anda dengan kehamilan tidak hanya akan mempengaruhi proses surrogacy anda sendiri. Orang tua atau sang penyewa rahim menginginkan kesempatan terbaik pada kehamilan yang sukses yang bisa mereka dapatkan. Mereka sudah menghabiskan beberapa tahun dan ribuan dolar untuk perawatan infertilitas yang tidak berhasil, dan ibu pengganti adalah pilihan terakhir bagi mereka untuk memiliki anak biologis. Tentu saja orang tua atau penyewa rahim ingin bekerja sama dengan ibu pengganti yang memiliki kemampuan yang sudah terbukti, untuk memastikan agar kehamilan berhasil dan ibu pengganti melahirkan dengan sehat; mereka tidak ingin mempertaruhkan peluang mereka untuk menjadi orang tua pada seorang wanita yang belum pernah hamil dan memiliki anak."

Andrew menjelaskan secara penjang lebar. Dini paham dengan penjelasan itu. Memang yang dikatakan Andrew itu benar. Seketika Dini merasa harapannya sudah pupus. Tapi dia tidak menyerah, dia akan berusaha untuk bisa menjadi ibu pengganti itu. Karena ini adalah jalan satu-satunya yang tercepat baginya untuk mendapatkan uang.

"Saya bersedia menerima seluruh resiko dan konsekuensi itu dok. Saya akan berusaha untuk mengendalikan emosi saya selama kehamilan. Saya juga akan berusaha menjaga kehamilan saya dengan baik nantinya."

"Kualifikasi khusus yang diminta oleh pasien anda ada semua pada saya. Apa anda tidak bisa membicarakan ini dengan pasien anda terlebih dahulu?"

"Apa tidak bisa dicoba terlebih dahulu? Siapa tahu transfer embrio akan berhasil dan janin bisa tumbuh dengan sehat dirahim saya nantinya."

"Anda bisa bilang ke pesien anda, kesepakatan ini akan dimulai ketika transfer embrio berhasil dan janin dinyatakan sehat."

Dini mengatakannya dengan yakin.

Betari melihat ke arah Dini, dia melihat sorot penuh harapan di mata Dini. Sepertinya Dini benar-benar menginginkan hal ini, entah alasan apa yang mendasari Dini seperti itu, Betari pun tidak tahu.

Andrew sejenak berfikir, semua kualifikasi khusus memang dimiliki oleh Dini. Sayangnya Dini belum pernah hamil sebelumnya. Sebenarnya bisa saja hal ini dicoba, tapi Andrew harus meminta persetujuan dari Bara dan Rania terlebih dahulu.

"Baiklah, saya akan coba membicarakan ini dengan pasien saya terlebih dahulu. Nanti saya akan menginformasikan hal ini lagi pada anda." Kata Andrew.

Dini sedikit lega, setidaknya masih ada peluang bagi dirinya untuk menjadi surrogate mother itu.

"Baik, dok. Terima kasih." Jawab Dini.

Setelah konsultasi selesai, Dini dan Betari pun keluar dari ruangan Andrew.

"Din kenapa lu keliatan kekeuh banget sih Din. Apa ada masalah?" Tanya Betari.

Dini hanya tersenyum dan tidak memberikan jawaban.

"Din, jawab dong? Lu bener-bener butuh duit ya Din? Apa lu punya utang di rentenir? Hah?" Tanya Betari lagi. Namun, lagi-lagi Dini tidak menjawab.

"Din jangan diem doang! Jawab lah! Kalo lu ada masalah cerita sama gue." Kata Betari dengan cemas.

"Iya aku lagi butuh uang." Sahut Dini, "Aku butuh uang banyak secepatnya, dan dengan cara ini aku bisa dapetin itu." Lanjut Dini.

"Sebanyak apa?" Tanya Betari.

"Aku butuh uang 100 juta rupiah, secepatnya." Jawab Dini.

Betari terkejut, "Buat apa?" Tanya Betari lagi.

"Buat operasi bapak. Bapak kemarin baru saja kena serangan jantung mbak. Kata ibu, bapak harus segera diberikan tindakan pemasangan ring jantung untuk mengatasi penyumbatan pembuluh darahnya." Jawab Dini.

Betari tertegun, "Astaga Din... Kenapa lu nggak cerita ke gue?" Kata Betari dengan prihatin.

"Nggak papa kok mbak. Aku bisa mengatasi ini." Sahut Dini.

"Lu nggak perlu ngelakuin ini. Lu bisa pakai duit gue dulu." Kata Betari.

Dini meneteskan air mata, "Mbak Tari itu baik banget, aku nggak tau harus berterima kasih seperti apa lagi ke mbak Tari. Mbak Tari udah banyak ngebantu aku selama ini. Aku nggak mau ngerepotin mbak Tari lagi."

Betari merangkul Dini dan mengusap-usap pundaknya, "Lu nggak ngerepotin gue. Selama gue bisa ngebantu ya gue akan berusaha bantu lu Din." Ucap Betari.

"Iya, aku tau kok mbak. Mbak pasti bakal bantuin aku. Tapi masalahnya, apa aku bisa bayar hutang aku itu ke mbak Tari? Ya, mungkin aja bisa, tapi pasti itu akan butuh waktu yang lama mbak. Apalagi aku juga tahu mbak tari sedang mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan dan beli rumah kan? Aku nggak mau karena aku, apa yang udah mbak Tari rencanain itu jadi berantakan." Sahut Dini.

Mendengar alasan Dini, Betari pun langsung memeluk Dini dengan erat. Betari selalu mengharapkan punya seorang adik perempuan. Dulu memang Betari pernah punya seorang adik perempuan, tapi adiknya itu meninggal saat kecil dikarenakan sakit. Saat pertama kali bertemu dengan Dini, entah kenapa Betari seperti memiliki koneksi hati dengan Dini. Dia seperti sedang melihat adiknya. Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan kenapa Betari tergerak hatinya untuk menolong Dini.

Dini menangis sesenggukan dan Betari mencoba menenangkannya.

"Udah ah, jangan nangis lagi. Malu tuh diliatin banyak orang." Kata Betari mencoba mengalihkan suasana.

Dini menyeka air matanya, "Emang iya?" Tanya Dini.

"Iya, tuh... " Sahut Betari sambil menunjuk ke orang-orang yang ada disana. Beberapa dari mereka memang melihat ke arah Dini dan Betari.

Dini melihat ke arah yang ditunjuk oleh Betari.

"Iya juga, kalo udah gini malu lah aku." Kata Dini dengan wajah malu.

"Yaudah mangkanya diem. Udah jangan nangis lagi, berdo'a aja siapa tau saran kamu bisa diterima sama pasien dokter Andrew." Kata Betari.

"Amiinn...." Sahut Dini, "Kalo gitu aku pulang duluan ya mbak." Lanjut Dini berpamitan.

"Iya, hati-hati dijalan ya.... Gue mau lanjut kerja dulu. Dah Dini.... " Kata Betari sambil melambaikan tangan.

"Dah... mbak Tari... " Sahut Dini.

Kemudian Dini pun segera pulang, sedangkan Betari harus melanjutkan pekerjaannya di rumah sakit.

 

---

 

Setelah dihubungi oleh dokter Andrew, Bara, Rania dan Rayhan pun langsung kembali ke Los Angeles. Setelah itu ketiganya langsung bergegas pergi kerumah sakit.

Sesampainya dirumah sakit, mereka bertiga langsung pergi menuju ke ruangan dokter Andrew. 

"Selamat sore dok." Sapa Rayhan.

"Selamat sore, silahkan duduk." Jawab Andrew.

Bara, Rania dan Rayhan langsung duduk di kursi yang letaknya berhadapan dengan Andrew.

"Bagaiman dok, apa anda sudah menemukan kandidat calon ibu pengganti untuk anak kami?" Tanya Bara.

"Sudah, saya menemukan kandidat yang sesuai dengan kualifikasi khusus yang anda minta." Jawab Andrew.

Mendengar itu, Bara dan Rania merasa lega.

"Alhamdulillah mas... " Sahut Rania dengan bahagia.

"Berarti kita sudah bisa memulai tahapan selanjutnya?"Tanya Bara lagi.

"Hmm... Tapi ada satu masalah." Kata Andrew.

"Masalah? Masalah apa dok?" Tanya Rania.

"Wanita itu belum pernah hamil sebelumnya. Sedangkan salah satu syarat untuk menjadi kandidat ibu pengganti adalah dia minimal harus pernah hamil dan melahirkan satu kali." Jawab Andrew.

Seketika harapan Bara dan Rania seperti dihancurkan lagi.

"Terus bagaimana dok?" Tanya Bara.

"Sebenarnya kalau anda berdua setuju. Kita bisa mencobanya terlebih dahulu, apalagi calon ibu pengganti ini juga sudah bersedia jika harus mencoba tindakan ini terlebih dahulu."

"Bahkan dia bilang, perjanjian bisa dimulai saat embrio sudah berhasil ditanam di rahimnya dan saat janin dinyatakan sehat."

"Sekalipun dalam pemeriksaan kesuburan dia dinyatakan normal. Tapi kami tidak bisa menjamin keberhasilan proses ini, karena kami tidak punya track record kehamilannya."

"Namun, jika anda berdua setuju. Kami bisa saja mencobanya." Andrew menjelaskan panjang lebar pada Bara dan Rania.

"Silahkan dicoba saja dok, kami tidak masalah." Sahut Rania.

Rayhan dan Bara menoleh pada Rania. Mereka tidak pernah melihat Rania seyakin ini sebelumnya.

"Kamu yakin Ran? Biayanya cukup mahal, kalau ini gagal akan sia-sia." Sahut Rayhan.

"Yakin, aku yakin. Berapapun biayanya nggak masalah buat aku. Bukankah setiap ada kesempatan itu harus kita coba?" Jawab Rania.

"Mas kamu setuju kan?" Lanjut Rania bertanya pada Bara.

"Kamu bener, setiap ada kesempatan harus kita coba. Aku setuju sama kamu." Jawab Bara dengan yakin juga.

"Baiklah, pak, bu. Saya akan menginformasikan ini pada ibu pengganti itu." Kata dokter Andrew.

"Iya dok, terima kasih." Sahut Bara dan Rania.

Bara merangkul dan mengusap-usap bahu Rania. Mereka merasa bahagia, setidaknya ada secercah harapan bagi mereka untuk memiliki anak, dan sebentar lagi itu akan terwujud.

 

---> Bersambung......