Try new experience
with our app

INSTALL

Pilihan Terbaik 

2. Takdir Tuhan

Dini masih berkutat dengan pekerjaannya, membereskan beberapa selimut, sprai dan pakaian kotor pasien ke dalam kantong-kantong. Setelah sampai di California ekspektasinya dihancurkan. Alih-alih mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan, Dini justru ditipu oleh perusahaan penyalur tenaga kerja.

Saat sampai di California, bukannya mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya, justru sekarang Dini berakhir disini. Menjadi karyawan disebuah tempat laudry yang setiap pagi dan sore mengharuskannya untuk mengambili selimut, sprei, dan pakaian kotor dari beberapa rumah sakit.

"Ini mah sama aja gue jadi pembantu tapi di Amerika."

"Mana biaya hidup disini mahal banget lagi, kalo gini kapan gue bisa ngumpulin uangnya." Gerutu Dini.

"Din... Din, ngeluh aja sih lu." Sahut Betari. Betari adalah orang yang cukup berjasa bagi Dini selama di California. Betari yang memberinya tumpangan tempat tinggal dan mencarikannya pekerjaan.

"Bukannya ngeluh mbak, aku udah frustasi nih. Kalo gini terus, bisa-bisa aku kuliah pas udah nenek-nenek." Jawabnya kesal.

Betari terkekeh mendengar jawaban Dini, "Lah salah sendiri lu oon, polos banget lagi. Bisa-bisanya ditipu sama agen penyalur tenaga kerja. Untung aja lu kemarin ketemu sama gue. Kalo enggak, bisa-bisa lu jadi gelandangan California." Ledek Betari.

"Mbak tari jangan bahas-bahas itu lagi lah, kesel nih jadinya." Sahut Dini dengan wajah cemberut.

Betari tertawa, "Udah, udah. Lanjutin tuh kerjaan lu, ntar dipecat berabe lu." Kata Betari, "Gue balik kerja dulu ya, bye!" Lanjutnya sambil kemudian pergi meninggalkan Dini.

"Iya... " Jawab Dini.

Memang Dini merasa beruntung karena dipertemukan dengan Betari. Sudah hampir 2 bulan ini Dini tinggal di tempatnya. Batari memang baik, meski terkadang kelakuannya agak bar-bar ditambah lagi gaya bicaranya yang memang frontal. Tapi lebih dari itu Dini sangat menghormati dan berterimakasih padanya.

'Ting!'

Sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Dini pun langsung mengambil ponsel itu dari dalam sakunya. Lalu dinyalakannya ponselnya itu, 'klik' Dini memencet notifikasi itu, tertulis nama 'Ibu' disana. Ternyata pesan itu berasal dari ibunya. Seketika pikiran Dini melayang ke saat-saat sebelum keberangkatannya ke Amerika. Perusahaan penyalur tenaga kerja itu sudah menjanjikan posisi pekerjaan yang bagus untuk Dini di California. Kedua orang tua Dini sangat senang. Bahkan orang tua Dini sampai menjual satu-satunya ladang yang dimiliki untuk biaya keberangkatannya ke Amerika. Besar harapan kedua orang tuanya agar Dini dapat mengubah nasib keluarga mereka.

Dini membuka pesan itu.

"Din, gimana kabar kamu nak? Apa tempat kerja kamu menyenangkan? Apa disana kamu punya banyak teman? Ibu sama bapak berharap kamu disana selalu sehat. Kiriman uangnya udah ibu terima. Makasih ya nak, bapak bisa lanjutin terapi dan beli obat."

Seketika air mata Dini menetes, "Dini sehat kok bu, alhamdulillah bapak bisa terapi lagi dan beli obat. Tapi itu sebagian uangnya masih pinjam mbak Tari bu, bukan uang Dini. Gaji Dini belum cukup." Gumamnya dalam hati. Sudah dua bulan ini Dini meminjam uang dari Betari, tapi tentunya hal itu tidak bisa terus-terusan dilakukannya. Betari punya keluarga yang juga harus dikirimi uang. Sesak didadanya tidak tertahankan, Dini menangis sesenggukan sambil berjongkok disebelah mobil laundry.

 

---

 

Sementara itu Bara, Rania dan Rayhan baru saja tiba di Los Angeles International Airport (LAX). Rayhan sudah membuat janji dengan temannya yang seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi disalah satu rumah sakit di Los Angeles.

Ya, Rania telah memutuskan untuk melakukan pengangkatan rahim dan menyetujui saran dari Rayhan. Maka dari itu setelah masa pemulihan pasca operasi telah usai, Rania langsung ke Amerika untuk melakukan surrogacy.

Tapi Bara meminta pada Rayhan agar merahasiakan rencananya ini dari siapapun, termasuk dari keluarga Bara sendiri. Hanya mereka bertiga yang tahu. Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan, keluarga Bara merupakan orang yang terpandang di Indonesia. Surrogacy sendiri masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarkat, karena hal ini berlawanan dengan hukum dan norma. Bara tidak ingin hal ini nantinya akan menjadi masalah untuk keluarganya.

"Gue udah buat janji dengan dokter Andrew, dia akan menjamin proses surrogacy ini aman dan rahasia. Tidak akan ada satupun media yang bisa mencium ini." Kata Rayhan.

 

---

 

Setelah kurang lebih 20 menit perjalanan, akhirnya mereka bertiga pun sampai di rumah sakit. Bara, Rania dan Rayhan segera turun dari mobil. Mereka bertiga berjalan menuju ke gedung rumah sakit.

Saat perjalanan menuju ke ruangan dokter Andrew, fokus Bara terbagi, karena dia harus memeriksa beberapa berkas dari ponselnya.

'Bruk!'

Karena terlalu fokus dengan ponselnya, Bara tidak melihat jalan. Dia menabrak seseorang.

"I'm Sorry. " Kata Bara sambil membantu orang itu mengambili selimut dan sprei yang terjatuh. 

Bara memberikan selimut dan sprei itu pada orang tersebut, orang itu langsung mengambilnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia juga langsung pergi dari tempat itu. Tapi pandangan mata Bara sempat sekilas bertemu dengan mata orang itu, yang jelas dia adalah seorang wanita. Matanya juga terlihat sembab, seperti habis menangis.

"Mas Bara, ayo!" Panggil Rania.

Bara menoleh pada Rania, "Iya, iya!" Sahutnya.

Lalu Bara, Rania dan Rayhan pun segera melanjutkan jalannya menuju ke ruangan dokter Andrew.

 

---

 

Mereka bertiga sudah sampai di ruangan dokter Andrew. Rayhan juga sudah menjelaskan kondisi Rania pada dokter Andrew. Dokter Andrew juga sudah menjelaskan prosedur surrogacy pada Bara dan Rania.

"Berarti kalian nantinya akan melakukan surrogate jenis gestational surrogacy, atau bisa dibilang kalian hanya akan sewa rahim saja."

"Apa ada permintaan khusus lagi dari kalian? Selain merahasiakan identitas kalian, mungkin ada persyaratan khusus untuk sang ibu pengganti dari kalian?" Tanya dokter Andrew.

"Hmm... Ada dok, ada permintaan khusus dari saya untuk ibu penggantinya. Kalau bisa ibu penggantinya nanti adalah seorang muslim, bukan karena maksud apa-apa, saya hanya ingin anak saya selama dikandungan nanti diberikan nutrisi yang halal. Jadi, jika dia seorang muslim maka itu akan memudahkannya. Selain itu saya juga akan lebih senang lagi kalau misalnya dia masih keturunan Indonesia. Hanya itu saja sih dok peemintaan khusus saya. Tapi kalau memang dirasa terlalu sulit, siapapun boleh, yang terpenting memenuhi syarat menjadi ibu pengganti." Jawab Rania.

Dokter Andrew mengangguk, "Okey, saya akan mengusahakannya."

"Oh iya dok, satu lagi. Sampaikan pada orang itu. Kami akan memberikan imbalan yang terbaik untuknya." Sahut Bara.

"Baik pak, kami akan melakukannya dengan baik." Jawab Andrew, "Mungkin dua atau tiga hari kedepan kami akan kabarkan perkembangannya." Lanjut Andrew.

"Baikah kalau begitu, terima kasih doker Andrew." Kata Rayhan.

"Sama-sama dokter Rayhan." Sahut Andrew.

Setelah selesai konsultasi dengan dokter Andrew, mereka bertiga pun keluar dari ruangan dan segera pergi ke hotel.

 

---

 

-Malam Harinya-

Bara keluar dari hotel dan berkeliling untuk mencari udara segar. Dia masih belum mengantuk, sedangkan Rania sudah tidur. Salah satu kebiasaan Bara saat tidak bisa tidur adalah ini, dia akan berjalan-jalan sampai merasa mengantuk baru setelah itu dia akan kembali ke kamarnya.

Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya Bara pun mulai mengantuk. Lalu dia berjalan untuk kembali ke kamarnya.

'Bruk!'

Seseorang menabraknya saat dia baru saja keluar dari lift.

"I'm Sorry sir." Kata wanita itu sambil membungkukkan badannya.

"It's okay." Jawab Aldebaran.

Lalu wanita itu pun bergegas masuk kedalam lift.

"Selarut ini ternyata masih ada yang bekerja ya." Gumam Bara dalam hati. Lalu dia bergegas pergi ke kamarnya.

 

---

 

"Huft! Capek banget... " Kata Dini sambil menyeka keringat di dahinya.

Sudah hampir seminggu ini Dini mengambil kerja tambahan, dia mengambil pekerjaan ini agar mendapatkan uang tambahan. Laundry tempat Dini bekerja selain bekerjasama dengan rumah sakit juga bekerjasama dengan beberapa hotel. Tengah malam adalah waktunya untuk mengambil sprei dan sarung bantal kotor dari hotel-hotel tersebut. Ada uang tambahan diluar gaji pokok bagi karyawan yang mau mengambil shift ini.

"Dari tadi perasaan gue nabrak orang mulu ya. Nggak di rumah sakit, nggak disini. Udah mulai ngantuk nih kayaknya gue."

"Hedeh... Mana gue tadi nggak sempet minta maaf lagi sama orang yang gue tabrak di rumah sakit. Habisnya mata gue sembab tadi habis nangis, jadinya gue malu deh."

Tidak lama kemudian Ken, rekan kerjanya masuk kedalam mobil, "Sudah selesai, ayo kita kembali!" Katanya dengan semangat.

"Let's go!" Jawab Dini.

 

---

 

-Dua hari kemudian-

Dokter Andrew sudah menghubungi beberapa lembaga surrogacy yang memiliki relasi dengannya. Dokter Andrew mencari calon ibu pengganti yang sesuai dengan permintaan Rania tapi hingga saat ini dia belum bisa menemukan itu. Kemudian dia teringat dengan Betari. Betari adalah seorang muslim dan keturunan Indonesia, mungkin saja Betari mempunyai kenalan sesuai kualifikasi yang bersedia menjadi ibu pengganti. Lalu dokter Andrew mengambil telepon diruangannya, "Halo, suruh Betari ke ruangan saya. Segera!"

Tidak butuh waktu yang lama, kemudian Betari pun datang ke ruangan dokter Andrew.

"Selamat siang dokter." Sapa Betari sambil membuka pintu ruangan.

"Selamat siang, silahkan duduk." Kata Andrew mempersilahkan Betari duduk dikursi yang ada didepannya.

"Mohon maaf, kalau boleh tahu ada apa ya pak? Kenapa bapak memanggil saya kesini? Apa saya berbuat kesalahan pak?" Tanya Betari. Jujur Betari agak sedikit cemas, dia takut Andrew menegurnya karena telah berbuat salah.

"Enggak, kamu nggak membuat kesalahan apapun." Jawab Andrew.

Mendengar itu Betari pun merasa lega.

"Saya memiliki seorang klien yang akan melakukan surrogacy. Saya cukup kesulitan untuk mencari kandidat ibu penggantinya, karena ada permintaan khusus dari mereka untuk sang ibu penggantinya."

"Syarat khususnya yaitu sang ibu pengganti diharapkan adalah seorang muslim dan masih keturunan Indonesia."

"Kamu kan seorang muslim dan keturunan Indonesia juga. Jadi__" Belum selesai melanjutkan bicaranya. Betari langsung terkejut dan menyahut.

Betari terkejut mendengar hal itu, "Mohon maaf pak tapi saya tidak tertarik untuk itu." Sahut Betari sambil menggeleng.

Andrew terkekeh menlihat reaksi dari Betari yang terkejut seperti itu, "Bukan, saya tidak bermaksud menawarkan ini ke kamu. Tapi saya hanya berfikir mungkin saja kamu punya kenalan yang sesuai dengan kualifikasi itu, yang mungkin bersedia menjadi ibu pengganti. Saya berharap kamu bisa memberikan informasi ini ke teman-teman kamu, karena pasti kamu punya banyak teman muslim dan keturunan Indonesia. Siapa tahu diantara mereka ada yang tertarik." Jelas Andrew.

"Oh begitu pak. Iya nanti saya informasikan ini ke teman-teman saya." Jawab Betari dengan lega.

"Tenang saja, jenis surrogate nya adalah gestational surrogacy dan ini ada imbalannya kok. Imbalannya juga cukup banyak. Mereka akan memberikan imbalan sebesar 200.000 USD." Kata Andrew.

Mendengar jumlah imbalan yang disebutkan Andrew, sontak Betari pun terkejut. Karena kalau di kurs rupiahkan, jumlah itu bisa sekitar 2,8 Miliar. Sempat terbesit dikepalanya untuk menerima tawaran itu sendiri, tapi cepat-cepat dia hilangkan pikiran itu dari kepalanya.

"Wow pak itu sangat banyak." Sahut Betari.

"Iya itu sangat banyak, dan itu tidak termasuk biaya hidup selama kehamilan berlangsung ya. Itu hanya imbalannya saja." Timpal Andrew.

Betari menelan ludahnya, pasti pasangan ini bukan orang sembarangan. Pasti mereka berasal dari keluarga kaya raya.

 

---

 

-Malam Harinya-

Betari tidak bisa tidur, matanya tidak kunjung mengantuk, padahal jarum jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Kemudian suara pintu terbuka.

"Assalamu'alaikum." Kata Dini sambil masuk kedalam apartemen.

"Wa'alaikumsalam." Jawab Betari.

"Loh mbak Tari belum tidur? Tumben banget mbak." Tanya Dini heran, karena biasanya saat dia pulang kerja shift malam Betari pasti sudah tidur.

"Hehehe belum, iya nih nggak tau gue masih belum ngantuk." Jawab Betari.

"Lu kalo shift malem pulng jam segini?" Tanya Betari.

Dini mengangguk, "Iya."

"Gila! Ini malem banget, terus besok pagi-pagi banget lu harus betangkat lagi. Astaga Dini, gue aja yang cuma liat ikutan gila loh." Sahut Betari tidak percaya.

"Ya mau gimana lagi aku butuh duit banyak. Aku mau buru-buru balik ke Indonesia mbak, terus bayar hutang-hutangku ke kamu. Emang mbak Tari mau nampung aku selamanya disini?" Tanya Dini.

"Hehehe, ya jangan selamanya juga Din. Ngelunjak juga lu ya jadi orang." Jawab Betari.

"Mangkanya biarkan diriku ini kerja lembur bagai kuda." Sahut Dini.

"Haduh Din.. Din... Gue liat-liat lu itu masih muda tapi ngenes banget ya hidup lu." ledek Betari.

"Hmm, emang bener sih mbak. Huft! Capek." Kata Dini sambil membaringkan dirinya di sofa.

Kemudian Betari teringat sesuatu, dia melihat Dini. Semua kualifikasi terpenuhi di dia. Dini seorang muslim keturunan Indonesia dan sepertinya kondisi tubuhnya juga sangat baik. Terbukti dia tidak tumbang walapun sudah bekerja lembur bagai kuda. Terbesit dalam pikirannya untuk mencoba menawarkan penawaran dari dokter Andrew pada Dini.

"Eh Din." Panggil Betari.

"Hemm...." Sahut Dini sambil berbaring diatas sofa.

"Gue punya penawan nih buat lu." Kata Betari.

Mendengar itu Dini pun langsung bangun dan melihat ke ara Betari, "Penawaran apa mbak? Kerjaan baru? Kalo gajinya banyak ya aku jelas mau lah." Sahut Dini dengan penuh antusias.

"Din... Din... Lu itu ya kalo sama duit aja cepet." Ledek Betari.

"Ya tentu dong mbak, itu kan yang emang aku cari." Jawab Dini.

"Apa mbak? Kerjaan apa? Gajinya gede nggak." Tanya Dini dengan penuh antusias.

"Gede, gede banget! Lu cuma kerja satu kali dan akan dibayar 200.000 USD." Jawab Betari.

Sontak mata Dini langsung terbelalak mendengar nominal yang disebutkan oleh Betari, "Gila! 200.000 USD. Itu kalo dirupiahkan bisa lebih dari 2,8 miliar mbak!" Sahut Dini.

"Pulang-pulang ke Indo bisa jadi miliarder itu mah." lanjut Dini.

"Mau?" Tanya Betari.

"Ya mau lah! Gila! kapan lagi bisa dapet gaji segitu." Jawab Dini tanpa piker panjang, namun sedetik kemudian dia baru berfikir ulang lagi, "Eh tapi bentar, kerja apa dulu tuh? Bukan jual diri kan ya?" Tanya Dini.

"Hahahah, ya bukan lah. Ya kali gue ngasih tawaran kerjaan gituan ke lu." Jawab Betari sambil tertawa. Pikirnya Dini ini kadang terlihat lucu juga, karena memang sepolos itu anaknya.

"Agak berat sih Din kerjaannya." Lanjut Betari.

"Kerjaan lembur bagai kuda aja udah aku jalani. Berangkat pagi pulang tengah malem. Kerjaanku yang sekarang kurang berat apalagi coba mbak. Untuk urusan kerjaan berat mah insyaallah aku udah teruji." Kata Dini dengan percaya diri.

Betari terkekeh mendengar jawaban Dini, "Din... Din... Kerjaan yang satu ini itu jauh lebih berat. Sangat menantang."

"Yaudah sebutin aja kerjaannya apa. Dini mah siap." sahut Dini dengan sangat percaya diri.

"Kerjaannya itu jadi ibu pengganti alias surrogate mother." Kata Betari.

Seketika kepercayaan diri Dini pun langsung runtuh. Matanya terbelalak, dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Betari, "Hah! Surrogate mother? Nyewain rahim dong?" Kata Dini tidak percaya.

Melihat ekspresi terkejut Dini, Betari tersenyum lebar, "He'em, iya Din. Nyewain rahim. Hehehe" Jawab Betari.

Dini benar-benar terkejut, batinnya jelas saja bayarannya sangat mahal, pekerjaannya tidak main-main.

 

----> Bersambung.....