Try new experience
with our app

INSTALL

KLAKLIK 

Drama

Bukan Naira (Sinopsis)

Bukan Naira (Sinopsis)

.

Penulis ; Monica. R

 

 

Ira, begitu panggilan akrab dari gadis 19 tahun bernama lengkap Naira Ayu putri.

Menghidupi neneknya sebagai satu satunya wali dimiliki Naira, sedangkan kedua orang tuanya sudah almarhum sejak dirinya kecil. Ceria tentang orang tuanya pun tak begitu jelas bagaimana pastinya, nenek Ira selalu mengelak di mana makamnya dan seperti apa orang tuanya.

Nenek selalu beralasan jika Naira ketemu makamnya dia pasti akan menangis dan sedih, hal itu sebagai alasan untuk nenek menolak segala pertanyaan Naira sejak kecil.

Beranjak remaja Naira merasa kalau neneknya mengada ngada, dirinya yang sudah bekerja sambilan di toko grosir memikirkan kalau dia tak secengeng itu, apa lagi tampaan dari orang sekitar memandang keluarganya miring, bukan masalah bagi Naira dan dirinya merasa cukup kuat, yang di lihat hanya gundukan tanah dan dirinya asing dengan orang tuanya.

 

Naira anak yang telaten dan gesit cukup di percaya bu Irma, pemilik toko grosir, sampai sampai perempuan paruh baya yang tak memiliki anak perempuan suka mengajak Naira keluar berbelanja ataupun membantu mengambil stock untuk toko mereka. Dari pada mengajak anak lelakinya Bu Irama suka mengajak serta mengenalkan Naira ke orang sekitar sebaga perkerja yang rajin.

Suatu saat tak sengaja bagi bu Irama serta Naira bertemu ibu Arni, penghusaha sukses di bidang perhotelan. 

Tak pernah di sangka Irama mengenal Arni sebagai teman semasa sekolah dan terakhir di bangku kuliah, Arni terlihat ramah dan nampak menyayangi Sinta, anak perempuan sebayanya mengelitik Naira untuk mengenal almarhum orang tuanya, setidaknya dia ingin berdoa secara layak untuk mereka.

Pertemuan Nairan dan bu Arni terjadi terus tak sengaja karena semenjak bu Irma tau Arni menjadi pemilik hotel, bu Arni sendiri yang menyodorkan diri meminta sejumlah barang di toko grosir bu Irama dalam jumlah banyak mengisi stock di kamar hotelnya secar besar besaran ; handuk, sabun serta sikat hal remeh bisa bu Irma sedikan.

Berbeda dengan bu Arni yang ramah, anaknya Sinta bukan gadis yang ramah, wajahnya terbilang cantik dengan kehidupan sempurna lebih suka merundung Naira dengan ejekan dan ledekan sedemikan rupa.

Tapi bu Arni tampak sabar dengan tingkah Sinta dan terus minta maaf tentang anak perempuannya tersebut. Naira kian rindu dengan sosok orang tuanya mendesak nenek untuk memberitahu di mana letak makam kedua orang tuanya, ancaman pun di layangkan oleh Naira, dirinya tak masalah kalau neneknya bukan orang tua yang baik dan sering melontarkan kata kejam untuk Naira di masa kecil, sekarang dirinya mandiri dan berani membantah sang nenek yang terus berbelit belit.

Akhirnya nenek mengajak Naira ke dua gundukan makam orang tua, bernama Sri Asih dan Subejo, makam yang bersandingan adalam makam kedua orang tuanya, begitu penuturan nenek.

Naira percaya dengan cerita tersebut, kemudia nenek pun bercerita jika kedua orang tuanya bukann orang tua yang baik untuk cucunya Naira, nenek bercerita jika ibunya dulu adalah perempuan yang kurang baik, suka kabur dengan lelaki dan berakhir meninggal di tangan si suami sedang Subejo adalah lelaki tukang mabuk hobi berjudi lalu naik pitam membunuh istrinya yang tukang selingkuh, nenek menceritakan jika bapak Naira lebih memilih bunuh diri dari pada masuk penjada menjadi napi.

Naira merasa malu dan terhina, dia faham kenapa neneknya memutuskan bungkam menceriakan tentang kedua orang tuanya, mungkin perlakuan tak menyenangkan di perolehnya berdasarkan rasa sedih sang nenek dengan kedua orang tua Naira.

Naira hidup dengan kenyataan pahit dan lebih menutupi aib kedua orang tuanya, Sinta kembali berulah dan membuat Naira harus membayar ganti rugi, belum lagi anaknya bu Irma bernama Reno jatuh cinta dengan Sinta tanpa sengaja di temuinya, kompak membully Naira dan membuat Naira menangung beban hutang tak sedikit atas kerugian bu Irma dapatkan.

Naira juga mendapatkan perlakuan semena mena dari neneknya suka dengan perhiasan, menuntut Naira membelikan dia ini dan itu, tentunya dirinya tak sanggup memenuhinya di samping dia menangung hutang, kepercayaan bu Irama pun menurun kepadanya.

Naira hanya bisa berfikir berlari ke makam kedua orang tuanya dan menangis di sana, hal yang tak terduga dia malah di kira orang gila menangisi kedua pasang kakak beradik dari ponakan orang yang sudah di makamkan, Naira terasa di sambar petir mengetahui kedua makam yang dia ketahui dari neneknya adalah makam orang tuanya tapi ternyata itu adalah makam sepasang kakak beradik yang meningal kecelakaan, semunya kebohongan terbongkar saat itu.

Naira kabur dari rumah memilih minggat dari pada hidup dengan orang seperti nenenknya tersebut dia mau mencari kebenaran, Sinta rasanya tak habis habisnya suka melihat Naira tersiksa, dirinya merasa jika menyerempet Naira bukan ide yang buruk, bersama denagn Reno di dalam mobil keduanya berdebat.

Reno tak setuju dengan ide Sinta tapi Sinta kukuh dengan rencananya, agapan hanya menyerempet mungkin hanya luka ringan, kecelakaan mengakibatkan Naira luka parah berakhir celaka bagi keduanya.

Ibu Arni selaku ibu Sinta shock saat mengetahui putrinya tertangkap bersama Reno atas kasus penabrakan, bu Arni pun merasa bersalah membantu Naira sembuh agar putrinya mendapat keringanan hukuman.

Tak menyangka ketika bu Arni mampir ke rumah sakit, Naira membutuhkan tambahan darah yang cocok dengan bu Arni, 99% kecocokan menjelaskan keduanya adalah pasangan ibu dan anak kandung.

Bu Arni tak lantas percaya jika putrinya yang meninggal bisa hidup, perasaan bu Arni campur aduk antara senang dan sedih mengetahui kenyataan putrinya masih ada tapi batinya terbagi dua, sayang dengan Sinta yang lama dia rawat atau membela Naira anak kandungnya telah di celakai Sinta.

Semua pertanyaan bu Arni terjawab ketika bu Sinta melihat nenek Sopiah, permepuan tua yang menjadi neneknya Naira adalah mantan pembantu di rumahnya, dulu sekali putri dari nenek sopiah telah mencuri sampai di penjarakan, lalu nenek Sopiah sendiri malah melakukan hal tak terduga, menghilang bersama putri kandung bu Arni dan menghilang tanpa jejak tepat dengan kabar jika putri nenek Sopiah bunuh diri dalam penjara.

Tak ayal bu Arni berusaha memenjarakan nenek Sopiah yang lagi lagi menghilang. Bu Arni fokus dengan kesembuhan putri kandungnya.

Bu Arni kembali mendekatkan diri dengan Arni saat posisi Sinta dalam tahanan, dirinya mencoba mengenal putrinya telah lama hilang dan meminta Naira memaafkan Sinta, Sinta pun bisa bebas atas maaf dari Naira dan kembali menjadi anak manja ibunya, tanpa Sinta tau Bu Arni serta Naira bersepakat untuk tidak memberitahukan fakta sebenarnya.

Rasa kesal Sinta terpupuk karena ibunya sedari awal perhatian ke Naira terlebih sejak kecelakaan mengakibatkan Bu Arni mengajak mereka tinggal satu atap.

Naira menjalani kehidupannya lebih baik, dirinya bisa berkuliah dengan uang dari ibu kandungnya walaupun itu membuat Sinta tak suka.

Kebaikan Naira cukup membuatnya mudah bersosialisasi dan mendapatkan teman baru ; Lala, Evi dan Rita. Temannya yang kian akrab dengannya.

Kisah percintaanpun Naira alami setelah bertemu dengan Dian, sosok pria yang tegas tapi perhatian dengannya.

Ketua BEM yang Sinta taksir sejak lama, Reno sendiri adalah pria pajangan untuk Sinta.

Nenek Sopia bertemu dengan Sinta saat wanita tua itu mengingat kalau Sinta adalah anak angkat dari Anira. Kejahatan keduanya di mulai ketika Naira berjanji ingin keluar bersama dengan Dian.

Lagi lagi, Sinta membuat putri kandung bu Anira terjatuh dari tangga Universitasnya. Bukti yang kuat baru di temukan setelah Dian ikut penyelidikan.

Kekecewaan serta marah bu Anira alami, dirinya kini merelakan anak angkatnya yang dia sayang selama ini untuk masuk bui serta membeberkan fakta setatus keduanya yang bukan darah daging serta mengakui jika Naira adalah putri kandungnya selama ini, kecewa dan malu Sinta alami, ternyata dirinya tak tahu diri setelah di asuh sedemikian rupa.

Nenek Sopia yang selalu berhasil kabur malah mendapatkan celakanya, dirinya meninggal serangan jantung ketika mendengar vonis hakim.

Naira sendiri, hidup dalam keadaan koma, cukup lama.

Dian yang memulai kehidupan barunya setelah lulus tetap tak bisa melupakan Naira, orang yang pintar dan mandiri. 

di hari Dian menjadi salah satu pejabat perusahaan ayahnya, sosok Naira muncul melamar keja, hal menakjubkan untuk Dian. Naira yang sudah siuman dan sembuh dirinya sengaja mengejutkan Dian dan memberi kejutan untuk lelaki pernah di cintainya.

Keduanya bertemu kembali dan menjalin hubungan baik, Naira dengan ibunya pun saling menukung. Hubungan dengan Sinta pun sedikit lebih baik ketimbang dulu, sekarang Naira sering menjenguk saudara tak sekandungnya itu.

Share