Try new experience
with our app

INSTALL

Bollywood In Garut  

Chapter 3: Kasus Narkoba Meningkat: Ujian Untuk Hubungan Dadang dan Katrina?

  Di sebuah ruangan komandan polisi. Katrina tengah menyuapi Dadang. Terlihat sebuah rantang dengan masakan India yang tersaji di dalamnya. Dadang begitu menikmati.Dadang kemudian membuka lebar-lebar mulutnya. 

“Aaaaaaaaaaaa…ayoo atuh cepetan pengen nyicipin tangan Katrina lagi. Eh… nyicipin masakan Katrina lagi.”

Katrina hanya tersenyum menggeleng. Ia kembali menyuapi Dadang dengan tangannya. Khas masakan India dan cara makan orang India. Dadang nampak asyik mengunyah dan mengacungkan dua jempol kepada Katrina. Seolah memuji masakan Katrina. BRAAAAK! Pintu ruangan Dadang dibuka dengan kencang. Seorang dengan seragam polisi lengkap masuk ke ruangan Dadang dan langsung melemparkan surat kabar ke meja kerja Dadang.

“Kamu gak baca surat kabar hari ini, Hah?”

  Orang dengan seragam polisi itu pun melihat Dadang, Katrina, dan juga rantang yang berisikan makanan. Orang itu nampak menunjukkan raut wajah yang tidak suka. Orang itu kemudian berbalik badan. 

“Saya harap kamu bisa lebih fokus di kasus ini, Komandan  Dadang. Ingat keselamatan rakyat itu lebih utama dibanding apapun. Seragam yang kamu pakai itu, menunjukkan kamu sebagai pengayom dan pelindung masyarakat.”

  Orang itu kemudian berjalan pergi dan menutup pintu ruangan dengan sangat kencang. Dadang mengambil surat kabar yang ada di depannya. Dadang membacanya. Kemudian ia menghela nafas. Kedua tangannya langsung memegang rambut bagian atas. Menyisir sampai ke belakang. Pertanda Dadang kini stres. Raut wajah Dadang berubah menjadi serius. Katrina mencoba kembali menyuapi Dadang namun Dadang menepis tangan Katrina. 

“Maaf, Katrina, kayaknya aku udah kenyang.”

  Dadang pun langsung beranjak dari kursinya. Kini, ia fokus kembali menatap papan tulis yang ada di ruangannya. Terlihat seperti sebuah peta penyebaran narkoba yang ada di wilayahna. Dadang nampak berfikir dengan keras. Katrina yang terduduk di kursi melihat itu. Katrina tahu. Dadang walaupun seorang komandan polisi yang kocak tetapi jika berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab maka Dadang akan sangat serius sekali. Terbukti tiga orang penjahat yang pernah hampir memperkosanya walaupun sempat dibiarkan kabur oleh Dadang tetapi Dadang kemudian berhasil meringkus ketiga orang tersebut. Kini, Dadang hanya tinggal membutuhkan waktu untuk mengungkap dalang dibalik maraknya narkoba di wilayahnya. Katrina mencoba beranjak dari kursinya. Mendekat kepada Dadang. 

"Dang.. ayo makan dulu. Nanti kamu sakit lagi kayak kemarin. Berpikir itu butuh tenaga.” 

Katrina kembali mencoba mendekatkan tangannya ke mulut Dadang. Dadang mencoba menepisnya lagi. 

“Iya, nanti. Taruh aja dulu.” Katrina kembali mencoba membujuk Dadang dengan lebih mendekatkan tangannya ke mulut Dadang. 

“Ayoo makan dulu, Dang.” Dadang yang lagi berpikir keras itu akhirnya kesal. Ia menepis tangan Katrina. 

 “Nanti dulu. Aku bilang nanti ya nanti.” 

  Katrina terdiam. Seperti kaget dibentak oleh Dadang. Seketika mata Katrina berkaca-kaca. Ia pun langsung menjauh dan bergegas membereskan rantang makanannya. Dadang mencoba meminta maaf dan meminta Katrina untuk memahami posisinya. Tetapi Katrina hanya bisa mengelap air matanya yang kini jatuh. Katrina pun ucap pamit kepada Dadang. Dadang kesal. Dadang melemparkan surat kabar yang tadi dibacanya ke arah jendela. Semenjak peristiwa itu, Katrina dan Dadang tidak pernah lagi bertemu. Dadang sudah melarutkan dan menghabiskan waktunya untuk pencarian dalang pengedaran narkoba di tempatnya. Katrina nampak menatapi layar handphonenya. Sebuah pesan lama dari Dadang :

Aku meminta maaf telah membentakmu, Katrina. Padahal, 

kamulah senyum dan tawaku dalam kasus pelik yang aku 

tangani ini. Tapi kini aku harus ikhlas bahwa aku harus 

menghadapi kasus ini sendirian. Tanpa ditemani oleh senyum

dan tawaku : yaitu kamu. Waktuku sangat terkuras untuk 

kasus ini. Sangat sulit untuk menjumpaimu bahkan kau pun

tak bisa menjumpaiku kan? Doakan saja, aku cepat dapat 

menuntaskankasus ini. Dan aku berdoa kamu masih setia 

untuk menantiku..salam dari komandan polisi anu kocak tea

di hatimu.

  Katrina tersenyum sinis membaca pesan itu. Dadang memang dikenal sebagai polisi yang kocak. Tetapi jika berkaitan dengan kasus, ia akan menjadi polisi yang serius. Dadang bukanlah orang dengan dua berkepribadian ganda. Tetapi Dadang adalah orang yang cerdas menempatkan situasi dan kondisi. Sejatinya, Dadang mungkin memang dilahirkan dengan bakat entertaint, setiap orang mampu dihiburnya. Dadang sedari kecil sudah tertarik dengan dunia film. Khusunya film-film Bollywood. Dadang sangat mengagumi inspektur Vijay. Apalagi kalau inspektur itu diperankan oleh artis-artis papan atas Bollywood. Sebenarnya Dadang bercita-cita ingin menjadi aktor, tetapi ayahnya yang merupakan seorang polisi, melarang keras mimpi Dadang untuk menjadi aktor. Dadang harus menjadi polisi! Dan sekarang Dadang memang berhasil mengenakan seragam polisi. Meskipun ia gagal menjadi aktor, ia tidak boleh gagal untuk menjadi dan seperti inspektur Vijay. Dan satu mimpinya lagi yaitu menikah dengan gadis India. Dan mimpinya itu seperti terwujud dengan datangnya Katrina dalam hidupnya. 

  BRUUUUK!! Tiba-tiba Katrina pingsan. Lilis yang tidak jauh dari situ, langsung panik dan berlari ke arah Katrina. Lilis mencoba membangunkan Katrina tetapi Katrina tidak bangun. Lilis mencoba mengangkat Katrina sebisa mungkin sembari ia berteriak untuk meminta tolong. 

“Dang.. Dang..” berkali-kali Katrina mengingau nama Dadang. Lilis berusaha untuk menghubungi Dadang. Namun, Dadang masih sulit sekali untuk dihubungi. Lilis pun menatap wajah para dokter, seakan memberi tanda bahwa Dadang belum mengangkat teleponnya. Dokter mencoba menyabarkan Lilis. Dokter pun izin pamit meninggalkan Lilis dan Katrina. Lilis nampak mengangguk. Kini, Lilis mendekat ke arah Katrina. Lilis nampak tidak tega melihat Katrina yang terbaring lemah. Lilis pun akhirnya mengirimkan pesan ke HP Dadang. 

  Tiiit… Tiiit.. Tiiit.. bunyi detak jantung Katrina. Kini, tangan Katrina tidak lagi kedinginan. Dadang hadir untuk mengenggam tangan itu. Lilis berucap terima kasih karena Dadang menyediakan waktu untuk hadir menjenguk Katrina. 

“A Dadang.. Katrina butuh aa kayaknya. Tiap waktu mengingau nama aa aja. Punten ieu teh sebelumnya, Kalau bisa sempatkan waktu tiap hari menjenguk Katrina. Kata dokter eta teh bisa mempercepat kesembuhan Katrina.” Dadang menengokkan kepalanya ke arah Lilis. Dadang tersenyum mengangguk. Dadang kemudian kembali menatap Katrina. Dadang mengusap kepala Katrina dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia menciumi tangan Katrina. Dadang berharap Katrina bisa segera sadar. Lilis terharu melihat itu. 

  Katrina divonis oleh dokter mengalami gejala tipes dan maag akut. Keadaan Katrina semakin melemah. Jiwa dan hati Katrina harus kembali dihidupkan. Semenjak tidak bertemu dengan Dadang, Katrina memang seperti tidak punya gairah untuk makan dan beraktivitas. Lilis pun jarang menjumpai Katrina berada di peternakan domba. Terakhir, Katrina ke peternakan itu saat ia pingsan. Dadang merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Katrina. Untuk itu, setiap malam, Dadang menyempatkan waktu untuk menjenguk Katrina.  Sampai suatu waktu, Dadang harus memilih Katrina atau tugas. Dua-duanya adalah hal yang sangat penting. Katrina dalam keadaan yang sangat kritis. Katrina membutuhkan kehadiran Dadang. Sementara, tugasnya pun membutuhkan dirinya. Seorang intel mengatakan bahwa malam ini akan terjadi pengiriman narkoba dari Garut menuju ke luar wilayah Garut. Dadang harus memimpin operasi ini. Dadang dalam kebimbangan. Namun, akhirnya langkah mobil Dadang menuju ke rumah sakit. 

  PLAAAAK! Dadang ditampar oleh atasannya. Dadang dinilai gagal dalam memimpin operasi. Dadang pun dipecat secara tidak hormat oleh atasannya. Dadang meminta maaf kepada atasannya. Dadang memang tidak layak untuk menjadi seorang polisi. Orang yang lebih mementingkan cinta dibandingkan nyawa masyarakat. Dadang hanya tidak ingin mimpinya yang kedua kembali gagal. Ia kehilangan seorang gadis India yang ia cintai. Dadang mengaku dirinya memang egois dan tidak pantas menyandang seragam kebesaran polisi itu. Dadang hormat dan pamit pergi meninggalkan atasannya. 

  Lilis yang mendengar kabar Dadang dipecat menjadi sedih. Tetapi dibalik itu Lilis terharu, Dadang berkorban untuk Katrina. Dadang pun hanya tersenyum sembari ia mengelus kepala Katrina. Kini Dadang yakin Katrina akan cepat sembuh karena dirinya akan setia mendampingi Katrina. Dadang tidak akan kemana-mana lagi. Setelah Katrina sembuh, Dadang akan melamar Katrina dan dengan uang tabungan yang ada, Dadang ingin membuka usaha peternakan domba. Lilis yang mendengar itu menjadi terharu. Begitu besar dan tulus cinta Dadang untuk Katrina. Dadang beranjak dari kursinya. 

“Aku pergi dulu ya, Lis.. mau beli makanan.. Laper euy. Kamu mau nitip makanan gak?”

“Udah makan tadi, a.” Lilis menggeleng. Dadang pun kemudian berjalan pergi ke arah pintu. Lilis pun menatap Dadang yang berlalu meninggalkannya. Sementara itu, di atas ranjang rumah sakit, nampak air mata keluar dari mata Katrina. Pertanda apakah ini? Apakah Katrina sadar?