Try new experience
with our app

INSTALL

Akhir Dari Cerita 

Perpisahan Kembali

  Aku keluar dari kamarku, menemui Jingga yang sudah ada disana. Akupun tidak tau apalagi tujuannya datang ke rumahku, apalagi yang akan dia ucapkan untuk menjadi alasan kenapa dia meninggalkanku. Tapi tetap saja, hatiku tidak bisa memungkiri kalau aku merindukan dia.
 

“Senja, maafin aku. Aku janji mulai sekarang aku gak akan pergi lagi. Aku salah, aku berfikir kenapa aku gak kasih tau kamu dari awal alasan kepergian aku karena aku tau kamu mau nunggu aku.” Perkataan itu entah kenapa membuat hatiku panas. “bodoh kamu kalau kamu mikir gitu! Aku sama sekali gak nunggu kamu. Aku udah bahagia.”
 

“Kamu gak bisa bohongin aku, Senja. Aku tau siapa kamu, aku tau kamu gimana. Kamu masih cinta sama aku Senja, begitu juga aku yang gak pernah sedikitpun lupain kamu.”Jingga yanh berusaha meyakinkanku membuat tembok pertahananku mulai sedikit runtuh. Ya, karena aku tau aku juga masih mencintai dia.“Aku pamit, tapi aku akan terus menemui kamu sampai kamu kembali seperti dulu.” Katanya lalu pergi, meninggalkanku yang masih tidak bisa berkutik.
 

  Sepanjang hari hanya kuhabiskan dengan melamun. Dimi memperhatikanku dari mejanya. Sepertinya dia sudah tau dari Maroon apa yang terjadi. Namun suara lembut itu terdengar, suara yang kunantikan setelah kejadian semalam. “Kita bisa bicara sebentar?” katanya yang langsung kusambut dengan bersiap untuk pergi.
 

“Aku paham sama kondisi ini, Senja. Aku juga tau kamu masih mencintai Jingga, semua itu terlihat dari mata kamu. Aku gak apa-apa, aku senang kalau kamu bahagia.” Katanya sembari mengelus kepalaku dengan lembut.“Maaf, Mar.” Hanya itu yang bisa kuucapkan, aku tau bukan itu jawaban yang dia inginkan. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi. Sampai Maroon tidak lagi bicara denganku, kami hanya sesekali saling menatap.
 

  Sepulang kerja, aku memutuskan untuk bertemu Jingga. Aku berharap dengan apa yang akan kulakukan semuanya bisa selesai. Aku melihat raut wajah bahagia terukir di wajah Jingga.“Makasih Senja, kamu kasih aku kesempatan satu kali lagi untuk menebus semua kesalahan aku. Makasih sayang. Aku janji kali ini aku gak akan pergi lagi. Aku akan selalu disamping kamu.” Aku tersenyum membalas perkataan Jingga. “Aku bahagia, tapi dengan hidupku yang sekarang bersama Maroon. Terima kasih Jingga, kamu memberikan aku kesempatan untuk mengenal Maroon.” Setelah memberanikan diri mengatakan itu, aku pun pergi dengan hati tenang seperti diguyur air ketika sedang gerah-gerahnya. Aku tidak lagi peduli dengan apa yang dipikirkan Jingga saat ini. Yang terpenting aku sudah memilih untuk berpisah kembali dengan Jingga.
 

“Aku gak tau kamu bisa sehebat itu, aku seneng. Kamu hebat.” Puji Maroon setelah aku menceritakan semuanya.“Aku bisa sehebat ini karena kamu, kamu janji ya jangan pernah tinggalin aku.” Mataku memelas pada Maroon, dia tersenyum. “aku gak bisa janji untuk gak ninggalin kamu, Senja. Tapi aku yakin selama hidup aku, aku akan tetap bersama kamu.” Lalu Maroon mengecup keningku dengan lembut.
Ya, bukan janji itu yang ingin aku dengar. Aku hanya ingin bersama Maroon selamanya.

THE END