Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

3. Sebuah Keputusan

Melihat ekspresi terkejut Dini, Betari tersenyum lebar, "He'em, iya Din. Nyewain rahim. Hehehe" Jawab Betari.

Dini benar-benar terkejut, batinnya jelas saja bayarannya sangat mahal, pekerjaannya tidak main-main.

"Heh, gimana? mau nggak?" Tanya Betari sambil menaik turunkan alisnya.

Refleks, Dini langsung menggeleng dengan cepat.

"Katanya tadi siap." Sahut Betari dengan senyum meledek.

"Hehehe, kalo kerjaannya kayak gitu mah perlu mikir ratusan ribu kali dulu ya." Jawab Dini sambil tersenyum kecut.

"Perasaan tadi lu semangat banget deh." ledek Betari lagi.

Dini memasang senyum lebar, "Hehehe."

"Jenis surrogate nya itu gestational surrogacy kok. Jadi cuma sewa rahim doang, nggak pakek sel telur." Sahut Betari.

"Ya tetep aja nggak mau lah, gimana masa depan aku nanti. Apa kata suami dimasa depanku nanti. Belum nanti kalo tiba-tiba ada yang laporan ke ibu sama bapak kalo aku hamil, bisa dicoret dari KK aku." Kata Dini.

"Hahahha, dicoret dari KK." Kata Betari sambil tertawa.

"Pasien dokter gue itu minta kriteria khusus gitu loh Din untuk calon ibu penggantinya. Jadi mereka pinginnya ibu penggantinya itu seorang muslim dan kalo bisa ya yang masih punya keturunan Indonesia gitu. Ya mangaknya gue kepikiran nawarin ini buat lu, kriterianya cocok. Apalagi lu kan emang lagi butuh duit tuh." Lanjut Betari.

"Emang aku lagi butuh duit sih mbak, tapi ya nggak sampek ngelakuin hal segila itu juga kali." Jawab Dini.

"Ya siapa tau mau, gue kan cuma nawarin aja. Hehehe." Sahut Betari.

"Maaf kalo kerjaannya kayak gitu, enggak dulu." Kata Dini sambil menyatukan kedua telapak tangannya, "Udah malem, ngatuk ah. Aku tidur duluan yaa.... Bye! Good night." Lanjut Dini sambil beranjak masuk kamar.

"Beneran nggak mau nih Din? Duitnya banyak loh... " Teriak Betari.

"Bodoh amat!" Sahut Dini dari dalam kamar.

 

---

 

-Keesokan Harinya-

Bara, Rania dan Rayhan kembali lagi ke rumah sakit. Mereka ingin memastikan apa dokter Andrew sudah menemukan calon ibu penggantinya apa belum.

"Bagaimana dok, apa dokter sudah menemukan calon unuk ibu penggantinya?" Tanya Bara.

"Mohon maaf pak, saya belum menemukan ibu pengganti yang sesuai dengan kualifikasi yang diminta bapak dan ibu." Jawab Andrew.

"Sepertinya memang agak susah. Apa boleh saya meminta tambahan waktu?" Lanjut Andrew.

Bara dan Rania menghela nafas, "Yasudah kalau begitu dok, saya kasih dokter tambahan waktu." Jawab Rania.

"Baik bu, terima kasih." Kata Andrew.

"Oh iya dok, kalau misalnya si ibu pengganti minta tambahan bayaran, kami bisa tambahin kok dok." Sahut Bara.

Dokter Andrew mengangguk, "Iya pak."

Setelah konsultasi dengan dokter Andrew selesai, Bara, Rania dan Rayhan pun bergegas kembali ke hotel.

 

---

 

-Siang Harinya-

Seperti biasa Andin setiap hari berkutat dengan pekerjaannya di tempat laundry. Mengambili selimut dan sprai kotor dari beberapa rumah sakit dan hotel, setelah itu memilah-milahnya ditempat laundry sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci.

"Hufft.... Selesai... Sekarang gue bisa istirahat." Kata Dini sambil menyeka keringatnya.

Kemudian Dini pun pergi istirahat siang disebuah kedai yang letaknya tidak jauh dari masjid Indonesia, masjid At-Thohir namanya. Dini memilih tempat ini untuk beristirahat karena memang letaknya tidak jauh dari tempat kerjanya, selain itu di sekitaran tempat ini memang banyak sekali kedai yang menyediakan makanan halal.

"Pak, saya minta air mineralnya ya satu." Kata Dini pada pelayan kedai.

"Iya baik, silahkan." Sahut pelayan kedai itu sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Dini.

"Terima kasih pak." Jawab Dini sambil menyerahkan uang, lalu menerima air mineral itu.

Dini membuka tutup air mineral itu, kemudian dia langsung meneguk air dari dalam sana, "hah, Segernya... "

Tidak lama kemudian ada seorang wanita yang juga datang ke kedai itu. Wanita itu adalah Rania.

"Pak saya pesan tiga sandwich salmon dan tiga air mineral ya." Kata Rania pada pelayan.

"Baik nona." Sahut pelayan kedai.

Kemudian pelayan kedai mulai membuatkan sandwich yang dipesan Rania.

Sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel milik Dini. Dini pun langsung mengambil ponsel itu dari saku jaketnya, lalu dia mengangkat panggilan itu. Panggilan itu berasal dari Betari.

Dini : Halo mbak, ada apa?

Mendengar itu Rania pun agak terkejut, dia pun langsung menoleh ke arah Dini. Dia tidak menyaka kalau ternyata orang disampingnya ini adalah orang dari Indonesia.

Betari : Enggak, nggak ada apa-apa. Cuma mau nanya, lu udah makan siang belum?

Dini : Udah kok, aku udah makan siang.

Betari : Beneran udah? Gue khawatir aja lu makan siangnya cuma pakek air doang.

Betari memang sangat perhatian pada Dini. Dini sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri. Mendengar pertanyaan dari Betari, Dini hanya bisa tersenyum sambil memutar-mutar botol air mineralnya.

Dini : Enggak kok, aku nggak pesen air mineral doang. Aku juga pesen sandwich, 2 biji malah.

Rania yang mendengar itu langsung tersenyum tipis, dia tahu kalau gadis disampingnya ini sedang berbohong. Bahkan tidak ada bekas tempat sandwich sama sekali didepannya.

Betari : Yaudah kalo gitu, semangat ya Din kerjanya. Bye...

Dini : Iya mbak sama-sama.

Setelah itu Dini pun mematikan ponselnya.

"Hai, kamu orang Indonesia ya?" Sapa Rania.

Dini menoleh.

"Oh hai, iya saya orang Indonesia. Mbaknya juga dari Indonesia?" Jawab Dini.

"Iya saya juga dari Indonesia." Sahut Rania.

"Udah lama tinggal disini?" Tanya Rania.

"Hmm... Belum sih mbak, baru 2 bulan." Jawab Dini.

"Oh... Kamu kerja disini?" Tanya Rania.

"Iya saya kerja disini." Jawab Dini.

Tak lama kemudian pelayan datang sambil membawakan pesanan Rania, "Permisi nona, pesanannya sudah siap." Kata pelayan itu.

"Oh iya terima kasih." Jawab Rania sambil menerima pesanannya.

"Sama-sama nona." Sahut pelayan itu.

"Saya pesen satu sandwich lagi ya, sama seperti ini." Kata Rania.

"Baik nona, saya buatkan." Jawab pelayan itu. Setelah itu pelayan itu pun langsung pergi dari sana.

Rania mengambil satu sandwich dari dalam bungkusan itu, lalu dia menyodorkannya pada Dini.

Dini sedikit terkejut, dia melihat Rania dan sandwich bergantian.

"Ayo ambil." Kata Rania.

Dini bingung, "Hm... "

Lalu Rania langsung meraih tangan Dini dan memberikan sandwich itu, "Udah, kamu makan aja, aku belinya banyak banget ini."

Dini mengambil sandwich itu, "hmm... Makasih ya mbak." Kata Dini.

"Iya sama-sama." Jawab Rania.

Lalu mereka berdua pun memakan sandwich itu.

"Mbaknya juga kerja disekitar sini?" Tanya Dini.

"Oh enggak, kebetulan aku lagi nunggu suami aku yang lagi sholat jum'at." Jawab Rania.

"Oh berarti mbak lagi liburan ya disini?" Tanya Dini lagi.

Rania tersenyum, "Enggak juga sih."

Dini bingung, wanita ini tidak bekerja disini dan juga tidak sedang sedang berlibur. Pikirnya terus tujuan wanita itu kesini untuk apa sebenarnya? Kalau dilihat lihat dari penampilannya pasti orang ini adalah orang kaya yang lagi iseng-iseng ngabisin duitnya. Dini menerka-nerka seenak jidatnya.

Melihat wajah Dini yang kebingungan dengan maksud perkataannya, Rania pun tersenyum, "Aku dan suamiku lagi mencari sumber kebahagiaan disini, mencari cahaya dan harapan untuk kita berdua." Lanjut Rania dengan pandangan yang menerawang jauh. Sorot matanya benar-benar dipenuhi dengan pengharapan.

Bukannya paham justru Dini menjadi semakin bingung mendengar jawaban dari Rania. Dia hanya bisa mengangguk-angguk sambil tersenyum.

Tak lama kemudian pelayan pun datang sambil membawakan sandwich pesanan Rania.

"Ini nona pesanannya." Kata pelayan itu dengan ramah.

"Oh iya, terima kasih." Jawab Rania sambil mengambil sandwich itu.

"Sama-sama." Sahut pelayan itu yang kemudian langsung kembali masuk kedalam kedai.

Bersamaan dengan itu, sebuah mobil berhenti didepan kedai. Rania menoleh kearah mobil itu, rupa-rupanya suaminya sudah selesai jum'atan. Setelah itu Rania pun berdiri dari duduknya.

"Hm... Aku balik dulu ya, suamiku udah selesai jum'atan tuh." Kata Rania sambil menunjuk ke arah mobil yang ada didepan kedai.

"Oh iya mbak, makasih sandwich nya ya..." Jawab Dini.

"Iya sama-sama. Dah... " Sahut Rania sambil melambaikan tangannya. Lalu Rania pun beranjak dari tempat itu.

"Udah cantik, baik, ramah lagi. Wah... Definisi sempurna deh. Semoga dia dan suaminya mendapatkan kebahagian yang sedang dicarinya itu." Gumam Dini dalam hati.

Sedetik kemudian Dini baru tersadar sesuatu hal, dia menepuk-nepuk jidatnya, "Dini.... lu dodol banget sih. Udah ngobrol banyak, udah dikasih sandwich, kenapa nggak nanya namanya sih, terus di Indonesia itu dia tinggalnya dimana. Kan kalo nanya lu bisa kirimin sesuatu nanti pas lu udah balik ke Indo. Haduh! Bisa-bisanya sih gue nggak kepikiran." Gumam Dini kesal pada dirinya sendiri.

 

---

 

"Nih aku tasi udah beli in sandwich nih buat kalian." Kata Rania sambil memberikan sandwich itu pada Bara dan Rayhan.

Lalu Bara dan Rayhan mengambil sandwich itu dan memakannya.

"Tadi kamu ngobrol sama siapa sayang?" Tanya Bara.

"Oh, tadi itu orang Indonesia juga. Yaudah deh aku ajak ngobrol-ngobrol aja." Jawab Rania.

"Nggak kamu tawarin untuk jadi ibu pengganti kan sayang?" Tanya Bara.

Rania terkekeh, "Ya enggak dong sayang, kan ini misi rahasia kita." Sahut Rania.

"Lagian kan udah ada dokter Andrew yang mengurus semuanya. Jadi aku percayakan itu ke dia." Lanjut Rania.

"Hmm... Iya juga sih." Jawab Bara sambil mengangguk, "Oh iya sambil nunggu kabar dari dokter Andrew enaknya ngapain ya? aku udah agak bosen nih di hotel mulu dari kemarin." Tanya Bara.

"Hmm.... Gimana kalo ke New York." Sahut Rania sambil memeluk lengan Bara.

"New York? Mau ngapain emang?" Tanya Bara. Melihat istrinya yang bermanja-manja seperti itu, Bara yakin pasti istrinya itu ada maunya.

"Shopping." Jawab Rania dengan manja.

Bara tersenyum lebar, "Hahaha, tuh kan bener. Udah ketebak arahnya mau kemana." Sahut Bara.

Rania hanya tersenyum lebar sambil lengeratkan pelukannya lagi pada lengan Bara.

"Ehem, ehem!" Rayhan pura-pura batuk saat melihat kedua pasangan itu bermesraan.

"Iri lu?" Sahut Bara.

"Ya mon maap nih ya, bisa nggak kalian ngehargain temennya yang jones ini?" Kata Rayhan bercanda.

"Hehehe, itu mah derita lu!" Sahut Bara lagi.

Bukannya berhenti bermesra-mesraan justru Bara semakin memamerkan kemesraannya dengan Rania. Bara memeluk dan mengelus pipi Rania sambil melihat Rayhan dengan tatapan meledek.

Rayhan hanya menggerutu kesal melihat itu.

 

---

 

-Sore Harinya-

Dini sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia juga sudah bersiap untuk pulang. Entah kenapa hari ini dia merasa badannya tidak enak semua, akhirnya Dini pun memutuskan untuk tidak mengambil pekerjaan di shift malam.

Dini berjalan menyusuri jalan untuk pulang ke apartemen Betari. Sepanjang jalan tiba-tiba dia kepikiran dengan kedua orang tuanya.

"Maafin Dini ya pak, bu. Dini belum bisa ngebahagiain kalian berdua." Gumam Dini dalam hati.

Sesampainya di apartemen, Dini melepas sepatunya. Lalu dia meletakkan tas dikamar, setelah itu dia pun bergegas masuk ke kamar mandi. Rasanya dia ingin segera mandi dan setelah itu berbaring ditempat tidur.

Dini pun menyelesaikan mandinya. Dengan handuk yang masih membalut diatas kepalanya, Dini menuju ruang tamu dan menyalakan televisi. Dini memencet-mencet remote TV mencari siaran yang menarik. Tapi tidak ada satu pun siaran TV yang menarik bagi Dini. Karena kesal, Dini pun meletakkan remote itu lagi diatas meja. Entah kenapa sekarang perasaan Dini tidak enak.

Tiba-tiba sebuah panggilan masuk kedalam ponselnya. Diambilnya ponsel itu dari atas meja, terlihat disana ada nama 'Ibu'. Ternyata itu panggilan telepon dari ibunya. Cepat-cepat Dini mengangkat panggilan itu.

Dini : Halo buk.

Ibu : Halo Din... (Dengan nada yang bergetar, seperti sedang panik)

Mendengar suara ibunya yang bergetar seperti itu, Dini pun langsung merasa cemas.

Dini : Bu... Ibu kenapa?

Ibu : Bapak Din, bapak.... (Tangis ibu Dini pecah)

Mendengar ibunya yang terisak seperti itu, air mata Dink menetes.

Dini : Bapak kenapa bu? (Dengan nada cemas)

Ibu : Bapak kena serangan jantung Din...

Deg.

Seketika tangis Dini pun pecah.

Ibu : Dokter bilang kalau ada penyempitan pembuluh darah di jantung bapak. Jadi, harus segara dilakukan tindakan pemasangan ring jantung. Ibu bingung Din...

Perasaan Dini kalut, dia bingung harus melakukan apa. Keluarganya tidak ikut asuransi kesehatan, pastinya biaya itu akan sangat mahal.

Dini : Biayanya berapa bu?

Ibu : Setidaknya kurang lebih harus siap dana sekitar 80 juta Din.

Dini menarik nafas dalam-dalam, dadanya terasa sesak sekarang.

Dini : Ibu tenang yaa... Secepatnya Dini akan kirimkan uangnya ke ibu. Ibu jangan panik.

Ibu : Iya Din, maafkan ibu dan bapak yaa karena merepotkan kamu.

Dini : Bapak dan Ibu itu tanggung jawab Dini. Ibu jangan bilang seperti itu ya. (Dini menahan tangisnya)

Ibu : Yaudah Din, ibu ke bapak dulu ya nak. Assalamu'alaikum.

Dini : Wa'alaikumsalam.

Setelah panggilan selesai, Dini mematikan ponselnya. Dini pun langsung meringkuh diatas sofa sambil menangis sesenggukan. Dini benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

 

---

 

"Assalamu'alaikum." Kata Betari sambil membuka pintu, lalu dia pun masuk ke dalam apartemen.

Betari menghentikan langkahnya, dia melihat Dini yang tertidur di sofa.

"Nih anak ya, rambut belum kering udah tidur aja. Kalo masuk angin kan ntar repot." Kata Betari sambil merapikan handuk yang membalut rambut Dini.

"Din... Dini.... Bangun Din... " Panggil Betari.

Dini menggeliat disana, perlahan dia membuka matanya. Lalu Dini bangun dari tidurnya, dia melihat ke sekelilingnya. Rupa-rupanya dia menangis hingga ketiduran.

"Eh, mbak Tari udah pulang." Kata Dini.

"Tumben Din lu kok nggak ambil lembur?" Tanya Betari, "Sakit lu?" Lanjutnya sambil meletakkan telapak tangannya di kening Dini.

"Enggak mbak, aku nggak sakit kok." Jawab Dini.

"Oh... Syukur deh kalo gitu. Gue kira lu sakit. Kalo lu sakit kan gue yang repot." Sahut Betari.

Dini menunduk, "Maaf ya mbak, selama ini aku udah ngerepotin mbak." Katanya dengan nada sedih.

Betari langsung menoleh pada Dini, terlihat wajah Dini murung. Tidak seperti biasanya, Betari pun merasa tidak enak karena sudah berbicara seperti itu pada Dini tadi. Padahal dia hanya bercanda.

"Eh, Din. Gue becanda kok. Lu jangan sedih gitu dong. Gue jadi nggak enak kan." Sahut Betari.

"Hehe, iya aku tau kok. Tapi emang aku juga sadar kalo aku ini ngerepotin."

"Udah ah, sana! makan. Pasti mbak tari belum makan kan." Kata Dini.

Betari mengambil sesuatu dari dalam paper bag, "Ini, gue udah beli apel." Kata Betari yang kemudian menggigit apel itu, "Lu ambil juga nih." Betari memberikan paper bag berisi apel itu pada Dini.

Lalu Dini mengambil satu apel dari sana.

Betari masih fokus dengan apelnya, dia memakan apel sambil menonton salah satu serial TV kesukaannya. Beberapa saat suasana sunyi hanya terdengar suara televisi dan kunyahan-kunyahan Betari.

"Mbak Tar." Panggil Dini memecah kesunyian.

"Hem?" Sahut Betari yang masih fokus dengan apel dan serial TV nya.

Dini memutar-mutar apel ditangannya, dia ingin mengatakan sesuatu pada Betari, tapi dia masih ragu.

"Mbak, kayaknya aku mau terima tawaran mbak Tari yang kemarin." Kata-kata itu meluncur dari mulut Dini, dia berfikir itu adalah satu-satunya jalan tercepat untuknya mendapatkan uang.

"Uhuk! Uhuk!" Betari terkejut hingga terbatuk-batuk karena tersedak apel.

"Lu yakin?" Tanya Betari dengan tatapan tidak percaya.

Dini mengangguk.

Betari masih tertegun disana. Dia masih tidak percaya kalau saat ini Dini mengatakan bersedia menerima tawaran itu. Padahal kemarin Dini jelas-jelas menolak tawaran itu, bahkan Dini sendiri yang menyebut itu adalah sebuah tawaran yang gila.

 

---> Bersambung....