Try new experience
with our app

INSTALL

Gadis Bermata Eropa 

Kisah Persahabatan Antara Guru & Murid

            Rendy sedang membereskan kertas-kertas ujian. Sheila Elvanya Menez (14 tahun) melihat dari jendela luar. Ia tampak memasang wajah cemberut. Sekali-kali ia mengetok jendela. Rendy melihat itu dan ia pun tersenyum sambil tangannya seperti meminta Sheila untuk bersabar. Rendy pun kembali dengan aktivitasnya, namun tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara Sheila. 
“ Ayoooo, pak, cepetan. Nanti Pak Djaelani Kepala Sekolah keburu pulang.”
“ Iya, iya, bentar, Vanya.”
“ Pak Rendy tahu sendiri kan kalau Pak Djaelani itu pulangnya suka cepet. Datang ke sekolah jam berapa, pulangnya jam berapa. Gak suka aku tuh.”
“Kamu gak boleh gitu. Pak Djaelani kan Kepala Sekolah. Pasti Pak Djaelani itu sibuk. Kerjaannya banyak.”
Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara dari belakang mereka. Seperti berdehem. Dan ternyata itu adalah Pak Djaelani (55 tahun). Kepala sekolah yang sedari tadi mereka bicarakan. 
“ Pak Rendy berapa kali saya bilang bahwa sekolah ini tidak akan pernah membuka ekskul teater dan tidak akan pernah mengikuti lomba teater. Jadi, percuma proposal itu bapak taruh lagi di meja saya.”
“ Tapi, pak.”
          Rendy baru ingin memberikan argumentasi perlawanan tetapi Pak Djaelani sudah melangkah pergi. Rendy melihat mata muridnya Vanya sudah berkaca-kaca. Rendy tahu betapa Vanya menginginkan teater ini. Itulah mimpinya. Mimpi mata Eropanya. Rendy pun mencoba mengejar Pak Djaelani. Meninggalkan Vanya sendirian di kelas dengan mata yang masih berkaca-kaca. 
         Saat itu matahari tengah terik-teriknya. Beberapa daun terlihat jatuh tertiup angin. Jatuh bertebaran di sekitaran taman sekolah. Sepasang kaki tengah melangkah gontai di taman sekolah tersebut. Terlihat rautan wajah yang kesal. Dialah Sheila Elvanya Menez. Anak yang masih kesal dengan kepala sekolahnya. Tiba-tiba sebuah coklat menghampiri wajahnya. Vanya melihat coklat itu dari Rendy. Vanya menolak coklat itu. Vanya dengan wajah kesalnya beranjak jalan. Rendy sang guru hanya tersenyum. 
“ Hei, anak manis bermata Eropa, kamu tidak ingin tahu Pak Djaelani bilang apa? Pak Djaelani bilang kita boleh mengadakan teater di sekolah dan ikut lomba teater.” 
Seketika Vanya langsung berhenti. Ia berbalik badan. Ia tersenyum dan langsung memeluk Rendy. Vanya berkali-kali mengucapkan kesenangannya dan rasa terima kasihnya kepada guru kesayangannya ini. Rendy tersenyum sambil mengelus rambut Vanya. Rendy tahu betapa sakitnya jika mimpi kita hentikan. Jika mimpi kita dibunuh. Untuk itu, Rendy tidak akan membiarkan hal itu. Meski Rendy harus menanggung akibatnya. Ya, sebuah perjanjian dengan kepala sekolah. Jika Rendy gagal menjamin bahwa ekskul teater akan membawa prestasi dan pengaruh positif untuk sekolah maka Rendy bersedia mengundurkan diri dari sekolah. Bukan tanpa alasan, karena memang di sekolah tersebut murid-muridnya dikenal malas belajar dan hanya main-main. Ekskul teater dianggap hanya akan membuat murid-murid tambah malas belajar. Dan menjadikan teater hanya sebagai tempat pelarian untuk menghindari belajar. Untuk itu, Rendy harus membuktikan anggapan kepala sekolah itu tidak benar! Dan Sheila Elvanya Menez tidak tahu fakta ini. Sebuah pengorbanan yang dilakukan oleh guru kesayangannya. Vanya masih dengan senyuman polosnya. Senyuman rasa terima kasihnya kepada Rendy. 
Tiba-tiba Vanya melepas pelukannya. Vanya pun seperti menggoda saat seorang perempuan melintas di depan mereka. Perempuan itu adalah Anita (25 tahun). Seorang guru Geografi di sekolah tersebut. Dan Vanya tahu kalau Rendy menyukai Anita.
“ Bu Anita mau ke mana? Mau ikut kita gak makan bakso? Yuk Bu, mau kan temenin Vanya makan bakso?”
       Rendy hanya kaget tiba-tiba Vanya berkata seperti itu. Sebelumnya tidak ada perjanjian makan bakso. Rendy pun agak kikuk. Pun dengan Anita. Vanya yang tahu itu akhirnya kembali memecah kebuntuan. 
“ Yaaaah, bu Anita gak mau ya makan bareng sama Vanya? Ayooo dong, bu. Hari ini Vanya kan lagi bahagia. Ayooo.. ayooo..” Vanya sembari merengek gitu.
“Eh.. eh.. ayo.. ayo.. ibu mau kok.”
      Akhirnya mau tidak mau Anita menerima ajakan Vanya. Rendy melihat kesal ke arah wajah Vanya. Sementara Vanya menjulurkan lidahnya. Seakan mengejek Rendy. Vanya pun sengaja jalan di tengah. Tangan yang satunya merangkul tangan Anita dan tangan satunya merangkul tangan Rendy. Rendy dan Anita saling pandang dan saling kikuk. Tapi terlihat di mata mereka saling menyukai. Mereka pun kemudian akhirnya berjalan bersama. Meninggalkan sekolah. Meninggalkan dedaunan yang tetap berjatuhan dari pohon karena tertiup oleh angin.