Try new experience
with our app

INSTALL

Santri Be Happy 

Nanda : Kesurupan (2)

  Pagi ini kami sudah dandan cantik menunggu di depan rumah. Seperti biasa kami memakai setelan celana sobek-sobek dan kaos lengan pendek. Outfit kebangaan. “Masyaallah, kalian kenapa tidak memakai gamis? Kenapa aurat terbuka?” Sontak kami kaget bukan main. Karena terlupa kalau sekarang kami adalah santriwati. Kebiasaan kami berpakaian masih mengikuti sebelum di pesantren. Akhirnya kami buru-buru masuk kamar. Ganti dengan gamis dan khimar. Mama tersenyum puas ketika kita sudah ganti baju. Akhirnya acara jalan-jalan berlangsung. Kegembiraan sehari yang tidak terkira. Bisa ngemall, makan enak di resto juga. Namun, keesokan harinya kebahagiaan sesaat itu harus berganti. Kami harus kembali menuju asrama putri. Bertemu Mbak Bubah yang jutek. 

  Xpander ultimate yang mengatar kami menuju pesantren terus melaju. Rasanya masih kangen Mama dan rumah. Apa daya ini peraturan yang harus ditaati. Dalam mobil Mama berpesan pada kami berdua. “Ingat, Nanda dan Oyik. Sungguh-sungguhlah kalian belajar agama di sana. Bukankah ini permintaan Nanda juga. Jangan sampai hal-hal seperti kemarin terjadi. Berusahalah mencintai semua di sana. Agar hati kalian juga nyaman.” Nasihat Mama. “Siap, Tante,” Oyik menyahut. “Nanda, kalau kamu?” Mama bertanya padaku. Aku hanya terdiam membisu. Mencoba memahami nasehat Mama. Benar kata beliau kalau ini sudah tujuan dan kemauan aku, kenapa selama di sana aku belum merasa nyaman.  Hati ini sungguh menyesal. Dalam hati berjanji akan berusaha mencintai seperti kata Mama.

  Mobil sudah mendekati gerbang pesantren. Rasa haru terlihat di muka Mama juga diriku. Tak terasa air mata ini berkumpul di sudut mata. Saatnya berpisah dengan Mama tercinta. Namun, aku tidak boleh menangis. Harus bisa membuktikan kata-kata Mama kalau ingin menjadi manusia yang berguna harus bersungguh-sungguh belajarnya. Demi kebaikan dunia dan akhirat. Akhirnya kami berpisah. Berpelukan untuk melepaskan rindu, bertemu bulan depan lagi. Mama kini kembali ke rumah. Aku juga kembali ke kamar asrama putri. Teman-teman menatapku dengan rasa ketakutan. Mungkin masih efek dari kesurupan yang aku buat kemarin. Hanya bisa tersenyum dalam hati. Ingin jujur, tapi kuurungkan. Bahaya nantinya. “Kamu sudah kembali, Nanda? Jangan kesurupan lagi, ya?” Hasna terdengar prihatin. Aku hanya membalas dengan anggukan. “Semoga tidak khilaf lagi. Eh ....” aku segera menutup mulut ini. Agar tidak keluar lagi  kata-kata lebih lanjut.

  Mbak Bubah mendekati kami. Dengan senyuman manis. Tumben musyrif satu ini manis. Biasanya jutek amat. Dia hanya mengabarkan buat berkumpul makan malam. Katanya ada hidangan lezat malam ini. Wah sudah tidak sabar untuk mencicipi apa gerangan masakan tersebut. Selepas jamaah Magrib kita berkumpul di dapur santri. Rasa berdebar dan bisik-bisik pada santri menunggu hidangan lezat apa yang di sajikan. Seperti kata Mbak Bubah. Ya elah ternyata udang. Berarti Mama mengirim udang kemari. Iya sih bagi aku sudah biasa, bagi mereka makan udang gede-gede itu luar biasa. Dengan lahap mereka makan. Wajah-wajah riang terpancar dari sorot mata mereka. Untuk menghargai aku juga turut menikmati udang saos tiram tersebut.

  Ternyata rasa usil ini masih melekat. Saat Hasna lagi antri mengambil mimum jatah udangnya aku ambil. Begitu dia balik matanya terbelalak. Mencari-cari udang yang hanya tiga ekor tersebut. Matanya memerah. Menahan rasa jengkel dan lapar atau apalah. Melihat tingkahnya aku cekikikan. Akhirnya udang miliknya aku ganti Popmie. Karena terlanjur dimakan Oyik. “Sudah nggak usah nangis, ini aku ada Popmie. Kalau mau makanlah,” kataku. “Iyong, lagi pengen udang, Nda, mosok ganti popmie.” Wajahnya melas meratapi udangnya. “Loh biar rambut kamu jadi keriting entar. Lumayan nggak usah pergi ke salon,” kataku membujuk. “Heleh ....” jawabnya sambil ngeloyor pergi. Tak ketinggalan Popmie juga di sambar.

  Dasar Hasna. Oyik hanya cengar-cengir. Sebenarnya iba juga melihat anak Tegal itu kehilangan lauknya. Untuk menutup rasa bersalah akhirnya udang milikku yang sengaja Mama kasih tadi saat mengatar satu tempat makan penuh kuberikan padanya. Aku segera mengejarnya masuk kamar. Mendekati Hasna yang murung karena makannya terhenti akibat kehilangan lauk. “Hasna, kamu kenapa?” tanyaku. “Nggak pa-pa!” jawabnya singkat. Kusodorkan tempat makan besar milikku.  “Ini buat kamu,” kataku. “Ini apa? Beneran buat aku?” tanyanya. “Iya, coba buka.” Hasna segera membuka tempat makan biru tersebut. Seketika raut wajahnya berubah ceria. “Masya Allah, ini udang gede banget. Jabang bayi. Dudu udang tunggon sungai, ya? Aku takut kualat.”  “Itu lopster keles, ndeso!” jawabku sambil menowel pipinya. Hampir saja dia loncat kegirangan. Katanya seumur-umur baru kali ini makan udang lobster. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Syukurlah hari ini bisa membayar kesalahan dengan kebaikan.

  Mama, mulai malam ini aku menjadi anak baik di pesantren. Masih ada satu kardus lagi roti yang akan aku bagi-bagi buat teman satu kamar. Tidak lupa Mbak Bubah juga kecipratan. “Itu Nanda, apa kesurupan lagi? Kayaknya yang masuk rohnya bidadari,” bisik Aini pada Erni. Walau mereka menyebut berbisik, padahal aslinya aku mendengar. Si Aini kalau bicara pelan pun masih terdengar. “ Sepertinya kesurupan peri baik hati,” teman yang lain ikut menggunjing. “Hayo, kalian ternyata ngomongin aku?” tanyaku pada mereka. Muka mereka merah padam menahan malu. “Nduk Cah Ayu, tolong pijitin Mbah, ya. Mereka saling pandangan. Dalam hati sebenarnya aku ingin tertawa. Habisnya mereka menganggap aku kesurupan lagi, aku isengin saja. “Iya kamu yang pakai kerudung hitam, sini mendekat. Aku hitung sampai tiga!” Sengaja aku panggil Eri. Dia yang suka menang sendiri. Kesempatanku buat efek jera untuknya. “Cepetan!” Dia mulai memijit badanku. Rasanya geli melihat wajah anak itu. Kukerjain habis-habisan. Lumayan punya tukang pijat dadakan. Oyik kebagian pijitan juga karena aku memberi perintah. Wajah Eri kelihatan masam. Setiap pijatannya nggak enak langsung aku marahi.

  Ternyata ada santri yang curiga. Mungkin ia mengadu kepada bagian kesantrian putri. Alhasil kami disidang habis-habisan. Dengan terpaksa kami menjadi abdi ndalem rumah Kyai selama satu bulan. Suatu hal yang menyebalkan. Aku anak horang kaya harus menjadi pesuruh. Ya Allah, begitu berat cobaan ini. Mana mungkin harus mencuci, masak, bersih-bersih rumah sebesar itu? Sedangkan aku menyapu lantai saja tidak pernah. Namun, bukan Nanda kalau tidak menerima tantangan ini. Hukuman Ustadzah Siti aku terima. Hitung-hitung sambil belajar. Akhirnya kami kembali ke asrama untuk beres-beres. Membawa beberapa gamis. Karena kami untuk sementara tinggal di rumah Bu Nyai. Malam ini kami resah, menyusun rencana dan menebak apa yang akan diperintahkan Bu Nyai besok. Makin larut akhirnya terlelap juga.

  Seperti biasa kami bangun pukul 03.00 WIB. Jadwal para santri setiap hari. Sholat Tahajud, mengaji dan jamaah Subuh. Setelah itu kami siap-siap untuk menuju rumah Bu Nyai. Membawa kemoceng dan sapu di tangan. Pokoknya mirip babu kalau orang Surabaya bilang. Begitu melangkah di pelataran, mataku tertuju pada cowok resek  keras kayak Bledek itu. Huuff ... seandainya harus memilih nggak akan sudi berada di sini. Namun, aku harus semangat. Akan Kubuktikan kata Mbak Bubah kalau aku bukan anak mami. Cuma begitu saja mudah. Gus Attar dan Gus Furqon menatap kami berdua sekilas. Oyik salah tingkah. Ia lirik-lirik dan senyum-senyum nggak jelas kepada kedua jejaka itu. Baru saja melangkah masuk rumah ndalem eh Pak Kyaisedang kebingungan mencari kacamata. Akhirnya kami sibuk membantu mencari di mana kacamata itu berada. Jengking sana sini. Belum berhasil juga. Mataku melotot saat melihat Gus Attar malah cuek pura-pura baca. Padahal jelas-jelas kami kebingungan.

  Setelah beberapa saat mencari, tepatnya satu jam lima menit satu detik. Ternyataeng-ing-eng kacamata itu dipakai Pak Kyai. Walah kalau tahu dari tadi nggak bakalan pusing mencari. Eh malah Attar senyum-senyum merasa puas karena melihat tingkah kami kebingungan. Awas nanti akan aku balas. Aku pelototin dia. “Apa!” ucap Gus Attar sambil melotot balik. Sepertinya dia ingin berduel denganku. “Abah Yai, Maaf, itu  kacamatanya dipakai Abah Yai,” aku memberanikan diri memberi informasi. Eh Gus Attar dan GusFurqon malah pada tertawa terkekeh.  Mereka ngacir pergi. Dasar anak gak benar. Abahnya kebingungan malah pada dikerjain. “Dasar anak gemblung,” kataku pada mereka sambil berlalu.

***

  Pekerjaan pertama menyapu sudah kelar. Setelah itu kami menuju dapur untuk bantu-bantu Mbak Abdi Ndalem yang lain masak. Dari jauh ada seorang laki-laki lari cepat seperti ketakutan ketika melihat kami berdua. Waduh padahal kami bukan preman ataupun begal. Kami berdua adalah bidadari. Eh salah maksudnya bidadari dan dayangnya. “Yik, tadi siapa ya yang lari terus sembunyi. Terus kemana ya ngilangnya?” Aku bertanya pada Oyik. “La embuh ... selama di asrama adanya arek cewek saja,” jawabnya. “Ayo kalian sini, bantu motong sayuran!” potong si Mbak berbaju biru dongker. Rasa penasaran masih saja mengelayuti pikiran. Siapa gerangan laki-laki tersebut. “Mbak, ada arek cowok lari tadi siapa, ya?” tanyaku pada si Mbak. Setelah kenalan namanya Markah. Orang Kebumen. Menurut Mbak Markah jadi abdi ndalem itu asyik bisa dekat dengan keluarga Kyai. “Asyiknya itu bagaimana ya, wong jadi pembantu kok asyik,” bisikku pada Oyik. “Asyik iso ngecengi cowok toh ya, lihat yang bening-bening. Meneh misal konngadusi aku yo gelem,” jawab Oyik sambil cengengesan. “Lah, bocah embuh kamu itu, la menurutmu para Gus iku arek bayi!” 

  Setelah selesai membantu memotong sayuran, akhirnya kami bisa bersantai sesaat. Mbak Markah dan temannya sudah mulai memasak. Tiba-tiba ada yang bergerak di bawah kolong lincak. Karena penasaran aku langsung saja mengambil sapu. Sedikit membungkuk memasukan sapu ke kolong. Kusodok bawah kolong. Kalau itu kucing kok pakai sarung, gede lagi. Andai itu manusia ngapain juga di bawah kolong. Atau bisa jadi itu setan. Ah ... mana ada setan di rumah Kyai. Rasa penasaran dan bertanya-tanya menghantui. Aku akhirnya jongkok dan memandang sosok tersebut. “Eh, kamu siapa? Ayo keluar! Kamu maling, ya?” Sosok itu diam saja. “Maling ... maling ... ada maling di kolong, Mbak!” teriakku. Mbak Markah segera datang, menenangkan kami sambil bertanya kenapa aku teriak dan ribut. “Ini rumah Pak Kyai kalian jangan berisik. Semua harus tenang,” ucapnya. Oyik hanya mengangguk. Aku menunjuk di bawah kolong. Tangan ini menuntun untuk semua melihat pantat bersarung yang jengking itu. “Lo itu kan Gus Ihya!” seru Mbak yang lain. “Ayo kita pergi saja, memang dia pemalu kalau lihat cewek apalagi asing belum pernah ketemu selalu begitu,” ucap Mbak Markah sambil menggiring kami pergi meninggalkan kolong bangku panjang itu. “Ealah, kok masih ada cowok unik seperti itu ya, Mbak?” Oyik bertanya. “Huss ... kamu itu ngawur, namanya juga sifat minder kok,” jawab Mbak Markah. “Aku jadi penasaran ingin lihat wajahnya,” celotehku. “Ganteng, loh!” kata Mbak yang lain lagi. Wah cowok ganteng tapi minderan? Bisa juga ini didekatin, ucapku dalam hati.