Try new experience
with our app

INSTALL

Jodoh Salah Alamat 

Chapter I (Ranti Septiani)

Spesial Harbolnas 12.12

Semua terbitan Penerbit Haru discon 50%


 

Mataku berbinar melihat banner promo di Instagram. Sebagai booklovers, tentu aku nggak akan melewatkan kesempatan emas ini. Langsung saja aku buka aplikasi belanja orange kesayangku. Aku memilih buku 'Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?' klik masukkan keranjang, untung saldo di aplikasi masih ada jadi bisa lanjut buat pesanan terus tinggal tunggu barang dikirim.


 

Untuk memenuhi hasrat belanja online, aku bekerja sebagai desain cover di AT Press, penerbit baru buka di Yogyakarta. Gajinya lumayan lah sebulan bisa beli tiga sampai lima buku terjemahan. Ya, buku favoritku memang terjemahan. Ceritakan tentang AT Press secara singkat. Di kantor ini ada 6 orang. 


 

Pertama, Nazneen Faiha. Posisinya sebagai CEO sekaligus pemilik AT Press. Dia ini ngeselin. Suka banget memberi kerjaan secara dadakan. Namun, dia juga baik. Suka kasih bonusan belanja online ketika buku laku banyak.

Kedua, Sahrial Pratama posisi Pemimpin Redaksi. Dia mirip Ojan Sketsa. Sebelas dua belas dengan Bu Nazneen. Bedanya Sahrial lebih killer. Ngegas mulu kalau ngaret bikin cover.

Ketiga, Wardah dan Alfian posisi editor. Aku kurang gitu kenal dengan mereka. Jadi nggak bisa cerita tentang karakter mereka. Keempat ada Sukma, posisi marketing. Kelima ada Siti sebagai Office Girl.


 

 Tiba-tiba seorang cewek berhijab ungu masuk ke ruanganku. Dia adalah Helen Amelia. Posisinya sebagai admin sosial media AT Press.

"Ranti!"


 

"Iya, ada apa?"


 

"Nih, ada paket buat kamu."


 

Aku menerima paket dari Helen. "Makasih ya."


 

Setelah cerita tentang orang-orang di AT Press, aku mau jelasin tata letak tempatku kerja ini.


 

Kantor AT didesain Bu Nazneen sangat sederhana. Dari luar nampak seperti ruko biasa dengan dua lantai. Namun, bagian dalamnya dibikin selayaknya rumah yang nyaman ditinggali. Katanya biar semua karyawan AT menjadikan kantor sederhana ini sebagai rumah kedua meŕeka. 


 

Di lantai satu ada ruang tamu, terdapat sofa model sudut jati. Konon kata internet, model yang seperti ini lagi ngetrend. Selain ada sofa, terdapat pula 3 rak buku dengan isi lengkap novel-novel loka koleksi pribadi. Tujuan agar semua karyawan saat waktu senggang, meluangkan untuk baca buku. Masa kerja di penerbitan tapi gak pernah baca buku?


 

Masih lantai satu, ada pula dua ruang kerja karyawan. Karyawan cowok dan karyawan cewek dipisah biar mereka fokus kerja tanpa ada tatap-tatapan mata atau saling modusin rekan kerjanya yang lain. Di sebelah ruang kerja karyawan, ruang pribadi CEO.


 

Lanjut lantai dua. Ada dua kamar istirahat. Kamar istirahat cewek, perabotannya ada kasur, serta meja rias yang lengkap berbagai peralatan make up. Bu Nazneen sendiri selain bisnis penerbitan, terlebih dahulu bisnis make up. Makanya dia mau semua karyawannya yang cewek memakai brand makeup-nya. Sedangkan kamar istirahat cowok, selain kasur dan televisi, ada PS buat main game. Ada yang bilang, cowok itu butuh main game terlebih dahulu agar melahirkan ide-ide segar dalam bekerja.


 

Sebelah kamar istirahat ada musala dan kantin mini. Di kantin mini ini ada meja makan besar bisa untuk 6 orang bersama. Lalu, ada pula rak besar special menyimpan bahan makanan serta berbagai cemilan. Jadi mereka jika lapar tinggal mengambil sesuka hati. Bu Nazneen tak mau karyawannya kelaparan saat bekerja.

Kok tak ada toilet atau kamar mandi? Setiap kamar sudah ada kamar mandi sekalian toiletnya.


 

Helen lalu kembali ke meja kerjanya di seberang meja kerjaku. Ketika aku siap-siap buka paket, mataku membulat. Pasalnya tulisan di paket bukan namaku, melainkan Ranto.


 

Aku ambil gawai di tas selempang. Lalu aku chat kurir yang biasa antar paketku. Nama kurir itu Rizky Kurniawan. Orangnya lumayan manis. Berkacamata. 


 

Mas, salah kirim paket ya? Soalnya nama tertulis "Ranto" bukan "Ranti"


 

Kurang dari lima menit Mas kurir balas chat dariku.


 

Wah, maaf banget ya, Mbak. Ketuker kirimnya. Kacamata saya patah. Jadi penglihatan saya kurang jelas membaca nama penerimanya. Nanti sore saya antar ulang paket Mbak Ranti yang benar ke rumah ya.


 

Nggak apa. Saya tunggu di rumah ya.


 

Aku kembali melanjutkan kerja sebelum Pak Sahrial atau Bu Nazneen maki-maki.

***


 

17.00


 

Aku sudah sampai di kontrakan. Ya, aku ke Yogyakarta awalnya kuliah. Namun, setelah lulus malas balik ke Lampung. Jadinya mengontrak. Di depan pagar ada Gusti Riant, pacarku. Sudah jadian selama dua tahun lebih sedikit. Namun, entah mengapa sebulan belakangan aku merasa hubungan kami mulai nggak sehat. Dia agak berubah seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Hatiku masih ragu untuk melanjutkan atau mengakhiri hubungan. Satu sisi masih sayang, terlalu banyak kenangan yang terjalin dengan dia. Sisi lainnya merasa tidak ada kehangatan cinta lagi.


 

"Hello, Sayang. Apa kabar? Baru pulang?" Rean basa-basi.


 

"Yuk, masuk. Dan duduk."


 

Aku mempersilakan dia duduk di kursi yang ada di teras. Aku juga ikut duduk di sebelahnya. Paket yang kubawa, aku letakkan di meja.


 

"Ran, kita dah lama nggak jalan. Jalan yuk. Makan atau ke mana gitu," ajak Riant.


 

Setelah satu bulan dia sok sibuk, sekarang baru mengajak jalan. Aku balas perbuatannya. "Males, ah. Capek pulang kerja. Malam ini aku mau rebahan aja."


 

"Hmmm ... kenapa ya sebulanan ini aku ngerasa kamu berubah."


 

Aku mendelik ke arahnya. "Bukannya harusnya aku yang bilang gitu? Selama sebulanan ini kamu sok sibuk. Jarang angkat telepon dan balas chatku. Kalaupun balas jawabnya singkat-singkat. Ah, udahlah. Aku malas debat. Capek juga. Mending kamu pulang deh."


 

"Ya udahlah. Mungkin kita emang butuh waktu untuk intopeksi diri. Aku pamit pulang dulu ya."


 

Selepas kepulangan Riant, Susan tetangga sekaligus sahabatku dari kuliah muncul. 


 

"Ran, ngapain Riant ke sini?"


 

"Ngajak jalan," jawabku singkat.


 

"Terus kowe gelem?" tanya Susan dengan logat jawanya yang kental. Gara-gara dia aku jadi bisa sedikit-sedikit belajar Bahasa Jawa.


 

"Ya, aku tolak lah. Enak aja sebulanan dia sok sibuk dan nyuekin aku, masa dengan gampangnya ngajak jalan? Ya udah, aku bilang aja males dan lagi capek pulang kerja."


 

"Bagus. Biar tahu rasa. Lagian dari dulu gue dah bilang, kowe karo Riant iku nggak cocok. Kowe zodiac Virgo sedangkan Riant Gemini. Virgo gregetnya sama Leo, Aries, Taurus atau Scorpio."


 

Aku hanya manggut-manggut ketika Susan sudah mulai bahas zodiac.

 Entahlah, dia dari dulu memang suka banget mempelajari semua hal berkaitan zodiac. Aku sendiri nggak terlalu percaya sama ramalan zodiac. Tingkat kebenarannya 50:50.


 

Susan nggak sengaja menyentuh paketku. "Ini paket siapa? Kok namanya Ranto? Sejak kapan kowe ganti nama jadi Ranto? Apa penjualnya tipo nulis?"


 

"Mas kurir salah antar paket. Katanya sih kacamatanya patah. Jadi kabur saat lihat nama penerima."


 

"Jangan-jangan jodoh kowe sama kayak paket ini."


 

Dahiku berkerut berusaha memahami maksud ucapan Susan.

 "Maksudnya?"


 

"Riant itu jodoh orang lain yang nyasar dulu ke hidup kowe. Sedangkan jodohmu yang sebenere masih dijagain wong liyo."


 

"Kalau emang jodoh gue masih nyasar di orang lain, aku percaya Tuhan akan mengantar ulang ke alamat yang benar. Rumahku."


 

"Paket!"


 

Panjang umur. Baru dighibahin Mas Kurirnya datang. 


 

"Ini Mbak, paket yang benar. Sekali lagi mon maaf ya atas insiden salah alamat."


 

"Iya, Mas, nggak apa kok. Manusiawi salah."


 

 Aku menerima paket dari Mas Kurir lalu menyerahkan paket yang atas nama Ranto.


 

Pandanganku fokus memperhatikan wajah Mas Kurir. "Loh, ini make kacamata. Katanya patah."


 

"Baru beli lagi, Mbak. Baru gajian saya."


 

"Oh, gitu."


 

"Makasih, Mbak. Saya pamit dulu ya."


 

Selepas kepergian kurir, aku nggak nyadar Susan sudah berdiri di sebelahku.


 

 "Hmmm ... Mas Kurirnya ada manis-manisnya gitu. Cocok buat lu. Zodiacnya apa?"


 

"Yeee ... kamu tanya sendiri aja. Udah ah, aku mau mandi."


 

"Sama. Aku juga belum mandi. Aku pulang dulu ya. Bye."