Try new experience
with our app

INSTALL

Elegi Dua Hati 

Terkasih

"Sudah siap jalan-jalan?" tanya Fredy sebelum menghidupkan mesin motor, melihat Mia dari pantulan kaca spion yang sengaja diarahkan pada gadis itu.

"Oke," jawab Mia singkat sembari memberikan senyuman.

"Kau pegangan yang erat. Aku mau ngebut ini," perintah Fredy. Tangan kanannya sudah bersiap menarik tuas gas. Sementara motor Christian dan Merry sudah melaju terlebih dahulu.

Matahari sudah mulai terik. Kebetulan memang sedang musim panas. Tidak ingin kepanasan di jalan, karena jarak yang akan mereka tempuh memakan waktu kurang lebih dua jam, Fredy dan Christian sepakat memacu motornya dengan kecepatan tinggi.

Tak ada obrolan sepanjang perjalanan. Pelukan Mia semakin erat. Baru satu jam perjalanan, Mia yang berada di jok belakang tampak mulai gelisah.

"Mas, bisa berhenti sebentar ndak? Rasanya kok aku mual banget," ujar Mia tepat di sisi telinga kiri Fredy sambil menepuk pelan bahu pemuda itu.

Tanpa menjawab, Fredy memperlambat laju motornya dan memberi aba-aba dengan menyalakan lampu sein kiri agar Christian yang tertinggal di belakang mengerti, bahwa mereka akan menepi.

Mia turun terlebih dahulu. Cepat-cepat gadis itu mencari tempat yang cukup teduh, kemudian disusul Fredy, setelah pemuda itu mendongkrak motornya. Christian dan Merry lalu mendekati mereka.

"Minum dulu, Bidadariku," ucap Fredy sambil mengulurkan sebotol air mineral, ikut berjongkok di samping Mia.

"Makasih, Mas," jawab Mia singkat. Wajahnya nampak pucat.

Fredy mengeluarkan minyak kayu putih dari dalam tas ransel. Pemuda itu selalu siap sedia membawa segala perlengkapan saat bepergian jauh, mengerti kebiasaan Mia yang mudah sekali mabuk perjalanan.

"Sini, biar aku bantu oles di pelipis kau," kata Fredy. Merry pun ikut membantu memijat tengkuk Mia.

"Masih kuat? Apa mau istirahat dulu?" tanya Fredy saat kondisi Mia terlihat sudah mendingan. Keringat dingin mengalir di wajah dan tubuh gadis itu.

"Kita istirahat aja dulu. Aku takut nanti Mia pingsan." Christian memberi usulan.

"Iya, kita istirahat dulu, meski hanya lima belas menit," imbuh Merry.

Fredy pun mengangguk setuju.

"Maaf, ya, semuanya. Aku ringkih banget, malah ngabisin waktu jadinya," ucap Mia merasa tak enak hati. Perjalanan liburan kali ini harus terganggu karena dirinya.

"Tak usahlah berpikir seperti itu, Bidadariku. Kita ini mau jalan-jalan, bukan mau kejar setoran," ujar Fredy menyangkal rasa bersalah kekasihnya. Toh semua sepakat untuk rehat sejenak.

Selang sepuluh menit, Mia sudah cukup kuat. Dia tidak sepucat tadi, dan senyum juga sudah mulai terukir di wajahnya. Fredy menatap dengan perasaan lega.

Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan, dan kali ini kecepatan motor Fredy dan Christian sedikit diturunkan. Mia pasti mabuk karena melaju terlalu kencang.

Dalam kondisi seperti itu, seperti biasa Mia akan memeluk erat, bersandar di punggung Fredy. Pemuda itu dengan sigap menjaga pelukan dengan tangan kiri, berjaga agar kekasihnya tidak terjatuh.

Saat tiba di tempat tujuan, para lelaki segera mendirikan tenda. Sesuai rencana awal, mereka akan berkemah satu malam. Sementara Mia dan Merry memilih berlari ke tepi pantai. Menikmati angin segar dan melepas sejenak semua penat setelah perjalanan jauh.

Selesai mendirikan tenda, para pemuda menyusul kekasih mereka. Layaknya film-film romantis yang ada, berempat berlarian, bermain air, saling bercanda dan tertawa. Kencan ganda yang menyenangkan. 

“Panas banget, takut nambah item aku,” kata Mia setelah beberapa jam mereka bermain air.

“Mau hitam, mau putih, mau abu-abu, kau tetap bidadari kesayangan Abang, Mia,” kata Fredy menggombal.

“Halah, bisa aja ngegombal.” Mia berdiri di bibir pantai dan memegang sebatang ranting, lalu menuliskan nama Fredy dan dirinya di atas pasir. 

Fredy tersenyum melihat ulah Mia.

Bah, romantis kali kau ini, Mi. Aku padamu lah. Lope lope pull! Fredy berteriak dalam hati.

Hanya sekian detik tulisan itu selesai ditulis, ombak sudah menyapu musnah. Mia tercenung beberapa saat. 

“Apakah kita memang seperti itu, Mas? Hilang ... dihapus oleh semesta,” kata Mia lesu.

“Ah, mikir apa kau ini, Mi. Nulis nama di tepi pantai, jelas akan mudah hilang. Kalau mau nama kita terukir selamanya, nanti di buku nikah, Bidadariku.” Fredy tidak ingin Mia bersedih, tapi ucapannya tadi justru membuat gadis itu makin terpuruk.

Mia berjalan perlahan mencari tempat yang teduh. Dihempaskannya tubuh di atas pasir tebal, disusul Fredy yang duduk di sebelah. Christ dan Merry bergandengan tangan menjauh dari mereka. Berempat sedang membutuhkan waktu untuk kemesraan masing-masing. 

“Kita ini sedang liburan, Mi. Kenapa wajah kau murung seperti tempurung di boneka jailangkung begitu,” canda Fredy.

“Mas, sebentar lagi kita lulus kuliah. Ndak bisa lagi hubungan kita terus ditutupi. Jangan selalu bilang nanti dipikirin, kapan-kapan, apa kata nanti. Mia lelah. Mas Fredy mungkin ndak tau. Aku itu sering nangis kalo malam, mikirin kelanjutan hubungan kita ini, loh.” Mata Mia menerawang jauh. Dia seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.

Fredy terdiam. Dia juga sudah lelah walau tak pernah menampakkan itu di depan Mia. Tak ingin membuat sang terkasih menjadi semakin sedih. Pemuda itu selalu berusaha menyemangati dan menghibur. Namun sekarang, sepertinya semua itu memang harus mulai dipikirkan, dibicarakan.

“Keluargaku terlalu ketat, Mi. Cobalah kau yang masuk ke duniaku. Kenali agama, adat istiadatku. Aku yakin kau bisa.” Fredy berkata selembut mungkin untuk tidak membuat Mia marah.

“Keluargaku juga sama, Mas. Aku bisa dicoret dari daftar keluarga kalau berani pindah agama. Lah wong Bapak itu guru ngaji di kampung. Terus anaknya pindah agama, bisa-bisa nanti keluargaku dihujat warga sekampung, Mas?” Mia berusaha keras menahan bulir air mata untuk tidak menetes. Sudah saatnya untuk bicara serius tentang hubungan mereka. Dia tak mau tangis menghalangi, apalagi sampai menghentikan diskusi.

“Apa kau begitu mencintai agamamu, Mi? Setahuku, kau biasa-biasa saja. Salat juga jarang. Cuma pertimbangan Bapak kau saja ini?” 

“Aku memang ndak biasa salat dan lain-lain, Mas. Ndak tahu, males aja. Mungkin belum dapet hidayah. Tapi aku yakin dengan agamaku, dan aku juga cinta sama Tuhanku,” jawab Mia. “Bapak ... juga jadi pertimbangan terbesarku.”

Apakah mungkin mengorbankan keyakinan hanya untuk sebuah perasaan? Apakah layak mengesampingkan ketuhanan demi melangsungkan sebuah pernikahan? Demi cinta yang setengah mati, haruskah kita membunuh religi? 

“Kamu aja loh, Mas.” Mia menoleh pada Fredy.

“Apa?”

“Gimana kalo kamu aja yang masuk ke agamaku? Wong kamu juga ndak pernah ke gereja. Jangan-jangan kamu juga lupa caranya berdoa,” kata Mia.

“Bah, macam mana pula kau ini. Aku tak mungkin pindah agama! Abang ini masih ‘M’ tiap kali mau berangkat ke gereja. Sama seperti kau, aku juga cinta sama agamaku, sama Tuhanku. Bisa ditendang pulak aku dari keluarga besar kalau sampai pindah agama.” Fredy berapi-api.